Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Desember 2017

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan
Selama di Bandung kita dua kali main ke rumah Teh Insan. Selama itu pula suguhan ala Sunda selalu terasa. Sambal lalap yang paling menarik perhatian. Bikin nggak tega sih mau nambah terus, haha.

Dan itu sambel ter-enak menurutku. Bikinnya gimana sih?

Dari dulu rasa penasaranku belum juga terpuaskan. Jadi ketika mendapatkan sambel top-markotop itu langsung kupasang wajah antusias dengan mata bundar berbinar-binar tak mau melewatkan step by step-nya.

"Ya gitu weh bikinnya bawang, tomat, cabai," jelas si Mamah merendah. Ah, Ibu mah kitu da. Sebenarnya di rumah yang panggil Mamah cuma Hanin, adik bungsu Teh Insan. Kalau saudara-saudara yang lain panggilnya, 'Ibu'. Maklumlah 'Kids Zaman Now.' Terus aku-nya labil. Kadang panggil Mamah, kadang Ibu, hoho.

"Tapi pas abdi bikin, kadang suka kebanyakan bawang, Bu. Atau terlalu kecut kebanyakan tomat." Aku kekeuh minta resep. "Kumaha takarannya biar pas. Biar enak kayak bikinan Ibu..," gitulah kira-kira percakapan yang difasilitasi sama Teh Insan.

Akhirnya aku dibisikin deh resep rahasianya. Here we go!

Sssst, ini aku minta resepnya untuk porsi delapan orang. *ups ketahuan deh keluarga besar :D

***


Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan



Bahan:
Cabai 20 biji.
Bawang merah 3 siung.
Bawang putih 1 siung.
Tomat 2 buah.
Gula merah 1 ons.
Petis Madura♡ 1 sdm menggelembung.
Minyak 3 sdm.
Terasi dikiiiit aja.
Garam secukupnya.


Cara bikinnya:
1. Cuci bersih tomat, bawang dan cabainya. Potong-potong minimal jadi dua bagian agar tidak meletup-meletup saat digoreng, seperti rasa cinta yang menari-nari, kata JKT 48.


2. Panaskan minyak. Setelah dirasa agak panas, goreng rombongan di step pertama. Oia, terasinya diikutkan juga. Jangan sampai ketinggalan. Nanti dia ngambek.

3. Setelah udara sudah mulai bikin bersin-bersin jangan dekati kompor. Nanti sambelnya terkontaminasi wkwkwkwk. That's why apinya jangan gede-gede. Soalnya dia suka bikin serang☆. Kecilin apinya. Yang sedang-sedang sajaaa, yang sedang-sedang saja.

4. Ulek gula merah dan garam sampai halus. Tuang rombongan dari wajan. Biarkan mereka nimbrung dan menyatu dengan alam. Eh, maksudnya biar ngariung di cobek. Hah?

5. Tambahkan petis Madura biar makin top-markotop. Karena masih musim kemarau (baca: panas hasil ulekan sebelumnya), jadi gampang ngulek petisnya.

6. Tes rasa. Kalau sudah cukup dan sesuai selera garam dan gulanya, berarti sudah saatnya dihidangkan. Taraaa, this is sambal lalapan ala Mamah Teh Insan sudah siap disantap!

***

Hasilnya mantap bener. Meski hanya dimakan berdua dengan nasi yang mengepul hangat. Dijamin berhasil bikin kita berhahuha kepedesan dan tambah nasi, Insya Allah! Alhamdulillah bi ni'mati tatimmus shaalihaat.

Alhamdulillah padahal uji coba pertama kali nih.

Rencang (teman/lauk) nasinya paling afdhal sama timun, kemangi dan tahutempe. Iya, kalau memang mau diniatkan 'nyunda,' rombongan sayur ini sunnah muakkad sampai wajib hukumnya; terong bulat, leunca, petai, timun dan kemangi.

Kalau ada ayam goreng dan dadar telur tentu saja akan disambut dengan hati senang walaupun tak punya uang, oi. Tapi mah seadanya weh. Sabar ya nunggu gajian. Karena meski sekarang tanggal satu, masih merah alias libur.
Sila dinikmati. Jangan lupa baca basmalah sebelum makan!

***

Kemaren kami sempet curiga pas kunjungan kedua ke rumah Teh Insan. Sambelnya makin enak. Kulihat Mamah senyum-senyum.

"Tahu nggak kenapa sambelnya enak? Ibu kasih petis Madura." Wah pantesss makin maknyus!

Alhamdulillah oleh-olehnya kepake, soalnya kami sudah dag-dig-dug takut nggak suka awalnya. Eh, Ibu ternyata jago ngolahnya. Two thumbs up for you, Mom!

Kalau nggak ada petis Madura-nya juga masih bisa dibikin sambel lalapan pakai bahan dan step di atas. Tetep enak! Sekian resep sambal lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan. Selamat mencoba!

Note:
☆serang, bahasa Madura untuk udara yang bikin segak, hidung gatal, batuk, atau bersin-bersin biasanya diakibatkan oleh aroma masakan. Kalo Sunda-nya nyereng kata Teh Insan.

♡Kita pakainya petis Madura, tepatnya daerah Pamekasan, yang ada manis-manisnya gitu. Bukan petis Tanjung yang agak pahit atau petis Sumenep yang agak asin.


Jumat, 11 Desember 2015

Piscok yang Ngocok Banget!

Lek Cimahe, begitu biasa aku panggil datang dari desa membawa sekarung buah. Ada mangga sama pisang. Pisang raja, mangga gadung sama yang satu lagi nggak tahu jenisnya, tapi seperti mangga apel karena warnanya hijau kemerahan.

Jadilah beberapa hari ke depan kami punya stok buah-buahan. Ditambah pepaya di samping rumah yang mulai menguning. Sedangkan alpukat dan jambu belum kasi tanda mau buah. Melon di belakang yang tumbuh sejak bulan puasa kemaren buahnya dimakan keong. Hiks!

That's why we thanked to  Allah who has send Lek Cimahe kinds of fruit. Arigatou..

Mangganya dimakan biasa, nggak diolah. Paling dibikin rujak. Nah si pisang ini yang istimewa karena perlakuannya kudu istimewa. 

Di rumah nggak terlalu doyan pisang. Kecuali jenisnya pisang emas yang kecil-kecil. Salah satu dedekku malah nggak suka sama sekali.

Abi yang paling excited. Beliau mengolahnya menjadi pisang rebus. Ummi ngolah jadi pisang goreng. Sedangkan si kunyuk-kunyuk pengen pisang keju. Beda usia, beda keinginan ternyata :D

Untunglah keesokan harinya Ummi beli tepung roti, susu coklat dan keju. Bahan yang lain ada mah di dapur.
Cocok buat have fun di rumah. Ditambah udara; sejuknya musim hujan. Dingin-dingin gini bawaannya laper. Cocok banget dengan udara dingin dan perut keroncongan itu. Haha.

Caranya gampang aja sih. Setelah pisang dikupas dan dipotong memanjang, langsung celup ke dalam adonan tepung terigu yang sudah dicampur garam gula. Gulirkan di atas tepung roti dan goreng! Setelah warnanya kuning keemasan, angkat dan tata di atas piring saji. Beri topping susu coklat dan parutan keju. Jadi deh!

Selama dua hari si kunyuk-kunyuk ngonsumsi itu olahan. Nggak ada bosen-bosennya. Syukurlah. Daripada jajan sembarangan, haha. Stok buahnya juga masih banyak. Tuh pisangnya masi sisa di karung dan mangganya tinggal yang gadung di kardus.

Yoilah, that's the story today. Next time it'll be more fun stories. Ja ne! Oyasumi!
 

Sabtu, 28 November 2015

Seblak Tulang Ala-ala

Yuhuuu! November rain! Hujan-hujan begini enaknya makan yang anget-anget! Now, kita akan nyobain masak seblak ala-alaa :D

Ala gue dan adik yang mbem Bela. Yosh ikimashou!

Yang paling demen sebenarnya si Dedek. Apalagi sudah dijanjiin kalo lagi ujan kita bikin seblak lagi. Dan lihatlah langitnya lagi mendung. Brrr, suhu makin mencekam alias dinginnya kian berasa.

Rinai hujan di beranda
Oke abaikan opening yang sedikit alay itu! Bumbunya sama kaya seblak biasa. Bedanya ini pake tulang sapi. Masih ingat kan apa saja? Yupz, kencur, bawang putih, lada, cabe sama garam.

Ngomong-ngomong soal kencur, dia itu beti sama bumbu kunci. Beda-beda tipis. Bahasa Maduranya konce. Nah, konce itu yang biasa buat sayur bening bayam sama koa marongghi. Biasa juga dibikin buat botok.

Perbedaan yang paling mencolok itu warnanya. Kencur itu putih, sedangkan konce agak kuning kalo dikupas. Bentuk fisiknya kencur lebih gemuk bulet-bulet dari konce kurus panjang-panjang Secara bau sih mirip. Makanya ini tips buat ngebedain. Jangan salah bumbu lagi ya!

Kuncir dan Konce

Semua bumbu diulek dan ditumis pakai minyak sayur. Aduk dan beri sedikit air. Biarkan sampai aromanya keluar. Masukkan deh itu tulang sambil ditambahi air sedikit demi sedikit. Cek rasa. Tambahi garam kalo kaurasa ia belum sempurna*eeaaaa. Kecilkan api biarkan selama tiga menit hingga kuahnya meresap. Agar rasa makin kuat.

And here our lunch! Seblak tulang ala-ala.. Yeay! Yum, yum, yum!

Seblak tulang tanpa cahaya

Mancaps! Nikmati di beranda dengan backsound rintik hujan. Atau cukup di dekat jendela bila petir dan kilat memecah suasana. Happy weekend! Enjoy your food, pemirsaah :)

Fyi, itu tulangnya sudah dimasak sebelum dibikin seblak. Jadi nggak teuas pas digigit.

Jumat, 09 Oktober 2015

Seblak Kuning Akhir Pekan

Udah lama sih pengen seblak. Tapi apa daya tangan tak sampai*emang gunung? :D


Dan sampailah kita pada weekend. Yeay! Beberapa hari kemarin ada temen Umi kasi oleh-oleh seplastik kropok puli mentah. Kerupuk kuning berbentuk bulat. Bisa dibikin seblak tuh.


Bukan kerupuk yang biasa buat seblak. Teh Lia sukanya bikin pake kerupuk kecil-kecil warna oren. Dan tingkat ketebalannya pun pas.

Karena kropok puli agak tebal makanya kudu direndam pake air panas mendidih. Ditinggal aja dulu, sembari kita menyiapkan bumbu-bumbu. Baru deh setelah bumbu diulek, ditumis dan berbau harum, kropok diangkat dari rendaman dan dimasukkan dalam wajan penggorengan. Karena aku bikin cuma dua porsi pakenya teflon aja.


Resep awalnya dapet dari Teh Lia, barudak Bandung yang tinggal sekos. Teh Lia suka banget bikinin anak-anak. Karena keseringan bikin bareng, aku ikut ketularan ilmunya deh. Lumayan. Selain seblak, kita bikin cimol, cireng dan makanan lainnya. 

Setelah beberapa menit; membiarkan bumbu meresap, seblak siap diangkat dan dihidangkan. Yeay! Aku makan berdua dengan si adik bungsu.



Yuk makan sebelum dingin. Lezat disantap selagi hangat. Enak, dan kenyal. Bumbu mericanya membuat tenggorokan nyaman. Legaa..

Santapan tepat menemani liburan kamu ^_^