Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata

FLP: Ukhuwah, Cinta, di Istana Penuh Kekata
“Adek tahu mentoring?” Aku menjawabnya dengan anggukan pertanyaan Mbak Ifa. Sejak SD bahkan kata itu sudah familiar di telinga. Kata yang sering mucul di dalam karya para penulis Forum Lingkar Pena [FLP]. Mendengar kata FLP, Mbak Ifa dengan lihainya mengetikkan sesuatu pada komputer jinjingnya.

“Gabung aja, di FLP Bangkalan, Dek,” ajaknya serius. Kali ini layar laptop milik Mbak Ifa menampilkan grup cabang FLP di kota rantau. Beberapa saat kemudian aku pun ikut bergabung di komunitas maya tersebut. Nama-nama yang tercantum sebagai anggota, aku tambahkan sebagai teman. Satu demi satu. Hanya sebatas itu.

Ramadan pertama di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Kemarau yang membuat lapangan sepak bola terlihat gersang. Kering tanpa rumput dan tanahnya pun retak-retak macam terkena gempa bumi. Kabar tentang FLP ini tentu saja memberikanku setetes embun, yang menumbuhkan benih-benih harapan. Apalagi dunia kampus bagiku masih sama sekali baru. Kontrakan pun ketemu.

“Ngekos di Yasmin, aja Dek. Ini Mbak kasi kontak pemiliknya.” Kali ini giliran Mbak Dila yang berbicara. Teman satu kontrakan Mbak Ifa. Ah, senangnya ini mungkin yang dinamakan kado Ramadan.

Dari Hijab Kuning, OWOW hingga Taman Baca

“Dek jadi ikut FLP? Sekarang ada rapat di GSC,” itu pesan Mbak Ifa. Melangkahlah kaki dari Yasmin ke sana. Terpisah dengan hiijab kuning kami bermusyawarah. Di situlah kemudian aku bertemu teman-teman FLP lainnya; Mbak Ila, Mbak Titim, Mbak Aan dkk.

Sebagai Kestari kemudian aku terdaulat. Pun otomatis setelah acara literasi tersebut aku resmi menjadi anggota FLP Bangkalan. Tanpa diklat. Tanpa ikrar. Begitulah Allah memudahkan jalan.

Hijab kuning alias pembatas rapat. Tabir bahasa lainnya. Pembatas kuning tersebut fenomenal banget di ingatanku. Pasalnya ini adalah salah satu inventaris LDK MKMI. Kebanyakan anggota FLP Bangkalan adalah mahasiswa UTM dan 90% di antaranya adalah para aktivis kampus. Dan 60% di antara kami adalah anggota Divisi Pers & IT LDK MKMI. Itulah mengapa, seringkali kita rapatnya juga di kesekretariatan LDK MKMI.

Di Balik Tabir
Kabar bahagianya, para anggota sudah mengerti batasan-batasan antara perempuan dan laki-laki. Jadi adem-lah kalau rapat. Nggak perlu kuatir ada pandangan liar. Tapi tetep saja harus jaga diri, jaga hati. Oke sip.

Resmi menjadi anggota tentunya kita dituntut aktif menginguti semua kegiatan Forum Lingkar Pena. Wajib. Kudu. Bukankah itu arah, haluan kita bergabung di sana?

Selain Bincang Literasi yang biasa diadakan Selasa sore hari di Taman Kampus atau Kelas Menulis pada Ahad pagi di Masjid Nururrahman, agenda yang paling melekat di ingatan adalah OWOW. One Week One Writing.

Satu pekan sekali kami diwajibkan mengirimkan karya terbaiknya ke surel FLP Bangkalan. Tukang tagihnya si Teh Hijau. Penyair yang puisi-puisinya bikin meleleh akan diksinya yang luar biasa. Siapa dia? Nanti kita omongin via japri yaa  kalau mau tau, wkwkwk. Nggak Cuma kirim karya, kalau telat atau misalkan bolos, ada ‘iqabnya. Hukumannya mau tidak mau, tulisannya tembus media. Whhuess.

Berganti tahun kami punya agenda baru. Dimulai pada 2016. Tahun ketika Dek Ani resmi menjabat sebagai ketua FLP Bangkalan. Namanya Taman Baca. Hampir dipastikan di setiap cabang FLP memiliki agenda ini.

FLP Bangkalan dan Ghadul Bashar Para Anggota
Jika periode sebelumnya Ahad pagi diagendakan untuk Kelas Menulis maka pada tahun tersebut, hari itu kami gunakan untuk Taman Baca.

Dari tim akhwat tangguh ada Rini, Mbak Win, Dek An, Ria, Nida’ si Bunda dan si penulis blog ini. Jam lima kami sudah calling sana-sini memastikan para anggota tidak absen agenda. Janjian, bertemu di halte bus, di pertigaan kampus.

Sepagi itu kami menahan dingin dan gigil. Menggotong banner sisa acara sebelumnya. Membawa X-banner dan penyangganya yang abot. Tak lupa, di tangan masing-masing menenteng goodie bag berisi buku-buku. Whoa, ancen akhwat tangguh kalian!

Tapi Allah selalu punya kejutan. Matahari di ufuk timur berlatar pematang sawah, rawa-rawa adalah pemandangan yang menjadi hadiah yang Masya Allah membuat angkot yang kami tumpangi penuh puisi.

Di Stadion atau di Taman Paseban kami biasa menggelar tikar. Terkadang teman-teman LDK MKMI ikutan berpartisipasi juga. Meski bukan anggota. Gotong-gotong barang, merapikan, menunggui buku dan hal semacamnya.

Temen-temen indekos juga suka kami ajakin. Makin ramailah suasana. Alhamdulillah.

Anak-anak perindu Dongeng       
  
Namanya Bebi [Mungkin bisa dibaca Barbie J]. Gadis kecil yang tak pernah absen mendatangi lapak kami. Buku favoritnya kisah fable dari Al-Quran. Untuk Taman Baca ini kami memang lebih fokus, lebih banyak membawa buku-buku bertemakan anak-anak. Mengingat banyaknya pengunjung banyak dari kalangan tersebut.

Bebi ini belum bisa membaca. Jadilah kami dongengi dia. Biasanya Mbak Win yang suka membacakan cerita. Sedangkan aku, cukup berada di balik kamera saja.

Selesai Mbak Win mendongeng, Bebi dengan cadelnya akan menunjuk hewan-hewan pada gambar. Menceritakan ulang kisah versi dia yang terkadang tidak masuk akal. Namun tentu saja membuat rekan-rekan menahan geli. Lucu sih.

Calon Sastrawan Masa Depan

Antusiasnya si gadis kecil nan imut tersebut membuat beberapa anak ikut mengitari buku-buku. Alhamdulillah pengunjung bertambah. Pas kita sudah pada lulus, Mbak Win suka dicari-cari sama si Bebi. Mana Mbak baik hati pandai bercerita itu?

Saat mentari mulai bersinar terik. Kala anak-anak sudah menyepi [alias pengunjungnya bubar balik kanan]. Kami mulai berburu kuliner. Namanya juga Minggu. Hari libur. Bisa ditebak. Banyak penjual yang mudah kami temui.

Teh Lia, Dek Iril, inget nggak waktu itu kita pernah ngeskrim di Taman Paseban?
Mbak Wind, masih suka nguber batagor nggak?
Dek An, cari pentol bakar lagi yuk!

Ah, jadi weh kangen kalian. Kan. Kan. Kan. Tisu mana tisu ><

Tanah Rantau Penuh Kenangan

Ialah tanah rantau penuh kenangan. Ukhuwah dan canda tawa. Tiga tahun bersama FLP Bangkalan. Bertemu orang-orang hebat dan belajar langsung pada mereka. Di kelas puisi aku belajar diksi. Berlatih pada senior yang lebih. Aku pun bukan orang yang biasa tampil lapangan. Lebih suka bermain kekata. Membiarkan jariku menari. Menuliskan apa-apa yang berdatangan di kotak-kotak masa.

Dan pada puisi aku memutuskan untuk memintal diksi.

Pada spesialisasi puisi, ada Rini, Mbak Win, Akh Yogi dan hampir semua anggota FLP Bangkalan menyukai bidang ini. Termasuk Dek Ani, ketua umum kami.

Spesialisasi reporter ada Dek Anggun, Akh Fendi, dan Dek Halwa. Karya-karya mereka selalu siap menghiasi rubrik-rubrik Citizen Journalism berbagai media.

Serta nama-nama baru yang belum sempat kuhafal yang tulisannya tak kalah luar biasa menginspirasi.

Jazakumullah khair, teman-teman telah membuat tanah rantau penuh ilmu dan kebersamaan.

Selamat Datang Tanah Kelahiran

Tahun 2017 adalah detik-detik terakhir aku berliterasi bersama FLP Bangkalan. Selepas wisuda beberapa dari kami kembali ke tanah kelahiran. Termasuk pemilik Kebun Kekataku. Pada waktu sore, yang dihiasi mendungnya langit. Alhamdulillah aku resmi diterima FLP Pamekasan. Cabang Forum Lingkar Pena di Kota Gerbang Salam, tempat aku dilahirkan.

Bertempat di SDIT Al-Uswah Pamekasan, pertama kalinya aku duduk melingkar bersama mereka dengan Zayyin Achmad, ketua FLP Surabaya yang menjadi pemateri kami. Moy-tamoyan waktu itu juga dilengkapi dengan rujakan bareng.

Pertemuan Perdana bersama FLP Pamekasan

Eh, ngomong-ngomong soal rujak jadi nggak sabar Rujak Party besok [16/02/18] di Rumah Cahaya FLP Pamekasan. Besok kita sistemnya potluck. Ada yang bawa kedondong, kerupuk, cabai, petis dll. Aih meleleh duluan membayangkannya. Pasti seru deh. Insya Allah. Para taretan FLP jangan lupa hadir ya!

Dan di sinilah aku sekarang. Menjadi salah satu bagian pejuang literasi di  FLP Cabang Pamekasan.

Para Perempuan Militan

FLP mempunyai berbagai anekdot. Terutama tentang singkatan FLP itu sendiri. Di Bangkalan, kepanjangannya menjadi Forum Lingkar Pria, karena para pengurusnya kebanyakan laki-laki. Di FLP JATIM, diplesetkan menjadi Forum Lingkar Perjodohan. Apalagi saat anggota FLP Surabaya menikah dengan akhwat FLP Malang. Makin rame deh grup WA.

Pada acara Kelas Menulis Cahaya edisi liburan akhir tahun [2017], sepertinya tepat jika singkatannya diubah menjadi Forum Lingkar Perempuan. Aku menemukan para perempuan tangguh. Akwat-akwat militan.

Kelas Menulis Cahaya

Akhwat atau sebutan perempuan aktivis dakwah dan kata militansi sering disebut-sebut sebagai kata sifat yang melekat pada mereka yang siap sedia memikul amanah dalam kondisi apapun. Secara bahasa akhwat berasal dari kata ukhtun yang artinya saudara perempuan. Sedangkan akhwat adalah jamak dari kata tersebut.

Dalam KBBI, militansi tertulis dengan makna:

mi·li·tan·si n ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dl ber-juang membangun masyarakat.

Contoh yang tertera dalam kamus juga disematkan kepada perempuan. Rasanya pas jika kemudian kata militansi disandingkan dengan akhwat. Akhwat militan. Para perempuan tangguh di kelindan zaman.

Aku melihat dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Belajar dari gerak-gerik dan tingkah laku, respon baik mereka terhadap sesuatu. Semuanya nampak exampleable. Maksudku, mereka teladan yang patut dicontoh.

Kelas Menulis Cahaya, FLP Pamekasan adalah wadah bagi anak-anak berumur 8-12 tahun untuk mengisi liburan akhir tahun mereka. Pas woro-woronya gitu, kenyataan di lapangan ada anak yang berumur 6 tahun tapi ternyata luarbiasa. Kegiatan ini dibuat dengan tujuan agar mereka semakin mencintai literasi. Membangun peradaban baca tulis. Khususnya di Kabupaten Pamekasan. Acara ini berlangsung selama lima hari 26-30 Desember 2017.

Hari pertama dan kedua dimulai dengan kelas komik bersama Kak Zaky dari FLP Jombang di Sekolah Alam Excellentia. Pelatihan jurnalistik kami lakukan di hari ketiga di Radar Madura. Kemudian Kak Emus, mengisi kelas cerita anak di hari keempat yang bertempat di Ruang Anak perpustakaan daerah Pamekasan.

Acara yang menakjubkan dengan hanya lima orang panitia setiap harinya.

Daebak! Itu kesan pertamaku. Bagaimana mungkin? Allah yang menjadikan semuanya mungkin..

Aku melihat Mbak Ami yang selalu datang setiap hari tanpa pernah absen satu hari sekalipun. Beliau adalah pembina Forum Lingkar Pena Pamekasan yang tetap aktif menemani kami. Padahal Mbak Ami sangat sibuk di keorganisasian di Wilayah Jawa Timur. Salah satunya FLP Jatim, tapi beliau masih bisa menemani kami. Ditambah lagi hingga aku menulis tulisan ini, Ummi, ibunda kandung Mbak Ami masih belum sembuh benar.

Ketika acara Kelas Cahaya selesai, Mbak Ami akan langsung pergi ke rumah sakit. Malamnya pun menjaga sang ibunda di sana. Dan pagi-pagi sudah siap sedia di tempat. Salut juga sama Ummi, yang mengizinkan Mbak Ami untuk bisa ikut serta dalam acara padahal beliau lebih membutuhkan anaknya.

Duh, kami sangat malu apabila datang terlambat ke tempat acara sedangkan Mbak Ami sudah di sana..

Mbak Ubabah, sang ketupat alias ketua panitia sudah berkeluarga. Beliau mempunyai anak kecil yang tak bisa melulu ditinggal. Adik yang masih berusia beberapa bulan. Kalau teman-teman sedang istirahat dan kondisi acara lagi nggak crowded, Mbak Ubabah akan pulang sebentar. Bunda yang sangat luar biasa! Masya Allah..

Nah, kalau mau lobi-lobi, aku biasanya menghubungi Mbak Ubabah soalnya beliau orangnya suka mengayomi dan sabar. Apalah daku yang tak bisa berdiplomasi.

Dalam kepanitiaan kami ada juga Mbak Novi yang sedang hamil. Tapi beliau adalah panitia yang tak pernah absen. Selalu on dalam acara. Pantas saja jika di akhir acara, Mbak Novi terpilih sebagai mentor terbaik pilihan peserta.

Keibuan dan sangat telaten. Kemarin sempat ada tragedi. Apa, tragedi? Ada peserta yang nangis kenceng banget. Tapi nggak pas sampe tantrum soalnya ada Mbak Novi sang superhero. Padahal sebelumnya sudah dihibur sama aku dan Mbak Nikmah tapi nggak mempan eh. Nanti FLP kalau mau ngadain kelas parenting bisa nih menghubungi Mbak Novi. Kita curi ilmunya, hoho.

Kalau dibilang FLP itu singkatan dari Forum Lingkar Perempuan. Mungkin ada benernya.

Kemudian Mbak Nikmah, akhwat yang sigap wara-wiri ke sana-sini.

"Sudah, Dek biar saya yang ambil," itu kalimat pamungkas Mbak Nikmah. Siap banget dah buat ngapa-ngapain.
"Soalnya Mbak lihat ekspresinya, kayak nggak minat gitu buat bergerak, jadi Mbak langsung cus saja."

Masya Allah, militan sekali. Ajari aku, Mbak. Daku yang miskin ilmu ini ><
Padahal ngangkat-ngangkat itu biasanya kerjaan cowok. Hei, kalian peka dong. Kan qawwamuuna 'alan nisaa' *ngomong sama tembok.

Katanya berikan amanah pada orang sibuk. Ada benarnya. Meski Mbak Erlin banyak pekerjaan dan tak bisa datang ke acara, beliau membantu kami dari balik layar. Urusan kesekretariatan seperti sertifikat, stiker dll Mbak Erlin siap bantuin. Besok paginya bisa kita langsung ambil. Jadi nggak ada alasan sebenarnya kalau memang niat. No excuse! Siap, Mbak!

Mbak Titik, panitia yang jauh dari kampung halaman. Kita memang para anggota FLP Pamekasan, tapi biasanya para mahasiswa atau pekerja yang tinggal di Pamekasan ikut aktif juga di Forum Lingkar Pena sebelum kembali pulang. Mbak Titik bahkan pulang-pergi Pamekasan-Sumenep. Masya Allah.

Terimakasih, Ya Allah sudah Kauberikan teman-teman saudara-saudara perjuangan yang memiliki banyak hikmah. Para akhwat militan yang selalu siap sedia berjuang. Tanpa alasan, tanpa mengeluh. Hanya ridaMu yang mereka cari.

Bismillah, mari terus berjuang, akhwatii fillah.

Ialah Forum Lingkar Pena, Istana Penuh Kekata

Terlepas dari berbagai anekdot dari singkatan FLP, ia adalah kepanjangan dari Forum Lingkar Pena. Wadah literasi yang memiliki cabang hampir di seluruh penjuru kota nusantara. Bahkan sudah mendunia. Cek link ini untuk menemukan FLP terdekat.

Jika tak ada, kau bisa mendirikan FLP cabangmu sendiri, namun ketentuan dan syarat berlaku. Yang paling krusial adalah, kau haru [pernah] aktif menjadi anggota FLP cabang manapun. Sekali lagi, cek FLP cabang terdekat untuk berpartisipasi di sana.
       
FLP Wilayah Jawa Timur dalam acara Writing Camp

Sejatinya kita di FLP memiliki tiga pilar. Mata rantai yang tak boleh lepas. Organisasi, keislaman, dan karya. Acara serta berbagai agenda adalah cara kita berorganisasi. Pengumpulan tulisan, bedah karya adalah eksistensi kita sebagai penulis. Wujud dari kelindan kata yang harus kita tuangkan. Dalam puisi, narasi maupun nonfiksi. Dan keislaman adalah ruh yang wajib ada dalam setiap pertemuan antar anggota dan perjumpaan ide yang berwujud karya.
          
Maka dakwah pena adalah hal yang semestinya dipegang oleh para pejuang literasi. Tidak hanya kita yang aktif dalam FLP, namun bagi kita yang mengaku beragama Islam.

            Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
            Menebar kebaikan. Berbagi hikmah di setiap lini kehidupan.
            
Forum Lingkar Pena adalah istana yang patut kita rawat bersama. Menghiasinya agar sentiasa indah berhiaskan kata-kata. Tempat kita bercocok tanam kebaikan, hingga ia tumbuh menjadi berlian yang senantiasa hidup di dalam hati pembaca. Karena menulis adalah kerja untuk membangun peradaban. Bismillah, bersama FLP akan kita wujudkan! Berakhir hamdalah, semoga segalanya muara pahala dan rida yang menghantarkan kita menuju surga.

21 tahun berdiri, semoga FLP semakin menginspirasi dan lebih banyak lagi berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa dan membawa harum nama Islam sebagai agama kita.

Keterangan:
Tulisan ini diikutksertakan dalam lomba #miladFLP21 #kisahinspiratifFLP
Paragraf sebelum terakhir adalah padanan kata yang diparafrasekan dari pidato Babe Rafif Amir, pada Muskerwil V di Ngawi, 25 Desember silam.

Jumat, 06 Oktober 2017

Seseruan di Rainbow Garden Bandung

Jika ingin mengetahui wajah Kota Kembang Bandung maka kunjungilah Rainbow Garden. Wahana wisata yang berada satu area dengan Floating Market. As I mentioned before, there are many sites you can enjoy here. Dan aku memilih masuk taman bunga ini.

Untuk masuk area Raibow Garden kita ditarik karcis Rp 10. 000 per orang. Huumb, meskipun masih satu lokasi dengan Floating Market, masuknya kudu bayar lagi. Dilarang langsung nyelonong. Karena nggak sopan. Soalnya ada yang jaga di depannya.

"Terus gue selama ini dianggap apa?" *mode FTV lebay :D

Kalau nanti beneran dibilang gitu sama penjaga karcisnya, aku nggak mau tanggungjawab ya. Soalnya kan dah dikasih tau; kudu bayar ceban :D

Kenapa memilih Rainbow Garden dibanding wahana lainnya di Floating Market? Padahal ada juga area Kota Mini, rumah kelinci, Museum Kereta api dll.


Kenapa yaa. Karena aku suka bunga. Dan diajakin Mbak Yul juga. Dari jauh warna-warnanya sudah kelihatan. Melambai-lambai minta di datengi. 

"Sini dong, sini," panggil mereka pake TOA.

Hihi.

"Lho di Kebun Begonia kan sudah bunga-bunga?"

Iya! Tapi ini The Real Paris van Java. Perwujudan Kota Kembang sesungguhnya. Sini deh aku ceritain di sana ada apa aja dan keseruannya gimana. Cekidot!

Here We are in Rainbow Garden
Setelah mendapat topi kurcaci sewarna pelangi, kami akhirnya passed the gate that guided by bodyguard with the black coat.

Alhamdulillah, yeay!

Baru melangkah, melewati gerbang saja sudah terpana. Deretan bebungaan seketika membius kami. Selanjutnya pasti deh ngapain. Ambil kamera, cekrek-cekrek mengabadikan momen. Mumpung batre masih ada kan. Dan mumpung masih di Bandung.

Krisan berbagai macam warna dan anggrek yang menggantung menjadi bunga paling dominan. Pun mawar-mawarnya yang beragam. Lainnya, belum sempat ta'aruf tanya nama :D

Rumah ala Eropa
Lurus dari pagar, belok kanan, naik sebentar, ada rumah ala Eropa. Di berandanya anggrek bulan besar-besar berwarna putih. Tanaman menjuntai memenuhi dinding rumah. Ah, aku mau rumah kayak gini ><


Puas menjelajahi rumah berbunga itu kami lurus ke kanan dan belok kiri di tangga panjang. Di situ potnya lucu-lucu. Konsepnya ciamik sangat. Teko-teko saling mengalirkan air. Drainasenya keren!

Rumah Kaca Penuh Bunga
Melewati tangga kami menjumpai rumah dengan beranda penuh kaca. Di sini banyak mawarnya. Dari kuning-putih-merah ada! Ketemu anggrek jenis lainnya juga. Bikin gemes pengen dipetik.


Kata Bang Tere Liye, biarkan mawar mekar di sana. Biarkan semua yang melihat memuji keindahannya. Dan terus tumbuh dengan decak kagum lalu lalang orang. Jika kau petik. Maka habislah kebahagian si mawar. Soalnya kamu nikmati sendiri di kamar.

Aku setuju sama Oki Setiana Dewi. Kali mau ngasih bunga sekalian sama potnya. Biar dia nggak mubadzir dan terus tumbuh. Biar kita bisa menikmatinya lebih lama.

Asyik kan meski sudah gugur bunganya, ia akan menjadi biji yang siap tumbuh. Batangnya yang lain pun sedia membungakan mawar baru.

Ngomong-ngomong kita nggak boleh petik bunga-bunga di Rainbow Garden Floating Market ini. Petik artinya beli. Jadi mending beli di Toko Bunga ajah, lebih legal. Jangan lupa sekalian sama potnya yaa. Etapi ada beberapa spot khusus untuk tanaman  yang dijual. Deket situ ada mamang-mamang penjaga kebunnya. Boleh banget kalo mau tanya-tanya.

However, di rumah yang satu ini, view-nya bagus. Kita bisa melihat Floating Market dari ketinggian. Everything goes green. Ternyata cukup jauh Rainbow Garden dari sana. Tapi kami nggak merasa capek. Mungkin karena pemandangan di sekitarnya elok-elok.

Masya Allah, indah sekali ciptaanmu, Tuhan.

Rumah Hidroponik
Kelar dari situ kami ke Rumah Hidroponik. Ruang itu menjelaskan bagaimana caranya melakukan hidroponik sendiri meski tidak ada seorang guide di dalamnya.

Selada Hidroponik

Terlihat biji-biji ditaruh di atas spon basah. Selada hijau yang segar-segar sedang tumbuh. Juga tomat-tomat yang mulai memerah ranum. Semuanya ditanam dengan media air. Saat kami masuk ke sana, serasa disambut dengan orkestra, gemericik airnya yang menenangkan jiwa.

Ah, meuni adeumm.

Rumah Pohon
Meski gerimis datang lagi, dan tentu saja itu tak menyurutkan langkah kami. Waktu aku keluar dari ruang hidroponik itu, malah Mbak Yul dan Dek Ril yang ikutan ke Rainbow Garden sudah ada di rumah pohon. Teteupp ya :D , walaupun langit semakin hitam.

Aku dan rekan lainnya memilih duduk rehat di bawah rumah itu. Ada semacam kursi bulat yang digantung berjejer di situ. Kursinya dibikin ala ayunan gitu. Apa sih namanya.

Di dekat kami ada deretan stoberi yang baru mulai merangkak. Buahnya masih putih kehijauan. Nah dari situ keliatan tuh rumah-rumah warna flourescent di Kota Mini.

Nggak lama rehatnya, karena lanjut menelusuri bunga-bunga. Bayangin aja sawah tapi tiap lajurnya penuh kembang. Masya Allah, indahnyaa..

Tapi gerimis yang masih turun dan sore yang mau pamit memaksa kami untuk tidak berlama-lama. Deuh, yang mau pulang, tapi nggak pulang-pulang, haha. Abis bunganya bikin betah.

Di samping Raibow Garden ini ada wahana baru juga. Kami curious pengen tahu. Apalagi jalan menuju ke sana nggak kalah indahnya. Nggak ada tanda-tanda kudu bayar lagi. Tapi melihat dari penataannya, ini spot baru dan di luar Rainbow Garden.

Ternyata itu kebun-kebun yang baru dibangun. Sepertinya kebun stroberi gitu.

Karena lahannya kosong. Dan kelihatan tanamannya masih gersang dan sebagian juga baru ditanami, akhirnya kami balik. Memutuskan pulang lewat jalur Rainbow Garden [lagi].

Tapi di jalan ketemu deretan bunga berwarna kuning macam seruni. Ketemu gerombolan lavender yang bikin hati pengen berhenti. Ah, spotnya masih banyak di Rainbow Gardennya.
Banyak. Buaaaanyak. Hihi.

Pulang, Nak. Pulang..
Kudu dari pagi mainnya. Biar puas seharian. Dan siap-siap gempor :D

Akhirnya pulang juga. Mengingat Maghrib yang siap-siap mengetuk pintu waktu.

Tiket parkir kena lima rebu. Dihitungnya perjam. Sejam pertama tiga rebu, katanya. Jam berikutnya beda lagi. Oia, waktu masuk Floating Market sebelumnya kan didata. *Astaghfirullah, lupa ya, Mpok.. :D


Kesannya sama Rainbow Garden ini; must visited place kalo kita pergi ke Bandung. Aku juga bakal mampir ke sini lagi kalo ada kesempatan ke Kota Kembang, Insya Allah! Aamiiin. Soalnya areanya lebih luas, spotnya lebih banyak, dan penataan kebunnya juga lebih kece dibanding Kebun Begonia. Inspirasi banget-lah buat para mahasiswa arsitektur lanskap.

Bener-bener Paris van Java! Perwujudan kota kembang yang penuh romansa..

Koleksi bunganya bikin betah.
♡.♡


Sudah, sudah. Pulang, pulang.
*diseret Emak l.o.l



***
Gelang, sepatu gelang..

Gelang, si rama-rama...



Keluar dari situ kami balik pulang. Baru jam setengah lima ternyata. Pulangnya lewat Cihampelas Walk, lalu lanjut Jl. Asia Afrika dengan lampu jalannya yang fenomenal itu. Mampir sholat di Masjid Agung Bandung.

Mari pulang, marilah pulang..

Marilah pulang, bersama-sama...



Dan karena gerimis datang lagi membuat perut makin keroncongan, jadilah dinner kami di abang tukang bakso Mang Ihsan. Rekomen Ibu Teh Lia juga nih tempatnya.

Batagornya enak. Gede-gede. Daging baksonya kerasa dan banyak. Bikin kenyang. Teh hangatnya gratis. Membuat kami gembira melihat kantong tipis :D

Oia, selama sepekan kami di Bandung, pengeluaran nggak sampe 200 rebu. Mungkin traveling hemat ala kami bisa dijabarkan di Kebun Kekataku juga, kali yaa. Anyway ada yang mau tips-nya, nggak? Kalo mau, nanti dibikinin postingan beneran. Insya Allah. Diingatkan yaa.

Selanjutnya halan-halan kami keee....... Ciwidey! Wait us on the next blogpost, Insya Allah!




Rabu, 27 September 2017

Konflik di Floating Market Lembang Bandung


Yuhuu.. dari Kebun Begonia, kami langsung ke Floating Market yang disambut kelabunya awan dan gerimis tipis.

Setelah ditarik karcis masuk Rp 20.000 dan check in kedatangan kami pun masuk. Di situ ada semacam box hijau yang menghitung lama-sebentarnya pengunjung di dalam Floating Market. Kemudian parkir deh.

Hujan-hujan begini memang enaknya yang anget-anget. Syukur Alhamdulillah, karcis masuk tadi bisa ditukar dengan berbagai minuman. Aku memilih lemon tea untuk menghangatkan badan.

Tukar tiketmu dengan minuman, di sini!
Sesuai dengan namanya, Floating Market yang berarti pasar apung. Jadi kalau kita mau belanja untuk keperluan perut, belinya di perahu-perahu di pinggir danau situ.

Harganya beragam. Tapi kebanyakan mahal-mahal. Dari ujung ke ujung stan makanannya nggak ada yang menarik. Soalnya nggak ada yang pas di kantong. Haha, nasib para mahasiswa kere.

Doakan saja kelak kami menjadi blogger kece, pengusaha keren serta graphic designer kece dan professional photographer. Aamiin.

Walhasil kami cuma duduk-duduk menyeruput minuman hangat masing-masing.

Oia, walaupun mau berinisiatif bawa bekal ala piknik gitu, nggak diperbolehkan di sini. Kalau ketahuan bakal didenda sama petugas. Jadi hikmahnya, kalau mau ke sini harus dalam keadaan perut kenyang. Atau bisa basa makanan, tapi dimakan di tempat lain ^^

Karena nggak mau rugi kami jalan-jalan menyusuri lokasi wisata Floating Market Lembang Bandung ini.

Kalau mau beli bisa naik sepeda air ini
"Ke Floating geura. Tempatnya rekomen banget buat kalian. Nggak bakal nyesel deh kalian ke sana," pesan mamah Teh Lia sebelum berangkat yang kemudian menjadi salah satu alasan kami mampir di mari.

Begitu mengelilingi area danau kami mulai diderpa kebosanan. Laper sejujurnya. Tapi aduhai harganya nggak bisa nolong. Belum lagi sempat ada konflik di antara kami.

Jeng-jeng-jeng!

Pastinya konflik yang terjadi bukanlah alasan mengapa langit menangis. Kyaa..
Faktanya langit mendung.

Nyatanya Floating Market lagi gerimis.
Kenyataannya hidup tak seindah drama Korea.

*bukan iklan mode on :p



But that is. Ada hati yang bergemuruh dalam jiwanya. Uhuk.

Makanya sabda Rasulullah, kalau ingin tau tabiat asli seseorang, ajak dia traveling kayak gini. Terus lihat bagaimana ia bersikap. Atau bisa juga dengan menginap di rumahnya tiga hari.


Macam sahabat Rasulullah. Sahabat yang satu curios banget sama seseorang yang disebut-sebut masuk surga oleh Nabi. Seseorang itu bahkan dimention tiga kali dalam hadist Rasul. Waktu mereka sedang halaqah duduk melingkar, lalu besoknya dan besoknya lagi.

Itu tuh yang bikin sang sahabat tadi penasaran sampai menginap tiga hari di rumahnya.

"Apa yaa yang membuatnya istimewa sampai-sampai dia termasuk dalam list penghuni surga?"

Selama tiga malam menginap, sang sahabat tidak menemukan sebuah tanda pun. Malah seseorang tersebut tidak pernah terlihat sholat tahajjud. Wah makin penasaran dong sahabat kita itu. Karena waktu menginapnya hampir habis, sang sahabat berkata dan bertanya jujur.

"Sebenarnya, aku menumpang beberapa hari di rumahmu bukan karena sedang bertengkar dengan ayahku. Melainkan karena Rasulullah menyebut-nyebut namamu di depan para sahabat lainnya sebagai ahli surga. Aku dari kemaren penasaran. Ibadah istimewa yang membawamu ke sana?"

"Tidak ada amalan istimewa, sahabatku," jawabnya dengan senyum sumringah.

Respon yang membuat sang sahabat gemes. Ih masak nggak ada? Rasulullah sampai nyebut berkali-kali gitu. Melihat reaksi tamunya, tuan rumah akhirnya mengeluarkan jurus andalannya.

"Benar, Insya Allah. Namun barangkali, itu terjadi karena saya tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain."

Jawaban ini akhirnya membikin sang sahabat plong. Bener aja. Selama tiga hari menumpang, tuan rumah nggak pernah nanyain tamunya, kenapa datang menginap. Nggak ada sama sekali. Cuma dilayanin weh tamunya; tidur, disiapin makan, mandi dll..

Sama juga kalau ada konflik dalam perjalanan, sebisa mungkin kita menghadapi dengan hati adeumm. Kata bapak Teh Lia mah, "Kaleum weh."

Positive thinking. Ini yang paling penting.

Biasalah, nggak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tanpa konflik. Pasti deh ada. Rasanya perlu dibikin tulisan khusus untuk ini yaa. Tergantung kitanya aja manage konfliknya gimana. Ditambah kalau jalan sama cewek-cewek. Mungkin saja dia sedang PMS, haha. Jadi nggak perlu ditanggapi sampai alis bertaut.

"Tak osa makabin ales. Pangolona ghita' dâteng," artinya dicari di gugel translet ya. Atau tanya sama anak Madura ^^v peace!

Dibawa santai aja sih. Badai pasti berlalu. Kita nikmati suasana dan lanjut halan-halan!


Muter-muter area danau, tau-tau kami sudah sampai daerah persawahan. Jadi itu teh ceritanya dibikin mirip perkampungan. Ada gemericik sungai kecil, kandang ternak sampai saung untuk rehat.

Siip lah. Cocok banget buat hati yang gundah. Uhuyy.

"Mbak, kita ke atas yuuk! Bagus deh pemandangannya di sana," tiba-tiba Yasmin muncul saat aku, Mbak Dil dan Dek Ril lagi santai di sebuah bangku taman yang sepi banget. Berfoto ala-ala inces.

Aku ikut dong!

Mbak Yul sudah ke atas duluan. Teh Lia sama misua menyusul kemudian.

Jadi di atas sana adalah bukit penuh warna-warni pelangi yang menarik hati.

Jom kita naik! Di atas sana banyak pilihan wisata lainnya loh. Keseruan kami nantikan di postingan berikutnya yaa. Yuhuu, tertanya Floating Market Lembang nggak cuma tentang makanan tradisional ala pasar apung. Masih banyak. Baaanyaaak!

Pilihan Wisata di Floating Market Lembang
Yes. Nggak jadi baper. Yuk ikut!

Senin, 11 September 2017

Baper di Kebun Begonia Bandung


Baper alias bawa perasaan di Kebun Begonia memang hanya bikin potek hati. Tapi kalau kamu sudah baca postingan sebelumnya pasti ngerti alasannya kenapa.

Atmosfer baper-nya sudah dimulai sejak perjalanan menuju Kebun Begonia yang terletak di Lembang Bandung. Perasaan itu nggak mesti 'nyes' meleleh melted gitu kan. Kesel, sabar juga bagian dari perasaan bukan? :D

Ada nih satu ayat dari Al-Qur'an tentang perasaan:


"Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
[Al-Baqarah: 21]

Allah so sweet banget yaa. Ayat ini motivated dan bener-bener bikin melted.

However, menurutku perasaan itu, just like an emotion.

Film Inside Out membagi emosi menjadi lima. Senang, sedih, jijik, takut dan marah.

Tak seperti Madura yang adem ayeum jalannya. Nggak pernah macet karena memang kendaraannya tak sebanyak di kota-kota besar. Cuaca di pulau garam panas karena dikelilingi lautan asin.

Meski kita sudah berusaha berangkat sepagi mungkin, tetap saja jalanan padat merayap. Ditambah panasnya polusi. Bandung aslinya dingin tapi karena banyak kendaraan jadi begitu. 

Dan di jalan, si Mat sempat mati beberapa kali. Haha, nano kan rasanya.
Menurut Paman Gugel Map jarak yang ditempuh dari Soreang ke Lembang adalah 38 KM dari rumah Teh Lia. Katanya lagi, itu membutuhkan waktu satu setengah jam. Tapi dengan kemacetan yang kita alami di jalanan, it takes more long time.

Haha. Sabar. Orang sabar makin disayang sama Allah.


Untungnya Kota Kembang ramah-ramah penduduknya. Sabarnya kelihatan. Kalau di Surabaya, ada* orang berhenti sembarangan, dia pasti kena marah. Klakson siap jadi parade musik yang memekakkan telinga.

Hihi, maafkan yang antri di belakang si Mat kurang pemanasan.

Alhamdulillah memasuki daerah UPI kemudian Lembang kemacetan mereda. Memasuki kawasan Lembang, cuaca mulai sejuk . Bandung mulai menunjukkan wajah aslinya. Eh, tiba-tiba kita sudah sampe aja.

Alhamdulillah, yeay! Akhirnya! The long journey pays us.

Karena waktu sudah memasuki zuhur, kita memutusku salat dulu. Tempat wudu dan toiletnya cantik nan asri. Hijau, adem dan penuh bunga-bunga.

Musalla di Begonia ini juga bikin 'nyes' baper. Ia didirikan menyerupai tenda. Dan, itu lhoo penanda, pemisahnya. Ditulis dengan kata 'ikhwan' dan 'akhwat.' Tabarakallah, pengelolanya ngerti ya.

Bagiku pemilihan dua kata itu mengandung makna psikologis. Karena pakai bahasa Arab, kesan Islamnya jadi dapet. Liannal 'arabiyah, lughatul jannah, lughatul quran. Bahasa yang dipakai ketika kita sholat dan ngaji.

Pun dua kata ini akrab banget di telinga para ADK. Jadi rasanya nyes sekali.

"Nanti konsumsi akhwat-nya lansung ambil di teras masjid yaa."
"PDD ikhwan fokus merekam materi kajian. Kalo akhwat-nya ambil gambar."

Semacam itu.

Sebelum pergi ke loket, kita sempat foto-foto di sekitar musalla dan pintu masuk. Abis, bunganya cantik-cantik. Spotnya bikin kamera yang masih full baterai ingin jepret sana-sini.

Asa eman ajah kalau dilewati. Jadi mari kita kemon.

Beli tiket dulu..
Puas pota-poti di sana kita cus langsung ke tiket. Bayarnya sepuluh rebu per-orang. Kalo mau bawa DSLR tambah lima puluh ribu lagi. Khusus untuk foto pre-wedding kena Rp 250.000 dan nambah seratus per jamnya kalo prewed-nya lebih dari dua jam.

Hua, baper lagi liat duit. Nggak jadi pakai DSLR deh, padahal A Riyan suami Teh Lia bawa. Uang bayarnya bisa beli spatula dua porsi per orang, satu rombongan. Nanti deh aku ceritain tentang spatula ini. Kapan-kapan, haha. Ingetin yaa.

Kita serombongan ada tujuh orang. Rombongan dari Madura empat. Yasmin, sepupu Teh Lia yang namanya sama dengan kosan kita. Teh Lia sama A Riyan, sang suami. Iya, kita ke sana dengan pasangan halal. Yang nikahnya dua hari sebelum kita go ke sana.

Tiket dapet, kita masuk lokasi. Hamparan bebungaan langsung memanjakan mata. Areanya tak terlalu luas. Namun lumayan.  Bunga merah begonia yang pertama kali tertangkap lensaku. Bunga yang menjadi cikal bakal penamaan kebun ini.

Hamparan Bunga
Banyak mainan masa kecil seperti ayunan dan jungkat-jungkit. Main di situ sebentar sambil merehatkan badan dari polusi dan macet.

Hamparan bebungaan lainnya kemudian lebih menarik perhatian. Kumpulan krisan di sana. Mawar-mawar di situ. Aku kegirangan. Hayuu kita kenalan sama mereka.

Di tiap bunga ada papan informasinya. Itu bunga apa, nama ilmiahnya apa. Jadi kalo kamu belum kenal sama bunganya bisa ta'arufan di sana. Sambil jepret keindahannya. Bisa buat setor foto tema-temaan di Instagram tuh.

Mbak Yul cuma geleng-geleng aja lihat aku yang lincah gerak ke sana- ke mari. Haha.

Di Kebun Begonia ini juga banyak artificial spot-nya. Macam tempat wisata kekinian itu.

"Ah, tempat wisata sekarang mah cuma bagus spot fotonya ajah. Pemandangannya kurang," komentar adikku. Umm, iya sih kebanyakan begitu. Pantai penuh hiasan papan-papan. Payung-payung juga ayunan.

Tapi nggak ada salahnya juga untuk menarik wisatawan. Kebun Begonia sendiri baru dua tahun usianya #cmiiw. Jadi tanamannya belum terlalu rimbun. Menurut Teh Lia, Begonia yang sekarang sudah tambah luas, dibandingkan sebelumnya waktu datang ke sini.

Dan rombongan akhwat Yasmin Alhamdulillah menikmati kebun bunga Begonia, Lembang Bandung. Bunga-nya cantik spot-nya keren-keren. Kita kelilingi tuh semua areanya.

Halal Couple
Ehem! Karena di antara kita ada pengantin baru, jadi weh mereka the only one, objek foto kita. Sekalian post-wedding. Kan dah halal tuh pegang-pegangan, tatap-tatapan. Kita, jadi fotografer dadakan. Macam tahu bulat :p

Kitanya iseng, mereka-nya malu-malu. Khas pengantin baru yaa ^^

Ada mobil penuh bunga, kita ajak si halal couple. Kereta kencana Cinderella. Bangku di tengah-tengah taman. Rumah, beranda berbunga-bunga pun menjadi setting selanjutnya. Kita foto mereka berdua dari berbagai sudut. Mencari angle terbaik.

Just Two of Us
Hayo, dilarang baper :p
Sudah, nikah saja sana!

"Sama siapa, Dek?" Kesian amat yak. Amat aja nggak kasihan sama kita :D

Tapi sebenarnya yang paling bikin baper adalah bukan karena mereka berdua yang sudah halal bergandengan tangan. Melainkan kita yang sudah lulus kuliah. Nggak lagi di Yasmin. Nggak lagi hafalan bareng. Saling bangunin tahajud. Halaqah bareng. Kajian bareng.


Harapannya. Kita yang sudah nggak bareng ini dipertemukan dengan lingkaran-lingkaran ukhuwah yang nggak kalah seru. Teman-teman yang selalu mengingatkan kita pada Allah. Bahwa dunia hanya sementara. Dan kalau ingin kumpul lagi di surga. Kita kudu berlomba raih banyak-banyak pahala.

Yuk! Yasmin, persaksikan kelak kita pernah bersama. Tak hanya di Paris van Java..


Kita tiga jam apa lima jam ya, di sana? Lupa! Tapi berjam-jam memang. Hoho.

Yang pasti, beres keliling kebun bunganya kita cus keluar. Ke parkiran dan makan bekal bentar di sana, cause masuk area Kebun Begonia-nya nggak boleh bawa makanan. Banyak pedagang asongan juga sih di luar. Selain souvenir, kebanyakan jual beri. Mbak Dil beli stroberi dan arbei yang kita nikmati bareng di parkiran.

Eh, kayaknya di Kebun Begonia nggak sampai lima jam. Soalnya dari sana kita masih pergi ke Floating Market. Tempatnya masih di Lembang, jadi sayang kalau mau dilewatin. Sekalian.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Mari kita berangkat ke Floating Market. Brrrm, brrrmmm...

"Karcisnya neng, dua rebu," kata si mang parkir. Ups!

Kalo nggak salah sih harganya segitu, hoho..