Selasa, 16 Februari 2016

Backpacking to Malang!


Backpackering alone is blessing when it is rain
Bus mini yang aku tumpangi melaju ugal-ugalan. Tak banyak penumpang yang ikut serta. Maklum bulan ini mahasiswa UTM sedang berlibur. Bus jurusan Pamekasan-Bangkalan pun lengang.

Masih dengan gayanya yang 'kurang sopan' bus sesekali berhenti,  mengangkut penumpang. Seperti yang terlihat di luar begitulah di dalam. Hal paling tidak aku sukai adalah perokok. Apalagi di dalam kendaraan umum. Benar-benar membuatku tidak betah. Seorang bapak paruh baya tepat di belakangku dan kakek-kakek berkopyah. Mereka dengan cueknya mengisap cerutu. Tak peduli aku batuk-batuk menggerutu. Hmm, padahal si bapak juga membawa anak. Semoga para perokok di muka bumi lekas insaf.

Smoking will  kill you someday.

Penumpang yang sepi membuat bus harus berganti di Sampang. Fasilitas yang dimilikinya lumayan. Tempat duduk yang lebih empuk dan layar TV di setiap setnya. Ada AC jika ingin kau hidupkan. Aku kemudian terlelap entah beberapa lama. Kali ini sempurna, namun kemudian..

Kami para harus berganti angkot lagi. Untuk yang ketiga. Alhamdulillah.

Menuju jam empat sore, akhirnya aku sampai di Telang. Dijemput seorang teman dengan mengendarai motor. Telang, tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Malang.

Di Telang, aku menginap di kos. Hanya ada beberapa kawan yang tersisa. Ada yang sedang menggarap skripsi, merampungkan KKN dan tugas organisasi. Sisanya sedang berlibur di desa.

Telang sepi. Para penghuninya sedang melancong ke luar negeri. Eh, pulang kampung maksudnya. Sebagian warga Telang adalah mahasiswa-mahasiswi UTM. Universitas Trunojoyo Madura. Toko-toko yang biasanya ramai pun senyap. Jadilah untuk makan malam kami mencarinya di daerah Kamal. Sekitar 15 menit pakai motor.

Menu malam itu, bakso, lalapan dan bubur kacang hijau serta sekotak susu. Eits, itu menu kami berempat. Bukan hanya aku saja. Aku memesan bakso tenis yang ukurannya besar. Seporsi dapat dikantongi dengan Rp 10.000 Lumayan, perutku kenyang juga meski tanpa nasi.

Kawan-kawan menanyakan perihal perjalanan esok ke Malang. Kuterangkan bahwa aku akan berangkat sendirian. Layaknya seorang backpacker. Haha, gayanya. Padahal sebelumnya belum pernah ke luar Madura sendirian.

"Bareng ikhwan-nya saja lho, Dek. Biar ada temannya," itu usulan dari Mbak kos. Hmm, aku tidak yakin akan hal itu. Hei, kita bukan mahram >_<

Perjalanan kali ini memang dalam rangka acara Uprgrading FLP JATIM. Dan aku mewakili FLP Bangkalan. Ada lima orang sebenarnya, tapi mereka berangkat dari kota yang berbeda. Ada yang dari Jombang, Lamongan dan Sidoarjo. Aku sendiri berangkat dari Pamekasan. Satu lagi dari Bangkalan. Bisa bareng sebenarnya, tapi dia ikhwan. Masa iya?

Esok paginya sebelum tepat pukul enam aku sudang hengkang dari Telang. Diantar seorang kawan menuju Pelabuhan Kamal. Tiket naik kapal dikenai lima ribu rupiah. Deg-degan saat melangkah ke atas kapal. Ya Allah mudahkan, doaku berkali-kali.

Sebelumnya, aku sudah ditelpon teman. Diberitahu ancer-ancernya. "Nanti dari Perak naik bus ke Bungur, mungkin satu jam-an. Lanjut naik bus jurusan Malang terus turun di Arjosari". Malamnya pun aku sudah memisahkan uang-uang kecil. Sesuai tarif angkot yang diinstruksikan rekan-rekan.

Bismillahi majreha wa mursaha.

Tiket Kamal
Delapan belas menit melewati angka enam, kapal mulai berangkat. Bergerak meninggalkan pulau garam. Petualanganku dimulai. Yah, meskipun agak risau.

Aroma kopi menyeruak di antara lainnya. Banyak penjaja kopi menawarkan dagangannya. Aroma pagi. Tak lama asap rokok membumbung tinggi dari segala penjuru. Ugh, lagi!

Jembatan Suramadu terlihat dari jauh. Penuh kabut. Abu-abu. Matahari belum meninggi. Awan kelabu mencegatnya pagi ini. Namun beberapa menit kemudian wibawanya memantul di atas perairan. Rona emas yang menyingga.

Iseng. Mataku memeriksa sudut-sudut penyulut asap. Di arah jam dua, lelaki berbaju ABRI tampak pertama dalam pandanganku. Kemudian bapak dengan jaket motor dealer di seberang bangku. Lalu kakek dengan batu akik besar berwarna coklat mengkilap. Dan orang-orang lainnya yang tampak buram. Tak terjangkau indera penglihat.

Di depan sana pria berkacamata menikmati korannya. Itu lebih baik daripada menebar racun ke udara. Menambah pengetahuan sebagai sarapan. Sarapan? Ah, nasib. Perutku sedang kosong. Tadi pagi hanya beberapa butir kismis yang berhasil masuk. Hmm..

Kapal mendekati Surabaya. Dua menit lagi aku akan turun. Cahaya mentari telah menerpa wajahku. Gedung khas perkotaan dan pabrik-pabrik dengan kepulan asap tampak kian dekat. Bismillah..

Aku menuruni tangga. Siap menyentuh pulau jawa. Gerimis menyambutku. Ah, semoga perjalanan semakin berkah.

Aku menangkap sosok gadis dengan jaket baseball hijau. Jaket KKN semester ini. Kucoba menyapanya, siapa tahu jadi teman seperjalanan. Jadi nggak halan-halan sendirian nanti. Asyiik.

Kami mengobrol banyak hal. Dan ternyata dia satu kelompok KKN with my roomate. Wah, kebetulan bukan. Allah memang tak salah mempertemukan kami. Sayangnya kami harus berpisah. Dia langsung naik angkot ke Wilangun bukan bus menuju Bungur. Dan aku lupa menanyakan namanya. Dia hanya bilang asal Gresik.

Beberapa saat pikiranku terdiam meski langkahku terus melangkah cepat. Aku harus naik apa?

"Ayo, Bungur, Bungur!" suara kondektur membuat lajuku semakin cepat. Hap! Aku naik ke dalam bus Semoga nggak kesasar.

Pukul 06:47 A.M saat bus melaju meninggalkan Perak. Enam ribu kubayar. Selanjutnya aku mengambil hape. Ingin memberikan kabar pada teman karena kita janjian bertemu di daerah Arteri, Porong. Lebih tepatnya dia akan mencegat bus yang aku tumpangi dan melaju bersama nantinya.

Aku panik Indosat loadingnya lama. Alamat tak dapat buka Facebook.  Telfon Abi dengan AS, pulsa tidak mencukupi katanya. Padahal waktu di kapal dua kartu itu masih bisa. Wong gratisan ke sesama. Whoaa. Ada alien  sms lagi, ukh berangkat dari Madura jam berapa?

Kyaaa, pesannya baru nongol. Ini sudah Jawa. Apa? Jawa? Mungkin karena di jawa semua kartuku tak berfungsi sebagaimana mestinya. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Ya, ini 'kan AS Madura. Yang Indosat mungkin juga sama.

Alhamdulillah ada pulsa masuk. Hurray! Aku ingat sebelumnya di atas kapal, aku 'menggosipkan' pulsa dengan Abi via telepon. Wah, Abi pengertian. Thank you, Dad :*

Sekali mengaktikan paketan data langsung ada seribu pesan WA. Ada tiga orang baru dan chat dari berbagai grup. Membalasnya satu-satu, lumayan juga.

Selanjutnya mari nikmati pemandangan kota dengan bangunan-bangunan tempo doeloe. Aku catat-catat lekat, memotretnya dalam ingatan. Yuhuu. Enjoy the journey.
Cekrek! Ups, lupa disilent :D

7:56 A.M aku sampai Bungur. Melangkah cepat-cepat mengikuti arus. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Duduk di ruang tunggu. Mengeluarkan botol air dan mengunyah beberapa buah kismis. Lapar.

"Mbak, nggak usah nunggu orang itu.   Mbak langsung naik bus ke Malang saja. Naik yang ekonomi bukan patas," sebuah pesan masuk. Dari teman yang mengajakku janjian di Arteri Porong.

Tak kutemukan yang ia maksud. Bus patas dengan jurusan Malang yang paling mencolok pandangan. Aku mulai gelisah. Berkali-kali kusisir papan nama. Berharap menemukan yang ia maksud. Tak ada. Akhirnya aku menyerah. Pasrah.

Sebuah papan pentunjuk di depan bangku membuat mataku berbinar lagi. Bukan tulisan dengan jurusan Malang, namun musholla. Kugendong lagi tasku. Menyusuri deretan tempat duduk, mencari musholla.

Orang-orang heran menatapku. Orang udik dari mana ini, mungkin begitu pikirnya. Musholla tak jua kutemukan hingga ujung. Aku kembali ke tempat semula. Duduk.

Yang kulakukan kemudian membaca tarif-tarif berbagai jurusan di ruang tunggu. Angkanya berubah-rubah sesuai kota. Seperti tercerahkan aku bangkit dari duduk dan keluar dari ruang tunggu. Menuju bus jurusan Malang.

Kudekati, dan masih ada tulisan patasnya. Argh.. aku linglung ke sana ke mari. Jadi naik atau nggak yaa tapi jangan yang patas katanya.

Di tengah perasaan bingung yang terus melanda sebuah panggilan masuk lewat WA.

"Mbak sudah ketemu busnya?" Aku menggeleng. Eh dia kan tak melihat yaa \^0^/

"Coba tanya orang-orang di sekitar situ. Sambil terus jalan ke arah pojok. Sebelah kanan dari pintu keluar," katanya sambil memberikan instruksi. Soal sebelah kanan aku agak bingung awalnya. Pokoknya riweuh deh. Mumet pikiranku waktu itu >_<

"Pak, jurusan bus ekonomi Malang sebelah mana?" tanyaku takut-takut, tapi ternyata bapaknya ramah banget. Beliau menunjukkan dengan sabar, atau kasian yaaa :p

Akhirnya ketemu juga dan aku adalah penumpang pertama. Yeay! Dua puluh enam melewati angka delapan ketika menghempaskan diri dengan nyaman di kursi penumpang. Iyalah masa' supir. Hampir setengah jam gue cari bus ini.

"Nanti turunnya di Arjosari," instruksi temanku lagi lewat WA. Siap komandan! 

"Permisi," suara seseorang terdengar saat aku sedang asyik saling berbalas pesan. Di dalam bus umum begini biasa ada pengamen atau pedagang asongan menjajakan dagangannya. Jadi jangan heran yaa. Nasehatin siapa, Bu? :p

"Permisi," kali ini suara sedikit agak dikeraskan. Rupanya ada lelaki memanggilku dari kursi belakang. Hii, tak kirainn.

"Ini busnya nanti terakhir turun di mana?" tanyanya.

"Terminal Arjosari," jawabku mengutip pesan teman. Benar 'kan?

"Oo, bayarnya berapa ya?" dia melanjutkan pertanyaannya yang kedua.

"Tiga belas ribu lima ratus," di ruang tertera begitu. Untung tadi lihat tarifnya di ruang tunggu. Jadi bermanfaat 'kaan..

Ia pun kembali ke tempat duduknya, terlibat dengan seseorang dalam panggilan telepon. Dari yang kudengar, ini perjalanan pertamanya ke Malang. Mau travelling gitu jare. Nggak tau dia gue juga baru ke Malang sendirian. Haha.

Selanjutnya aku tak mendengar lagi. Sudah khusyuk menikmati pemandangan sekitar. Apa yaa, pemandangan perkotaan. Gedung dan pertokoan Surabaya.
Tak lama kemudian kondektur mendatangiku, menagih pembayaran. Kena empat belas ribu ternyata. Ya, nambah. Beda lima ratus. Tak apalah lagian sedang tak punya recehan juga. Hitung-hitung memperbaiki perekonomian Indonesia. Tsaah.

Bus kemudian memasuki tol. Aku tak melihat apa namanya. Lebih tepatnya aku sudah mencari ini tol apa, tapi tak kutemukan papan namanya. Soalnya temanku meminta dikirimi pesan  jika sudah masuk Tol Waru.
Urusan saling kirim pesan ini agak riweuh karena bus sudah berkali-kali berganti tol. Hingga akhirnya aku memotret dan mengirimkan gambar jalan sekitar tol. You know, jalan sekitar tol 'kan gitu-gitu aja, tapi aku berharap ia kenal daerahnya.

Temanku sudah ngebut dari rumah katanya. Ia bertanya nama bus yang aku tumpangi. Kukatakan, MBOYS.
Taken from the bus I ride in Surabaya
Mata terlempar ke luar jendela. Gunung besar bertakhta di sana. Nah, perjalanan panjang seperti ini sangat menguntungkan jika berada di situ. Pemandangan di luar jendela menjadi hiburan yang mumpuni bagi pejalan. Gunung tinggi menjulang terus menjadi pemandangan utama. Semua penumpang seperti tersedot pesonanya. Belok kanan, belok kiri mata tetap membesar terarah ke sana. Subnallah, berdecik kagum kami pada-Nya.

"Arteri, arteri!" kenek di bagian depan membunyikan besi sebagai peringatan. Aku bersiap menunggu. Tempat duduk di sampingku sudah kurapikan. Ransel yang semula berada di sampingku berpindah ke atas pangkuan.

Harap-harap cemas. Berharap temanku segera naik. Meski begitu tak seorang pun terlihat naik.

"Mbak, udah lewat apa belum?"
"Ini sudah halte Gempol"
"Waduh.."

Akhirnya kita tak jadi sebus bareng. Ia naik bus yang berbeda. Jadilah aku benar-benar backpackering alone. Whoaa, bismillah aja. Allah pasti tahu yang terbaik.

Seorang wanita berkerudung merah naik. Kugeser lagi ransel yang tersedia buat teman. Si ahmar pun tersenyum dan duduk di sampingku. Mungkin aku harus  bertemu banyak teman baru.

Aku kemudian mencoba untuk memberanikan diri berkenalan dengan si ahmar. Namun saat kumenoleh ia sedang tidur dengan pulas. Eh? Secepat itu... Ya sudahlah, mungkin dia sedang capek. Pilihan selanjutnya tentu saja menikmati perjalanan.
Mau makan?
Memandang jejeran warung di jalanan. Aneka jajanan di luar jendelaaa. Hmm, makanan-makanan itu membuat rasa lapar. Mulai emang-emang yang menjajakan bakpao sampai warung di pinggir jalan dengan spanduk besar. Dan sepertinya ada warung plus-plus. Wanita dengan dress seksi warna merah dengan bibir dan dandanan menor menyala. Ggrrr, naudzubillah.

Pikiranku kembali pada makanan lagi. Ditambah ada kuliner yang menurutku 'menggelikan'. Ada tuh aneka kikil. Baso kikil, soto kikil sama lontong kikil. Kyaa, aromanya membikin perut tambah lapar. In fact, aku tak terlalu menyukai kuliner yang satu itu.

Oia, buku yang kubawa dalam perjalanan adalah Pesantren Impian. Novel karya Asma Nadia ini bercerita tentang lima belas pemuda dan pemudi diundang masuk pesantren. Latar belakang para santri berbeda-beda. Ada yang pembunuh, pecandu dan aneka kejahatan kriminal lainnya. Misterius, begitulah kalau bisa dibilang. Mencekam ceritanya.

Kembali kulempar pandang ke luar jendela. Pemandang sekitar amat sayang jika dilewatkan. Spanduk-spanduk destinasi menggugah untuk didatangi. Puncak Nirwana? Boleh juga tapi di mana? Ah, mereka menggoda.

Sampai di Sengon, tepatnya dekat masjid sekitar Purwosari, macet. Di grup WA memang sempat ramai membicarakan hal ini. Tadi temanku juga wanti-wanti. Ah, trapped juga gue.

Bus kemudian mengambil jalan pintas. Berbelok melewati persawahan hijau. Masyarakat sekitar tampak aneh. Mereka kebingungan, kok ada bus besar lewat sini? Haha, gitu kali ya mikirnya. Pemandangannya cukup oke dan satu lagi, mulai berkabut.

Memasuki Purwodadi aku mengantuk. Tidurlah. Bukankah itu obat mujarabnya. Seperti tertidur beberapa menit saja. Aku terbangun saat kondektur mengumumkan daerah Lawang. Hampir sampai, aku bersiap.

Tapi ternyata agak lama juga. Mataku terpaku sejenak pada toko bertuliskan Oleh-oleh Khas Bali. Eeeeeh? Oleh-oleh Bali ada di Malang? Biasa aja dong, oleh-oleh dari Mekkah juga ada tokonya di Pamekasan.
"Arjosari, Arjosari!" Seperti biasa pengumuman dari pak kondektur. 

"Pak, Pak!" niatku memberitahu bahwa aku turun di situ. Sedetik kemudian sinaps dalam otakku bekerja. Kalo ini Arjosari mana terminalnya?
 
Ternyata belum benar-benar sampai. Tadi itu hanya pengumuman biasa. Agar para penumpang siap sedia. Ohh..

Haha, jadi deh salah tingkah.

Terminalnya berbeda dengan di Bungur. Ruang tunggunya lebih tradisional. Aku agak bingung awalnya mencari ruang tunggu sampai muter-muter. Alhamdulillah, setelah berhenti minum dan mengatur nafas, temanku menelepon.

Whoaa, akhirnya ada temen bareng.  Setelah cipika-cipiki kami memutuskan mencari masjid untuk sholat dulu. Ada sih tulisan musholla tapi kami tak menemukan wujudnya. Lalu kami pun menyeberang meninggalkan terminal. Memutuskan melanjutkan pencarian. Masjid mana yaa.

Tak jadi ke masjid karena ia tak ditemukan. Dari Arjosari kami naik angkot dengan kode ADL ke UMM. Yuhuu, perjalanan kita belum usai! Jalan-jalan khas mahasiswa mulai tampak. Kafe dengan tulisan, Harga Mahasiswa Rasa Luarbiasa membuatku ingat kampus tercinta. Di sinu juga ada ya semboyan begitu. Pakaian ala kampus juga bertebaran. Angkot melewati kampus Brawijaya dan UIN. Aku sempat memotretnya cekrek-cekrek.

Di dalam angkot kami ngobrol ngalor-ngidul. Tentang buku incaran, berita update kosan dan banyaaak banget. Maklum ini 'kan perjalanan di waktu libur kampus. Jadi serasa bertahunan tak bertemu.

Angkot berhenti di Landungsari. Menurut penuturan pak angkot kami kudu jalan sedikit lagi. Okelah tak apa. Kami bayar enam ribu, karena menurut kami perjalanan yang ditempuh tadi jauh sekali. Eh ternyata bayarnya cukup lima rebu aja.

12:56 P.M kami memasuki areal UMM. Ahh, rasanya perjalanan panjang terbayarkan. Besar dan mewah. Buka mepet sawah lho. 

Tujuan pertama kami, masjid! Yoo, let's go! Akhirnya aku tak sendirian lagi. Di sana aku bertemu dua rekan lainnya. Selesai sholat kami menunggu rekan seorang lagi. Sambil menunggu kami fota-foti dulu. Eaa..
Saat adzan Ashar berkumandang pun yang ditunggu tak jua muncul ke hadapan. Kami memutuskan untuk kembali ke masjid untuk sholat. Aku sendiri sudah menjamak sholat, jadi menunggu mereka bisa tuh dibuat baca-baca dulu. Your spare time jadi keguna 'kaan. Selepas sholat si do'i tak terlihat juga. Daripada nganggur kita lanjut cari makan deh. Pas selesai makan baru tuh kita ngumpul berlima.

Acara Ugrading FLP ini memakan waktu tiga hari. Ada apa di sana? Intip saja postingan selanjutnya. Stay tuned yaa.

FYI, pulangnya dari UMM kita berdelapan. Bareng anak FLP Pamekasan. Kan searah tuh. Sama-sama Madura. Tapi sampai Lawang kita berpisah soalnya aku beli oleh-oleh dulu. Mereka awalnya mau ke sana juga tapi tak jadi.

"Di rumah nggak ada yang mau dioleh-olehin. Nggak mungkin ada yang makan."

Oh, gitu. Di rumahku ada empat orang yang nungguin. Dua adik kecil sudah woro-woro di telepon. Jadi nggak mungkin aku PHPin. 

Dari Lawang aku menginap di Sidoarjo karena takut kemaleman. Sama itu lho temanku yang Arteri-arteri. Ini ceritanya aku menginap di sana.

Pulang ke Madura esoknya jam delapan pagi. Diantar teman dari rumahnya ke jalan besar. Jam 08:46 A.M akhirnya aku mendapat bus dari Porong ke Bungur. Backpackering alone lagi deh. Bismillah ajah! Dadah, Sidoarjo, dadah teman..

Banjir Terminal
Di Bungur ternyata banjir. Tingginya semata kaki orang dewasa. Turun dari bus aku lompat-lompat menghindari air. Sampai di terminal aku ternyata masih kebingungan. Bukannya masuk bus antar kota tapi bus kota. Untung saja ada bapak-bapak pembaca koran baik hati yang menunjukkan ke jalan yang benar.
Hop! Akhirnya kutemukan juga bus jurusan Madura. Maduraaa, I'm coming. Haha, rindunyaa.

Kali ini aku tak terlalu memperhatikan jalan lagi. The most thing I want is nyampe Madura secepatnya. Aku mulai lelah. Yang kucatat jam 10:55 A.M sudah enter the bridge

Dari terminal dekat STAIN Pamekasan aku meneruskan perjalanan  dengan menaiki bus mini menuju Ghadin. Dari Ghadin aku berjalan menuju Bakso Cak Yono. Di sana aku menunggu jemputan dan jam 14:23 aku tepar. Okeh, kapan -kapan kita halan-halan lagi.
Jalanan Pamekasan



23 komentar:

  1. aku semakin senang membacanya, serasa seperti diketoki palu, Menjadi penulis adalah keinginanku yg sangat tinggi dulu, ya duluuu... karna sekarang aku tak lagi menekuninya...
    ah rinduuu..
    rinduuu menulis...
    dan jua rindu pada sahabatku ini, maaf aku tak bisa menemanimu di Malang yaa :(
    seharusnya aku disana dan tak membuatmu bingung ya.. hihii

    musytaqqah mb chopiiii :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat datang di dunia menulis Ayiiik. Yuk lanjut lagi. Nulis sing akeh ;)

      Hapus
  2. So inspiring ☺
    Ya kali kapan² ajakin anak berisik ini backpackeran, kan pengen 😂

    BalasHapus
  3. Hua.. Do'i.. Hehe
    hem.. Aku belum menuliskannya.. Eh, PR besar jg belum rampung.. Ohh..
    Suka-suka.. Aku juga sering perjalanan sendiri ke Malang kemaren pas pkl di sana. Dan kalau malang ke jombang kita membelah gunung.. He he dan baru sadar klau dipinggiran jalan banyak pohon durian. Jadi ngiler ngeliatnya.. Hehehe
    Yosh.. Selamat halan-halan kapan-kapan ke lamongan.. He he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Do'i kan artinya dia, Mbak Wind 😅

      Ditulis juga dong! Kalau uda, jangan lupa mention yaa.

      Lamongan? Wah, boleh, boleh. Ayo kita pasang tanggal 😍

      Hapus
  4. Perjalanan yang panjang yaaa, dek...
    Tapi senyampang masih muda, memang selayaknya memperkaya wawasan dengan banyak ke tempat-tempat baru.

    Alhamdulillah...
    Semoga sehat selalu dan bisa backperan lagiii....Yeeay!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Selain nambah wawasan baru halan-halan meski sendirian itu bikin nagih ><

      Hapus
  5. Jadi ingat perjalanan saat hamil ke Malang. Saat itu ala bekpeker, dan kami tidur numpang di mushola Polsek Tumpang!haha...

    BalasHapus
  6. Jadi inget jaman mahasiswa... kemana-mana kadang juga sendirian...ah jadi rindu suasana itu...

    BalasHapus
  7. Ohhh yang sendirian ini maksudnya perjalanannya toooh.
    aku kira di tempat tujuan sendirian juga :p
    Kan sedih yak

    UMM.. wah.. Malang.. wahh kampung halaman aku.

    Eh eh salam kenal ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya maksudnya itu, salam kenal juga Mbak Laili ^^

      Hapus
  8. Istilah sendiri, ya, mbak? Aku taunya backpacking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya. Terimakasih Mbak Relind koreksinya ^^

      Hapus
  9. Baca catatan perjalanan lengkap seperti ini jadi kangen suasana saat solo backpacking. Deg-dengan, iya. Pernah satu hari di Hat Yai, Thailand, HP off karena ga ada free roaming. Mau beli sim card lokal kok sayang uangnya karena pas-pasan. Yaudah modal bahasa tarsan, sampe juga ke tujuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mbak Helen. Deg-degan kalo pertama kali tapi udahnya seru :D

      Backpaker emang modalnya nekat, yuk!

      Hapus
  10. Wah ternyata member FLP jg y? Sy ex-flp sumbar.. krn skrg domisili bandung, belum sempat aktif lg krn msh jd emak2 rempong, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Shona. Sekarang masih anggota FLP Bangkalan.

      Ayo, Mbak gabung lagi ^^

      Hapus
  11. Jaman masih gadis dulu bbrp kali ke Malang, sendiri pun berani. Skrng jd emak mikir2 hehe
    TFS mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena harus atas izin misua, ya Mbak ^^

      Hapus