Kamis, 03 Agustus 2017

Rempongnya Akhwat Travellers [Yasmin Goes to Bandung #1]

Alhamdulillah, salah satu anggota Yasmin akan menyempurnakan separuh agamanya. Iya, Teh Lia esok lusa akan halal, pemirsah. Doakan ya semoga lancar.

Then that's the reason why kita para warga Yasmin sudah rempong sejak jauh-jauh hari. Dan ini, aku bisikin bagaimana kita-kita riweuh menyiapkan segalanya.

Dua Bulan Sebelum Hari-H
Pas dari sebelum puasa anak-anak sudah saling kode. Pokoknya yang mau nikah kudu ngabarin kita jauh-jauh hari. Biar bisa nabung. Apalah kita kan para freelancer. Uangnya mesti diirit-irit untuk tabungan masa depan.


Bulan Juni, akhirnya tanggal diumumkan. Tapi exclusive news cuma diudarakan di Yasmin. Yosh, makin gencar kita nabung.

Jadi ada yang nabung diam-diam dibalik jobreview, fee translator, bikin desain. Alhamdulillahi bini'matihi tatimmus shalihat.

Maka akhirnya jadilah kita ngerencanain trip to Bandung. Akhwat-akhwat rempong, haha.

Tiket-Akomodasi
Pesan tiket sekarang mah bisa di mana saja. Di platform jalan-jalan juga banyak yang bisa. Tapi aku sendiri belinya di toko terdekat.


Bisa ditebak rempongnya karena aku belinya di Kota Gerbang Salam dan mentemen di Kota Pahlawan, maka kita gerbongnya pisah. Mereka tiga, aku satu. Jauh sekali bukan.

Ada beberapa hal yang membuatnya demikian.

Tas sudah kuisi novel tebal biar nggak bengong sendirian. Camilan sudah siap dari malam sebelumnya.

Kan katanya akhwat setrong. Yosh!

Kado
Meski anak kampus sedang liburan --kecuali thesis fighter tentunya-- kontrakan Yasmin ramai. Penuh barang.


Sedari sore, mentemen aktifis kampus yang kebetulan satu organisasi berdatangan. Titip kado. Sedangkan malamnya, kita yang kerempongan bungkus. Punya kita sendiri malah belum disiapin.

Jadi suasana Yasmin semalam.
Ada yang nulis surat..
Seterika hingga packing baju..
Belanja cemilan..
Dan bungkus kado yang belum terselesaikan.


Riweuh deh. Mulai kertas kado yang kurang, motifnya childish, hadiahnya gede dan butuh kertas yang sama. Gitu lah, akhwat-akhwat rempong.

Kostum
Katanya sih ini paling krusial karena kita mau pergi mantenan. Tapi tetep syariat yang menjadi prioritas.


Mau pakai yang itu, sepertinya menarik perhatian. Bling-bling memusingkan. Terus nggak jadi. Mau yang ini rasanya seperti emak-emak. Padahal kita mah juga calon bunda :D

Mau pakai yang satunya, lha bajunya samaan. Gitu deh. Selera masing-masing ikut andil dalam menentukan.

Yo sak karep wes. Yang penting bajunya yang longgar yo. Nggak boleh ketat atau nerawang. Kudungnya juga minimal menutup dada.

Semuanya kita satukan. Soalnya nanti bakal pegel gendong-gendong tas.

Tapi teteup aja banyak ternyata bawaanya, haha.

Menuju Kereta
Menaiki motor, kita berempat diantar ke Stasiun Gubeng Surabaya. Ya, akhirnya hanya segitu yang ikutan. Soalnya ada yang lagi KKN, nggak bisa ninggalin skripsi, mondok pas liburan ataupun yang harus berada di kampung halaman.


Bersama para jagoan yang handal kita ngebut lewat Suramadu. Wuz, wuz! Tapi sempat terhenti karena ada kado yang terjatuh. Meski rempong kita kan akhwat setrong. Jadi si kado imut itu kembali lagi bersama :D

Sampai di stasiun, kereta datang masih sejam lagi. Jadi ada waktu untuk cipika-cipiki sama power rangers dan registrasi ulang.


Menuju monitor kita scan barcode, cetak tiket dan menunggu. Berkenalan di kanan-kiri sambil jagain barang yangt bejibun.

Kereta menuju Kiaracondong berangkat jam 08:15 dan 07:30 kita sudah siap-siap diperiksa tiketnya melewati garis pemeriksaan pakai KTP.


Drama Gerbong
Aku sudah bersiap untuk patah hati sama insiden beda gerbong. Namun sebelum say good bye sama mentemen, angkut-angkut barang dulu. Kita putuskan, bawaan berat dikumpulkan di gerbong tiga.



Mbak Yul malah siap nemenin di gerbong satu. Soalnya penumpang sebangku nggak mau diajak tukeran.

Jadilah setelah barang ditaro di bagasi, aku siap hijrah ke gerbong satu ditemani Mbak Yuli. Di sana penumpangnya satu rombongan ternyata. Jadi nggak bisa lobi-lobi.

Mbak Yul balik lagi ambil tas di gerbong sebelah. Jadi Mbakku yang paling kusayang itu memutuskan untuk duduk bersamaku saja di gerbong satu. Soalnya rombongannya suka bully.

Tapi bukan Mbak Yul kalo nggak bisa menyatukan hati dua insan. Eh :D

Ada kabar baik dari gerbong tiga, satu kursi kosong tersedia untukku. Yeay! Alhamdulillah ♡


Kini para akhwat sudah rehat menikmati pemandangan. Di satu gerbong yang Allah sediakan.

Semoga kita nggak semakin rempong, hoho.

Tunggu kami, Bandung!

Ditulis di Yasmin-Stasiun Gubeng-Kereta Pasundan menuju Bandung. Saat ini masih di Stasiun Caruban.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia





6 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya, kalo bareng-bareng mah kerempongan jadi keseruan tersendiri ^^

      Hapus
  2. Wah masya Allah..
    Kakak pakai niqab? sama dong, he.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya kakak yang komentar di bawah kita 👇

      Hapus
  3. MasyaAllah.. mbak chopi.. rempong yak. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi alhamdulillah kita sampai ya, Mbak Dhil ^^

      Hapus