Kering kerontang di halaman belakang |
Aku tak pernah mengenalnya. Siapa dia atau apapun ia. Hingga saat ini
ketika ia mulai mengetahui banyak hal tentangku. Mulai mengenalku. But,
I’m really don’t know; apa yang ia mau sebenarnya.
Ia mendarat
begitu saja. Terbang bersama merpati awalnya. Lalu seperti yang sudah
aku utarakan, ia mendarat begitu saja. Tak tahu dari mana asalnya.
Ia
berceloteh dengan riangnya. Bernyanyi semaunya. Ku biarkan saja ia
bertingkah seenaknya. Hingga kadang aku terhanyut, ikut bernyanyi
dengannya. Bersenandung bersama. Membicarakan angin yang kebetulan lewat
tanpa sengaja.
Tapi itu saat kata “Ya sudahlah” belum terlontar.
Saat tren ‘Shoimah’ belum begitu menyebar. Ya, itu dulu. Hingga ritual
senandung pun akhirnya berubah. Ia kemudian mulai menyebut tentang daun
yang melegang begitu saja. Jatuh di atas tanah tanpa sepatah kata dari
pemiliknya, pohon.
Ia juga menyebutnya tanah yang membiarkan daun yang gugur berubah warna coklat, kemudian membusuk tanpa ia sapa.
Mungkin aku adalah angin. Yang membuat daun gugur tanpa permisi. Membuatnya jatuh di pelataran tanah kemudian membusuk.
Lihatlah
di antara proses itu. Dia-yang tak lagi terjatuh dari punggung merpati-
diam. Bergeming ketika celoteh datang. Bernyanyi sendiri dalam
bahasanya yang kemudian diam. Kembali terdiam. Dan berulang kali diam.
Tak
lagi ku mengerti ketika ia mengajakku bernyanyi di antara riak malam.
Berbicara di antara barisan yang amat panjang. Ia kembali. Bermain kata
semaunya. Ya, semaunya. Tak peduli ketika senja datangkan malam.
Dia! Dia yang kini menjadi tanah bagi daun yang perlahan membusuk. Dia yang kini menjadi daun tergeletak jatuh dari atas pohon.
Ugh!
Sungguh sebuah sikap menjadikanku mengambil keputusan; Tak ada lagi
cerita tentang dia. Maka ini adalah akhir cerita tentangnya. Tentang
dia!
Yasmin, 14 Oktober 2012