Tampilkan postingan dengan label Silaturahmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silaturahmi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Juni 2017

Retaknya Berlian Mahal

Seringkali kita berada di lingkaran yang kuat ukhuwahnya, kokoh kekerabatannya, erat tali silaturrahimnya. Dan seketika pecah dan retak semuanya gegara berbeda isi kepala. Tak sama pendapat yang dimilikinya.

Maka selanjutnya aku memilih diam tanpa tak seolah jemu padakuuuuu
*loh kok malah nyanyi D'Masive :D 

In addition when other people berbicara dengan sangat menggebu berdasarkan pandangannya. Dan kita berada di seberang. Pendapat yang sangat kontradiktif. Kita bisa apa jika kita tidak ditakdirkan bersama? Hayati lelah, Bang! >< 

Skip! Film Kapal van der Wick mencoba menjadi sponsor postingan :p 

Dan jika kedua pendapat letaknya di kutub utara dan selatan which is never be met in a place. Silence is the best choice. 

Daripada nanti pecah perang dunia keenam, coba? *because in Cinder has World War IV 

Nomorsatukan ukhuwah. 
Utamakan persatuan. 

Hal-hal yang memecahbelahnya jangan sampai diunjukgigikan atau ditampilterangkan ke permukaan. 


Kompromi. 
Adalah kata yang seharusnya menjadi tindakan. Agar kepala kembali dingin. Agar kekata tak harus saling berseteru. 

Instead, masing-masing kubu memiliki fondasi, dasar yang sama-sama benarnya. Yang keduanya telah teruji betul di IPB dan ITB. 

Mahalnya berlian karena dibanting sekalipun tak pernah ia retak atau pecah. Bukanlah kaca yang berdebu, terlalu keras kau membersihkannya maka hancurlah ia. Pelan saja kaubersihkan nodanya maka begitulah adanya ia. Kotor sepanjang masa. Eh?

Karena kau tahu, akhwatii, ikwanii fillah. Ukhuwah laksana berlian mahal yang tak boleh hilang keindahannya.

***
"Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya." 
[HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkanan-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 273]

Sabtu, 20 Agustus 2016

A Morning in Tea Garden (Gucialit Lumajang)

Gucialit in Design

Before the sunrise comes and gold shine gild the earth, we were going to tea garden. A special group delegated to consider our matter with green dress. They guided us there. She is Mbak Vita, Mbak Cici and one cameraperson I cannot mention. Whoa properly, we should made introduction each other before.

We saw many kinds of flowers through the walks. The prominent one is the yellow flower. It is kind of Cosmos suplphureus. It is kind of yellow cosmos. In Indonesia it's called as bunga kenikir. I picked out one of them then inserted through the book gap. That’s nice!

***Kenikir
Along the way, Mbak Vita told us about several of tea. Two laves up the tree used as white tea, that’s why this type is the most expensive. Two leaves above usually used as green tea. Adding two leaves above them are used as black tea.

Pluck the Leaves
The path rising curve and it made us like at one’s last gasp. Breathe noisily, as if someone is exhausted. Fortunately, the committees stop at the top. Especially, nearby great gazebo. There played a game. One question you should answer, why you want to be a writer. Write there on your note and walks again follow the guide.

Let me answer first. As a writer I want to spreads the peace and kindness to whole the world. We knew that, one pen can shout million heads. That is why. I cannot speak well. Well, my speaking skill not practicing yet. Ya, I should improve that skill but me, Icomfortable in writing than speaking. In writing, we can edit our work, but in speaking when words out from your mouth you cannot take it back.

Calm Down
Actually same condition as you publish your work in media social such FB or blog. When your writing posted there and red by the reader, you cannot throw it back whilst you are hurt the reader. Fakkir qabla anta’zim. Think first, before doing something. So do not make your loyal reader suffering caused by your bad words.

Watch Out
The group stuck in the moment in the wrong way. We walk on the dead block. While thinking about the right path, the leader told us to answer the next question. Mention five things, you think about tea garden. That was the clue. All participants started to writing. In east, the sun begins to rise. It makes us inspirable to answer the question.

Still, we stand in one line because the road was too small. If we take a wrong movement, we fall down the deep chasm. Since, we are on the high hill; writing while watching the sun rising behind the mountain.

Waiting
First thing is I curious to find the beautiful flower. Then I imagine capturing the beautiful panorama with best angle. If it possible I want to catch it with the great one; DSLR. Tells God about that makes a good praying and says, Aamiin. In fact, I took it with 2 MP lens camera of phone. Alhamdulillah, you just need much light and best angle.

The third is pick up the tea. There many tea trees there. I wish I could follow the process. Take off from pluck the leaves till it becomes a cup of tea with nice aroma. How about jasmine tea?


Then fourthly is making afternoon tea such British tradition. Served there all kinds of tea; white, green the black. Adding into the table kinds of sweet also finger sandwiches, scones, which served warm. Read more about afternoon tea here. The last, enjoy the time. Use it wisely. Laugh with all participant of Writing Camp. Acquainting in their face and mention them into beads of pray. More about afternoon tea click here..

The Memorizers

Finally, we walk back, go down along the road, and descend to the hill. We walk to another path. Road with more tea trees and nice aroma. I always try to be in the front. In addition to capture picture graciously, I follows what Mbak Vita and Mbak Cici recited. Along the way, they repeat what they memorized from Holy Qur’an.

So which of favors of your Lord would you deny? I just like saw the grass, trees, and even the hill followed what they recited. Ah, I remembered that yearningly.

Core Memory
In the next post, Mbak Vita gave us a question. What theme you want to be in your writing? Absolutely, tea garden! Write that dandy journey then I made this! Published a blog-post.

Jumat, 19 Agustus 2016

FLP Awards dan Keharuannya [Writing Camp Expedition III]

Hadiah Kamar
Bertemu lagi duo MC; Aji dan Palupi. Pemandu acara yang selalu ceria dan gembira membagikan kata-kata penuh makna dengan cinta. FLP Awards tentunya acara puncak yang mendebarkan. Penghargaan yang akan menampilkan anggota-anggota kece FLP Jawa Timur.

Sweetness
Penghargaan pertama, diberikan kepada kamar terbersih. Kaget juga saat kamar kami yang dibacakan. Total anggota kamar kami ada sebelas orang; aku, Windar, Ani, Ratna, Yuni, Nur, Fitri, Irus, Halwa, Khurbi, dan Eni. Nama kamarnya Afifah Afra. Unik memang karena nama kamar kami adalah penulis ngetop Indonesia; Pipet Senja, Kang Abik, Asma Nadia, dan Tere Liye! Hopefully, Bang Tere bisa hadir sungguhan di acara FLP selanjutnya. Aamiin.

Ketua FLP Bangkalan, Ani Marlia yang maju menerima. Kategori selanjutnya yang bagi kamar yang kompak, aktif dan selanjutnya yang paling disiplin. Ternyata semua kamar mendapatkan penghargaan. Kalung penuh makanan ringan pun layak dikalungkan dan dibagikan. Barakallah..

Mars FLP
Jeda iklan sebentar, kami menyanyikan Mars FLP. Sebagian anggota sudah mengemas modul yang diberikan panitia. Maka saat MC meminta beberapa menyanyikannya ke depan banyak yang kecewa. Belum hafal juga soalnya. Tapi ada beberapa yang bawa dan tampil memperdengarkan suaranya.

Senandungkan
Tak mau kalah, FLP Banyuanyar juga menampilkan Mars andalan mereka. Tanpa teks mereka menyanyikan di depan. Dakara, shugoi! Mereka mengaku seringkali mendendangkannya sebelum pertemuan rutin dimulai. Oia, bagi mereka FLP adalah Forum Lingkar Pagi, karena kegiatan mereka rutin diadakan di pagi hari. Kalau di FLP Jatim jadi akronim Forum Lingkar Perjodohan. Semangat menjemput jodoh, haha.

FLP Awards, Now Begins!
Setidak ada 15 cabang yang tergabung di FLP wilayah Jawa Timur. Mbak Ami, bendahara umum FLP Jatim melanjutkan. Memandu FLP Awards. Kategori pertama, FLP pejuang. Alhamdulillah FLP Bangkalan disebut. Ya, walaupun hanya sebagai nominator. FLP Lumajang maju sebagai pemenang mengalahkan tiga cabang lainnya; Jombang, Sidoarjo dan Kediri.

Barakallah!
Kategori kedua FLP Terpuji. Nominatornya FLP cabang Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Lumajang. Aku nebaknya Lumajang sama Sidorajo tapi yang dibacakan Mbak Ami adalah FLP Surabaya. Congratz deh! Mereka memang patut mendapatkannya. Kerja keras memang selalu sepadan dengan hasil.

Dalam pidato kemenangannya ketua FLP Surabaya menegaskan bahwa mereka tak layak berbangga atas penghargaan tersebut. Karena cita-cita mereka sebenarnya bukan itu.  bukan itu tujuannya. Target mereka sesungguhnya adalah go international. Yuk didoakan, aamiin.

Selamat!
Penulis non-fiksi inspiratif dibacakan selanjutnya. Lima kandidatnya, Gunawan Mahendra dari FLP Malang, Hidayati Nur FLP Tuban, Fauziah Rahmawati FLP Jatim, Kholif A FLP Sidoarjo dan M.Rasyid Ridho FLP Bondowoso. Nah, pada saat ini, operatornya terlalu cepat mencet kursonya. Timingnya kurang pas. Jadi belum didreng-deng-deng sama Mbak Ami sudah muncul nama Mbak Zie.

Omedetou!
Untuk kategori fiksi ada Mashdar Zainal dari FLP Malang. Terkaan awalku beliau yang menjadi pemenang. Soalnya ‘kan sudah jadi pemateri juga. Empat saingan lainnya ada Arul Chandrana FLP Lamongan, Fanda Ari FLP Sidoarjo dan Nun Urnoto dari FLP Sumenep. Tebak yang menang siapa? Ternyata yang suhu yang dapat.

Siapa itu? Cak Nun Urnoto. Begitu biasanya rekan FLP Jatim memanggil beliau selain sandangan kata suhu. Beliau memang pantas karena untuk membuat komentar pun beliau mengutarakannya dengan sastra. Pesan beliau, jangan pernah berhenti mengirim karya ke media. Karena saking seringnya siapa tahu redakturnya bosen juga. Haha iya juga ‘kan?

Congratz!
Selain tersebut di atas masih ada satu lagi lho yaitu kategori penulis terpuji. Kali ini ada Bunda Novi dari FLP Lumajang, Verena Mumtaz FLP Jatim, Ummi Kulsum FLP Jombang, Teguh Surabaya dan satu lagi dari Jember. Kalau tak salah namanya Rifka. Karena tak memakai kaca saat acara aku hanya mengandalkan indera pendengar saja. Itu yang terdengar di telinga.

Wilujeung!
Anggota FLP Surabaya yang memenangkan  kategori itu. Ketika maju ke depan (tak mungkin maju itu ke belakang yaa itu sih namanya mundur :D) langsung diserbu anggota Surabaya lainnya. Go Surabaya, go!

Satu kategori lagi lho, Penulis Favorit. Ini berdasarkan voting teman-teman se JawaTimur. Suara terbanyak diraih oleh Mashdar Zainal Malang, Nun Urnoto Sumenep, Teguh Surabaya, Ummi Kulsum Jombang, dan sang ketua, Rafif Amir Ahnaf. Mantep dah para senior yang banyak penggemarnya. Saingan berat tuh.

Why? Entah siapa memilihku dengan dua nama berbeda. Nama pena dan nyata. Haha, dari dulu orang-orang suka memperbincangkan terkait dua nama ini. Selalu dikiranya yang bukan sebenarnya padahal nyatanya sama. Malah dengan tiga nama juga. You want to know the real me? Just me in the real world :p

Pak Rafif yang menang. Iyyap. Beliau kan jadi ketua FLP Jatim karena prestasinya yang bejibun. Setuju deh. Tapi ada yang tak setuju. Ada ceritanya. Selanjutnya mari kita beri judul Drama Babe. Babe, itu panggilan beliau di FLP Jatim.

Drama Babe
Bunda Novi tiba-tiba menyela saat tropi akan diberikan. Menurutnya Babe tak layak menerima penghargaan itu. Ya, alasannya banyak. Saking banyaknya aku pun tak mengingat salah satunya. Lagipula, aku tak mencatat juga ^^V

Aku awalnya setuju saja dengan pendapat Bunda Novi, karena harusnya tropinya diberikan kepada yang berhak. Seperti kutuliskan sebelumnya, Pak Rafif ‘kan memang ketuanya kita. Secara teknis harusnya memiliki karya yang lebih oke, keren yang berjuta-juta. Harusnya Babe didisk laiknya sebuah lomba yang mengatakan, yang sudah sering menang lomba tak boleh ikutan audisi. Karena banyak penulis mudah yang lebih dukungan torehan prestasi. Misalnya yang menuliskan ini. Jauh, euy jauh haha.

Sebagai artis nomor satu, tak mungkin Babe terpilih bukan kalau tak banyak fansnya, adalah anggota yang keberatan juga. Ingin mengemukakan pendapat bahwa Pak Rafif memang layak mendapatkan tropi itu. Aduh, Aula Lingkar Pena jadi semakin gaduh. Namun kemudian menjadi tenang dengan kedatangan Ummi Rita.

Sungguh membuat takut. Aku saja sampai tak berani mengangkat kepala. Aku juga berpikiran macam-macam. Ummi Rita malah berseberangan pendapat dengan Bunda Novi. Pak Rafif itu sudah mengorbanan segalanya untuk FLP Jatim. Khususnya acara silaturahmi wilayah jawa timur di Writing Camp Lumajang ini. Apalagi kerja keras beliau lima hari belakangan. “All of you, you should see this,” begitu kira-kira ungkap Ummi Rita versi aku.

Setangkup kue dengan lilin menyala di atasnya. Surprise! Babe ultah tho, kukira drama ini nyata ternyata hanya fiksi belaka. Good performance! Adegan drama yang luar biasa, serasa menonton opera.

“Hatiku luluh lantak,” respon Pak Rafif memulai pidato keberhasilannya, “hancur selebur-leburnya.” Tuh, ‘kan bahkan sang ketua tertarik dengan kata itu. Luluh lantak masih menjadi trending di FLP Jatim hingga seminggu kemudian.

Tanjoubi Omedetou!
“Ada banyak organisasi, tapi FLP adalah ukhuwah yang mahal. Belajar menulis sebenarnya bisa di mana saja, tapi kebersamaan di FLP tak bisa dilupakan begitu saja.”

Selalulah kuat
Selalulah produktif
Selalulah berani mengutarakan kebenaran

Pesan Pak Nun Urnoto dalam do’anya. Begitulah FLP kemudian berakhir dengan haru.

Along Remembrances’ Way
Di sepanjang jalan kenangan kita menemukan dedaunan jatuh berguguran. Kulihat kelabunya jalan. Ketika langit siap menghapus kenangan dengan jutaan tetesan airnya. Namun begitu kami segera menuliskannya di lembaran kertas warna-warni. Menuliskannya di atas catatan pribadi. Mempublikasikannya di blog kami. Mengukirnya abadi di hati. Sebelum akhirnya kenangan itu pergi. Menghilang ditelan bumi. Merantau berganti memori.

Kenangan
Di sepanjang jalan kenangan kusaksikan bunga-bunga bermekaran. Melahirkan kebahagiaan. Mengalirkan ide-ide segar tanpa terpikirkan. Melambungkan coretan makna kenangan. Menorehkan keriangan di antara kata-kata yang pilihkan pena menjadi karya.

Di sepanjang jalan kenangan kita masih akan terus mengenang. Kisah-kisah ceria. Cerita-cerita cinta. Dalam kebersamaan, dalam kenangan. Forum kita, forum lingkar pena. Sebuah jalan kita menuju surga. Insya Allah!

*selesai ditulis hingga tandasnya seteko teh melati.

Postingan selanjutnya tentang kebun teh. Menjawab pertanyaan panitia saat outbound. Wait and see yaa.

Items on Detail [Writing Camp Expedition II]

Main Dulu
Setiap sebelum acara dimulai mesti ada games menarik yang disediakan panitia. Game pertama yang dimainkan saat kami semua datang berkumpul bernama Game Taaruf. Aula lingkar Pena.

Panitia membagikan lima kertas berwarna-warni kepada masing-masing peserta. Kami diminta menulis nama lengkap dan asal FLP cabang. Kemudian menggulung dan memasukkan kertas ke dalas gelas yang disediakan. Setelahnya masing-masing peserta ikhwan dan akhwat membuat lingkaran besar.


In Colors
Peserta tidak diperkenankan membuat rekannya memiliki gelas kosong tanpa kertas. Sebaliknya peserta yang lain harus membagikan kertas yang dimilikinya sebanyak mungkin. Time’s up! Itu artinya semua peserta harus kembali duduk dan menyebut nama yang tertera di gelasnya. Serta mencari dan bekenalan dengan seseorang tersebut. Selanjutnya acara kesepakatan kontrak belajar.

Di kontrak belajar, kami dibagi empat kelompok masing-masing putra dan putri. Kali ini tentang kontrak belajar. Ada empat kelompok; disiplin, bersih, kreatif, dan solid. Nah, kita dimintai peraturan yang cocok. Rules yang kemudian akan disepakati dan dijalankan bersama. Namanya juga anak sastra, kaidahnya pun dituliskan dengan rasa. Dari tim solid, bersatu kita sendiri, belima kita ngumpul, hihi. Sesudah seluruh peraturan disahkan, berlanjutlah acara, motivasi menulis dari Bunda Shinta.

Motivasi Bunda Shinta
Materi pertama disampaikan oleh Bunda Shinta. Beliau memaparkan tentang motivasi menulis kepada para peserta. Ketua FLP se-dunia tersebut dipandu oleh Mbak Zie; membagikan oleh-oleh dari Korea. Writing Residence yang diikuti Bunda Shinta beberapa waktu lalu. Seol Foundation of Arts and Culture. Sekitar satu bulan di sana.

Sebelum memulai, Mbak Zie memainkan pena sembari berfilosofi tentangnya. Pena yang dapat membuat perang dunia. Memulainya dari kata-kata yang dituliskannya. Bahkan menurut Sayd Qutb, jika penembal jitu bisa melumpuhkan seorang dengan satu peluru maka dengan satu pena, penulis dapat menembus jutaan kepala.

Bunda Shinta Yudisia sesekali menampilkan video-video beliau saat di Korea. Pemaparan beliau membuatku tak berhenti berdesir. Apalagi saat beliau menceritakan bahsa indonesia yang dibacakan di depan audience Writing Residence. Menurut mereka, bahasa indonesia adalah bahasa yang sangat indah. Mereka berkesan, “Indonesia, good people, good prayer.”

Cerita beliau mendapat undangan ke Korea adalah tentang karyanya yang dimuat koran nasional dan tak mendapat fee dari redakturnya. Nyatanya rezeki beliau bukan nasional tapi di level internasional. Bukan di Indonesia namun di Korea. Judulnya, Sedekah Minus yang terbit di media tahun 2012 silam.

Semangat penyair, begitulah kata Bunda yang membuat Korea maju seperti sekarang. Adalah Dong Ju, penyair Korea yang ditahan Jepang hingga ia berpulang. “Janganlah para remaja Korea pernah berbahasa Jepang karena oleh mereka saya diinjak dan dihina,” pesan Dong Ju yang dipaparkan Bunda.

Begitu hormatnya bangsa Korea mengenang Dong Ju, dan tidak terjadi pada Chairil Anwar di Indonesia. Miris memang. Para pejuang pena masih rendah di mata masyarakat nusantara. Tak sederajat dengan dokter ataupun tentara.

Banyak penulis mancanegara yang menginspirasi beliau, seperti yang tertulis di sini. Salah satunya pesan agar seorang penulis setidaknya memiliki dua sampai tiga ketrampilan lain. Misalnya menulis, bernyanyi dan memainkan gitar sambil bermusikalisasi. Hmm, aku apa ya? Ingin menguasai dunia menulis, desain dan fotografi. Harapan selanjutnya memenangkan DSLR di arena kompetisi. Doakan ya. Yuk, asah juga kemampuan yang lain, yang kita minati tentunya.

Jangan menjadi penulis ynag begitu-begitu saja. Jadilah penulis yang inspiratif. Yang menyuarakan kebisuan. Menebar kebermanfaatan, kebaikan. Ingin go international juga? Saran beliau cobalah menulis dengan bahasa Inggris. Coba kunjungi web resartis dan banyak-banyak mengirimkan karya ke media. Semangat!

Main Lagi!
Game kedua dimainkan sehabis Isya’. Nama permainannya Game Angka. Itu aku yang menamakannya, aku lupa Mbak Zie menyebutkan apa namanya. Jadi dalam sebuah lingkaran besar kami diminta menyebutkan angka. Di angka tiga, tujuh dan kelipatannya diharuskan mengatakan ‘boom.’

Ronde pertama aku sudah kalah. Harus diakui aku lebih menyukai permainan rasa dalam kata daripada logika. That’s why aku diterima di jurusan sastra. Permainan semakin sengit saat lingkaran menjadi semakin kecil. Peserta yang lain satu per satu jatuh berguguran. Di akhir permainan, Mbak bergamis hijau dan pria berbaju putih maju sebagai pemenang. Materi tentang keefelpean kemudian disampaikan Pak Rafif.

Keefelpean [Rafif Amir Ahnaf]
Malamnya selepas Isya’, Rafif Amir Ahnaf, sebagai ketua FLP Jawa Timur mengisi materi selanjutnya. Qabla memulai paparannya beliau menceritakan kisah marcus Decade. Seorang Sastrawan Prancis yang menuliskan tulisan yang amat vulgar. Itulah mengapa ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan.

Meski di dalam penjara, ia tetap berkarya. Menuangkan isi kepala dengan tinta-tinta. Istri sang sipir penjara kemudian yang menjadi kurir. Mengantarkan karya-karyanya ke media tanpa diketahui oleh negara. Namun akhirnya mereka dapat mengendusnya.


Writer Style
Maka diambillah, fasilitas yang mendukung Decade untuk menulis, akan tetapi ia tetap menulis. Decade melontarkan idenya dengan anggur yang dihidangkan kepadanya. Di atas sprei tempat ia berbaring kelelahan. Istri sang sipir tetaplah yang menjadi pesuruhnya. Saat anggur ditiadakan, ia menulis dengan darahnya di atas baju yang ia pakai. Tulisannya pun dicium penguasa, dan pakaiannya ditanggalkan. Pada akhirnya ia menulis dengan tinjanya di dinding penjara.

Sebagai penulis yang bijak, tentunya kita tahu ada hal yang tak patut dicontoh pada diri Decade. Namun semangat menulisnya yang harusnya jadi panutan. Gigih dan terus berjuang terhadap apa yang dicitakan. Fokus sampai lulus! Yosh, berdo’a semoga dosen pembimbing segera diumumkan. Eh :D

“Kematian sesungguhnya bagi saya bukanlah saat dipenjara, namun saat saya berhenti menulis. Penjara yang sesungguhnya bagi saya adalah saat ide saya terpenjara.

Seperti Pak Rafif jelaskan, FLP bermula dari diskusi kecil tiga srikandi; Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Lalu lahirlah FLP pada 22 Februari 1997. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia, kenang Pak Taufik Ismail. Organisasi yang memberikan pencerahan lewat tulisan.

Salah satu falsafah FLP bermula dari visi yang membulatkan tekad untuk cinta baca, menulis dan membangun jaringan penulis. Di FLP Jatim sendiri kita memiliki rapor bulanan yang wajib disetor, kemudian adanya FLP wilayah-cabang hingga ranting. Juga Taman Baca dan Kelas Menulis di setiap pekannya.

Karena FLP adalah organisasi, maka tak hanya kepenulisan yang kita fokuskan tapi juga keorganisasian dan keislaman. Sebab sejatinya kita adalah mujahid-mujahidah pena yang mengharapkan karyanya bagai amal jariyah yang mengalir hingga ke singgasana surga.

Saat semua peserta beranjak memeluk dinginnya malam, seorang  utusan dari setiap cabang berkumpul. Mendiskusikan permasalahan yang dialami. Entahlah apayang mereka perbincangkan, sang ketua belum membagikan kisahnya. Mungkin nanti, ketika semua anggota kembali ke kampus. Ya,di Bangkalan semua anggota berstatus mahasiswa. Yang kini masih berlibur ria. Doakan, nantinya anggota datang dari berbagai kalangan; ibu rumah tangga, guru, dan berbagai profesi lainnya. Serta anak-anak tentunya. Biar ada FLP Kids juga.

Itu permainan dan materi di hari pertama. Di hari kedua, hari dimulai dengan Tahajjud, Shubuhan dan dzikir Al-Ma’tsurat bersama. Sesudahnya outbound di bebukitan kebun teh. Ini ceritanya, berikut jawaban dari pertanyaan panitia saat itu. Tak ada game lagi di hari kedua.

Biarkan Jari Menari [Fiksi Mashdar Zainal]
Mashdar Zainal menjadi pemateri pertama pada keesokan harinya. Materi yang dibawakan tentang menulis fiksi. Paginya saat mentari belum menampakkan keemasannya kami mengunjungi hijaunya kebun teh dalam sebuah perjalanan. Serta senam pinguin lucu sebelum acaranya benar-benar dimulai.

Dengan dimoderatori oleh Wahyu Purwanto beliau menyajikan cerita yang sangat indah di awal acara. Kisah ayah dan rumah. Ayah yang tak pernah hadir di hadapan sang anak. Ibu yang menafsirkan ayah sebagai rumah tempat berpulangnya lelah.


Sajak Kehidupan

Berikutnya, pada layar proyektor Pak Mashdar banyak menampilkan kalimat-kalimat penuh perasaan. “Ini hanyalah susunan kata-kata yang saya manis-maniskan.” Tertuli di layar, biarkan perasaanmu mengembara, menemukan benang kata terindah. Biarkan jarum penamu menari memintal benang katamu. So sweet, bukan?

Sebai penulis yang banyak termuat karyanya di berbagai media, beliau mengaku menargetkan membaca lima cerita pendek dalam sehari. Kemudian menuliskan satu cerita terbaik dalam sepekannya. Begitulah salah satu resep rahasia beliau.

Pak Mashdar tak banyak berteori karena beliau lebih banyak menggunakan waktu untuk menjawab pertanyaan peserta. Ada satu kata peserta yang menjadi trending pembicaraan para anggota FLP Jatim hingga sekarang.  Ketika salah seorang peserta asal FLP Lumajang menyebutkan kata “luluh lantak.” Itulah kata yang muncul dengan timing tepat.

Sehabis materi Pak Mashdar tersampaikan, Ibrahim Maulana, ketua FLP Surabya menyampaikan satu-dua patah kata berharga. Mengucapkankan penghargaanya terhadap seorang anggota FLP, Zaky yang ahli di bidang gambar. Dari keahlian inilah ia mendapatkan berbagai gadget keren termasuk laptop dan wacom. Alat yang saat kita menggambar di atasnya, visualnya langsung muncul di PC.


Shining Culture
Beliau menghimbau para peserta untuk menghargai karyanya dengan mendukung salah satu karyanya di sini. Next, kami diberi oleh-oleh kece. Buku Prejengane Kutho Suroboyo. Aw, mengagumkan bukan buah tangannya. Wah, terimakasih, FLP Surabaya! Buku yang berhalamankan 300 itu dilengkapi dengan ratusan foto didalamnya. Jadi nanti bacanya nggak bosan.

Isinya tentang berbagai budaya yang di penjuru Surabaya. Tak ketinggalan pula lezatnya kuliner dan serunya permainan tradisional di sana. Buku yang menghabiskan waktu dua tahun pengerjaannya ini berkolaborasi dengan PT Smelting. Keren ya, negosiasinya sampai bisa menariknya sebagai sponsor. Patut dicontek nih dan diburu ilmu marketingnya.

FLP Banyuanyar juga tampil ke depan. Salah satu ranting dari FLP Pamekasan ini mengundang kami, anggota se FLP Jawa Timur ke acara Tasyakuran mereka bulan Oktober nanti. Asyik, bakalan reuni lagi nih.

Non-Fiksi Bunda Wigati
Kalau ada materi fiksi pastinya juga ada non-fiksinya juga dong. Karena FLP bukan tentang cerita khayalan saja. Realita, fakta, kenyataan juga ada dong pastinya. Kali ini Bunda Abiyz Wigati yang akan memaparkan tentang itu. Tetapi sebelumnya ada yang lewat dulu.


Bacalah!
FLP Kids Lumajang, menampilkan sebuah pertunjukan. Ada gadis berbusana pink bunga-bunga memaikan biola. Rekannya dengan kaos hijau biru mepresentasikan sastra. Ia membacakan puisi di sana. Pagelaran musikalisasi puisi dimainkan dengan cantik nan indah.

Di Writing Camp kedatangan tamu spesial setelah itu dari Dinas Pendidikan Lumajang. Dalam sambutannya beliau berharap organisasi yang kita rintis berbagi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena papar beliau sesungguhnya menulis adalah menularkan ilmu. Yang dengan itu mudah-mudahan menjadi amal jariyah nantinya.

Barulah setelahnya acara non-fiksi dimulai. Bunda Wigati didampingi Mbak Cici meminta kita membagi kelompok yang di dalamnya terdapat dua orang saja; si A dan si B. Ada dua menit yang diberikan bagi si A untuk bercerita tentang jalan-jalan di kebun teh tadi paginya. Sebaliknya si B juga bercerita dengan topik yang sama namun dengan sudut yang berbeda tentunya.


Tabayyun!
Lepas bercerita, si A mauupun B menuliskan apa yang didengarnya. Beberapa peserta dipilih untuk menceritakan tulisannya di depan. Dari simulasi tersebut Bunda Wigati kemudian menjelaskan materinya. Ada validitasnya yang harus dimiliki.

Sebuah tulisan atau bahkan postingan salinan yang kerap kali kita temukan di grup. Katanya, copas dari grup sebelah. “Grup sebelah iku sopo? Ojo’ sembarang share!” Harusnya sebagai penulis yang arif, kita tak sembarang comot dari status di efbi misalnya. Cantumkan! Siapa penulis aslinya, siapa pemilik foto sebenarnya; sang fotografer. Jangan asal menampilkan atau membagikan karya orang. Tulis dalam kutipan apalagi dalam sebuah penelitian. Wajib itu hukumnya.

Postingan pertama bisa dibaca di sini, happy reading. Oia, ada yang seru juga di FLP Awards.

Kamis, 28 Juli 2016

Cerita Mbak Deka, si Mamah Muda [Blografi]


Yosh! Akhirnya setelah UAS, lebaran, liburan akhirnya back to bikin blografi lagi. Blografi, istilah yang aku dapat dari Mbak Meriska. Jadi semacam biografi tapi di dunia blogging. Teman-teman yang lain juga punya berbagai macam istilah. Seperti Mbak Ophi dan Mbak Lina mengistilahkannya dengan blogtour. Intinya sih bagaimana kita mengulas profil tentang seorang blogger.  Mbak Fifah malah punya rubrik tersendiri namanya Sabtu Kenalan.

Kita punya pikiran kita sendiri. Our own opinion. Namun lama-lama dipikir semakin pusing. Nah makanya ada yang namanya the power of sharing. Dengan membaginya dengan orang lain pikiran mumet kita setidaknya berkurang. Dengan bercerita ia akan mendatangkan perasaan lega. Nah, mungkin muasal kenapa nama blog Mbak Deka berjudul Berbagi Cerita.

Yup seperti kata Mbak Meriska, ngeblog itu ibarat ritual buang sial. Menurutnya dengan blogging kita bisa mengurangi stress dan penatnya pikiran. Tidak berbeda jauh dengan pendapat Mbak Deka, “buat saya ngeblog itu me time, Mbak.” Baginya ngeblog adalah sarana refreshing jiwa dan raga.

Hello There
Tentu saja sebagai mamah dengan tiga anak ini pastinya ‘capek ’ ya ngurus rumah seharian. Pantas jika Mbak Deka mengaku nyaman dengan dunia blogging. Iya, mamah yang satu ini sekarang sudah memiliki anggota baru. Debay uang usianya belum genap sebulan. Wah Faiq dan Fahima punya temen baru tuh.

Nih kata Mbak Deka dengan ngeblog uneg-uneg di hati bisa tertuliskan. Pendapat atau pemikiran bisa tersampaikan melaui tulisan. Mbak Deka mengaku lebih suka menuliskan sesuatu daripada dilontarkan langsung melalui lisan. Iya juga ya, soalnya kalau tulisan masih bisa diedit-edit. Kita kalau sekali ngomong keceplosan dan salah bisa langsung bikin sakit hati orang. That’s why, fakkir qabla anta’zhim. Think first before you speak..

Eh kok di atas ada semacam percakapan ya? Ehem, jadi ceritanya di blografi kali ini aku menerapkan metode baru. Kalau biasanya kan nulis profil blogger linked with something I like, seperti kembang di profil Mbak Meriska, anime dan buku di Mbak Fifah atau jalan-jalan di blognya dokter Liza. Jadi sekarang ditambah dengan interview. Selain berkunjung ke rumah beliau di dekamuslim.com aku juga wawancara lewat WA. Begitulah ceritanya*ala Kakek di film Malaysia Pada Zaman Dahulu.

Halo, Apa Kabar?
Meski Mbak Deka terlihat sibuk dengan tugas rumah tangga, itu tak menyurutkan prestasi di dunia blogging lho. Lihat saja prestasinya yang segudang itu.   Such as lomba review-nya Bentang Pustaka, lomba anak, dan berbagai lomba lainnya. Daan ntulisan Mbak Deka juga pernah tembus media. Wah keren ya! Two thumbs up deh, Mbak (y). Apa nih rahasianya sanga juata? Apalagi kalo ngeblog kudu nunggu anak-anak bobo. “Saya ngeblognya pas anak-anak tidur, Mbak.” Hihi, iya dong kalo mereka masih melek kan sebagai mamah kudu mencurahkan perhatian kepada mereka. Betul tak, Mah? 

New Life
Prestasi segudang juga bisa dikarenakan pengalaman. Nah, Mbak Deka ini sudah memasuki dunia blogging sejak 2012. Postingan pertama di blog juga tanggal segitu. Di profil Mbak Deka juga mencantumkan demikian. Pas kita wawancara juga iya. Eh, ngomong tentang postingan. Ada postingan sangat populer di blog Mbak Deka. Artikel tentang cinta terpendam menduduki tangga pertama selama berminggu-minggu*berasa host radio gue :D Sejak 2012 itu pula awal blogging Mbak Deka di dekamuslim.com dan itu satu-satunya blog yang beliau punya. Bagus ‘kan biar kita bisa fokus sampai lulus. Lulus DA/PA dengan nilai kece maksudnya*cie yang baru belajar DA/PA.

Blog Mbak Deka tak hanya berisi tentang keluarga, ada berbagai macam topik yang ditulis dengan 36 label. Bahkan ada bookreview-nya juga lho. Jumlah tulisan ada 222 postingan yang terakhir kulihat. Angka yang cantik ya, jadi pengen nyanyi. I’m feeling 22! Everything will be alright, if you keep me next to you..

Hijau Hutanku
Tak seperti blogger perempuan lainnya yang dominan memakai warna pink sebagai watermark, Mbak Deka lebih memilih hijau. Yuhu, coba deh berkunjung ke dekamuslim.com maka kau akan disajikan dengan warna hehutanan. Dan itu karena Mbak Deka menyukai warna hijau. Kalau Mbak Deka suka warna jingga mah desain blognya sudah dikasih oren. Jadi inget percakapan di Hunger Games, “layaknya warna saat mentari menyenjana senja.”

Oia, dari tadi Mbak Deka mulu siapa sih nama aslinya? Panjangnya Dekaaaaaa. Itu sih gaya zaman anak esde kalo ditanyain nama panjang, hihi ^^V. Jadi lengkapnya Diah Kusumastuti. Kok bisa Deka? Bisa! Karena itu huruf pertama dan kedua dalam nama beliau. Mbak Deka ini asli Solo. Ternyata kita itu sempet tetanggaan. Aku sempat di sana hampir setahun. Eh gatau deh tepatnya tempat beliau di mana tapi daerahnya Sukoharjo. Lupa nanyanya. Soalnya aku di Tawangmangu tepatnya kaki gunung Lawu. Tapi sekarang beliau sedang tinggal di Sidoarjo dan sebelumnya itu kuliah di Surabaya.

Keep Smiling Keep Shining
Nah, biar tambah kenal sama Mbak Deka bisa dihubungi dari berbagai akun. Kirim email saja melalui d3kusumastuti@gmail.com inbox di FB Diah Kusumastuti atau DM di twitter @dekamuslim dan instagram dengan nama akun yang sama. Terakhir, tahu nggak Mbak Deka itu pengennya dengan blogging bisa berbagi manfaat dengan pembaca. Bener banget ya, kaya slogannya temen-temen penulis FLP menebar kebaikan dengan tulisan that we called as dakwah pena. Karena dakwah tak harus  ceramah. Yosh!

Senin, 25 Juli 2016

Touring on the Day of Celebration

Sebelum Lebaran Tiba
Ada yang spesial saat lebaran tiba. Ketiga adikku tinggal di asrama sekolah, aku sedang kuliah di kota lainnya. Sisanya, anak Ummi ada di rumah. Kami tujuh bersaurdara yang jadwal libur sekolahnya tak sama. Ya, karena status dan jenjangnya berbeda; SD, SMP, SMA dan kuliah. Belum lagi satunya di swasta, satunya di negeri. Pokoknya suka susah ngumpulinnya.

Then, when lebaran comes, otomatis itu hari spesial kita. Meski ada yang pulang pas lima hari sebelum  lebaran*itu gue T.T Eva sudah pulang sebelum Ramadhan tiba. Nina pertengahan puasa. Diah seminggu mau lebaran dia sudah di rumah. Aku pulangnya terakhiran, huhu. Secara masih ada dua minggu UAS. Baru tahun ini ngabisin Ramadhan di kampus. Hampir sebulan pula*ngejerr :D

When all families gathered, it’s time to mudiiik. Yeay!

Yosh, Mudiik!
Nyiur Melambai
Tapi mudik kita mah biasa saja. Perjalanan cuma sejam dari rumah. Dan kita tak perlu berjejalan di transportasi publik karena kita mudiknya dijemput dan tak perlu acara macet. Apalagi memasuki wilayah Sumenep, kita akan dimanjakan dengan nyiur melambai di kanan-kiri. Dan sebelum itu kita akan melewati pemandangan laut. Jika mau sih bisa berhenti di Pantai Talang Siring atau vihara merah di dekatnya. Kapan-kapan mampir ah..

Terombang-ambing
Tepatnya rumah nenek kami terletak di daerah Kapedi. Perjalanan menanjak dan menantang masuk sana. Mobil yang kami tumpangi sampe mundur-mundur. Bahasa Maduranya, Dhagha ngetek tako’ labu ka baba, artinya kita sampe dag-dig-dug takut jatuh ke bawah. Pasalnya kita mundur-mundur di tempat yang menanjak banget tahulah jalanan desa lebarya Cuma semeter-dua meter. Maka pantaslah kita tak berhenti komat-kamit saat itu. Indeed, kita dulu pernah mengalaminya.

Daan semuanya terbayar saat kami tiba di rumah Mbah dengan selamat. Alhamdulillah..

Touring ala Kapedi
Let’s Touring! Mari kita artikan touring di dengan bersilaturrahmi atau bisa juga dengan jalan-jalan. Di malam takbiran, kita sudah mulai tuh keliling. Salam-salaman sama keluarga yang masih satu desa. Malam itu rame banget. Selain karena takbir di masjid-masjid, ada langit yang ramai dihiasi kembang api. Meskipun dikata desa, kembang api yang diluncurkan gede-gede dan berwarna. Hmm, kebanyakan itu didapat dari pemudik dari kota-kota besar di Pulau Jawa.

Besoknya, tepat hari raya Idul Fitri kita mulai deh berkeliling ke rumah saudara yang lebih jauh. Dari Desa Sompor kita berjalan, menuju Mantaman, melewati Ju Bara’ dan terakhir Oro. Meskipun berjalan kaki, ternyata seru lho apalagi perginya bareng-bareng sama keluarga besar. Sambil berhenti sana-sini untuk fota-foti. Sayangnya semua foto pada hari itu musnah tak berbekas. Sorry, I can’t show you the pictures. Gomenne.

Nyebur ke Sungai
Hari ketiga kami sekeluarga sudah kembali ke Pamekasan. Dari rumah nenek di Sumenep kami langsung cuss ke rumah nenek yang di Pamekasan. Nah.. karena pas kita nyampe siang, eh, para anak-anak imut (baca: adik-adik) minta main ke sungai. Jadilah kita berangkat, marii.

Main di sungainya lumayan lama. Semuanya pada nyebur. Eh nggak semua sih soalnya ada yang jadi juru kamera, haha. Di sana kita malah main sambil diajari renang sama Ummi. Seru deh pokoknya. Sampe-sampe Dek Lubna yang baru beberapa tahun umurnya nggak mau naek. Terus dia bergaya nggak mau dilepas. Maunya renang sendiri. Hihi, aku tak tega lah. Aku biarkan ia berbaring di tangaku dan kecipak-kecipuklah ia di atas air.

Gratis! Kalo mau belajar renang, ke sungai di Samiran aja, haha.

Akalenjar ka Ghanding
Kejutan! Keeseokan harinya ada surprise kiita sekeluarga besar (baca: keluarga dari Ummi) pada mau jalan ke Ghanding, sebuah daerah di Kabupaten Sumenep. Total ada tujuh keluarga yang ikutan. Dengan bus kami pun melaju pada jam tujuh pagi.

Rute yang kami pakai bukan jalur biasanya. Kami ambil Pakong sebagai alternatif tercepat. Pakong adalah daerah pegunungan di bagian utara Kabupaten Pamekasan. Sepanjang kami disuguhi berbagai macam lahan pertanian dan bebukitan. Daan, brrrr. Lewat sana berasa dinginnya.

Up There
Bu’ Ipong, adalah saudara tertua Ummi yang masih hidup dan berkeluarga di Ghanding, Sumenep. Tahun ini beliau tidak merayakan hari raya di Pamekasan. That’s why kali ini kami menyambangi beliau. Tentu saja kami akan melakukannya dengan senang hati karena, banyak bonusnya!

Masuk daerah Ghanding, sudah terasa khasnya. Baling-baling angin di areal persawahan, gemericik air sungai dan arsitektur perumahan yang masih tradisional banget. Di Madura ada konsep yang namanya Taneyan Lanjhang. Rumah keluarga besar biasanya berjejer sehingga terlihatlah halaman yang memanjang. Di bagian barat rumah biasanya terdapat kobhung. Sawuh atau gazebo tradisional.

Biarkan Angin Menerpa
Kobhung ini dipakai untuk sholat keluarga. Dan terkadang banyak anak-anak tetangga ikut berkumpul dan belajar mengaji. Jika begitu fungsinya berubah menjadi langgar, tempat ibadah. Suatu ketika langgar akan menjadi semakin besar (berubah masjid) seiring banyaknya anak-anak belajar mengaji.


Sampai di rumah Bu’ Ipong para anak-anak imut langsung berganti baju dan nyebur ke sungai. Di sana bilangnya sok-sok. Dan para remajanya mengawasi dan sibuk fota-foti dan main kecipak-kecipuk air.

Puas bermain air, kerlari ke hutan lalu belok ke pantai. Eh salah yaa. Kami pindah lokasi mencari spot keren untuk berfoto ria. Dan dibiarkan itu anak-anak berjemur di pantai mencari kerang. Eh maksudnya di sungai.


Main ke hutan dan beraksi fota-foti di sana. Ya, karena the big reason is kami tak membawa pakaian ganti rentan juga terlihat auratnya. Meski masih nuansa ber lebaran, masih ada segelintir orang yang lalu-lalang ke sawah. Dan tentunya menyebrangi sungai tempat kami mandi. Eits, rawat terliwat aurat juga. Malu ah.


It’s called as Silaturahmi [Pamekasan Touring]
Lebaran Idul Fitri di Sumenep dan Ketupat di Pamekasan. Yup, kalau di Madura begitu. Hari ketujuh Syawal, ada lebaran lagi yang namanya Ketupat. Tepat sekali, di hari spesial itu akan ada banyak aneka macam ketupat yang takkan kau temui di hari Idul Fitri. Lebaran Ketupat ini diadakan karena ada puasa sunnah yang dianjurkan selama enam hari pada waktu Syawal. Jadilah hari ketujuhnya ada perayaan tersebut.

Kami menyebutnya Tellasan Topa’. Masakan di hari ini lebih bervariasi dari Idul Fitri. Selain Soto Pamekasan, ada yang bikin gado-gado dan juga bakso. Itu sih mayoritasnya. Opor mah tak ada. Jarang sepertinya. Idul Fitri juga begitu.

Kalo di sini yang umum itu Soto Pamekasan. Umm, bedanya dengan Soto Madura apa yaa.. Topingnya mungkin. Terus kalo Soto Madura ada kacangnya. Jadi dalam satu mangkok kita potong-potong itu ketupat. Dan diberi toping di atasnya seperti bihun, suiran ayam, kentang goreng, telur ayam rebus yang dipotong memanjang, sambal dan kentang goreng. Kentang goreng berbetuk kotak tipis. Setelah semua siap, lalu siram dengan soto spesial. Tak lupa sertakan potongan ayam yang sukai. Mau bagian sayapp, paha atau kaki (ceker). Oia, tambahkan perasan jeruk nipis biar mantap.

Pagi hari diisi dengan tahlil atau pengajian di langgar dan masjid-masjid. Barulah hidangan tadi disuguhkan. Di sini juga masih ada tradisi ter-ater. Saling mengantarkan makanan ke tetangga. Selain rumah warga, langgar dan masjid menjadi tujuan utama hantaran makanan. Jadi kita bisa saking icip tuh masakan tetangga.
Kelar acara tersebut kita touring ke rumah saudara di rumah nenek. Salaman, icip kue dan kadang dihidangkan makanan berat juga. Daan, angpau tentunya. Yang kecil-kecil sih dikasi. Kita mah yang sudah gede nggak ikutan.

Di Sana, Air Terjun Samiran
Masih inget kan di dekat rumah nenek ada sungainya? Nah di ujung barat sananya, ada air terjun. Ke sanalah kita melanjutkan touring. Cuma yang seumuran sih. Para sepupu dari usia SMP sampai kuliah. Sebenarnya bukan air terjun. Itu hanya DAM. Hanya saja alirannya mirip air terjun. Jadi begitulah orang-orang menyebutnya. Kalo do Samiran terkenal dengan nama Daaman.
Falling Down
Daaman sedang dalam pembangunan besar-besaran. Pemerintah setempat akan mengubahnya menjadi wiasata yang lebih keren lagi. Sayangnya pohon-pohon cemara udang yang berjejer di utara sungai ikutan tertimbun proyek. Padahal tahun sebelumnya itu spot favorit kami. Tapi tak apalah, fota-foti tetap berjalan teruss.

Hayuk Ngarujak
Ba’da jelong-jelong dan fota-foti, kami lanjut touring dong. Kebetulan ada keluarga yang tinggal deket situ jadi weh kita mampir. Daan, selanjutnya ke rumah para sepupu. Dua rumah tujuan kami selanjutnya ada di Desa sebelah. Melewati jembatan besar dengan derasnya air sungai.
Say Peace!

Ada barakah dengan jama’ah. Kami anak desa, maka tak terasa capek berjalan ber-kilokilo jauhnya. Yosh, ke Desa Bettet kami menuju. Berhenti di rumah Indah disuguhi bakso, ngabisin kue dan mampir sholat Dhuhur. Lanjut jalan melewati persawahan. Dan sambil sesekali fota-foti dong. Haha.

Di rumah Mbak Pipit kita disuguhi bakso lagi. Kali ini tentu saja tak pakai lontong. Hanya menikmati pentol-pentol. Haduh, itu perut sudah membledug rasanya. Eits, si tuan rumah malah ngajakin rujakan. Sambalnya ala Madura pastinya. Petis ikan dengan cabe berenang. Apa sih istilahnya. Ya gitu deh. Maka dengan potong mangga muda, timun dan bengkoang kita pun let’s go!

Saat Kita Bersama
Tenaga yang didapat lumayan buat jalan lagi menuju rumah nenek. Melewati persawahan, sungai, hutan jati dan bambu. Sampai di tempat, tepar deh..

Haha, seru deh pastinya lebaran tahun ini. Idul Fitri maupun Tellasan Topa’nya. Apalagi touringnya. Setelah itu masih ada keseruan lainnya. Tellasan Topa’ ‘kan Rabu ya. Minggunya kita nobar KMGP dan jalan-jalan ke Gladhak Anyar. Masih dengan para sepupu kompak.



Sekarang, adikku sudah kembali ke sekolah.Sudah pada balik pondok, dan memulai aktivitas kuliah. Sepi lagi deh rumah. Semoga tahun depan bisa lebaran bareng lagi :*