Kamis, 28 Juli 2016

Cerita Mbak Deka, si Mamah Muda [Blografi]


Yosh! Akhirnya setelah UAS, lebaran, liburan akhirnya back to bikin blografi lagi. Blografi, istilah yang aku dapat dari Mbak Meriska. Jadi semacam biografi tapi di dunia blogging. Teman-teman yang lain juga punya berbagai macam istilah. Seperti Mbak Ophi dan Mbak Lina mengistilahkannya dengan blogtour. Intinya sih bagaimana kita mengulas profil tentang seorang blogger.  Mbak Fifah malah punya rubrik tersendiri namanya Sabtu Kenalan.

Kita punya pikiran kita sendiri. Our own opinion. Namun lama-lama dipikir semakin pusing. Nah makanya ada yang namanya the power of sharing. Dengan membaginya dengan orang lain pikiran mumet kita setidaknya berkurang. Dengan bercerita ia akan mendatangkan perasaan lega. Nah, mungkin muasal kenapa nama blog Mbak Deka berjudul Berbagi Cerita.

Yup seperti kata Mbak Meriska, ngeblog itu ibarat ritual buang sial. Menurutnya dengan blogging kita bisa mengurangi stress dan penatnya pikiran. Tidak berbeda jauh dengan pendapat Mbak Deka, “buat saya ngeblog itu me time, Mbak.” Baginya ngeblog adalah sarana refreshing jiwa dan raga.

Hello There
Tentu saja sebagai mamah dengan tiga anak ini pastinya ‘capek ’ ya ngurus rumah seharian. Pantas jika Mbak Deka mengaku nyaman dengan dunia blogging. Iya, mamah yang satu ini sekarang sudah memiliki anggota baru. Debay uang usianya belum genap sebulan. Wah Faiq dan Fahima punya temen baru tuh.

Nih kata Mbak Deka dengan ngeblog uneg-uneg di hati bisa tertuliskan. Pendapat atau pemikiran bisa tersampaikan melaui tulisan. Mbak Deka mengaku lebih suka menuliskan sesuatu daripada dilontarkan langsung melalui lisan. Iya juga ya, soalnya kalau tulisan masih bisa diedit-edit. Kita kalau sekali ngomong keceplosan dan salah bisa langsung bikin sakit hati orang. That’s why, fakkir qabla anta’zhim. Think first before you speak..

Eh kok di atas ada semacam percakapan ya? Ehem, jadi ceritanya di blografi kali ini aku menerapkan metode baru. Kalau biasanya kan nulis profil blogger linked with something I like, seperti kembang di profil Mbak Meriska, anime dan buku di Mbak Fifah atau jalan-jalan di blognya dokter Liza. Jadi sekarang ditambah dengan interview. Selain berkunjung ke rumah beliau di dekamuslim.com aku juga wawancara lewat WA. Begitulah ceritanya*ala Kakek di film Malaysia Pada Zaman Dahulu.

Halo, Apa Kabar?
Meski Mbak Deka terlihat sibuk dengan tugas rumah tangga, itu tak menyurutkan prestasi di dunia blogging lho. Lihat saja prestasinya yang segudang itu.   Such as lomba review-nya Bentang Pustaka, lomba anak, dan berbagai lomba lainnya. Daan ntulisan Mbak Deka juga pernah tembus media. Wah keren ya! Two thumbs up deh, Mbak (y). Apa nih rahasianya sanga juata? Apalagi kalo ngeblog kudu nunggu anak-anak bobo. “Saya ngeblognya pas anak-anak tidur, Mbak.” Hihi, iya dong kalo mereka masih melek kan sebagai mamah kudu mencurahkan perhatian kepada mereka. Betul tak, Mah? 

New Life
Prestasi segudang juga bisa dikarenakan pengalaman. Nah, Mbak Deka ini sudah memasuki dunia blogging sejak 2012. Postingan pertama di blog juga tanggal segitu. Di profil Mbak Deka juga mencantumkan demikian. Pas kita wawancara juga iya. Eh, ngomong tentang postingan. Ada postingan sangat populer di blog Mbak Deka. Artikel tentang cinta terpendam menduduki tangga pertama selama berminggu-minggu*berasa host radio gue :D Sejak 2012 itu pula awal blogging Mbak Deka di dekamuslim.com dan itu satu-satunya blog yang beliau punya. Bagus ‘kan biar kita bisa fokus sampai lulus. Lulus DA/PA dengan nilai kece maksudnya*cie yang baru belajar DA/PA.

Blog Mbak Deka tak hanya berisi tentang keluarga, ada berbagai macam topik yang ditulis dengan 36 label. Bahkan ada bookreview-nya juga lho. Jumlah tulisan ada 222 postingan yang terakhir kulihat. Angka yang cantik ya, jadi pengen nyanyi. I’m feeling 22! Everything will be alright, if you keep me next to you..

Hijau Hutanku
Tak seperti blogger perempuan lainnya yang dominan memakai warna pink sebagai watermark, Mbak Deka lebih memilih hijau. Yuhu, coba deh berkunjung ke dekamuslim.com maka kau akan disajikan dengan warna hehutanan. Dan itu karena Mbak Deka menyukai warna hijau. Kalau Mbak Deka suka warna jingga mah desain blognya sudah dikasih oren. Jadi inget percakapan di Hunger Games, “layaknya warna saat mentari menyenjana senja.”

Oia, dari tadi Mbak Deka mulu siapa sih nama aslinya? Panjangnya Dekaaaaaa. Itu sih gaya zaman anak esde kalo ditanyain nama panjang, hihi ^^V. Jadi lengkapnya Diah Kusumastuti. Kok bisa Deka? Bisa! Karena itu huruf pertama dan kedua dalam nama beliau. Mbak Deka ini asli Solo. Ternyata kita itu sempet tetanggaan. Aku sempat di sana hampir setahun. Eh gatau deh tepatnya tempat beliau di mana tapi daerahnya Sukoharjo. Lupa nanyanya. Soalnya aku di Tawangmangu tepatnya kaki gunung Lawu. Tapi sekarang beliau sedang tinggal di Sidoarjo dan sebelumnya itu kuliah di Surabaya.

Keep Smiling Keep Shining
Nah, biar tambah kenal sama Mbak Deka bisa dihubungi dari berbagai akun. Kirim email saja melalui d3kusumastuti@gmail.com inbox di FB Diah Kusumastuti atau DM di twitter @dekamuslim dan instagram dengan nama akun yang sama. Terakhir, tahu nggak Mbak Deka itu pengennya dengan blogging bisa berbagi manfaat dengan pembaca. Bener banget ya, kaya slogannya temen-temen penulis FLP menebar kebaikan dengan tulisan that we called as dakwah pena. Karena dakwah tak harus  ceramah. Yosh!

Senin, 25 Juli 2016

Touring on the Day of Celebration

Sebelum Lebaran Tiba
Ada yang spesial saat lebaran tiba. Ketiga adikku tinggal di asrama sekolah, aku sedang kuliah di kota lainnya. Sisanya, anak Ummi ada di rumah. Kami tujuh bersaurdara yang jadwal libur sekolahnya tak sama. Ya, karena status dan jenjangnya berbeda; SD, SMP, SMA dan kuliah. Belum lagi satunya di swasta, satunya di negeri. Pokoknya suka susah ngumpulinnya.

Then, when lebaran comes, otomatis itu hari spesial kita. Meski ada yang pulang pas lima hari sebelum  lebaran*itu gue T.T Eva sudah pulang sebelum Ramadhan tiba. Nina pertengahan puasa. Diah seminggu mau lebaran dia sudah di rumah. Aku pulangnya terakhiran, huhu. Secara masih ada dua minggu UAS. Baru tahun ini ngabisin Ramadhan di kampus. Hampir sebulan pula*ngejerr :D

When all families gathered, it’s time to mudiiik. Yeay!

Yosh, Mudiik!
Nyiur Melambai
Tapi mudik kita mah biasa saja. Perjalanan cuma sejam dari rumah. Dan kita tak perlu berjejalan di transportasi publik karena kita mudiknya dijemput dan tak perlu acara macet. Apalagi memasuki wilayah Sumenep, kita akan dimanjakan dengan nyiur melambai di kanan-kiri. Dan sebelum itu kita akan melewati pemandangan laut. Jika mau sih bisa berhenti di Pantai Talang Siring atau vihara merah di dekatnya. Kapan-kapan mampir ah..

Terombang-ambing
Tepatnya rumah nenek kami terletak di daerah Kapedi. Perjalanan menanjak dan menantang masuk sana. Mobil yang kami tumpangi sampe mundur-mundur. Bahasa Maduranya, Dhagha ngetek tako’ labu ka baba, artinya kita sampe dag-dig-dug takut jatuh ke bawah. Pasalnya kita mundur-mundur di tempat yang menanjak banget tahulah jalanan desa lebarya Cuma semeter-dua meter. Maka pantaslah kita tak berhenti komat-kamit saat itu. Indeed, kita dulu pernah mengalaminya.

Daan semuanya terbayar saat kami tiba di rumah Mbah dengan selamat. Alhamdulillah..

Touring ala Kapedi
Let’s Touring! Mari kita artikan touring di dengan bersilaturrahmi atau bisa juga dengan jalan-jalan. Di malam takbiran, kita sudah mulai tuh keliling. Salam-salaman sama keluarga yang masih satu desa. Malam itu rame banget. Selain karena takbir di masjid-masjid, ada langit yang ramai dihiasi kembang api. Meskipun dikata desa, kembang api yang diluncurkan gede-gede dan berwarna. Hmm, kebanyakan itu didapat dari pemudik dari kota-kota besar di Pulau Jawa.

Besoknya, tepat hari raya Idul Fitri kita mulai deh berkeliling ke rumah saudara yang lebih jauh. Dari Desa Sompor kita berjalan, menuju Mantaman, melewati Ju Bara’ dan terakhir Oro. Meskipun berjalan kaki, ternyata seru lho apalagi perginya bareng-bareng sama keluarga besar. Sambil berhenti sana-sini untuk fota-foti. Sayangnya semua foto pada hari itu musnah tak berbekas. Sorry, I can’t show you the pictures. Gomenne.

Nyebur ke Sungai
Hari ketiga kami sekeluarga sudah kembali ke Pamekasan. Dari rumah nenek di Sumenep kami langsung cuss ke rumah nenek yang di Pamekasan. Nah.. karena pas kita nyampe siang, eh, para anak-anak imut (baca: adik-adik) minta main ke sungai. Jadilah kita berangkat, marii.

Main di sungainya lumayan lama. Semuanya pada nyebur. Eh nggak semua sih soalnya ada yang jadi juru kamera, haha. Di sana kita malah main sambil diajari renang sama Ummi. Seru deh pokoknya. Sampe-sampe Dek Lubna yang baru beberapa tahun umurnya nggak mau naek. Terus dia bergaya nggak mau dilepas. Maunya renang sendiri. Hihi, aku tak tega lah. Aku biarkan ia berbaring di tangaku dan kecipak-kecipuklah ia di atas air.

Gratis! Kalo mau belajar renang, ke sungai di Samiran aja, haha.

Akalenjar ka Ghanding
Kejutan! Keeseokan harinya ada surprise kiita sekeluarga besar (baca: keluarga dari Ummi) pada mau jalan ke Ghanding, sebuah daerah di Kabupaten Sumenep. Total ada tujuh keluarga yang ikutan. Dengan bus kami pun melaju pada jam tujuh pagi.

Rute yang kami pakai bukan jalur biasanya. Kami ambil Pakong sebagai alternatif tercepat. Pakong adalah daerah pegunungan di bagian utara Kabupaten Pamekasan. Sepanjang kami disuguhi berbagai macam lahan pertanian dan bebukitan. Daan, brrrr. Lewat sana berasa dinginnya.

Up There
Bu’ Ipong, adalah saudara tertua Ummi yang masih hidup dan berkeluarga di Ghanding, Sumenep. Tahun ini beliau tidak merayakan hari raya di Pamekasan. That’s why kali ini kami menyambangi beliau. Tentu saja kami akan melakukannya dengan senang hati karena, banyak bonusnya!

Masuk daerah Ghanding, sudah terasa khasnya. Baling-baling angin di areal persawahan, gemericik air sungai dan arsitektur perumahan yang masih tradisional banget. Di Madura ada konsep yang namanya Taneyan Lanjhang. Rumah keluarga besar biasanya berjejer sehingga terlihatlah halaman yang memanjang. Di bagian barat rumah biasanya terdapat kobhung. Sawuh atau gazebo tradisional.

Biarkan Angin Menerpa
Kobhung ini dipakai untuk sholat keluarga. Dan terkadang banyak anak-anak tetangga ikut berkumpul dan belajar mengaji. Jika begitu fungsinya berubah menjadi langgar, tempat ibadah. Suatu ketika langgar akan menjadi semakin besar (berubah masjid) seiring banyaknya anak-anak belajar mengaji.


Sampai di rumah Bu’ Ipong para anak-anak imut langsung berganti baju dan nyebur ke sungai. Di sana bilangnya sok-sok. Dan para remajanya mengawasi dan sibuk fota-foti dan main kecipak-kecipuk air.

Puas bermain air, kerlari ke hutan lalu belok ke pantai. Eh salah yaa. Kami pindah lokasi mencari spot keren untuk berfoto ria. Dan dibiarkan itu anak-anak berjemur di pantai mencari kerang. Eh maksudnya di sungai.


Main ke hutan dan beraksi fota-foti di sana. Ya, karena the big reason is kami tak membawa pakaian ganti rentan juga terlihat auratnya. Meski masih nuansa ber lebaran, masih ada segelintir orang yang lalu-lalang ke sawah. Dan tentunya menyebrangi sungai tempat kami mandi. Eits, rawat terliwat aurat juga. Malu ah.


It’s called as Silaturahmi [Pamekasan Touring]
Lebaran Idul Fitri di Sumenep dan Ketupat di Pamekasan. Yup, kalau di Madura begitu. Hari ketujuh Syawal, ada lebaran lagi yang namanya Ketupat. Tepat sekali, di hari spesial itu akan ada banyak aneka macam ketupat yang takkan kau temui di hari Idul Fitri. Lebaran Ketupat ini diadakan karena ada puasa sunnah yang dianjurkan selama enam hari pada waktu Syawal. Jadilah hari ketujuhnya ada perayaan tersebut.

Kami menyebutnya Tellasan Topa’. Masakan di hari ini lebih bervariasi dari Idul Fitri. Selain Soto Pamekasan, ada yang bikin gado-gado dan juga bakso. Itu sih mayoritasnya. Opor mah tak ada. Jarang sepertinya. Idul Fitri juga begitu.

Kalo di sini yang umum itu Soto Pamekasan. Umm, bedanya dengan Soto Madura apa yaa.. Topingnya mungkin. Terus kalo Soto Madura ada kacangnya. Jadi dalam satu mangkok kita potong-potong itu ketupat. Dan diberi toping di atasnya seperti bihun, suiran ayam, kentang goreng, telur ayam rebus yang dipotong memanjang, sambal dan kentang goreng. Kentang goreng berbetuk kotak tipis. Setelah semua siap, lalu siram dengan soto spesial. Tak lupa sertakan potongan ayam yang sukai. Mau bagian sayapp, paha atau kaki (ceker). Oia, tambahkan perasan jeruk nipis biar mantap.

Pagi hari diisi dengan tahlil atau pengajian di langgar dan masjid-masjid. Barulah hidangan tadi disuguhkan. Di sini juga masih ada tradisi ter-ater. Saling mengantarkan makanan ke tetangga. Selain rumah warga, langgar dan masjid menjadi tujuan utama hantaran makanan. Jadi kita bisa saking icip tuh masakan tetangga.
Kelar acara tersebut kita touring ke rumah saudara di rumah nenek. Salaman, icip kue dan kadang dihidangkan makanan berat juga. Daan, angpau tentunya. Yang kecil-kecil sih dikasi. Kita mah yang sudah gede nggak ikutan.

Di Sana, Air Terjun Samiran
Masih inget kan di dekat rumah nenek ada sungainya? Nah di ujung barat sananya, ada air terjun. Ke sanalah kita melanjutkan touring. Cuma yang seumuran sih. Para sepupu dari usia SMP sampai kuliah. Sebenarnya bukan air terjun. Itu hanya DAM. Hanya saja alirannya mirip air terjun. Jadi begitulah orang-orang menyebutnya. Kalo do Samiran terkenal dengan nama Daaman.
Falling Down
Daaman sedang dalam pembangunan besar-besaran. Pemerintah setempat akan mengubahnya menjadi wiasata yang lebih keren lagi. Sayangnya pohon-pohon cemara udang yang berjejer di utara sungai ikutan tertimbun proyek. Padahal tahun sebelumnya itu spot favorit kami. Tapi tak apalah, fota-foti tetap berjalan teruss.

Hayuk Ngarujak
Ba’da jelong-jelong dan fota-foti, kami lanjut touring dong. Kebetulan ada keluarga yang tinggal deket situ jadi weh kita mampir. Daan, selanjutnya ke rumah para sepupu. Dua rumah tujuan kami selanjutnya ada di Desa sebelah. Melewati jembatan besar dengan derasnya air sungai.
Say Peace!

Ada barakah dengan jama’ah. Kami anak desa, maka tak terasa capek berjalan ber-kilokilo jauhnya. Yosh, ke Desa Bettet kami menuju. Berhenti di rumah Indah disuguhi bakso, ngabisin kue dan mampir sholat Dhuhur. Lanjut jalan melewati persawahan. Dan sambil sesekali fota-foti dong. Haha.

Di rumah Mbak Pipit kita disuguhi bakso lagi. Kali ini tentu saja tak pakai lontong. Hanya menikmati pentol-pentol. Haduh, itu perut sudah membledug rasanya. Eits, si tuan rumah malah ngajakin rujakan. Sambalnya ala Madura pastinya. Petis ikan dengan cabe berenang. Apa sih istilahnya. Ya gitu deh. Maka dengan potong mangga muda, timun dan bengkoang kita pun let’s go!

Saat Kita Bersama
Tenaga yang didapat lumayan buat jalan lagi menuju rumah nenek. Melewati persawahan, sungai, hutan jati dan bambu. Sampai di tempat, tepar deh..

Haha, seru deh pastinya lebaran tahun ini. Idul Fitri maupun Tellasan Topa’nya. Apalagi touringnya. Setelah itu masih ada keseruan lainnya. Tellasan Topa’ ‘kan Rabu ya. Minggunya kita nobar KMGP dan jalan-jalan ke Gladhak Anyar. Masih dengan para sepupu kompak.



Sekarang, adikku sudah kembali ke sekolah.Sudah pada balik pondok, dan memulai aktivitas kuliah. Sepi lagi deh rumah. Semoga tahun depan bisa lebaran bareng lagi :*