Minggu, 23 September 2018

Menulis: Spontan dan Sekarang!

Menulis secara spontan dan sekarang juga. Bisa?

Artinya kau bebas menuliskan apa saja. Bingung?

Begini langkah-langkahnya. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah mengambil medianya. Entah itu komputer jinjing, ponsel ataupun pena dan kertas.

Aku sering melakukan challenge ini hampir setiap hari. Menulis apa saja yang ada di benakku selama sepuluh menit. Topiknya terserah. Bisa sesuatu yang simpel seperti mencurahkan isi hatimu. Tulisan sederhanamu bahkan bisa berupa masalah-masalah sedang kamu hadapi hari ini.

Idealnya tulisan adalah terdiri dari opening, discussion and conclusion. Tentu saja sebuah tulisan berupa masalah dan solusi. Nah, dari menuangkan problematika kehidupan dalam sebuah tulisan maka secara tidak sadar kau akan menemukan solusinya.

Karena sistem urutan secara teknis membuat otak kita berpikir lebih jernih meskipun tidak menegak minuman bersoda. Jadi kamu tidak perlu bingung menuliskan apa dalam mediamu.

Mudahnya selain menuliskan kelindan permasalahan, kamu bisa juga menuliskan apa yang ada di hadapanmu. Let say, mobil yang lewat, awan yang biru, ataupun pepohonan yang rindang.

Pendengaran dan indera lainnya juga patut kita ikut sertakan. Misalnya, kicau burung penyambut pagi, angin yang bertiup sepoi sekali hatta bahkan bunyi klakson yang lewat di depan rumah.

Tuliskan apa saja! Semuanya!

Kau juga boleh mencontek kegiatan rutinku. 10 menit menulis. Aku bisanya menulis menggunakan aplikasi blogger atau catatan di ponsel daripada software semacam office. Setelah media-nya siap, kita bisa menyetel alarm selama 10 menit.

Sepuluh menit itu tidaklah lama bukan dibandingkan main instagram? Jadi kamu juga pasti bisa.

Terkadang aku sampai ketagihan dari yang awalnya ingin sepuluh menit saja hingga-bisa-sampai satu jam! Haha. Ditambah lagi jika ide tiba-tiba datang memyerbu dan boom!

I think it helpful for monthly challenge like Wicha (Writing Challenge), ODOP (One Day One Poem), ODOW (One Day One Work), and so on. Due to the fact, oftenly, in ten minutes I got 300-500 words.

Sesuai kan? Biasanya challenge-challenge tersebut menghendakinya begitu, I means the total of the words.

If you are interested joining the challenge, FLP Jawa Timur has Wicha that consists of classes. Ikut aja dulu kelas pertamanya, nanti lak ketagihan. It builds your skill in writing. Trust me it works ^^

Hubungi Pak Angga, Direktur Wicha yang siap merekrut anggota selanjutnya. Eits, tapi syaratnya harus terdaftar jadi anggota FLP yang berdomisili di Jawa Timur dan harus ber-NRA (Nomer Registrasi Anggota) untuk bergabung di Wi-Cha ini.

"Kalau ikutan Wi-Cha suka nulis apa, Mbak?"

Aku pribadi suka berkontemplasi. Menulis benang kusut yang sedang mengetuk kehidupan. As thesis that has the background of study, permasalahan yang rumit adalah langkah awal agar otakku lebih bekerja. Menuliskan A-Z yang berisi kerumitan-kerumitan tersebut, kemudian secara spontan sinaps di dalam kepala menghasilkan jembatan yang berupa solusi.

Tetiba tulisanku sudah berisi how to break the problem. Secara tidak sadar.

Ting! Bohlam yang bercahaya tersebut datangnya dari Allah melalui buku-buku yang pernah kubaca, pengalaman-pengalaman yang kerap menghampiri dan hikmah yang sebenarnya berlimpah di mana-mana. Semua solusi tersebutkan berkelindan, menghembuskan nafas lega.

Seringkali sebuah proses menulis berakhir melegakan. Setidaknya bagiku. It must be caused by the solution I have after writing activity. I know it'll be happen for you too.

Writing is healing. Kata Bunda Sinta begitu. Menulis adalah salah satu terapi yang bisa menyembuhkan luka. So, instead of, curhat di sosmed yang jatohnya kamu bisa buka aib diri sendiri, bisa tuh menuangkan segala duka lara dalam bentuk tulisan.

Menulis sekarang dan secara spontan? Bisa! Coba deh. Sepuluh menit aja. Siapa tahu nanti kamu ketagihan. Dan bonusnya tulisanmu akan semakin lincah terasah.

Afala tadzakkaruun? Apakah kau tak berpikir? Ayat yang sering Allah ulang. Pertanyaan agar manusia memilki keutuhan eksistensinya. Menulis adalah kegiatan berpikir. Menyambung satu kata menjadi kalimat, kemudian menjelma paragraf hingga lengkaplah satu tulisan. Menulis maka aku ada. Membiarkan otakku lebih bekerja dan memanfaatkan kelebihan yang Allah beri pada hamba-Nya.

That's all. Happy writing and keep spreading the positive vibes!

Selasa, 19 Juni 2018

Ini Cerita Serunya MQM di Karangpandan

MQM 5 KARANGPANDAN
Tahun ini Isy Karima mengadakan Mukhoyyam Qur'ani Muslimah (MQM) di 9 tempat; Malang, Banjarmasin, Pekanbaru, Karangpandan, Tawangmangu, Sukoharjo, Bandung, Banten dan Lampung. Dan aku memilih Karangpandan.

Mengapa Karangpandan? Simply because, di broadcast-nya tertulis that the centre is here. Kesekretariatannya MQM ada di Karangpandan dan Pondok Isy Karima-nya sendiri letaknya di sini. That's why.

Teman-teman yang lain juga berasalan serupa. Meski kenyataan tak seindah harapan. Uhuk. FYI, MQM Pusat-nya itu ternyata yang di Tawangmangu.

Tapi kalau memilih Tawangmangu, kami tak akan disatukan dalam lingkaran cinta ukhuwah bernama "Baitul Ma'mur."

Alhamdulillah 'ala kulli haal ♡

Baitul Ma'mur, nama kamar kami. Bisa dibilang asrama juga karena kami ber-duapuluh bertempat tinggal di satu rumah. Di pengumuman ada 20 orang tapi hingga tiba di akhir acara, kami hanya ber-empatbelas. Ahh, takdir Allah so sweet yaa. Hanya orang-orang yang Allah pilih, yang bisa bertemu di bawah naungan quran MQM.

Oia, kegiatan yang digagas Isy Karima ini khusus perempuan. Women only. Sesuai dengan namanya, Mukhoyyam Qur'ani Muslimah. Mukhoyyam artinya Camp. Kegiatan yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Then here we come to..

Pembukaan MQM 5 Karangpandan

TAK KENAL MAKA TA'ARUF
Berpindah tempat dari daerah Pampung yang dingin menuju Karangpandan yang hangat..

Awalnya asing. Tak saling kenal.

Atmosfernya berasa jadi santri baru. Benar-benar seperti pertama kali mondok.

"Mbak beneran mondok dong," respon si Eceu waktu aku menitipkan ponsel. Reading Challenge Super Reader pun aku titipkan pada Kepala Sekolah karena alasan tersebut.

Honestly, hari pertama masih berasa hitam-putih. Kelabu. Tak berwarna.

Wong belum ada satupun yang dikenal og, hihi.

Qadarullah, hari pertama nggak langsung tancap gas. Masih ramah-tamah dulu. Panitianya pengertiann tenann.

Hingga akhirnya Baitul Ma'mur menjadi kamar terkompak. Menurut penilaianku, hihi. Soalnya kamar (rumah) yang lain jaraknya berjauhan. Alibi nih :D

OUR ACTIVITIES
Oke, setelah berkenalan dengan teman di kanan-kiri saatnya kita beraksi! Ganbatte! Sambil mengencangkan ikat kepala ala orang Jepang, hihi. Go, go!

Peserta Mukhoyyam dibangunkan jam setengah dua pagi untuk bersiap QIYAMULLAIL. Karena ini sepuluh malam terakhir maka Tarawihnya ketika dini hari. Tarawih and qiyamullail is the same thing ya, guys.

Siapa yang berani mandi jam segitu? Yang nggak mau antre berani dong. Daripada entaran, antreannya membludak. Aku pun pernah. Pernah aja, nggak selalu, haha. Soalnya setelah menemukan KM nyaman di Griya Nabawi, mandinya di sana ajah. Secara Baitul Ma'mur adalah rumah yang terjauhh. Jauhhh. Harus naik gunung (baca: jalannya menanjak).

Setelah qiyamullail kita TAHSIN. Belajar memfashihkan bacaan yang dibimbing oleh Ustadzah Laila. Kami fokus di Surat Al Fatihah. Biar makin disayang Allah. Sholatnya enakeun. Malaikat yang di samping kita juga betah mencatat pahala sambil dengerin. Aamiin.

Tahsin ini tiga kali sehari. Pertama, ketika jam tiga pagi. Kedua, siang. Sekitar jam satu-an lewat. Tiga, sore bakda dzikir petang.

Sehabis tahsin, kami makan-makan alias SAHUR :D

Terus sholat shubuh, dzikir pagi, dan TADARUS.

Target kami khatam tilawah Al-Quran selama di MQM. Jadi ada sekitar 4-5 kali tadarus dalam sehari. Konsepnya, Musyrifah membaca dengan mushaf dan kami para peserta menyimak; mendengarkan dengan seksama dan membetulkan jika ada yang salah.

Seperti di yang di-taushiah-kan oleh Ustadz Fauzin, para salafus shalih itu sehari bisa khatam pas Ramadhan. Ketika Ramadhan, ulama pun lebih giat bertilawah daripada menghafal. Karena ialah bulan Al-Quran. Imam Syafi'ie bisa dua kali khatam. Masya Allah. Kalo sudah hafal mah sehari juga bisa ya. Sambil nyapu, sambil menyiram tanaman, lisan tak henti bertilawah. Namun, di luar Ramadhan makruh. Hanya boleh menghatamkan Quran dalam waktu tiga hari.

Setelah tadarus, peserta boleh mandi, boleh menyiapkan hafalan bagi yang sudah rapi wangi. Karena setelah akan ada HALAQAH. Kegiatan menyetorkan hafalan. Boleh muraja'ah (mengulang), boleh ziyadah (menambah hafalan).

Setoran hafalannya hanya dua sesi ; bakda tadarus pagi dan jam 08:30 (cmiiw) hingga jam 11 siang. Kalau tahun kemarin katanya temen-temen yang pernah ikutan, halaqah sampai lima kali. Sahur-sahur pun setoran..

Sore setelah tahsin kita ngabuburit. Mendengarkan taushiah dari para asatidzah Isy Karima. Insya Allah contekannya di post berikutnya.

Selain kegiatan di atas, kami ada game-game seru. Main tali semrawut, sedotan tissue. Kocak-kocakan di tenda. Terus ada lomba cerdas cermat juga.

Go, Baitul Ma'mur go!

Ini beberapa list pertanyaan kami:
1. Siapa pendiri Al-Aqsha?
2. Sahabat yang suaranya merdu?
3. Dan puluhan pertanyaan lainnya


Boleh banget kalau mau bantu jawab di komentar ^^

Oke itu aktivitas kami di MQM 5. Nggak tahu nanti MQM 6.
*Dilan mode on :D

Menu Bukber MQM 5 Karangpandan
GRADUATION CEREMONY
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan..

Pagi-pagi ketika jalanan masih sepi dan gelap, kami sudah turun (dari tanjakan :D) mendorong koper dan tas-tas besar. Bersiap pulang T.T

Telah tiba kita di acara puncak. Graduation ceremony. Wisuda akbar kami digabung dengan teman-teman di cabang Tawangmangu. Makin rame makin seru, kata anak gahul begitu.

Kami berangkat dengan bus besar. Sambil menatap mentari yang menyembul perlahan di balik Gunung Lawu. Slow motion. Tahu banget kita lagi melow nggak mau pisah T.T

Disambut dingin. Kami tiba di Kampung Halloween Sekipan, Tawangmangu.

Sejauh mata memandang bawaannya segerrr. Hijaunya pinus yang rimbun di bebukitan. Cengkeh yang berjejer. Villa-villa yang cantik memanjakan mata. Masya Allah arsitekturnya keren-keren dengan penataan taman serta bebungaan yang membuatku tak berhenti berdecak kagum.

Masya Allah. Fa bi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadzdzibaan.

Rumah impian rasanya ♡

Wisuda kali ini, dibuka pembacaan juz 30 bareng yang dipandu Syaikh Matrud dari Yaman. Bacaannya merdu sekali. Bagaimana Abu Musa yaa yang didatangkan ribuan malaikat hingga memenuhi langit bumi. Bagaimana bacaan Rasulullah yaa yang langsung diajarkan oleh Jibril T.T

Do'a khataman yang dibaca Syaikh Matrud juga bikin nyess. Alhamdulillah ngerti dikit-dikit bahasa Arab jadi doanya kerasa menyayat banget. Di sekitarku suara akhwat terisak membuat suasana semakin sendu.

Pembacaan Juz 30 Oleh Syaikh Matrud Yaman
Ya Allah.. inilah nikmat-Mu yang sesungguhnya. Bisa berinteraksi dengan Al-Quran. Bisa bertemu dengan para pecinta Al-Quran..

Ada yang lebih menyesakkan lagi. Orasi tentang Palestina. Warga Syam yang selalu dicekam ketakutan selama bertahun-tahun.

Kita di sini aman-nyaman membaca Al-Quran. Sedang di sana ledakan peluru adalah soundtrack para huffadz..

Nyess lagi T.T

Aku lupa bagaimana urutannya; tepatnya prosesi wisudanya di sesi ke berapa.

Semua peserta MQM 5 maju ke depan, membawa syahadah. Berfoto bersama kelompok halaqah masing-masing. Tentu saja musyrifah juga ikutan. Terhitung ada sekitar 400-600 peserta di dua cabang MQM; Tawangmangu dan Karangpandan.

Para pemenang lomba game etc, juga diumumkan di wisuda ini. Termasuk peserta terbaik MQM.

Seru deh. Nget-nget-nget. Alhamdulillah bi ni'matillah tatimmus shaalihat. Bertemu dengan para peserta memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri. Uhibbukunna fillah.

Keluarga Baitul Ma'mur Mengucapkan
Jika tulisanku ini belum memuaskan, yuk ikutan di MQM selanjutnya! Di MQM tahun ke-enam. Semoga Allah memberikan kesempatan. See you there.

Minggu, 17 Juni 2018

Menceritakan Dingin

Dingin. Bahkan jaket, selimut tebal dan kaos kaki harus hadir bersamaan untuk menghalau perasaan dingin tersebut. Baiklah. Akan kukatakan.

Tak hanya suhu udaranya yang dingin. Yang membuat gigi bergemeletuk atau bahumu bergetar hebat karena saking dinginnya. Suasananya pun serupa.

Sepi sedang bergelayut. Meninggalkan dingin yang disertai kabut. Sendirian. Mencekam erat dan kuat.

Gunung yang biasa aku tatap kala membuka jendela raib. Pun matahari yang kerapkali menghangatkan bumi.

Di tempat aku menulis sekarang ini memang sedang musim kemarau. Namun dinginnya akan cepat akrab dengan siapa saja.

Kabut Datang Berkunjung
Jam 12:00 siang hari, seringkali adalah puncak. Ketika gerombolan kabut datang tanpa tahu kau sedang apa. Ya, memang itu jadwal kunjungannya. Entah kau sedang memasak, membaca atau disergap tenggat waktu yang mendesak selalu.

Itulah pilihan. Kau mau tetap melanjutkan aktivitasmu, misal menghafal surat cinta dari langit atau menarik selimut dan tenggelam di sana.

Saat pertama kali datang ke sini kau akan mengira lantai rumah basah terkena air. Padahal tidak.

Bukan seperti episode Balqis yang menjinjitkan kaki karena ikan-ikan di lantai kerajaan buatan Sulaiman. Dia takut bajunya basah. Namun tidak begitu. Itulah karunia Allah yang diberikan pada Nabi Sulaiman. Allah membuat lantai transparan laksana kolam.

Di sini tak ada ikan-ikan berkejaran seperti yang bermain di kaki Balqis. Hanya saja lantainya dingin. Sedingin es batu--hanya perasaan saja sepertinya.

Air yang kau seduh akan cepat dingin. Salad buah yang kau racik akan dingin secara alami tanpa dimasukkan ke dalam kulkas. Minum seperti biasa pun akan terasa menyegarkan. Dingin yang tanpa lemari pendingin.

Pun gorengan yang hangat akan cepat kehilangan asapnya jika tak lekas kau santap.

Itu ketika pertama kali kau datang. Saat kau telah menetap di sini, akan ada tiga orang. Satu merasakan dingin yang dengan segera merapatkan jaket. Dua, kepanasan karena kebanyakan makan. Tiga, dia yang biasa saja menyikapi kehidupan.

Pada episode menunjukkan jam tepat tiga dini hari atau pukul lima pagi semuanya sepakat mengatakan dingin.

Sedang ibu menyuruh untuk bergegas.

"Ayo cepetan, nanti ketinggalan rakaat sholat 'ied."

-----

Saat ini, siang 12:12 kabut sedang lebat-lebatnya turun. Beginilah musim kemarau yang bisa membuatmu membeku. Istilah si Eceu ini, hihi.

-ditulis di sebuah lembah, daerah bebukitan Gunung Lawu, berkecamatan Tawangmangu.

Lawu Menyapa

Kamis, 15 Februari 2018

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata
“Adek tahu mentoring?” Aku menjawabnya dengan anggukan pertanyaan Mbak Ifa. Sejak SD bahkan kata itu sudah familiar di telinga. Kata yang sering mucul di dalam karya para penulis Forum Lingkar Pena [FLP]. Mendengar kata FLP, Mbak Ifa dengan lihainya mengetikkan sesuatu pada komputer jinjingnya.

“Gabung aja, di FLP Bangkalan, Dek,” ajaknya serius. Kali ini layar laptop milik Mbak Ifa menampilkan grup cabang FLP di kota rantau. Beberapa saat kemudian aku pun ikut bergabung di komunitas maya tersebut. Nama-nama yang tercantum sebagai anggota, aku tambahkan sebagai teman. Satu demi satu. Hanya sebatas itu.

Ramadan pertama di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Kemarau yang membuat lapangan sepak bola terlihat gersang. Kering tanpa rumput dan tanahnya pun retak-retak macam terkena gempa bumi. Kabar tentang FLP ini tentu saja memberikanku setetes embun, yang menumbuhkan benih-benih harapan. Apalagi dunia kampus bagiku masih sama sekali baru. Kontrakan pun ketemu.

“Ngekos di Yasmin, aja Dek. Ini Mbak kasi kontak pemiliknya.” Kali ini giliran Mbak Dila yang berbicara. Teman satu kontrakan Mbak Ifa. Ah, senangnya ini mungkin yang dinamakan kado Ramadan.

Dari Hijab Kuning, OWOW hingga Taman Baca

“Dek jadi ikut FLP? Sekarang ada rapat di GSC,” itu pesan Mbak Ifa. Melangkahlah kaki dari Yasmin ke sana. Terpisah dengan hiijab kuning kami bermusyawarah. Di situlah kemudian aku bertemu teman-teman FLP lainnya; Mbak Ila, Mbak Titim, Mbak Aan dkk.

Sebagai Kestari kemudian aku terdaulat. Pun otomatis setelah acara literasi tersebut aku resmi menjadi anggota FLP Bangkalan. Tanpa diklat. Tanpa ikrar. Begitulah Allah memudahkan jalan.

Hijab kuning alias pembatas rapat. Tabir bahasa lainnya. Pembatas kuning tersebut fenomenal banget di ingatanku. Pasalnya ini adalah salah satu inventaris LDK MKMI. Kebanyakan anggota FLP Bangkalan adalah mahasiswa UTM dan 90% di antaranya adalah para aktivis kampus. Dan 60% di antara kami adalah anggota Divisi Pers & IT LDK MKMI. Itulah mengapa, seringkali kita rapatnya juga di kesekretariatan LDK MKMI.

Di Balik Tabir
Kabar bahagianya, para anggota sudah mengerti batasan-batasan antara perempuan dan laki-laki. Jadi adem-lah kalau rapat. Nggak perlu kuatir ada pandangan liar. Tapi tetep saja harus jaga diri, jaga hati. Oke sip.

Resmi menjadi anggota tentunya kita dituntut aktif menginguti semua kegiatan Forum Lingkar Pena. Wajib. Kudu. Bukankah itu arah, haluan kita bergabung di sana?

Selain Bincang Literasi yang biasa diadakan Selasa sore hari di Taman Kampus atau Kelas Menulis pada Ahad pagi di Masjid Nururrahman, agenda yang paling melekat di ingatan adalah OWOW. One Week One Writing.

Satu pekan sekali kami diwajibkan mengirimkan karya terbaiknya ke surel FLP Bangkalan. Tukang tagihnya si Teh Hijau. Penyair yang puisi-puisinya bikin meleleh akan diksinya yang luar biasa. Siapa dia? Nanti kita omongin via japri yaa  kalau mau tau, wkwkwk. Nggak Cuma kirim karya, kalau telat atau misalkan bolos, ada ‘iqabnya. Hukumannya mau tidak mau, tulisannya tembus media. Whhuess.

Berganti tahun kami punya agenda baru. Dimulai pada 2016. Tahun ketika Dek Ani resmi menjabat sebagai ketua FLP Bangkalan. Namanya Taman Baca. Hampir dipastikan di setiap cabang FLP memiliki agenda ini.

FLP Bangkalan dan Ghadul Bashar Para Anggota
Jika periode sebelumnya Ahad pagi diagendakan untuk Kelas Menulis maka pada tahun tersebut, hari itu kami gunakan untuk Taman Baca.

Dari tim akhwat tangguh ada Rini, Mbak Win, Dek An, Ria, Nida’ si Bunda dan si penulis blog ini. Jam lima kami sudah calling sana-sini memastikan para anggota tidak absen agenda. Janjian, bertemu di halte bus, di pertigaan kampus.

Sepagi itu kami menahan dingin dan gigil. Menggotong banner sisa acara sebelumnya. Membawa X-banner dan penyangganya yang abot. Tak lupa, di tangan masing-masing menenteng goodie bag berisi buku-buku. Whoa, ancen akhwat tangguh kalian!

Tapi Allah selalu punya kejutan. Matahari di ufuk timur berlatar pematang sawah, rawa-rawa adalah pemandangan yang menjadi hadiah yang Masya Allah membuat angkot yang kami tumpangi penuh puisi.

Di Stadion atau di Taman Paseban kami biasa menggelar tikar. Terkadang teman-teman LDK MKMI ikutan berpartisipasi juga. Meski bukan anggota. Gotong-gotong barang, merapikan, menunggui buku dan hal semacamnya.

Temen-temen indekos juga suka kami ajakin. Makin ramailah suasana. Alhamdulillah.

Anak-anak perindu Dongeng       
  
Namanya Bebi [Mungkin bisa dibaca Barbie J]. Gadis kecil yang tak pernah absen mendatangi lapak kami. Buku favoritnya kisah fable dari Al-Quran. Untuk Taman Baca ini kami memang lebih fokus, lebih banyak membawa buku-buku bertemakan anak-anak. Mengingat banyaknya pengunjung banyak dari kalangan tersebut.

Bebi ini belum bisa membaca. Jadilah kami dongengi dia. Biasanya Mbak Win yang suka membacakan cerita. Sedangkan aku, cukup berada di balik kamera saja.

Selesai Mbak Win mendongeng, Bebi dengan cadelnya akan menunjuk hewan-hewan pada gambar. Menceritakan ulang kisah versi dia yang terkadang tidak masuk akal. Namun tentu saja membuat rekan-rekan menahan geli. Lucu sih.

Calon Sastrawan Masa Depan

Antusiasnya si gadis kecil nan imut tersebut membuat beberapa anak ikut mengitari buku-buku. Alhamdulillah pengunjung bertambah. Pas kita sudah pada lulus, Mbak Win suka dicari-cari sama si Bebi. Mana Mbak baik hati pandai bercerita itu?

Saat mentari mulai bersinar terik. Kala anak-anak sudah menyepi [alias pengunjungnya bubar balik kanan]. Kami mulai berburu kuliner. Namanya juga Minggu. Hari libur. Bisa ditebak. Banyak penjual yang mudah kami temui.

Teh Lia, Dek Iril, inget nggak waktu itu kita pernah ngeskrim di Taman Paseban?
Mbak Wind, masih suka nguber batagor nggak?
Dek An, cari pentol bakar lagi yuk!

Ah, jadi weh kangen kalian. Kan. Kan. Kan. Tisu mana tisu ><

Tanah Rantau Penuh Kenangan

Ialah tanah rantau penuh kenangan. Ukhuwah dan canda tawa. Tiga tahun bersama FLP Bangkalan. Bertemu orang-orang hebat dan belajar langsung pada mereka. Di kelas puisi aku belajar diksi. Berlatih pada senior yang lebih. Aku pun bukan orang yang biasa tampil lapangan. Lebih suka bermain kekata. Membiarkan jariku menari. Menuliskan apa-apa yang berdatangan di kotak-kotak masa.

Dan pada puisi aku memutuskan untuk memintal diksi.

Pada spesialisasi puisi, ada Rini, Mbak Win, Akh Yogi dan hampir semua anggota FLP Bangkalan menyukai bidang ini. Termasuk Dek Ani, ketua umum kami.

Spesialisasi reporter ada Dek Anggun, Akh Fendi, dan Dek Halwa. Karya-karya mereka selalu siap menghiasi rubrik-rubrik Citizen Journalism berbagai media.

Serta nama-nama baru yang belum sempat kuhafal yang tulisannya tak kalah luar biasa menginspirasi.

Jazakumullah khair, teman-teman telah membuat tanah rantau penuh ilmu dan kebersamaan.

Selamat Datang Tanah Kelahiran

Tahun 2017 adalah detik-detik terakhir aku berliterasi bersama FLP Bangkalan. Selepas wisuda beberapa dari kami kembali ke tanah kelahiran. Termasuk pemilik Kebun Kekataku. Pada waktu sore, yang dihiasi mendungnya langit. Alhamdulillah aku resmi diterima FLP Pamekasan. Cabang Forum Lingkar Pena di Kota Gerbang Salam, tempat aku dilahirkan.

Bertempat di SDIT Al-Uswah Pamekasan, pertama kalinya aku duduk melingkar bersama mereka dengan Zayyin Achmad, ketua FLP Surabaya yang menjadi pemateri kami. Moy-tamoyan waktu itu juga dilengkapi dengan rujakan bareng.

Pertemuan Perdana bersama FLP Pamekasan

Eh, ngomong-ngomong soal rujak jadi nggak sabar Rujak Party besok [16/02/18] di Rumah Cahaya FLP Pamekasan. Besok kita sistemnya potluck. Ada yang bawa kedondong, kerupuk, cabai, petis dll. Aih meleleh duluan membayangkannya. Pasti seru deh. Insya Allah. Para taretan FLP jangan lupa hadir ya!

Dan di sinilah aku sekarang. Menjadi salah satu bagian pejuang literasi di  FLP Cabang Pamekasan.

Para Perempuan Militan

FLP mempunyai berbagai anekdot. Terutama tentang singkatan FLP itu sendiri. Di Bangkalan, kepanjangannya menjadi Forum Lingkar Pria, karena para pengurusnya kebanyakan laki-laki. Di FLP JATIM, diplesetkan menjadi Forum Lingkar Perjodohan. Apalagi saat anggota FLP Surabaya menikah dengan akhwat FLP Malang. Makin rame deh grup WA.

Pada acara Kelas Menulis Cahaya edisi liburan akhir tahun [2017], sepertinya tepat jika singkatannya diubah menjadi Forum Lingkar Perempuan. Aku menemukan para perempuan tangguh. Akwat-akwat militan.

Kelas Menulis Cahaya

Akhwat atau sebutan perempuan aktivis dakwah dan kata militansi sering disebut-sebut sebagai kata sifat yang melekat pada mereka yang siap sedia memikul amanah dalam kondisi apapun. Secara bahasa akhwat berasal dari kata ukhtun yang artinya saudara perempuan. Sedangkan akhwat adalah jamak dari kata tersebut.

Dalam KBBI, militansi tertulis dengan makna:

mi·li·tan·si n ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dl ber-juang membangun masyarakat.

Contoh yang tertera dalam kamus juga disematkan kepada perempuan. Rasanya pas jika kemudian kata militansi disandingkan dengan akhwat. Akhwat militan. Para perempuan tangguh di kelindan zaman.

Aku melihat dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Belajar dari gerak-gerik dan tingkah laku, respon baik mereka terhadap sesuatu. Semuanya nampak exampleable. Maksudku, mereka teladan yang patut dicontoh.

Kelas Menulis Cahaya, FLP Pamekasan adalah wadah bagi anak-anak berumur 8-12 tahun untuk mengisi liburan akhir tahun mereka. Pas woro-woronya gitu, kenyataan di lapangan ada anak yang berumur 6 tahun tapi ternyata luarbiasa. Kegiatan ini dibuat dengan tujuan agar mereka semakin mencintai literasi. Membangun peradaban baca tulis. Khususnya di Kabupaten Pamekasan. Acara ini berlangsung selama lima hari 26-30 Desember 2017.

Hari pertama dan kedua dimulai dengan kelas komik bersama Kak Zaky dari FLP Jombang di Sekolah Alam Excellentia. Pelatihan jurnalistik kami lakukan di hari ketiga di Radar Madura. Kemudian Kak Emus, mengisi kelas cerita anak di hari keempat yang bertempat di Ruang Anak perpustakaan daerah Pamekasan.

Acara yang menakjubkan dengan hanya lima orang panitia setiap harinya.

Daebak! Itu kesan pertamaku. Bagaimana mungkin? Allah yang menjadikan semuanya mungkin..

Aku melihat Mbak Ami yang selalu datang setiap hari tanpa pernah absen satu hari sekalipun. Beliau adalah pembina Forum Lingkar Pena Pamekasan yang tetap aktif menemani kami. Padahal Mbak Ami sangat sibuk di keorganisasian di Wilayah Jawa Timur. Salah satunya FLP Jatim, tapi beliau masih bisa menemani kami. Ditambah lagi hingga aku menulis tulisan ini, Ummi, ibunda kandung Mbak Ami masih belum sembuh benar.

Ketika acara Kelas Cahaya selesai, Mbak Ami akan langsung pergi ke rumah sakit. Malamnya pun menjaga sang ibunda di sana. Dan pagi-pagi sudah siap sedia di tempat. Salut juga sama Ummi, yang mengizinkan Mbak Ami untuk bisa ikut serta dalam acara padahal beliau lebih membutuhkan anaknya.

Duh, kami sangat malu apabila datang terlambat ke tempat acara sedangkan Mbak Ami sudah di sana..

Mbak Ubabah, sang ketupat alias ketua panitia sudah berkeluarga. Beliau mempunyai anak kecil yang tak bisa melulu ditinggal. Adik yang masih berusia beberapa bulan. Kalau teman-teman sedang istirahat dan kondisi acara lagi nggak crowded, Mbak Ubabah akan pulang sebentar. Bunda yang sangat luar biasa! Masya Allah..

Nah, kalau mau lobi-lobi, aku biasanya menghubungi Mbak Ubabah soalnya beliau orangnya suka mengayomi dan sabar. Apalah daku yang tak bisa berdiplomasi.

Dalam kepanitiaan kami ada juga Mbak Novi yang sedang hamil. Tapi beliau adalah panitia yang tak pernah absen. Selalu on dalam acara. Pantas saja jika di akhir acara, Mbak Novi terpilih sebagai mentor terbaik pilihan peserta.

Keibuan dan sangat telaten. Kemarin sempat ada tragedi. Apa, tragedi? Ada peserta yang nangis kenceng banget. Tapi nggak pas sampe tantrum soalnya ada Mbak Novi sang superhero. Padahal sebelumnya sudah dihibur sama aku dan Mbak Nikmah tapi nggak mempan eh. Nanti FLP kalau mau ngadain kelas parenting bisa nih menghubungi Mbak Novi. Kita curi ilmunya, hoho.

Kalau dibilang FLP itu singkatan dari Forum Lingkar Perempuan. Mungkin ada benernya.

Kemudian Mbak Nikmah, akhwat yang sigap wara-wiri ke sana-sini.

"Sudah, Dek biar saya yang ambil," itu kalimat pamungkas Mbak Nikmah. Siap banget dah buat ngapa-ngapain.
"Soalnya Mbak lihat ekspresinya, kayak nggak minat gitu buat bergerak, jadi Mbak langsung cus saja."

Masya Allah, militan sekali. Ajari aku, Mbak. Daku yang miskin ilmu ini ><
Padahal ngangkat-ngangkat itu biasanya kerjaan cowok. Hei, kalian peka dong. Kan qawwamuuna 'alan nisaa' *ngomong sama tembok.

Katanya berikan amanah pada orang sibuk. Ada benarnya. Meski Mbak Erlin banyak pekerjaan dan tak bisa datang ke acara, beliau membantu kami dari balik layar. Urusan kesekretariatan seperti sertifikat, stiker dll Mbak Erlin siap bantuin. Besok paginya bisa kita langsung ambil. Jadi nggak ada alasan sebenarnya kalau memang niat. No excuse! Siap, Mbak!

Mbak Titik, panitia yang jauh dari kampung halaman. Kita memang para anggota FLP Pamekasan, tapi biasanya para mahasiswa atau pekerja yang tinggal di Pamekasan ikut aktif juga di Forum Lingkar Pena sebelum kembali pulang. Mbak Titik bahkan pulang-pergi Pamekasan-Sumenep. Masya Allah.

Terimakasih, Ya Allah sudah Kauberikan teman-teman saudara-saudara perjuangan yang memiliki banyak hikmah. Para akhwat militan yang selalu siap sedia berjuang. Tanpa alasan, tanpa mengeluh. Hanya ridaMu yang mereka cari.

Bismillah, mari terus berjuang, akhwatii fillah.

Ialah Forum Lingkar Pena, Istana Penuh Kekata

Terlepas dari berbagai anekdot dari singkatan FLP, ia adalah kepanjangan dari Forum Lingkar Pena. Wadah literasi yang memiliki cabang hampir di seluruh penjuru kota nusantara. Bahkan sudah mendunia. Cek link ini untuk menemukan FLP terdekat.

Jika tak ada, kau bisa mendirikan FLP cabangmu sendiri, namun ketentuan dan syarat berlaku. Yang paling krusial adalah, kau haru [pernah] aktif menjadi anggota FLP cabang manapun. Sekali lagi, cek FLP cabang terdekat untuk berpartisipasi di sana.
       
FLP Wilayah Jawa Timur dalam acara Writing Camp

Sejatinya kita di FLP memiliki tiga pilar. Mata rantai yang tak boleh lepas. Organisasi, keislaman, dan karya. Acara serta berbagai agenda adalah cara kita berorganisasi. Pengumpulan tulisan, bedah karya adalah eksistensi kita sebagai penulis. Wujud dari kelindan kata yang harus kita tuangkan. Dalam puisi, narasi maupun nonfiksi. Dan keislaman adalah ruh yang wajib ada dalam setiap pertemuan antar anggota dan perjumpaan ide yang berwujud karya.
          
Maka dakwah pena adalah hal yang semestinya dipegang oleh para pejuang literasi. Tidak hanya kita yang aktif dalam FLP, namun bagi kita yang mengaku beragama Islam.

            Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
            Menebar kebaikan. Berbagi hikmah di setiap lini kehidupan.
            
Forum Lingkar Pena adalah istana yang patut kita rawat bersama. Menghiasinya agar sentiasa indah berhiaskan kata-kata. Tempat kita bercocok tanam kebaikan, hingga ia tumbuh menjadi berlian yang senantiasa hidup di dalam hati pembaca. Karena menulis adalah kerja untuk membangun peradaban. Bismillah, bersama FLP akan kita wujudkan! Berakhir hamdalah, semoga segalanya muara pahala dan rida yang menghantarkan kita menuju surga.

21 tahun berdiri, semoga FLP semakin menginspirasi dan lebih banyak lagi berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa dan membawa harum nama Islam sebagai agama kita.

Keterangan:
Tulisan ini diikutksertakan dalam lomba #miladFLP21 #kisahinspiratifFLP
Paragraf sebelum terakhir adalah padanan kata yang diparafrasekan dari pidato Babe Rafif Amir, pada Muskerwil V di Ngawi, 25 Desember silam.

Psikologi Afifah Afra dan Tugas Kita sebagai Manusia [Musywil V FLP JATIM #2]

Pembukaan Musywil V FLP JATIM dimulai bakda Dzuhur tanggal 24 Desember. Tetapi, rombongan kami berangkat lebih awal karena ada seminar Bunda Afifah Afra di sekitar alun-alun Ngawi yang ingin kami hadiri. Makanya kami harus datang pagi-pagi sekali.

Peserta seminarnya ramai sekali. Membludak memenuhi aula Graha Widya Ditambah MC kocak bakal calon ketua FLP Ngawi.

Bunda Afifah Afra

Psikologi Bunda Afra dan Tugas Kita sebagai Manusia. Nah, persoalan tersebut yang akan aku tuliskan di sini. Materi Bunda Afra saat seminar di Ngawi.

Pemuda dan Masalah Umat yang Terpecahkan
Sejatinya setiap insan, manusia memiliki potensi. Fitrahnya masing-masing. Namun pada awalnya kita adalah kertas putih yang siap ditulisi. Kira-kira potensi seperti apa yang akan cerdas menstimulasi?

Menurut Carl Rogers ada tiga sifat dasar karakter individu yang diinginkan. Self atau diri kita apa adanya dan pribadi yang kita inginkan dan bagaimana kita di kehidupan nyata.

Jika kita yang sebenarnya sebanding dengan apa yang kita inginkan di kehidupan nyata berarti sikap kita kongruen. Kita aslinya galak, pada suatu acara, pengennya kita terlihat kalem. Jika acara tersebut sukses tanpa adanya sifat marah yang keluar dari kita maka itu kongruen. Cocok dan sesuai.

Akan tetapi jika idealisme yang kita harapkan tidak terjadi, maka bisa jadi galau.

Pak Andika yang kocak di depan peserta
Menurut para ulama, Sayd Quthb? Dua pribadi di atas dikategorikan sebagai nafsul muthmainnah dan nafsul lawwamah.

Pada nafsul lawwamah, atau jiwa yang tertimpa rasa resah nan gelisah. Hal yang terjadi dikarenakan fakta di lapangan tak sesui dengan mimpi di malam panjang. Jadi nggak sinkron.

Pribadi dengan nafsul muthmainnah, adalah jiwa-jiwa yang tenang. Perasaannya aman, damai dan tentram. Realisme dan idealisme-nya sama. Jadi pemikirannya jauh. Nggak melulu galau.

Fa idza faraghta fanshab.

Selasai satu urusan langsung bergerak pada urusan yang lain. Ia dengan pribadi nafsul muthmainnah, si kalem segera beranjak menuju amanah yang lain.

Beban Khalifah fil Ardh
Manusia hidup di muka bumi ini punya amanah lho. Nggak tetiba saja diciptakan tanpa tujuan.

Who am I? Kenapa aku diciptakan?

Jadi selain tugas kita sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah [Ad-Dzariyat: 59], manusia telah sanggup menjadi khalifah di bumi.

Dan khalifah ini adalah msi kolektif. Makanya khairunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baik manusia oalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Karena tugas kita adalah saling membantu.

Who am I? Siapa diriku yang sebenarnya? Inilah adalah teka-teki. Misteri kehidupan yang harus kita pecahkan sendiri.

Gelisah-penjelajah-memetakan ideal self.

Khasku-Amalan Terbaikku. Potensi. Apa yang bisa aku sumbangkan untuk menjadikan aku sebaik-baiknya manusia?

How to start? Kita mulai dari perintah pertama. Iqra. Membaca potensi diri.

Pribadi Penulis
Karya ini bagus tapi dibangun dari kesombongan.

Mengapa?
Literasi Berkeadaban.
Ayat kedua surat Al-Qalam. Beradab. Puncak kecerdasan yang kongkret, afektif dan psikomotorik.

Memberikan makna lewat tulisan.

Potensi. Kapan dimulainya? Dari muda dan dari sekarang. Menulis adalah skill wajib. Nilainya harus di angka 7-8. Karena setiap hal membutuhkan skill ini. Tidak hanya ia yang ingin menjadi penulis. Skripsi. Tugas sekolah dan kuliah memerlukan skill menulis.

Dan pada profesi. Kemampuan kita harus di angka 9-10.

Generasi yang Tercuri
Di Indonesia, Literasi adalah sebuah generasi yang tercuri. Karena periode dunia adalah lisan-tulis-audio visual. Pada zaman lisan ada dongeng, dan kita tiba di generasi media; TV Radio.

Dan Literasi adalah  generasi yang terlewat.

Makanya kenapa sering kita temukan berita hoax alias mengada-ada.

"Hentikan mencari informasi kurang dari 140 kata, tapi mulailah membaca lebih dari 600 halaman."

Literacy: ability to read and write.

Tentunya sesuai kaidah. Minimal bagaimana belajar yang sesuai kaidah EBi. Kapitalisasinya benar dan nggak tipografi. Yuk kit sama-sama belajar. Karena pada tulisan ini juga masih banyak salah-salahnya.

Tentang Menulis.
Menulis itu menuangkan isi kepala. Itulah mengapa kegiatan menulis adalah hasil dari membaca. 75% bersumber dari bacaan dan 25% baru terlihat dalam tulisan.

Kalau malas membaca, lalu apa yang bisa kamu tuangkan dalam tulisan? Sedang isi tekomu, kosong.

Malas membaca? Coba deh ikutan Reading Challenge.



Liburan Ceria bersama Kelas Menulis Cahaya

Liburan Ceria bersama Kelas Menulis Cahaya

Liburan Ceria bersama Kelas Menulis Cahaya, tema acara kami, FLP Pamekasan. Acara ini, Insya Allah akan menjadi program rutinan kami. Mengingat antuasiasnya para peserta. Menimbang orang tua yang senang anak-anaknya belajar mencintai literasi. Dan kami memutuskan.. uups, efek muktamar alias musyawarah akhir tahun yang nuansanya masih terasa.

Hoho, PK, PK!
(read: Peninjauan Kembali bukan Pelatihan Keberangkatan semoga aja aku tahun depan, aamiin)

Kelas Menulis Cahaya berlangsung selama lima hari. Dimulai dari hari Selasa (26/12) hingga Sabtu (30/12). Tepatnya keesokan hari setelah Musyawarah V FLP JATIM berakhir.

Kelas Komik
Senin (25/12) sore, kami menculik Kak Zaky, anggota FLP Jombang langsung dari Musywil V. Komikus nasional yang akan mengajari para peserta Kelas Menulis Cahaya dalam dua hari berikutnya. Tenang, penculikan ini sangat rapi terencana karena dua minggu sebelumnya, Kak Zaky sudah kami beritahu prosedurnya gimana. Eh.

Berbiru-biru kami memulai hari pertama (26/12). Peserta dan panitia kompak memakai warna dengan nuansa yang senada. Memang jadwalnya sih, haha.

Hari pertama kami belajar komik, panitia dan peserta membuat kesepakatan kelas. Apa yang boleh dan yang dilarang. Seru! Mereka menentukan sendiri peraturannya.

"Kak, harus menutup aurat," usul seorang peserta.
"Boleh makan," timpal yang lainnya.
"Nggak boleh rame."

Begitulah hingga kesepakatan tercipta di saung lebar. Tepatnya di Sekolah Alam Excellentia, Pamekasan. Sekolah dan berada dalam satu halaman rumah Sang Bupati. Aku baru ngeh waktu hari H, malah.

Di hari pertama ini Kak Zaky mengajak para peserta untuk lebih peka terhadap hobi. Karena dari hobi bisa mengadi rezeki. Alat-alat elektronik Kak Zaky dan gadget-gadgetnya pun dari hasil menggambar. Masya Allah hebatnya.

Kalau di hari kedua (27/12), anak-anak diminta praktek menggambar. Makin jago deh mereka karena langsung diajari oleh sang pakar. Oia di hari tersebut kami dresscode-nya putih-putih. Dan tempatnya tetap di saung Sekolah Alam Excellentia.

Jurnalistik
Hitam! Dresscode kami selanjutnya. Biar ala-ala wartawan gitu soalnya di hari ketiga (28/12) itu Kelas Menulis Cahaya akan mengikuti pelatihan jurnalistik di Radar Madura. Siapa tahu kan kelak mereka besar jadi wartawan sungguhan.

Registrasi, ice-breaking dan lanjut materi dan Kak Sari dan Kak Frengki. Anak-anak diajari segala hal yang berbau koran, fotografi dll. Tapi nggak cuma materi, karena kita akan latihan langsung.

Sehabis dari kantor Radar Madura, para peserta berjalan kaki ke Lapangan Pendopo Pamekasan. Mereka diminta mewancarai masyarakat secara berkelompok.

Kelompok Six Stars yang mengidolakan Kak Zaky banget memilih tukang parkir untuk diwawancarai. Mereka lucu deh. Tiap mereka melemparkan satu pertanyaan kemudian sehabis itu anak-anak Six Stars akan menuju trotoar untuk menuliskan jawaban bapak tukang parkir.

Tukang parkirnya antara kewalahan dan gemes meladeni anak-anak. Soalnya sambil menertibkan mobil-mobil yang lewat. Hati-hati Dek..


Mereka antusias banget. Apalagi Qaiser dan Akmal. Semangat sekali membuat pertanyaan sambil bolak-balik trotoar dan jalan.

"Kak kasian, tukang parkirnya. Masak cuma dapet seribu," cerita Akmal waktu menuliskan laporan wawancaranya bersama yang Six Stars yang lain.

Lain halnya dengan kelompok Superstar. Mereka mewancarai Pak Polisi yang juga berada di area pendopo. Kalo yang ini aku nggak begitu ngikutin. Cuma melihat dari jauh. Mereka sama Kakak mentor yang lain. Begitu pula kelompok Lavender, CCG dan Semangat.

"Pak Polisinya belum menikah, Kak. Katanya nggak ada yang mau." Waduh, Dek. Kalian nanya hal begituan juga.

Jangankan Pak Polisi. Aku juga ditanyain. Semua mentor juga ditanyain.. \^0^/

Cerita Anak
Lanjut ke hari ketiga deh. Kata Bunda-nya Akmal ini hari yang dia tunggu-tunggu. Soalnya wifi-nya kenceng. Dia mau mengunduh game. Kids zama now yaa. Tapi di rumah, Akmal cuma boleh main handphone di hari libur saja lho. Patut ditiru nih sama orang tua yang lain.

Wifi mana lagi kalo bukan Perpusda Pamekasan. Adekku yang paling bungsu juga suka sama makhluk yang satu itu. Mau ke perpus, baca buku sambil download Upin & Ipin, katanya.

Berbusana batik, para peserta datang ke perpustakaan sebelum jam tujuh pagi. Agenda kami hari ini pelatihan menulis cerita anak bersama Kak Emus. Penulis yang menelurkan banyak buku. Yang paling baru judulnya Teror Bayangan.

Bertempat di Ruang Anak, 33 peserta yang datang hari itu menulis khayalannya masing-masing minimal lima paragraf. Dan mereka pada jago lho.


Safa, putri Pak Rafif, ketua FLP JATIM menuliskan step by step permainan tradisional yang namanya, Bintang Mas. Dia kasi satu-dua-tiga. Jadinya cepet kelar kalau nulis how-to gitu ya :D

Hayza, bercerita tentang "Kontes Putri-putrian." Putri yang pemalu dari kerajaan Snow White. Menurutku, imajinasinya keren sekali untuk anak seusia kelas 3 SD.

Bertualang
Yes, kita jalan-jalan! Karena empat hari kemarin sudah mikir yang berat-berat, maka mari kita akhiri Kelas Menulis Cahaya dengan sesi halanhalan!

Start para peserta, dimulai dengan berjalan kaki dari SDIT Al-Uswah Pamekasan sambil bernyanyi nananana..

Semangat sehat!

Anak-anak akan bertualang menuju SPM (Selamat Pagi Madura). Di sana ada berbagai wahana seperti berenang, memanah, ATV, becak, flying fox dan view Bukit Cinta yang fenomenal di kalangan remaja.

Setelah foto-foto dan stretching sebelum mereka melakukan aktivutas mainstream, para panitia ngedata dulu nih siapa saja  yang mau berenang dan lain-lain.

Para Pemenang
Jangan lupa, kami juga menyediakan hadiah bagi anak-anak yang kece badai selama lima hari.

Siapa mereka?

Yel-yel terbaik dimenangkan oleh kelompok Six Stars yang terdiri oleh dan Lavender.

Kak Emus yang waktu itu juga ikut bertualang meminta peserta untuk menuliskan sebuah nama di atas secarik kertas. Nama kakak mentor favorit versi mereka.

Kak Novi muncul dengan suara terbanyak. Kakak yang satu ini memang keibuan banget. Aku juga dukung Kak Novi!


Kak Vicky menang telak karena dia satu-satunya ikhwan. Semua anak-anak laki-laki memilih Kak Vicky. Haha, dia mah curang.

Anak-anak Malaikat
Mengikuti Kelas Menulis Cahaya ini membuat bermuhasabah diri. Belajar dari panitia yang lain dan juga anak-anak. Mereka kulihat agamis sedari kecil.

Pertama kali hatiku dibikin terenyuh ketika melihat anak, peserta laki-laki yang hendak menyalami kakak mentor yang kebetulan perempuan. Dia sigap menangkupkan tangan dan menyalami kami seperti salaman orang Sunda. Dek, kamu ngerti banget sih..

Kedua waktu bagian antri. Entah itu ketika registrasi atau pembagian snack. Saat para peserta terlihat antri lebih dulu untuk mengambil bagian, mereka otomatis paham. Menahan diri. Menunggu sampai para akhwat selesai. Selepas itu mereka akan berbaris rapi.

Sama halnya pada saat membuat lingkarab besar. Merek nggak mau berpegangan.

"Kak kita kan bukan mahram."

Masya Allah, sholehnya..