Kamis, 15 Februari 2018

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata
“Adek tahu mentoring?” Aku menjawabnya dengan anggukan pertanyaan Mbak Ifa. Sejak SD bahkan kata itu sudah familiar di telinga. Kata yang sering mucul di dalam karya para penulis Forum Lingkar Pena [FLP]. Mendengar kata FLP, Mbak Ifa dengan lihainya mengetikkan sesuatu pada komputer jinjingnya.

“Gabung aja, di FLP Bangkalan, Dek,” ajaknya serius. Kali ini layar laptop milik Mbak Ifa menampilkan grup cabang FLP di kota rantau. Beberapa saat kemudian aku pun ikut bergabung di komunitas maya tersebut. Nama-nama yang tercantum sebagai anggota, aku tambahkan sebagai teman. Satu demi satu. Hanya sebatas itu.

Ramadan pertama di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Kemarau yang membuat lapangan sepak bola terlihat gersang. Kering tanpa rumput dan tanahnya pun retak-retak macam terkena gempa bumi. Kabar tentang FLP ini tentu saja memberikanku setetes embun, yang menumbuhkan benih-benih harapan. Apalagi dunia kampus bagiku masih sama sekali baru. Kontrakan pun ketemu.

“Ngekos di Yasmin, aja Dek. Ini Mbak kasi kontak pemiliknya.” Kali ini giliran Mbak Dila yang berbicara. Teman satu kontrakan Mbak Ifa. Ah, senangnya ini mungkin yang dinamakan kado Ramadan.

Dari Hijab Kuning, OWOW hingga Taman Baca

“Dek jadi ikut FLP? Sekarang ada rapat di GSC,” itu pesan Mbak Ifa. Melangkahlah kaki dari Yasmin ke sana. Terpisah dengan hiijab kuning kami bermusyawarah. Di situlah kemudian aku bertemu teman-teman FLP lainnya; Mbak Ila, Mbak Titim, Mbak Aan dkk.

Sebagai Kestari kemudian aku terdaulat. Pun otomatis setelah acara literasi tersebut aku resmi menjadi anggota FLP Bangkalan. Tanpa diklat. Tanpa ikrar. Begitulah Allah memudahkan jalan.

Hijab kuning alias pembatas rapat. Tabir bahasa lainnya. Pembatas kuning tersebut fenomenal banget di ingatanku. Pasalnya ini adalah salah satu inventaris LDK MKMI. Kebanyakan anggota FLP Bangkalan adalah mahasiswa UTM dan 90% di antaranya adalah para aktivis kampus. Dan 60% di antara kami adalah anggota Divisi Pers & IT LDK MKMI. Itulah mengapa, seringkali kita rapatnya juga di kesekretariatan LDK MKMI.

Di Balik Tabir
Kabar bahagianya, para anggota sudah mengerti batasan-batasan antara perempuan dan laki-laki. Jadi adem-lah kalau rapat. Nggak perlu kuatir ada pandangan liar. Tapi tetep saja harus jaga diri, jaga hati. Oke sip.

Resmi menjadi anggota tentunya kita dituntut aktif menginguti semua kegiatan Forum Lingkar Pena. Wajib. Kudu. Bukankah itu arah, haluan kita bergabung di sana?

Selain Bincang Literasi yang biasa diadakan Selasa sore hari di Taman Kampus atau Kelas Menulis pada Ahad pagi di Masjid Nururrahman, agenda yang paling melekat di ingatan adalah OWOW. One Week One Writing.

Satu pekan sekali kami diwajibkan mengirimkan karya terbaiknya ke surel FLP Bangkalan. Tukang tagihnya si Teh Hijau. Penyair yang puisi-puisinya bikin meleleh akan diksinya yang luar biasa. Siapa dia? Nanti kita omongin via japri yaa  kalau mau tau, wkwkwk. Nggak Cuma kirim karya, kalau telat atau misalkan bolos, ada ‘iqabnya. Hukumannya mau tidak mau, tulisannya tembus media. Whhuess.

Berganti tahun kami punya agenda baru. Dimulai pada 2016. Tahun ketika Dek Ani resmi menjabat sebagai ketua FLP Bangkalan. Namanya Taman Baca. Hampir dipastikan di setiap cabang FLP memiliki agenda ini.

FLP Bangkalan dan Ghadul Bashar Para Anggota
Jika periode sebelumnya Ahad pagi diagendakan untuk Kelas Menulis maka pada tahun tersebut, hari itu kami gunakan untuk Taman Baca.

Dari tim akhwat tangguh ada Rini, Mbak Win, Dek An, Ria, Nida’ si Bunda dan si penulis blog ini. Jam lima kami sudah calling sana-sini memastikan para anggota tidak absen agenda. Janjian, bertemu di halte bus, di pertigaan kampus.

Sepagi itu kami menahan dingin dan gigil. Menggotong banner sisa acara sebelumnya. Membawa X-banner dan penyangganya yang abot. Tak lupa, di tangan masing-masing menenteng goodie bag berisi buku-buku. Whoa, ancen akhwat tangguh kalian!

Tapi Allah selalu punya kejutan. Matahari di ufuk timur berlatar pematang sawah, rawa-rawa adalah pemandangan yang menjadi hadiah yang Masya Allah membuat angkot yang kami tumpangi penuh puisi.

Di Stadion atau di Taman Paseban kami biasa menggelar tikar. Terkadang teman-teman LDK MKMI ikutan berpartisipasi juga. Meski bukan anggota. Gotong-gotong barang, merapikan, menunggui buku dan hal semacamnya.

Temen-temen indekos juga suka kami ajakin. Makin ramailah suasana. Alhamdulillah.

Anak-anak perindu Dongeng       
  
Namanya Bebi [Mungkin bisa dibaca Barbie J]. Gadis kecil yang tak pernah absen mendatangi lapak kami. Buku favoritnya kisah fable dari Al-Quran. Untuk Taman Baca ini kami memang lebih fokus, lebih banyak membawa buku-buku bertemakan anak-anak. Mengingat banyaknya pengunjung banyak dari kalangan tersebut.

Bebi ini belum bisa membaca. Jadilah kami dongengi dia. Biasanya Mbak Win yang suka membacakan cerita. Sedangkan aku, cukup berada di balik kamera saja.

Selesai Mbak Win mendongeng, Bebi dengan cadelnya akan menunjuk hewan-hewan pada gambar. Menceritakan ulang kisah versi dia yang terkadang tidak masuk akal. Namun tentu saja membuat rekan-rekan menahan geli. Lucu sih.

Calon Sastrawan Masa Depan

Antusiasnya si gadis kecil nan imut tersebut membuat beberapa anak ikut mengitari buku-buku. Alhamdulillah pengunjung bertambah. Pas kita sudah pada lulus, Mbak Win suka dicari-cari sama si Bebi. Mana Mbak baik hati pandai bercerita itu?

Saat mentari mulai bersinar terik. Kala anak-anak sudah menyepi [alias pengunjungnya bubar balik kanan]. Kami mulai berburu kuliner. Namanya juga Minggu. Hari libur. Bisa ditebak. Banyak penjual yang mudah kami temui.

Teh Lia, Dek Iril, inget nggak waktu itu kita pernah ngeskrim di Taman Paseban?
Mbak Wind, masih suka nguber batagor nggak?
Dek An, cari pentol bakar lagi yuk!

Ah, jadi weh kangen kalian. Kan. Kan. Kan. Tisu mana tisu ><

Tanah Rantau Penuh Kenangan

Ialah tanah rantau penuh kenangan. Ukhuwah dan canda tawa. Tiga tahun bersama FLP Bangkalan. Bertemu orang-orang hebat dan belajar langsung pada mereka. Di kelas puisi aku belajar diksi. Berlatih pada senior yang lebih. Aku pun bukan orang yang biasa tampil lapangan. Lebih suka bermain kekata. Membiarkan jariku menari. Menuliskan apa-apa yang berdatangan di kotak-kotak masa.

Dan pada puisi aku memutuskan untuk memintal diksi.

Pada spesialisasi puisi, ada Rini, Mbak Win, Akh Yogi dan hampir semua anggota FLP Bangkalan menyukai bidang ini. Termasuk Dek Ani, ketua umum kami.

Spesialisasi reporter ada Dek Anggun, Akh Fendi, dan Dek Halwa. Karya-karya mereka selalu siap menghiasi rubrik-rubrik Citizen Journalism berbagai media.

Serta nama-nama baru yang belum sempat kuhafal yang tulisannya tak kalah luar biasa menginspirasi.

Jazakumullah khair, teman-teman telah membuat tanah rantau penuh ilmu dan kebersamaan.

Selamat Datang Tanah Kelahiran

Tahun 2017 adalah detik-detik terakhir aku berliterasi bersama FLP Bangkalan. Selepas wisuda beberapa dari kami kembali ke tanah kelahiran. Termasuk pemilik Kebun Kekataku. Pada waktu sore, yang dihiasi mendungnya langit. Alhamdulillah aku resmi diterima FLP Pamekasan. Cabang Forum Lingkar Pena di Kota Gerbang Salam, tempat aku dilahirkan.

Bertempat di SDIT Al-Uswah Pamekasan, pertama kalinya aku duduk melingkar bersama mereka dengan Zayyin Achmad, ketua FLP Surabaya yang menjadi pemateri kami. Moy-tamoyan waktu itu juga dilengkapi dengan rujakan bareng.

Pertemuan Perdana bersama FLP Pamekasan

Eh, ngomong-ngomong soal rujak jadi nggak sabar Rujak Party besok [16/02/18] di Rumah Cahaya FLP Pamekasan. Besok kita sistemnya potluck. Ada yang bawa kedondong, kerupuk, cabai, petis dll. Aih meleleh duluan membayangkannya. Pasti seru deh. Insya Allah. Para taretan FLP jangan lupa hadir ya!

Dan di sinilah aku sekarang. Menjadi salah satu bagian pejuang literasi di  FLP Cabang Pamekasan.

Para Perempuan Militan

FLP mempunyai berbagai anekdot. Terutama tentang singkatan FLP itu sendiri. Di Bangkalan, kepanjangannya menjadi Forum Lingkar Pria, karena para pengurusnya kebanyakan laki-laki. Di FLP JATIM, diplesetkan menjadi Forum Lingkar Perjodohan. Apalagi saat anggota FLP Surabaya menikah dengan akhwat FLP Malang. Makin rame deh grup WA.

Pada acara Kelas Menulis Cahaya edisi liburan akhir tahun [2017], sepertinya tepat jika singkatannya diubah menjadi Forum Lingkar Perempuan. Aku menemukan para perempuan tangguh. Akwat-akwat militan.

Kelas Menulis Cahaya

Akhwat atau sebutan perempuan aktivis dakwah dan kata militansi sering disebut-sebut sebagai kata sifat yang melekat pada mereka yang siap sedia memikul amanah dalam kondisi apapun. Secara bahasa akhwat berasal dari kata ukhtun yang artinya saudara perempuan. Sedangkan akhwat adalah jamak dari kata tersebut.

Dalam KBBI, militansi tertulis dengan makna:

mi·li·tan·si n ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dl ber-juang membangun masyarakat.

Contoh yang tertera dalam kamus juga disematkan kepada perempuan. Rasanya pas jika kemudian kata militansi disandingkan dengan akhwat. Akhwat militan. Para perempuan tangguh di kelindan zaman.

Aku melihat dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Belajar dari gerak-gerik dan tingkah laku, respon baik mereka terhadap sesuatu. Semuanya nampak exampleable. Maksudku, mereka teladan yang patut dicontoh.

Kelas Menulis Cahaya, FLP Pamekasan adalah wadah bagi anak-anak berumur 8-12 tahun untuk mengisi liburan akhir tahun mereka. Pas woro-woronya gitu, kenyataan di lapangan ada anak yang berumur 6 tahun tapi ternyata luarbiasa. Kegiatan ini dibuat dengan tujuan agar mereka semakin mencintai literasi. Membangun peradaban baca tulis. Khususnya di Kabupaten Pamekasan. Acara ini berlangsung selama lima hari 26-30 Desember 2017.

Hari pertama dan kedua dimulai dengan kelas komik bersama Kak Zaky dari FLP Jombang di Sekolah Alam Excellentia. Pelatihan jurnalistik kami lakukan di hari ketiga di Radar Madura. Kemudian Kak Emus, mengisi kelas cerita anak di hari keempat yang bertempat di Ruang Anak perpustakaan daerah Pamekasan.

Acara yang menakjubkan dengan hanya lima orang panitia setiap harinya.

Daebak! Itu kesan pertamaku. Bagaimana mungkin? Allah yang menjadikan semuanya mungkin..

Aku melihat Mbak Ami yang selalu datang setiap hari tanpa pernah absen satu hari sekalipun. Beliau adalah pembina Forum Lingkar Pena Pamekasan yang tetap aktif menemani kami. Padahal Mbak Ami sangat sibuk di keorganisasian di Wilayah Jawa Timur. Salah satunya FLP Jatim, tapi beliau masih bisa menemani kami. Ditambah lagi hingga aku menulis tulisan ini, Ummi, ibunda kandung Mbak Ami masih belum sembuh benar.

Ketika acara Kelas Cahaya selesai, Mbak Ami akan langsung pergi ke rumah sakit. Malamnya pun menjaga sang ibunda di sana. Dan pagi-pagi sudah siap sedia di tempat. Salut juga sama Ummi, yang mengizinkan Mbak Ami untuk bisa ikut serta dalam acara padahal beliau lebih membutuhkan anaknya.

Duh, kami sangat malu apabila datang terlambat ke tempat acara sedangkan Mbak Ami sudah di sana..

Mbak Ubabah, sang ketupat alias ketua panitia sudah berkeluarga. Beliau mempunyai anak kecil yang tak bisa melulu ditinggal. Adik yang masih berusia beberapa bulan. Kalau teman-teman sedang istirahat dan kondisi acara lagi nggak crowded, Mbak Ubabah akan pulang sebentar. Bunda yang sangat luar biasa! Masya Allah..

Nah, kalau mau lobi-lobi, aku biasanya menghubungi Mbak Ubabah soalnya beliau orangnya suka mengayomi dan sabar. Apalah daku yang tak bisa berdiplomasi.

Dalam kepanitiaan kami ada juga Mbak Novi yang sedang hamil. Tapi beliau adalah panitia yang tak pernah absen. Selalu on dalam acara. Pantas saja jika di akhir acara, Mbak Novi terpilih sebagai mentor terbaik pilihan peserta.

Keibuan dan sangat telaten. Kemarin sempat ada tragedi. Apa, tragedi? Ada peserta yang nangis kenceng banget. Tapi nggak pas sampe tantrum soalnya ada Mbak Novi sang superhero. Padahal sebelumnya sudah dihibur sama aku dan Mbak Nikmah tapi nggak mempan eh. Nanti FLP kalau mau ngadain kelas parenting bisa nih menghubungi Mbak Novi. Kita curi ilmunya, hoho.

Kalau dibilang FLP itu singkatan dari Forum Lingkar Perempuan. Mungkin ada benernya.

Kemudian Mbak Nikmah, akhwat yang sigap wara-wiri ke sana-sini.

"Sudah, Dek biar saya yang ambil," itu kalimat pamungkas Mbak Nikmah. Siap banget dah buat ngapa-ngapain.
"Soalnya Mbak lihat ekspresinya, kayak nggak minat gitu buat bergerak, jadi Mbak langsung cus saja."

Masya Allah, militan sekali. Ajari aku, Mbak. Daku yang miskin ilmu ini ><
Padahal ngangkat-ngangkat itu biasanya kerjaan cowok. Hei, kalian peka dong. Kan qawwamuuna 'alan nisaa' *ngomong sama tembok.

Katanya berikan amanah pada orang sibuk. Ada benarnya. Meski Mbak Erlin banyak pekerjaan dan tak bisa datang ke acara, beliau membantu kami dari balik layar. Urusan kesekretariatan seperti sertifikat, stiker dll Mbak Erlin siap bantuin. Besok paginya bisa kita langsung ambil. Jadi nggak ada alasan sebenarnya kalau memang niat. No excuse! Siap, Mbak!

Mbak Titik, panitia yang jauh dari kampung halaman. Kita memang para anggota FLP Pamekasan, tapi biasanya para mahasiswa atau pekerja yang tinggal di Pamekasan ikut aktif juga di Forum Lingkar Pena sebelum kembali pulang. Mbak Titik bahkan pulang-pergi Pamekasan-Sumenep. Masya Allah.

Terimakasih, Ya Allah sudah Kauberikan teman-teman saudara-saudara perjuangan yang memiliki banyak hikmah. Para akhwat militan yang selalu siap sedia berjuang. Tanpa alasan, tanpa mengeluh. Hanya ridaMu yang mereka cari.

Bismillah, mari terus berjuang, akhwatii fillah.

Ialah Forum Lingkar Pena, Istana Penuh Kekata

Terlepas dari berbagai anekdot dari singkatan FLP, ia adalah kepanjangan dari Forum Lingkar Pena. Wadah literasi yang memiliki cabang hampir di seluruh penjuru kota nusantara. Bahkan sudah mendunia. Cek link ini untuk menemukan FLP terdekat.

Jika tak ada, kau bisa mendirikan FLP cabangmu sendiri, namun ketentuan dan syarat berlaku. Yang paling krusial adalah, kau haru [pernah] aktif menjadi anggota FLP cabang manapun. Sekali lagi, cek FLP cabang terdekat untuk berpartisipasi di sana.
       
FLP Wilayah Jawa Timur dalam acara Writing Camp

Sejatinya kita di FLP memiliki tiga pilar. Mata rantai yang tak boleh lepas. Organisasi, keislaman, dan karya. Acara serta berbagai agenda adalah cara kita berorganisasi. Pengumpulan tulisan, bedah karya adalah eksistensi kita sebagai penulis. Wujud dari kelindan kata yang harus kita tuangkan. Dalam puisi, narasi maupun nonfiksi. Dan keislaman adalah ruh yang wajib ada dalam setiap pertemuan antar anggota dan perjumpaan ide yang berwujud karya.
          
Maka dakwah pena adalah hal yang semestinya dipegang oleh para pejuang literasi. Tidak hanya kita yang aktif dalam FLP, namun bagi kita yang mengaku beragama Islam.

            Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
            Menebar kebaikan. Berbagi hikmah di setiap lini kehidupan.
            
Forum Lingkar Pena adalah istana yang patut kita rawat bersama. Menghiasinya agar sentiasa indah berhiaskan kata-kata. Tempat kita bercocok tanam kebaikan, hingga ia tumbuh menjadi berlian yang senantiasa hidup di dalam hati pembaca. Karena menulis adalah kerja untuk membangun peradaban. Bismillah, bersama FLP akan kita wujudkan! Berakhir hamdalah, semoga segalanya muara pahala dan rida yang menghantarkan kita menuju surga.

21 tahun berdiri, semoga FLP semakin menginspirasi dan lebih banyak lagi berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa dan membawa harum nama Islam sebagai agama kita.

Keterangan:
Tulisan ini diikutksertakan dalam lomba #miladFLP21 #kisahinspiratifFLP
Paragraf sebelum terakhir adalah padanan kata yang diparafrasekan dari pidato Babe Rafif Amir, pada Muskerwil V di Ngawi, 25 Desember silam.

37 komentar:

  1. awal awal cerita ada yang bikin mrebes mili.. tapi ada senyum senyumnya gitu.. seruu.. pengen.. kayak embak embak semua.. yang tadi disebutin dalam cerita.. :-) ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada manis-manisnya gitu, nggak Dek?

      Semoga hal yang baik-baik yang menginspirasi 😳

      Hapus
  2. Salah satu rizki Allah ialah dengan memberikan kita lingkungan yang baik, penuh ilmu dan sejawat yang menjadi inspirasi untuk tak pernah berhenti berkarya. πŸ˜„πŸ˜ŠπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Lia. Mereka yang selalu memberi support dan mengingatkan..

      Hapus
  3. MasyaaAllah.. Barakallah fiik. Super duper zuper kerennyo.. Cerita yg seruu. Lain kali semoga yg dari pamekasan bisa ke Jombang.. 🌷

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah yubaarik fiiki, Trid. Haha, iya, ya. semoga bisa.
      Etapi kan, abi da tos ka bumi, Astrid. Eh, bukan perwakilan FLP sih waktu itu, hoho.

      Hapus
  4. FLP penuh inspirasi.
    Sebelumnya kita pernah ketemu tidak ya mbk? Hehe..
    Kalau belum salam kenal dari saya😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, mungkin, Mbak. Tapi kita nggak saling tukar kartu nama. Eh? haha.

      Semoga di lain waktu bisa jumpa ya, Mbak ^^

      Hapus
  5. MasyaaAllah ... penuh inspirasi tulisanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inspirasi buat nulis proyek 'spesial' itu yaa. Alhamdulillah. Gimana Nur sudah dapet berapa lembar nulis?

      Hapus
  6. Keren, FLP Pamekasan beruntung punya Shofia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya da cuma alien yang diselundupkan ke bumi, Mbak. Haha.

      Hapus
  7. Seru banget gabung FLP. Udah lama pengen gabung juga tapi belum kesampaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk Mbak cek di link postingan saya, terkait FLP cabang terdekat. Paragraf pertama di sub-bab terakhir. Mungkin ada.

      Semoga Allah mudahkan ^^

      Hapus
  8. Gaya bertutur sofi lewat kisah menurutku agak 'unik' ya. Meski di awal-awal agak mengkerut, dan smpt tanya pd diri sdr, apa ini ya gaya keninian itu? Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Bunda nge-link ke #KidsZamanNow thea :D

      Hapus
  9. Wah aku baru tau FLP ini.
    Bebi manis ya, jadi ngebayangin apa yang dia ceritain deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Indira juga boleh ikutan FLP. Yuk!

      Hihi, iyaa. Si Bebi dengan gaya cadelnya.

      Hapus
  10. Teruslah bentangkan sayapmu untuk memberikan keteduha pada literasi kehidupan.(nur z)
    Tinggalkan jejakmu yang indah di setiap napas kehidupan

    Sukses mbak sofi

    Aamiin ..😊😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Zaida juga. Sukses terus, Mbak Nuuur..

      Hapus
  11. Ingetnya malah pas beli pentol, πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk...

      Pentol depan masjid bukan?

      Eh, bukan ya. Wkwkwkwk.

      Hapus
    2. Depan taman, eh depan masjid juga sih.. Hehe

      Hapus
  12. Kontakmu di ponselku masih ada embel embel "FLP Bangkalan" bahkan... Ahaha

    BalasHapus
  13. Dulu pas masih di Surabaya lumayan aktif di FLP, sampai bikin FLP Kids Surabaya. Sayang cuma satu angkatan. Pengurusnya kemudian ada yang nikah, kuliah, pindah keluar kota hehe. Pas pindah Jkt malah blm pernah samsek ikutan kegiatan FLP.
    Wah Bangkalan membernya banyak ya, sering kumpul2 sama yg di Sby jg kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. FLP Surabaya makin kece, Mbak Pril. Iya suka ketemu kalau ada acara FLP JATIM. Terakhir, 28 Januari kemarin.

      Hapus
  14. hei hei.. my partner.. proud of you...
    keren sekali adek satu ini.. inspiratif...

    baarokallahu fiik..
    good luck! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hola, Ibu KaDiv!
      *lambai-lambai tangan dari jauh wkwkwk. Ups. Sungkem dulu.

      Hapus
  15. Di Jambi FLP ini juga cukup terkenal, Mba. Tapi sayangnya saya nggak pd untuk ikutan. Disana isinya para penulis yang sudah nerbitin buku, bukan? saya mah penulis ecek-ecek yang hobi ngeblog aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Banyak teman-teman FLP yang sudah menerhitkan buku.

      Gapapa, Mbak ikutan aja ^^

      Hapus
  16. Untuk menjadi besar dan memiliki dampak positif pada sekitar, kita tidak bisa SENDIRI. Seperti Musa As membutuhkan kehadiran Harun As. Sebagaimana keberhasilan dakwah Rasulullah dengan adanya dukungan para sahabat. Pun melayarkan Literasi Berkeadaban ini, kita tidak bisa menahkodainya sendiri. Apa jadinya jika surga hanya dihuni oleh kita seorang? Maka, terima kasih telah bergabung bersama FLP Pamekasan, Dek... Barakallahu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whoaa.. komentar Mbak Nikmah bikin mbrebes mili. Bikin siang makin dingin dan gerimis T.T

      Allah yubaarik fiinaa, Mbak. Aamiin.

      Hapus
  17. aku gak inget malah dek kalau hijabnya warna kurning. hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk...

      Iku lho Mbak, tabir kain punyanya LDK di sekret. Macam tirai yang bisa digeser-geser. Kuning dan gede. Menggantung di tengah-tengah ruangan.

      Pada jaman dahulu sebelum sekret direnovasi. Sekarang sudah nggak ada. Entah raib ke mana. Tergantikan tabir portabel dari kayu.

      Hapus
  18. setiap baca tulisan nya mbak chop.. selalu ngebayangin.. ngerangkaian kata kata nya gimana ya.. πŸ™‡ kok bisa sekeren gitu, aku aja kalo nulis, hapus , nulis, hapus, nulis, dan seterus nya πŸ˜‚
    Barakallahu fiik..
    miss yuuuu mbak chop.. πŸ˜™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah yubaarik fiiki, Mbak Dil. Miss you, too

      Hapus