Rabu, 19 Desember 2018

Cheetah Palestina

Setelah bersiap dengan kuda-kuda, ia berlari melesat jauh. Di jalan yang sepi. Di bawah rimbun pohon jati.

Seperti boomerang, beberapa menit kemudian si pelari kembali dengan kecepatan yang melambat.

"Lho, sudah balik, Dek?"

"Iya di sana banyak orang," sahutnya terengah-engah.

Lebih dari 10 meter dari tempat kami berdiri terlihat gerombolan memblokade jalan. Mungkin sedang lari pagi juga.

"Oke berarti larinya sampai ujung jalan situ."

Oke. Si pelari memulai posisi kuda-kuda lagi.

~

Malamnya aku mendapat jatah tulisan dengan tema binatang. Fix. Tak gambaran sama sekali dalam pikiranku. Temanya terlalu unik.


Sebelum jam beralih ke pukul sembilan aku menaiki tangga ranjang susun. Mendekati si pelari cepat yang bersiap tidur.

Kubilang mau wawancara. Dia mengerjap. Membuka matanya sedikit. Persis Nussa yang setengah mengantuk membimbing Rara berdo'a.

Pertanyaan pertama tentang hewan favoritnya.

"Cheetah!" jawabnya cepat.

"Kenapa?"

"Soalnya larinya cepat." Tangkas dia merespon.

"Oh, berarti waktu latian tadi pagi pengen lari cepat seperti  cheetah?" Dia mengangguk lalu menguap yang cepat ditutupinya dengan guling. Soalnya itu teh pintu masuknya setan.

"Dari mana tahu cheetah?" Aku masih stand by wawancara.

"Dari film Tupi Pingping."

Ia kemudian menceritakan kisah cheetah yang berlari kencang menuju gerombolan rusa yang akan menjadi santapannya.

"Kalo jadi cheetah Adek mau ngapain?" Ditanya begitu si pelari diam sejenak. Oke sepertinya aku harus meralat pertanyaan untuk anak SD.

"Kalo Adek punya kemampuan seperti cheetah. Bisa lari cepat. Adek mau lari ke mana?"

"Lari menuju pintu," katanya.

"Pintu apa?"

"Pintu akhirat!" Lagi-lagi dia menjawab dengan tangkas.

Masya Allah.

"Tapi larinya harus ada rusanya. Biar terpacu mengejar akhirat. Terus kalo jadi cheetah, enak! Ikut lomba lari. Balapan. Dan menang."

"Memang pernah lihat lomba lari?"

"Pernah."

"Di mana?"

"Di SGO, Bugih. Lapangannya luas. Lari keliling lapangan sejauh 400 meter."

"Siapa yang ikut lomba?"

"Ada. Temen-temen. Namanya Dwi. Dwi itu perempuan, Mbak," jelasnya menegaskan dan menyebut tiga orang lainnya. Satu laki-laki dan dua orang perempuan. Teman kelasnya.

"Yang menang lomba jarak 80 meter, Mbak."

"Lho yang lari 400 meter?"

"Yang 400 meter tak nyongngo'." Dia keburu pulang karena hari sudah siang katanya.

"Ada temen yang pingsan, Mbak. Kalengnger. Capek mungkin. Ada juga yang disiram air dingin ke mukanya."

"Mungkin itu kurang kuda-kuda, Dek. Belum sarapan kali. Eh, besok mau lari pagi atau nggak?"

"Nggak tahu," respon dengan mendidikkan bahu. Dia sudah lemes dan mengantuk.

Beberapa menit kemudian dia sudah berpindah alam. Tertidur.

~

Keesokan harinya ia menagih. Ketika hari sudah agak siangan.

"Mbak tadi kok nggak lari pagi lagi?"

"Eh iya, Insya Allah besok ya. Semoga nggak lupa."

~

Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, dan kuda yang memercikkan bunga api dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba pada waktu pagi, sehingga menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh..

[Surat Al 'Adiyat: 1-5].


Ali RA, menafsirkan bahwa yang dimaksudkan adalah unta. Karena di waktu perang Badar tidak ada kuda.
Hmm, cheetah kan juga bisa berlari kencang. Mungkin si pelari cepat bisa membebaskan Palestina dengan berlari kencang seperti cheetah. Dengan latian rutin pagi-pagi.

Cita-citanya sedari umur tiga tahun adalah pembuat robot. Robot yang bisa bertempur dengan anak-anak Palestina melawan tentara Israel yang pasti kalah dengan izin Allah.

Masya Allah. Semoga Allah ijabah.

Yuk lari pagi! Latihan jadi Cheetah Palestina!

Cheetah Palestina

Senin, 17 Desember 2018

MAKAN

Kenapa manusia harus makan? Inilah pertanyaan yang selalu terngiang di kepalaku.

Aktifitas makan menurutku seringkali mengganggu.

Bayangkan saja kita asyik menulis. Khusyuk masygul mendesain. Atau sedang dalam kegiatan yang membutuhkan konsenterasi penuh dan tiba-tiba lapar datang mengacaukan suasana.

I mean she was the trouble maker :D

Eating takes time. Kita harus bangkit ambil makan. Meninggalkan proyek yang melambai-lambai
Belum lagi mengunyahnya. Duh lama. Idealnya itu dikunyah hingga 33 kali.

Kenapa tidak cukup saja satu suap agar kita bisa kembali fokus.

Apalagi kalau makan masakan Ummu. Satu centong mana cukup wkwkwk.

Ya kan Rasulullah saja makan kurma tiga buah itu sudah. Bahkan Rasulullah seringkali tak makan. Di perutnya terganjal batu-batu untuk menahan rasa lapar.

Aku makan tiga buah kurma, perut kok masih keroncongan yah.

Iyalah, apalagi kalau kamunya sedari pagi nggak makan. Ya nggak cukup.

Kalau kita mah males makan bukan karena tak ada makanan, tapi keburu tanggung proyek yang sedang dikerjakan.

Iyaaa aku sii.

Berbeda di zaman Rasulullah. Beliau menahan lapar karena memang tidak ada kesediaan makanan.

Nah kita (aku) makanan banyak dibuang-buang.

Maafkan aku yaa foodies.

Da atuh, kumaha geuningan..

Aku setuju dengan Vincent. Karakter rekaan-nya Bunda Asma Nadia di serial Aisyah Putri. Dia lebih suka ber-Ramadhan ria tiap bulan.

Hihi, jadi inget kata si Eceu.

"Kamu mah mau puasa tiap hari juga pasti kuat. Lha wong sehari-harinya jarang makan."

Hiks.

Aku pernah mendengar bahwa para astraunat luar angkasa itu tidak pernah makan. Hanya dengan menelan satu kapsul saja sudah kuat bertahan.

Nah, aku mau tuh yang kayak gitu. Tinggal hap. Sudah kenyang. Bisa langsung be right back ke proyek lagi tanpa harus bermenit-menit nge-date sama makanan.

Faktanya kita tidak memiliki kapsul tersebut. Jadi we have to eat. Hihi.

Karena perut hak punya untuk makan. Karena kita butuh energi untuk bergerak.

Sabda Rasulullah, makanlah sekadar menegakkan tulang punggung.

Gian nanti proyeknya tambah keteter tho kalau kita nggak makan, in case nggak makan bisa bikin sakit. Tul nggak?

*berdiskusi tentang hal ini ternyata banyak sependapat denganku, hihi.

Minggu, 11 November 2018

November Rain: Sakura di Sepanjang Jalan UTM

Halo November dan jalan raya UTM yang penuh sakura di musim penghujan! Iya, momen-momen yang gloomy karena langit sering kelabu.

Keadaan yang enaknya duduk di ruang perpustakaan privadi. Di samping kaca jendela berembun. Dilatarbelakangi rintik gerimis dan murattal Syaikh Misyari Rasyid. Dengan secangkir coklat panas mengepul di meja dan buku bacaan favorit di tangan.

Dan tiba-tiba kulihat bunga-bunga sakura telah bermekaran di sepanjang jalan yang selalu kulewati saban hari.

Tsaaaah.

Sakura yang sering kulihat berlokasi di sepanjang di jalan kenangan.


Jalan raya Universitas Trunojoyo Madura. Ia tumbuh sejak engkau turun di pertigaan halte bus. Hingga gerbang kecil tempat engkau dari kampus.

Honestly itu bukan sakura. Cuma pohon besar yang berbunga semua seperti sakura.

Bungur; Pohon Berbunga Sakura di UTM
Tulisan ini terinspirasi dari postingan Alfi yang bercita-cita mengabadikan momen bersama Tatebuya sp. Bunga sakura ala Alfi. Bedanya bunga ini berwarna kuning.

Nah, kalau bunga yang kumaksud adalah bunga bungur!

Aku baru menyadari adanya bunga ini ketika Divisi Pers IT mengadakan pertemuan rutin SABAN HARI. Kerjaannya, membedah karya!



Sesi Bedah Karya Pers IT

Kami kumpulin karya, kami bedah bareng-bareng. Apa yang kurang.  SPOKnya sudah cocok atau belum. Itu hikmah tulisannya apa and so on. Semuanya weh dianalisis. Atau mungkin lebih tepatnya dikeroyok, haha.

Intinya kami ngebahas bagaimana supaya karya kami sempurna. Perfecto. Supaya yang salah dibenerin. Yang kurang ditambahin. Layak dibaca. Biar nggak bikin sakit mata pembaca wkwkwk.

Itu jaman ketika negara api belum menyerang. Eh nggak ding itu mah jaman pas dinosaurus yak. Kita mah belum ada. Belum lahir :D

Itulah jaman Mbak Alin sudah nggak di Yasmin. Terus saat Dek Anggun gabung di Pers IT dan memberi tahu tentang bunga kesukaannya; trifolia.

Ketika itulah aku menyadari bahwa sepanjang jalan UTM banyak tumbuh SAKURA!

Sakura Pink (Google)

Hihi iya, karena kami berangkat bedah karya pagi-pagi. Jam enam sudah harus di lokasi. Jadilah jam lima kami sudah berangkat. Saling jemput. Bersepeda atau jalan kaki.

Kos Mbak Alin dan Dek Anggun yang paling membuat aku SADAR itu bunga SAKURA banget!

Sakura Kuning (Google)

"Itu namanya bunga bungur, Mbak," jelas Dek Anggun menunjuk pohon berbunga lebat di depan indekosnya.

Apapun nama aslinya bagiku tetap sakura, wkwkwk. Efek belum pernah menyentuk sakura secara langsung.

Tentu saja pagi-pagi jalanan masih sepi. Berkabut dan dingin. Apalagi sisa hujan semalam.

Membuat kami melangkah santai. Sambil memandangi bunga sakura penuh kenangan.

Aku menghitung ada sekitar 8 atau 9 lebih pohon bungur di sepanjang jalan UTM.

Sakura Putih (Google)

Di antara halte bus sampai daerah gang Yasmin tumbuh bungur berwarna putih. Tumbuh dan berbunga satu-dua.

Di depan kos Mbak Alin ada warna pink. Bunganya rimbun. Sampai reranting yang tingginya selutut pun berbunga. Bikin betah kalau main.


Di seberang jalan warnet Safa, tepat di tukang pentol langanan sepulang kuliah ada warna pink keunguan. Pohonnya agak tinggi. Besar. Lebar. Jadi bunganya banyak.
Di pertigaan BTN ada warna ungu. Pohonnya mungil tapi tinggi banget. Kalau mau dijepret harus dizoom. Dan mungkin inilah satu-satunya pohon sakura yang tersisa sekarang.

Banyak indekos yang dibangun sepanjang jalan. Warung-warung baru. Toko-toko yang direnovasi. Jalan kampus yang diperlebar. Membuat bunga-bunga sakura harus tumbang.

Bungur Merah Muda di dekat Bakso Metropolis

Pernah suatu kali aku sedang bersepeda menikmati pagi. Berburu udara sehat sebelum tercemar klakson dan knalpot di jalanan kampus.

Kami menemukan batang bunga bungur yang sudah ditebang. Dibuang di rawa-rawa. Malang melintang di antara ilalang yang kian meninggi.

Namun pohon tersebut hidup menghasilkan banyak bunga!
Masya Allah! Sakuraku! 

Jadilah si bunga jadi props foto-foto.

Bungur dan Buku

Hihi. Memang pertemuanku dengan sakura, sukanya ketika matahari belum meninggi. Apalagi rapat-rapat kampus seringnya pagi-pagi.

Waktu itu juga pernah. November yang gerimis. Ketika jalan-jalan pagi dengan anak Yasmin. Hanya sakura di pertigaan BTN yang berbunga.

Entah sekarang. Live cherry blossoms! 

Semoga masih ada. Meski hanya tersisa satu dua pohon. Setelah beberapa hari tanah kenangan menjadi tuan rumah bagi gerimis di bulan November.



November Rain ala Dek Ani bisa dibaca di sini.

Jumat, 09 November 2018

Mati

Tentang hati, tentang mati.
Tentang istiqamah yang harus dinyalakan berkali-kali.

---

Suasana riuh. Nasyid menjadi latar yang memenuhi ruangan. Satu-persatu tamu maju ke pelaminan untuk diabadikan sebagai sebuah kenangan.

Seorang teman mendekat kepadaku. Memilih tidak bergabung dengan keramaian.

"Mbak, bagaimana caranya agar bisa istiqamah?" sebuah pertanyaan yang sulit. Karena kita tahu, iman seringkali terbolak-balik.

Itulah mengapa Ummu Salamah memberi tahu bahwa do'a yang sering dibaca Rasulullah shallaahu wa 'alaihi wa sallam ketika sujud adalah,

Ya muqallibal quluub. Tsabbit qalbii 'ala diinik.

Aku meletakkan hidangan berusaha untuk fokus memberikan jawaban.

Padahal Rasulullah saja yang sudah jelas terjaga. Ada malaikat Jibril yang senantiasa membersamai masih meminta dalam sujud panjangnya.

Then me. Who am I? I am just a dirty dust girl.

Pun dengan ribuan basuhan air hujan. Mungkin tak dapat luntur debu-debu dosa pada diri

Yet, bukankah adalah kewajiban kita ketika ada saudara yang meminta nasihat sudah selayaknya kita memberi?

Baiklah.

Alunan nasyid sudah berganti. Teman-teman sejawat masih mengantri menuju pelaminan. Sedangkan ia menarik kursi. Mencoba mendengarkan.

---

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqomah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati.

[QS. Al-Ahqaf: 13]

Ibnu Katsir tidak menjelaskan secara rinci dalam kitab tafsir. Beliau hanya memberi pesan bahwasanya orang-orang yang beriman; yang mengakui bahwa Allah adalah satu-satu Tuhan yang harus disembahnya, tidak pantas baginya untuk bersedih hati. Tidak untuk masa lalu. Tidak pula untuk masa depan.

Tapi syarat selanjutnya adalah istiqamah.

How can it be?

---

Ajal,
Begitu cepat ia menjemput
Sedang amal belumlah cukup

Hari,
Adalah dentingan waktu
Menunggu mati

Haiku di atas aku tulis Jum'at, 19 Oktober 2018. Ketika Pak Wi meninggal. Tiba-tiba.

Beliau tidak punya penyakit. Biasanya kulihat duduk di depan Griya. Memperhatikan anak-anak pulang-pergi. Memperbaiki perkakas yang rusak serta menjaga dan membantu kebutuhan Griya.

Istrinya bercerita. Beliau waktu itu pulang ke rumah. Duduk-duduk. Lalu tak lama kemudian meninggal.

Teringat pula nenekku yang juga tak punya penyakit. Sedang asyik menggendong cucu, kemudian tetiba malaikat Izrail datang.

---

Ajal,
Begitu cepat ia menjemput
Sedang amal belumlah cukup

Hari,
Adalah dentingan waktu
Menunggu mati

Gempa di Lombok, Tsunami di Palu.
Musibah di darat, laut dan udara yang menelan nyawa manusia.

Bukankah semua adalah kehendak Allah? Peristiwa yang diingini-Nya.

Fa ana tadzhabuun?

Mau ke mana kita pergi? Tempat mana yang dapat kita jadikan lokasi tuk bersembunyi?

Daun yang gugur tertiup angin. Semut di bawah tanah. Burung-burung di balik pepohonan. Bahkan ikan yang berenang di kedalaman laut.

Tak ada yang luput dari penglihatan Allah.

---

"Tahu nggak apa yang ada di pikiranku?" Hening tak ada jawaban. Mungkin dia menggeleng. "Ya Allah bisa nggak yaa, aku masuk surga." Bening menghangat. Tanpa permisi menuruni pipi.

"Aku juga sering berpikir gitu. Banyak dosa dan belum ada bekal ke sana. Ya Allah..."

Dalam do'a kami berpelukan. Saling menguatkan dalam diam.

---

Kami tak tahu kapan kami memiliki pesta, pernikahan kami sendiri namun mati adalah hal yang harus dipersiapkan.

Sejak semula Allah telah menetapkan. Jodoh, rezeki, mati.  Namun banyak orang sibuk mencari dengan siapa ia akan dipasangkan. Sibuk mencari apa yang nanti akan dimakan. Sedang mati telah suri terlupakan untuk disiapkan.

Bukankan dalam Adz-Dzariyat ayat 56 Allah telah menerangkan. Musabab kita diciptakan; agar tunduk patuh kita beribadah kepada-Nya.

Beribadah. Berharap rida Allah. Adalah hal krusial yang harus diprioritaskan.

Karena dunia ini adalah permainan. Tempat kita menabung amal. Persinggahan sebelum  tiba kematian, yang bisa kapan saja datang.


Nasyid sudah lama tak terdengar.

---
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.

[QS. Al-Fajr: 28].

Sabtu, 27 Oktober 2018

Jawaban

Seringkali di antara pilihan-pilihan yang rumit kita membutuhkan jawaban. Kepastian.

Langkah kehidupan di depan kita di depan pun memerlukan perencanaan yang matang.

Berangkat dari diri yang serba kekurangan. Memiliki banyak sekali kelemahan. Kita membutuhkan Allah Ar Rahim. Untuk membantu kita memutuskan.

Meminta pencerahan atas rumitnya masalah. Meminta bantuan untuk kita dapat melangkah.

Ihdinas shirathal mustaqiim.

Ialah pinta yang seringkali kita curahatikan pada-Nya. Dalam permulaan shalat. Dua hingga empat kali di setiap pertemuan.

Atas permintaan seorang mukmin yang sungguh-sungguh iklas dan tuma'ninah dalam sholatnya, Allah menjawab:

Separuh untuk-Ku dan separuh lainnya buat hamba-Ku, serta bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Begitulah Ibnu Katsir menerangkan ayat ke-6 surat Al Fatihah.

Bahwasanya dalam setiap Al Fatihah yang kita baca di kala sholat, ada dialog dengan Allah. Ayat demi ayat.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan kalimat:

Berilah kami ilham jalan petunjuk, yaitu agama Allah yang tiada kebengkokan di dalamnya.

Sedang memurut Ibnu Jarir ayat tersebut merupakan pinta untuk taufik dan hidayah. Dari seorang hamba kepada Rabb-Nya.

- - -

Rasulullah mengajarkan kita Istikharah untuk problematika yang terkadang membuat pening kepala dan tak bisa kita memutuskannya. Jalan mana yang harus diambil. Berbelok ke kanan atau tetap di tempat.

Kehidupan tak pernah sepi dari permasalahan. Hitam-putih hingga warna lainnya yang membuat suasana hati gembira maupun duka.

Satu-dua hal acapkali membuat kita bingung. Bagaimana menentukan masa depan.

Lewat khalwat dengan Sang Maha, kita bertanya.

Kendaraan mana yang harus kita pilih.

- - -

Sebagai mukmin kita menginginkan agar saban hari adalah waktu untuk menabung. Mengisi pahala agar cukup ia dibawa ke surga. Jika bisa.

Maka hal-hal yang membuat Allah rida-lah yang idealisnya kita lakukan.

Dengan istikharah kita meminta diberikan pilihan. Diberikan petunjuk. Diberilan bimbingan.

Agar langkah yang kita ambil nantinya ialah jalan yang membuat Allah senang. Ialah jalan yang ketika kita melokoninya, hari-hari terasa nikmat.

Hingga Allah pun rida.

Karena Engkaulah yang menakdirkan. Sedangkan hamba tidak.
Karena Engkaulah Sang Maha Tahu. Sedangkan hamba tak tahu menahu.

- - -

Jawaban dari hal yang membingungkan tersebut bisa terlihat dari,

Perihal mana yang rasanya semakin sulit dilakukan.
Perihal mana yang semakin Allah mudahkan.

Satu dua jalan dibukakan.
Satu dua pintu ditutup.

- - -

Mungkin kita tak pernah mengira bahwa jawaban yang Allah berikan adalah hal yang tidak terlintas ataupun direncakan sebelumnya.

Qanaah. Cara agar hati kita lapang. Menerima takdir yang diberikan-Nya.

Mencoba menjalani kehidupan yang kita miliki sekarang dengan sebaik-baik penerimaan. Menjalani peran sebagai insan dan hamba. Yang bermanfaat serta peduli terhadap diri dan sekitar.

Cita-cita? Mari kita gantungkan lagi. Pada Allah Rabbul A'la. Pencipta langit dan bumi.

Selasa, 09 Oktober 2018

Stay Here

Setelah segala apa yang kita kerjakan; melakukannya sepenuh hati, menghabiskan waktu dan tenaga yang tak sedikit...

Namun ketika proyek itu selesai,

Atasan, dosen atau bahkan rekan kita sekalipun menganggap hal itu hanya percuma.

Sia-sia belaka...
..

Jika yang kamu kerjakan adalah kebaikan,

Ketahuilah,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sungguh, Allah tidak akan menzhalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.

[Surat An-Nisa', Ayat 40 ].

Maka apakah yang lebih melegakan; membahagiakan dibanding hadiah pahala yang Allah berikan pada kita?

Insya Allah! Jika kita ikhlas.

Stay connected with Allah.
Stay here. Stay istiqamah.
Semoga Allah rida.

Minggu, 23 September 2018

Menulis: Spontan dan Sekarang!

Menulis secara spontan dan sekarang juga. Bisa?

Artinya kau bebas menuliskan apa saja. Bingung?

Begini langkah-langkahnya. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah mengambil medianya. Entah itu komputer jinjing, ponsel ataupun pena dan kertas.

Aku sering melakukan challenge ini hampir setiap hari. Menulis apa saja yang ada di benakku selama sepuluh menit. Topiknya terserah. Bisa sesuatu yang simpel seperti mencurahkan isi hatimu. Tulisan sederhanamu bahkan bisa berupa masalah-masalah sedang kamu hadapi hari ini.

Idealnya tulisan adalah terdiri dari opening, discussion and conclusion. Tentu saja sebuah tulisan berupa masalah dan solusi. Nah, dari menuangkan problematika kehidupan dalam sebuah tulisan maka secara tidak sadar kau akan menemukan solusinya.

Karena sistem urutan secara teknis membuat otak kita berpikir lebih jernih meskipun tidak menegak minuman bersoda. Jadi kamu tidak perlu bingung menuliskan apa dalam mediamu.

Mudahnya selain menuliskan kelindan permasalahan, kamu bisa juga menuliskan apa yang ada di hadapanmu. Let say, mobil yang lewat, awan yang biru, ataupun pepohonan yang rindang.

Pendengaran dan indera lainnya juga patut kita ikut sertakan. Misalnya, kicau burung penyambut pagi, angin yang bertiup sepoi sekali hatta bahkan bunyi klakson yang lewat di depan rumah.

Tuliskan apa saja! Semuanya!

Kau juga boleh mencontek kegiatan rutinku. 10 menit menulis. Aku bisanya menulis menggunakan aplikasi blogger atau catatan di ponsel daripada software semacam office. Setelah media-nya siap, kita bisa menyetel alarm selama 10 menit.

Sepuluh menit itu tidaklah lama bukan dibandingkan main instagram? Jadi kamu juga pasti bisa.

Terkadang aku sampai ketagihan dari yang awalnya ingin sepuluh menit saja hingga-bisa-sampai satu jam! Haha. Ditambah lagi jika ide tiba-tiba datang memyerbu dan boom!

I think it helpful for monthly challenge like Wicha (Writing Challenge), ODOP (One Day One Poem), ODOW (One Day One Work), and so on. Due to the fact, oftenly, in ten minutes I got 300-500 words.

Sesuai kan? Biasanya challenge-challenge tersebut menghendakinya begitu, I means the total of the words.

If you are interested joining the challenge, FLP Jawa Timur has Wicha that consists of classes. Ikut aja dulu kelas pertamanya, nanti lak ketagihan. It builds your skill in writing. Trust me it works ^^

Hubungi Pak Angga, Direktur Wicha yang siap merekrut anggota selanjutnya. Eits, tapi syaratnya harus terdaftar jadi anggota FLP yang berdomisili di Jawa Timur dan harus ber-NRA (Nomer Registrasi Anggota) untuk bergabung di Wi-Cha ini.

"Kalau ikutan Wi-Cha suka nulis apa, Mbak?"

Aku pribadi suka berkontemplasi. Menulis benang kusut yang sedang mengetuk kehidupan. As thesis that has the background of study, permasalahan yang rumit adalah langkah awal agar otakku lebih bekerja. Menuliskan A-Z yang berisi kerumitan-kerumitan tersebut, kemudian secara spontan sinaps di dalam kepala menghasilkan jembatan yang berupa solusi.

Tetiba tulisanku sudah berisi how to break the problem. Secara tidak sadar.

Ting! Bohlam yang bercahaya tersebut datangnya dari Allah melalui buku-buku yang pernah kubaca, pengalaman-pengalaman yang kerap menghampiri dan hikmah yang sebenarnya berlimpah di mana-mana. Semua solusi tersebutkan berkelindan, menghembuskan nafas lega.

Seringkali sebuah proses menulis berakhir melegakan. Setidaknya bagiku. It must be caused by the solution I have after writing activity. I know it'll be happen for you too.

Writing is healing. Kata Bunda Sinta begitu. Menulis adalah salah satu terapi yang bisa menyembuhkan luka. So, instead of, curhat di sosmed yang jatohnya kamu bisa buka aib diri sendiri, bisa tuh menuangkan segala duka lara dalam bentuk tulisan.

Menulis sekarang dan secara spontan? Bisa! Coba deh. Sepuluh menit aja. Siapa tahu nanti kamu ketagihan. Dan bonusnya tulisanmu akan semakin lincah terasah.

Afala tadzakkaruun? Apakah kau tak berpikir? Ayat yang sering Allah ulang. Pertanyaan agar manusia memilki keutuhan eksistensinya. Menulis adalah kegiatan berpikir. Menyambung satu kata menjadi kalimat, kemudian menjelma paragraf hingga lengkaplah satu tulisan. Menulis maka aku ada. Membiarkan otakku lebih bekerja dan memanfaatkan kelebihan yang Allah beri pada hamba-Nya.

That's all. Happy writing and keep spreading the positive vibes!