Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2016

Dua Hari bersama AADC #2

Baru ada waktu nonton AADC #2 itupun kuhabiskan selama dua hari di sela-sela kegiatan lainnya. Awalnya dari ketua FLP Bangkalan kudapat. Dan kutonton kemarin dan hari ini. Okay lupakan opening basa-basi itu. Mari kita bahas saja film yang kutamatkan dalam waktu dua hari itu.

Ayat-ayat cinta dua ini, ups salah! Maksudnya Ada Apa dengan Cinta Dua yang akan kita dengan tanda pagar #AADC2. Dua jam tiga menit durasinya itupun karena disensor adegan dewasanya. Ya, itu keuntungannya. Asyik tak usah tutup mata melihat adegan tak pantas karena sudah dipangkas.

Seru sih, banyak mengandung sastra terutama puisi Rangga yang fenomenal itu. Iya, di film ini kulihat ada dua puisi yang ia tulis. Ini nih puisinya. Sengaja kuulang-ulang filmnya untuk menuliskannya secara lengkap.

Tidak Ada New York Hari Ini
Bandara dan udara
Memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dada
Dan rahasia yang memenuhi jantung puisi ini
Dipisah kata-kata
Begitu pula rindu
Hamparan laut dalam
Antara pulang dan sang petualang yang hilang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya
Dan sebaliknya
Atau senyummu
Dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohanku dan keinginan
Memelukmu sekali lagi

Puisi yang dikarang oleh M. Aan Mansyur kutebak judulnya adalah Tidak Ada New York Hari Ini karena di dalam puisinya ada kata New York-nya. Di kredit yang tertulis di akhir film, tersebut ada empat puisi; Batas, Pukul Empat Pagi, Pagi di Central Park dan puisi di atas. Ada satu puisi lagi yang kucatat. Kutebak judulnya adalah Batas.

Dari jendela kau melihat bintang-bintang tanggal
Satu demi satu
Berulang mengucap selamat tinggal
Kadang kau pikir lebih mudah
Mencintai semua orang
Daripada melupakan satu orang
Jika ada seorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu
Mereka datang kemudian
Hanya menyentuh kemungkinan

Dua puisi lainnya entah di mana sepertinya terlewat. Tapi seingatku cuma dua puisi itu yang ditulis Rangga. Pertama saat ia berada di atas pesawat dari New York menuju Jakarta. Kedua ketika ia akan kembali ke New York kala Cinta berdusta padanya.

Selain berbau sastra film #AADC2 ini banyak menonjolkan budaya Indonesia . Terutama dari daerah istimewa Yogyakarta. Villa yang dipakai Cinta and the gank juga bukan gedung apartemen bertingkat. Rumah dengan kehijauan dan perabotan yang hommy banget kelihatannya. Ya, masih dengan formasi lama; Cinta, Maura, Willy, Karmen dan tanpa Alya.

DJ pas Cinta jalan ke diskotek ngerapnya pakai bahasa jawa. Ada juga puppet yang adegannya bikin terharu. Keliling Jogja naik becak, ke candi sampai ke Puthuk Stumbu melihat sunrise bersama orang tercinta.


Nonton deh #AADC2, tapi kalau bisa versi yang sudah disensor. Biar nonton nggak usah repot-repot nutup kayar dengan tangan. Karena adegan itu dihapuskan. But that’s your choice. Meski nontonnya sampai dua hari, filmnya tetap berasa lho. Buktinya sampai kutuliskan di sini.