Sabtu, 18 Maret 2017

S2, Bekerja, atau Menikah?

Tanpa bantuan kaum feminis, wanita di mata Islam telah diagungkan sebelumnya. Ia sama derajatnya dengan kaum pria. Bahwa baik pria maupun wanita berkah mendapat pahala, berhak mendapat surga, berhak akan perjumpaan dengan Tuhan Allah azza wa jalla.

Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
[An Nisa’: 124]

Maka sebenarnya terkait menuntut ilmu pun sama. Karena dalam sebuah hadits disebutkan pencarian ilmu diserukan kepada semua lapisan. Baik pria maupun wanita. Bahkan pencarian ilmu dimulakan sejak bayi di dalam kandungan hingga ruh dicabut dari badan. Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi, begitu bunyi sebuah hadits shahih.

Kesempatan menuntut ilmu, melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi adalah juga sebuah peluang. Strata dua misalnya. Hatta meski ia seorang wanita. Namun bagi wanita yang sudah menempuh strata satu, hal ini masih menjadi kegelisahan tersendiri.

Ditambah andaikata datang seorang lelaki melamar. Ini terkadang juga merumitkan. Karena animo yang beredar di masyarakat, tidaklah mudah menjalani kuliah sembari menikah.

Jadi, lanjut S2 atau menikah? Atau, karena sudah memiliki gelar, banyak pekerjaan halal menggiurkan datang memberi peluang kerja. Sehingga pelanjutan ilmu di bangku formal, rasa-rasanya tak lagi diperlukan. Sedang gairah akan mencari ilmu sedang menggebu.

Kuliah, menikah atau bekerja saja?

Ini bukan tentang iklan pemutih wajah itu. Hanya realita yang menjadi kegalauan para wanita selepas kuliah. Pertanyaan semacam seringkali melintasi benak. Membutuhkan jawaban dan kepastian.

Ambil saja apa-apa yang ringan. Yang sama kadarnya dengan kemampuan. Jika mendapat beasiswa S2 ke luar negeri contohnya. Amat disayangkan jika harus dilepaskan. Terlebih, perjuangan untuk mendapatkannya juga lumayan. Jadi, lanjutkan!

Perkara pangeran yang datang kemudian, bisa saja diajak bersama. Berjuang di negeri orang. Lagi pula ada banyak beasiswa yang juga menawarkan biaya untuk pasangan. So, don’t worry losing your dream, girls!

Nah, jadi bisa ambil keduanya kan? Kerja juga bisa sambil dijalankan. Disarankan berkarir yang sesuai dengan passion. Jadi menjalaninya bisa dengan happy setiap hari. Sehingga jika hobinya menulis, bisa menjadi penulis. Menulis buku atau yang lebih ringan dituangkan di blog. Banyak lho wanita-wanita berpenghasilan lumayan dari blog.

Suka craft, mengutak-atik komputer, desain atau berdagang? Cus, jalankan yang sesuai minat. Wanita yang sukses dari berjualan online juga tidak sedikit jumlahnya. Kenali passion kemudian take action.

Wah, bisa jalan ketiga-tiganya ya. Bismillah.

Tapi yang pasti kembalikan lagi semuanya pada jalan Allah. Pastikan S2 diniatkan untuk Allah, kerjanya yang halal. Yang penting semua yang dikerjakan adalah hal-hal yang mendekatkan pada Allah. Tentang pasangan, pastikan pilih yang sholeh ya!

*published on Minhaj 73 ed

21 komentar:

  1. Dahulu saya kepingin s2 tapi ngga Ada duitnya jadi bekerja ehh uda kerja sudah lupa deh S2 hehehe, nice artikel mbak :)

    BalasHapus
  2. Sempet ngerasain kegalauan ini juga pas awal-awal lulus. Tapi sekarang Alhamdulillah udah nemuin arah alias passion

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu yang penting; kita tahu apa yang kita mau; passion ^^

      Hapus
  3. Aku sesuai urutan judul ini, mbak. Setelah lulus S1 langsung S2. Sudah lulus S2 barulah dapat kerjaan yg pas. Nah... menikah nih yang belum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera dipertemukan dengan pangeran impian, Mbak Lida ^^

      Hapus
  4. Semuanya balik lagi ke passion masing2. Kita udh harus tau kita mau jadi apa atau mau melakukan apa. Kalo memang kita mau berkarir dikantor dan punya jabatan sangat tinggi, mgkn sekolah s2 penting. Tp kl ingin enterpreneur aku rasa s1 enoughh yaa walaupun aku pribadi mau s2 lg sh ambil bisnis. Cm itu msh optional. Utk mslh pasangan, jodoh di tangan Tuhan. Udah ada yg mengatur jd gausa takut kehilangan kalo trnyata memang menghambat perjalanan hidup kita yg sudah kita atur sedemikian rupa :)

    Elisabethgultom.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, betul banget. Something we need is knowing our self deeply ^^

      Hapus
  5. Mudah-mudahan bisa jalan ke tiganya tanpa harus mengurangi fitrah sebagai wanita muslimah ya mbak hehehe. amiin.

    BalasHapus
  6. Jadi teringat sahabat saya, lulus kuliah kerja lalu menikah dan melanjutkan S2 di jepang, 3 bulan kemudian suami n anaknya nyusul ke sana. Suaminya resign dari pekerjaannya di Indonesia dan sama2 kuliah S2 di jepang bareng istrinya. Sekarang mereka sudah lulus dan di Indonesia dan sudah bekerja lagi :)

    BalasHapus
  7. Semua pilihan tergantung kita ya mba. Aku dulu pengen setelah lulus s1 langsung lanjut s2. Tapi karena pas s1 nyambi kuliah jadi ngerasa nyari duit susah akhirnya tetap lanjutin kerja samapai lulus. Lalu menikah dan anak lahir, Allah berikan rejeki kuliah s2 dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Semoga pilihan terbaik mba miliki ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Alhamdulillah, ya, Mbak. Ah, yang penting mah Allah ridha :)

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. Semua bisa dikerjakan dalam 1 waktu klo Allah sudah ridho ya mba... aku dulu sebelum nikah, kuliah nyambi kerja juga mba. Pagi-sore kerja, kuliah malam. Justru malah enak bawaannya, ga pernah kepikiran aneh2 atau hal negatif, bahagia karena padat aktivitas...

    BalasHapus
  10. Udah ketemu bakal calon pangerannya mbak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pangerannya masih berkelana di negeri antah-berantah, Mbak, haha.

      Hapus