Selasa, 05 September 2017

Di Nikahan Lia

Lia nikah. Yeay! Lia Kaulina Suci Ning Tyas, nama lengkapnya. Temen sekelas mulai esempe sampai esema. Yes, kita dah enam taon bareng terus. Jadi bayangin ajah deketnya gimana. Apalagi Lia yang nikahnya Ahad, 3 September 2017 ini adalah temen setasmi'. Temen sekonsulat. Temen tha'-tha'a di ma'had :p Dan kita juga sering sekamar di asrama MTA.


MTA kita ini bukan nama harakah, tapi ma'had.  MTA kepanjangan dari Ma'had Tahfidz Al-Quran. Pondok di bawah naungan Yayasan Al-Amien Prenduan, Sumenep. Sering dibilang cabangnya Gontor karena sistemnya mirip. Bisa dibilang iya. Karena Ny. Anisah Fathimah Zarkasyi, pengasuh putri adalah saudara kandung pengasuh Gontor.

Nah sohib kita yang satu ini nikahnya sama Uda Lukman dari Jambi. Wah, jauuh yaa. Kudu nyebrang laut berkali-kali dari Madura. Lia juga seneng nulis lho. Kekatanya touched sangat. Dulu di ma'had kita suka berkolaborasi bikin puisi.

Kalau kemaren yang di Bandung, itu Teh Lia, Nuzlia Fitriani Hapsari. Nikahnya sama A Riyan. Prosesinya juga kutulis di sini. Jadi inget serial Bandung yang memanggil-manggil minta dipublikasikan. Sabar atuh yaa :D
Alhamdulillah, satu lagi karib menyusul. Menggenapkan separuh agamanya. Lia nikaah, guys.

Jam lapan aku baru sampai di lokasi. Maunya sih berangkat jam enam tapi kadoku belum rampung. Semalem, dah bikin printilannya tapi kepala pusing minta tidur. Jadi kotak kadonya yang belum selesai. Baru kulanjutkan paginya. Karena baru pertama kali DIY, bikin kotak sendiri, nggak nyangka buatnya sampai memakan waktu berjam-jam. Alamak.

Sampai di tempat, aku disergap galau. Antara mau langsung ke masjid atau ke rumah Lia dulu. Soalnya panggungnya di pelataran masjid. Dan beberapa orang sudah terlihat di sana.

Namanya temen, aku pengennya nengokin calon pengantin wanita. Tapi si Robie, yang kemaren sudah curang datang duluan tidak menampakkan batang hidungnya. Yang banyak batang pohon malah :D

Iya, dia juga temen sekelas. Dia mah gitu, curang. Nggak ngajak-ngajak mau nginep di Lia :p Tau gitu kan aku ikutan. Biar chit-chatnya bisa rada lamaan. Sebelum Lia berubah status. Jadi istri orang, haha.

Eh, ada Robie tuh lagi bareng sama temen-temen Jogja. Aku samperin sambil cipika-cipiki, peluk-peluk. Kita terakhir ketemu di mantennya Aik, Mei lalu. Tapi teteup aja kangen. Kan-kan? *betul, betul, betul.

Nah, kalau Robie ini sudah enam tahun di ma'had, di Jogjanya juga temen sekelas Lia. Jurusan KKI [Komunikasi Konseling Islam] di UMY. Tuuh dia mah curang mulu. Sekarang malah Robie sama Lia juga sama-sama ngelanjutin S2 di Jogja. Curang! Lagi. Lia di jurusan Psikologi Sains UAD dan Robie...

Eh, ternyata Robie ngelanjutin IAIN Jember. Jurusannya Surabaya-Bandung! :D Kata Robie linear. Ambil KPI juga. Hmm, tepatnyaa... kurang tau. Nanti aku konfirmasi lagi terus update postingan di sini. *macam konferensi pers, hoho.

Nggak jadi bilang curang lagi :p

Setelah ini kerudungku pasti diuyel-uyel sama Robie karena sudah nulis kata curang di postingan ini sampai lima kali. Tapi dia kan sudah balik ke Jember. Jadi nggak bisa balas dendam. Etapi bisa aja via dunia virtual. Haha.

Abis salaman sama Robie aku directly ketemu Lia di dalem rumah. Dia sibuk didandanin. Belum kelar. Mahkota dan printilannya masih tergeletak tak berdaya di sampingnya. MUA Lia masih nyuekin gitu. Padahal mereka sudah berteriak, "Aku kapan dipasang?!" Haha.

Lia nunjukin keberadaan dua temen ma'had lainnya. Ina dan Ncho yang ternyata sudak nge-hack kamar pengantin duluan. Apa? Tidak! *dan layar berganti hitam :D

Ketemu mereka berdua, rasanya seneeeng. Sampe aku peluk-peluk. Kangeeennn pake banget. Aku meluknya sampe berkali-kali saking girangnya. TLBK, gitu lho. Temen lama bertemu kembali, hoho.

Lien juga dateng, pemirsah. Kita peluk-peluk juga. Kangen.

"Duh, berapa tahun kita nggak ketemu yaa?" Robie paling lama meluknya. Kayanya tahun 2012 terakhir ketemu ya, Bie?

Begitulah. Nikahan temen itu kayak jadi ajang reuni. Ngumpul bareng temen-temen yang jarang ketemu. Selepas SMA, semuanya kuliah di berbagai penjuru Indonesia. Nah, nikahan ini saatnya kita gathering berbagi cerita.

"Asal kalau mau nikah ngabarinnya jauh-jauh hari. Kalau perlu dua bulan sebelumnya," itu wejangan si Aik. Biar bisa mesen tiket pesawat ya, Ik. Okedeh. Bukan, katanya Aik biar bisa ijin. Soalnya dia kerja di rumah sakit. Oh gitu. Siap, Chief!

Aik dateng pas kita sudah di masjid. Jalannya pincang. Innalillah dia abis kecelakaan semalem. Lututnya diperban. Tangan dan mukanya luka-luka. Tapi berhasil tertutupi oleh make-up. Kejadiannya di tengah perjalanan dari Malang-Madura. Di Talang, Pamekasan tepatnya.

"Padahal malam itu jalanan sepi. Alhamdulillah-nya pas kejadian banyak orang yang nolongin. Hape jatuh dan batrenya yang berhamburan entah ke mana juga dicariin," begitu kira-kira Aik bercerita.

Alhamdulillah, Ik. Katanya Ustadz Abdullah, bibarakatil Qur'an. Kata beliau, orang hapal Al-Qur'an nggak bakal ditelantarin. Insya Allah! Karena sabda Nabi juga, adalah mereka, keluaga Allah di bumi, para penghafal kalamNya. Alhamdulillah bini'matillah tatimmus shaalihaat.

Meski keadaannya begitu Aik dateng juga.  Apa sih yang nggaak demi Lia. *salam unch-unch katanya. Kata siapa? Kata admin awardee elpedepeh 2017 :D
Bis-syifaa', Ik. Syafakillah. Allahu yasfii, Aik :*

Setelah mondar-mandir ke sana kemari dan pepotoan sama calon pengantin, kita cus menuju masjid. Duduk di terasnya siap menguping prosesi akad.
Di masjid kita ketemu Kak Jeki. Sama. Temen ma'had. Tepatnya kakak kelas kita. Temen kerja Lia di Jojga. Berangkat bareng rombongan Jogja. Oh iya, Uda Lukman juga temen kerja Lia. Si Pak Ustadz, katanya.


Pas Aik dateng, makin banyak deh anggota reuni kita. Siap selfie-groufie, hihi anak jaman sekarang ya. Lumayan buat oleh-oleh dan kangen-kangenan nanti.

"Meminta kesaksiannya..," terdengar suara MC dari dalam masjid. Kita yang sibuk bernostalgia langsung pasang telinga. Dan sederat ayat baper nan mengiris hati juga terlantun beberapa kali.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Ah, Lia bentar lagi halal nih ><

"Bimahri madzkuur....," ucap si Uda mantap. Bener, tanpa sedikit pun grogi. Tanpa typo. Ah, tiba-tiba udah kelar aja.

"Saaah," koor para tetamu laki di dalam masjid dengan suara baritonnya.

"E.. ada yang bawa tisu, nggak?" Aik langsung nangis. Kita geleng-geleng, "Ah, nggak cewek nih."

"Shallallaah 'alaa Muhammad, shallallah 'alaihi wa sallim..," shalawat membahana kemudian. Mengiringi pengantin pria yang berjalan menjemput Lia di kamar pengantin. Menyusul di belakangnya Bapak dan beberapa orang lelaki paruh baya membawa buku nikah dan mas kawin buat Lia. Sepertinya salah satu dari mereka, ada penghulu. Pastinya.

Beberapa saat setelahnya ada proklamasi yang menyatakan berdua sah menikah. They are halal couple now. Proklamasinya macam dibaca waktu Agustusan itu. Kudengar ada kata 'dengan ini menyatakan' dan 'dengan tempo sesingkat-singkat'nya. Si Lia meuni lucu. Sepertinya ini idenya dia, haha. Sebentar aku ambil dulu di postingan IG Lia.

Naah, ini dia!



PROKLAMASI

Kami djomblo dan djomblowati dengan ini menjatakan kemerdekaan status djomblo.

Hal-hal yang mengenai akad pernikahan dll, diselenggarakan dengan tjaca seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.



Sebagai informasi, suami Lia alumni Mesir lho. Tepatnya jurusan Syariah Islmiyah, Fakultas Syariah wal Qanun Al-Azhar, Kairo. Temennya Ny. Syifa, anaknya Ny. Anisah. Pantes pas masih didandan Lia nanyain, "Ny. Syifa sudah dateng belum?"

Kairo, macam Ust. Hannan Attaki, ya. Pasti deh hafal Qur'an juga. Biasanya kalau kuliah di Timur Tengah gitu kan suka ada persyaratan hafidz. Lia-nya juga alhamdulillah sudah hafal 30 juz. Dulu pas wisuda kelulusan emsema dia dapet penghargaan The Best Qur'an.

Selain itu si Uda juga editor majalah dan fotografer handal. Dan dapat dipastikan foto cantik Lia di IG, adalah sederet karya dia. Klop lha.

Entah kenapa aku jadi ingat percakapan ini. Tepat setahun lalu.

"Lia, kalo kamu piye, kalau ada lelaki sholeh datang menawarkan diri? Orangnya kamil [hafal 30 juz] pula dan akhlaknya jangan ditanya," tanyaku iseng.

"Datangi orangtuaku... Dia lolos seleksi dari aku, tinggal tahap selanjutnya seleksi ortu. Haha," gitu jawaban Lia. Alhamdulillah sekarang terwujud yaa. Insya Allah! Semoga sehidup-sesurga, Lia. Jadi keluarga penghafal Al-Qur'an yang cahayanya benderang menerangi sekitar.*sun peluk dari jauh :*


Oia, pas prosesi nikahan Lia juga live di IG lho. Dari sebelum akad sampai naik ke pelaminan. Reporternya rahasia. Jangan tanya aku. Nanti aku dijitak Robie. Eh? :D

Kemudian Finda, si artis kita datang bareng Mama. Sanah Hilwah, Ma :* Dia minta jemput di tangga masjid. Ah macam pangeran saja aku nih. Menuntun dia turun dari highheels-nya sambil naik takhta :D Tak doain, kamu juga halal soon ya, Nda. Sama imam masa depan, partner menuju ke surga. Aamiin.

Dan Finda bergabung sama kita di serambi masjid. Bercengkrama hingga matahari bersinar. Terus kita kipas-kipas kepanasan.

"Madura tambah panas, ya," kata Kak Jeki. Hihi, sekarang emang lagi kemarau, Kak. Saya sirem halaman biar adem, etapi nggak sampe 15 menit dia udah kering lagi :D

Alhamdulillah 'ala kulli hal ^^

Karena Lia sudah naik ke pelaminan, kita ikutan antre buat pota-poti. Para tamu kebanyakan lagi makan. Jadi antriannya nggak terlalu panjang. Sambil menunggu, kita berbaris rapi.

Pada mau ngapain? Pasalnya yang lain duduk-duduk di tangga. Cuma kita aja berdiri cantik. Tau nggak apa pasal? Mau salaman sama rombongan guru dari ma'had yang juga turut diundang. Kangen.

"Nyai inget nggak sama saya?" Kak Jeki berharap jawabannya 'iya' sambil tersenyum secantik mungkin.

"Inget lha. Tapi lupa namanya siapa." Kontan kita ketawa, haha.

Etapi pas giliran Ny. Aisyah, beliau sebutin nama kita satu-satu! Yeay! Alhamdulillah ya, padahal kita sudah enam tahun lulus dari pondok.


"Seneng banget tau bisa ketemu, Nyai-Nyai!" girang Lien sambil balik duduk di teras. Ngantri lagi.

"Iya, sama! Aku sampe salaman tiga kali; pas baris di situ, di sana sama waktu di gerbang," sambung Aik. Meski panas-panas ditemenin juga Nyai-Nyai sampai mobil.

Aaah, kangen belajar Tarbiyah sama Ny. Anis. Belajar Nahwu sama Ny. Aisyah. Belajar hadits, fiqh sama Ny. Atiqoh. Beliau sumber ilmu. Pengen halaqah sama beliau-beliau jadinya.


Karena beberapa sudah berfoto ria kita maju deh mengisi kekosongan. Ruang kosong. Cek teori indeterminasi-nya Wolfgang Iser. Haha, itu mah skripsiku :p

Lien pamit pulang. Ina sama Ncho juga duluan. Mau pergi ke acara resepsi Wina. Menyusul Kak Jeki yang katanya may sowan ke pondok sekalian studi banding sama rombongan guru SDIT dari Jogja.

Madura tambah terik karena sudah mendekati dzuhur. Aik ditinggal suaminya, tapi pulangnya bareng Finda. Kasian dia kan luka-luka. Biar duduk enak di mobil ajah. Robie nganter, aku ngikut. Ngekor di belakang Robie. Di mobil, mamanya Finda sudah menunggu sama papanya.


Ramenya berkurang. Tamu-tamu juga banyak yang pulang. Tinggal temen-temen sejurusan Lia. Mereka masih poto-poto di pelaminan. Aku nungguin Robie kelar.

Sepi kemudian. Aku pamit kemudian. Salim Robie. Peluk lagi.

"Ih kok aku jadi pengen nangis," itu Robie yang bilang. Bikin bening di mata turut menghangatkan pipi. Atuh Robie da.

Dan haru pun menyeruak.

"Nanti kita ketemu lagi," katanya sambil berjalan ke luar pelataran masjid. Atuh kapan. Robie mah abis ini balik kuliah. Dia rumahnya di Jember. Jarang juga main ke Madura.

Meuni, aku jadi beneran nangis.

"Sana pamit Lia dulu," sarannya. Si Lia lagi sesi foto khusus berdua sama misua.

Duh. Terpaksa dengan mata sembab aku menghampirinya. Menuruti perkataan Robie. Maafkeun aku mengganggu pemotretan kalian.

"Li, aku pulang ya," pamitku sambil meluk. Duh nangis lagi. Udah kebawa suasana.

Nggak tau deh kapan kita ketemu lagi. Lia juga bakal balik Jogja lanjutin pascasarjana-nya. Kayaknya tinggal setahun lagi. Suaminya orang Jambi. Kalau diboyong ke sana. Kita bakal jarang ngumpul lagi. Aaaah..

Aku balik ke depan rumah sambil menyeka air mata dengan ujung kerudung. Tisu, mana tisuuu. Ah, nggak cewek nih. Aku duduk di beranda. Sama Robie juga. Robie yang manis, yang sholehah, yang kamiil, yang ramah. Nganter Finda sama Aik ke mobil, nemenin aku duduk nungguin Abi. Robie, makasih ya. Jazakillah khair :*

Semoga imammu kelak adalah pria terbaik dengan akhlak yang tak kalah baik. Dia yang kelak menjadi partner asik buat barengan berangkat ke surga. Yang kaamil, biar kalian juga jadi keluarga qurani. Seperti nasihat Ny. Sumi pas kita, Zies ngumpul ngerujak bakdabak di rumah beliau. "Eman Qur'annya kalau kalian nggak dapet yang hafidz."

Kita mah cuma bisa saling do'a yaa. Sisanya Allah yang menentukan. Do'a yang sama buat Finda dan mentemen yang lain. Kayanya abis ini Finda. Selamat revisian, Nda..

Dan setelahnya sepi membungkus kami. Pun jalanan telah lama ditinggal orang-orang. Bersama Abi aku pulang ke rumah. Dengan disergap gigil dan gerimis. *kalau Lia sudah baca suratnya, ketemu kata ini lagi

*ditulis di perjalanan dari Lia ke rumah dalam pikiran. Rampung dan direalisasikan di Nyalabu Daja sambil berhuha kepedesan makan basreng oleh-oleh dari Bandung. Bandung?  Cus nengokin draft tulisan yang belum rampung.

Kamis, 10 Agustus 2017

Teh Lia's Wedding Story

Then the wedding day is coming, 6th August 2017.

I don't know how to start this writing. Rasanya kaku saja karena ini momen sakraknya Teh Lia. Acara yang bikin baper semua yang hadir di kondangan.

Yang pasti pagi itu, berangkat dari rumah Yasmin alias sepupu Teh Lia yang namanya sama dengan kontrakan akhwat, kita langsung ke tempat rias. Bukan mau ikutan didandan, tapi ketemu si calon pengantin sebelum do'i berubah status.

Iya kan abis akad, Teh Lia sudah berstatus married di KTP. Kita mau puas-puasin dulu main.

Tetiba kita akhwat travellers diminta menjadi penerima tamu. Pegang absen, mempersilahkan tempat duduk dan memberi souvenir.


Tempat kita ini memiliki jarak pandang langsung ke arah panggung. Tempat MC kocak memulai acaranya.

Seru deh, macam mendengar pantun. Melihat orasi puisi. Menonton musikalisasi drama.

Patepang-patipung, piye ngunu. Jadi kayak ada lima huruf 'p' dalam satu kalimat. Vokalisasi beliau memimpin pernikahannya seru. Kocak dan selalu bikin ketawa. Ya, meskipun aku nggak tahu artinya apa. Lucu aja permainan katanya.

Lalu rombongan suami datang. Sebelum masuk area janur kuning melengkung, Ibu dan Ayah menyambut dengan mengalungkan melati. Nggak tahu deh apa yang dibicarakan. Tapi yang jelas bukan ngomongin Dilan atau Milea :D

Setelah rombongan masuk area, sebelum sampai di pelaminan ada acara seserahan. Bingkisan yang dibawa rombongan pengantin laki-laki diserahkan ke keluarga perempuan.

Abis itu acara inti, akad! Siap-siap tisu..
Mbak Yul dan Mbak Dhil tetap tinggal di area penerimaan tamu, sedangkan aku dan Dek Iril sang PDD sejati ngacir. Kita mendekati pelaminan dengan kamera di tangan.

Tempatnya tak jauh, di teras rumah. Dan penerimaan tamu tepat di depan rumah Teh Lia.

Aku melihat semuanya dengan jelas. Proses ijab-qabul. Proses penyerahan tanggungjawab Ayah pada suami Teh Lia. Ya, setelah menikah amanah dialihkan.

Ayah tak lagi punyai tanggung jawab pada gadisnya. Karena sepenuhnya ia telah milik suami kemudian.

Aku seperti melihat getir pada wajah beliau. Gadis yang sudah diasuhnya puluhan tahun kini dalam sekejap berubah statusnya. Tapi calon suami sang gadis mantap mengucapkan..

"Saya terima nikahnya Nuzlia...," kekata yang diucapkan tegas. Janji yang menghapus keraguan Ayah untuk ikhlas melepas si gadis.

Dengan 10 gram emas, Teh Lia resmi menjadi istri si Aa'. Menurut agama, dan menurut negara.

Saaah!


Rasa haru menyeruak sekitar. Kulihat  ibu kedua mempelai menyeka bulir hangat yang merembes tanpa pamit. Anakku sudah dewasa.

Beberapa tamu yang hadir melakukan hal serupa. Juga seorang gadis di penerimaan tamu. Dengan tisu ia menghapus bening. Perlahan.

#ODOP



Rabu, 09 Agustus 2017

Jika Terlanjur Istiqamah

Istiqamah, mungkin bagi sebagian orang gampang. Bagiku, terkadang melakukannya terasa begitu berat.

Misal seperti sholat tahajjud. Tidak semua orang bisa bangun di dini hari yang dingin. Di kontrakan Yasmin, ibadah sunnah ini merupakan program wajib. Kalau nggak dilakukan bisa kena 'iqab.

Hukuman diberlakukan untuk memperketat anggota agar disiplin menabung pahala. Jika memang surga Allah adalah tujuan utama. Apalagi sholat ini diperintahkan lebih dulu dibanding shalat yang lima. Ibadah yang biasa dilakukan Nabi dan para sahabat, hingga kaki-kaki mereka bengkak semua.
Alhasil, pada rajin. Alhamdulillah.

Kan katanya serigala akan menerkam kambing yang sendirian. Ceuna wong Indonesia, bersatu kita bercerai kita runtuh That's why, kita kalo beribadah enaknya bareng-bareng.

Di suatu pagi, pernah kubangun dan sholat tanpa peduli. Suasana Yasmin lagi sepi. Ada beberapa orang yang juga bangun. Di lantai atas, dalam gelap kumeneruskan apa yang harus kulakukan hingga shubuh berkumandang.

Pertanda kuharus turun ke bawah untuk melanjutkan sholat berjama'ah.

Kulihat mas'ul sedang terduduk di ruang tengah. Ketua kontrakan itu terlihat memiliki pertanyaan yang disembunyikan. Ditambah melihat beberapa personel Yasmin yang turun tangga.

Seusai shubuh kutahu, bahwa ia sedang marah. Tak ada satupun dari kami yang membangunkannya. Membiarkan ia nyenyak tertidur dan ketinggalan qiyamul lail.

Kita mah apa, hanya butiran debu yang tertiup angin musim kemarau. Manusia yang rajinnya nggak rajin. Dan ketua kita adalah yang terajin.

Kita kira, dia sudah bangun terlebih dahulu. Biasanya juga begitu. Tapi kenyataan bukan pada kenyataan hari itu.

"Nggak enak tahu rasanya. Kalau sudah biasa bangun malam, terus nggak sholat itu kayak ada yang hilang," rungutnya agar kita tetap saling mengingatkan. Agar tak lupa saling membangunkan. "Surga terlalu luas untuk kita tinggali sendirian."

Kebiasaan yang wajib dilestarikan.

Enaknya punya teman yang ngingetin kalo lupa. Ikut challenge https://kebunkekataku.blogspot.co.id/2017/08/agar-bunga-bunga-bermekaran-di-kebun.html #BloggerMuslimahIndonesia sebenarnya adalah satu langkah yang baik. Kalau lagi bolos posting pasti rasanya hampa. Seperti teh tanpa gula. Eh tapi di Bandung, kita suka disuguhin menu macam ni. Seger!

Hmm, yuk istiqamah! Meski harus menulis di kereta atau ngetik sambil mbonceng, motoran.

Senin, 07 Agustus 2017

Biar Basa-basimu Nggak Garing

Basa-basi bukan berarti hal yang membuat  hayati lelah lho. Nggak melulu dimulai dengan pertanyaan mainstream 'kapan nikah' atau 'ngajar di mana' dan pertanyaan sejenisnya. Hihi, masak baru ketemu langsung nanya-nanya tentang privasi begitu.

Eh, privasi nggak sih? Rumput yang bergoyang ngangguk-ngangguk mengiyakan. Yes!

Anak jaman sekarang ibaratnya bule yang nggak mau ditanya tentang agama karena kebanyakan atheis. Seperti wanita yang ditanya-tanya usia. Nah, privasi tuh.

Nah, biar lawan bicara  nggak tersinggung kita kudu kreatif nih. Bikin pertanyaan atau kalimat yang membuat suasana semakin hidup. Kan kasian sudah gempor keliling satu desa, giliran bertandang ke rumah kita malah dibikinnya hati lelah juga.

Apalagi setiap rumah yang dikunjungi melemparkan pertanyaan serupa. Ups, wawancara sekampung? T.T Hayati benar-benar lelah Bang Udin. Lemparkan saja Hayati ke Gili Labak, duile maunya :D

Ada beberapa tips and trik nih biar teman lama atau saudara jauhmu nggak butek jutek saat kau memulai basa-basimu.

Memuji Penampilan
Kita mulai dengan yang terlihat ajah. Pakaian misalnya. Lebaran biasanya jadi ajang kita megap-megap, cuci mata gratis. Orang-orang keluar dengan pakaian terbaik mereka. Jadi cobalah akui keindahan yang tampak di depan mata.

"Neng Geulis, bajunya cakep pisan. Beli di mana?"

Kalau dia nggak beli cari deh hal positif lainnya.

"Wah, jahit sendiri ya? Keren sekali kau ni. Bolehlah Akak diajak belajar bareng," ini Kak Ros lagi mudik ceritanya :p

Barangkali make-up nya.

"Duh beningnya, lipstik kamu matte-nya juga bagus. Cantik sangat," nah bisa-bisa dia yang kasi  angpau bukannya kamu sebagai tuan rumah, hoho. Kalau dielak emang bahwa riasannya alami, tanya rahasianya.

"Bagi tipsnya dong pakai apa jadi kinclong gitu! Masker alpukat atau beras sama bengkoang?"

"Nggak Mbak, cuma istiqamah menjaga wudhu sama rajin tahajjud."

"Subhanallah sholehahnya!" 

Diam-diam para ikhwan yang lagi reunian sama kita ngajuin proposal buat do'i. Nah jadi rejeki dia kan. Kita juga sekalian mengamalkan An-Nur ayat 32 ^^

Hobby
Kalau dia temen lama kita pasti tau lha kebiasaan dulu waktu di sekolah. Jika ia saudara inget momen wow si kecil maaf ini bukan iklan susu :p Bisa tuh jadi opening obrolan, buat basa-basi.

"Masih suka nulis, nggak?" Nah lebih adeumm kan basa-basinya.  Nggak melelahkan jiwa yang ditanya pula. 

"Alhamdulillah, Ta. Sudah punya antologi dan beberapa kali dipercaya jadi editor." Emang kamu yang ditanya, Fi? Kan ini masih simulasi :p

"Pas esema, kamu aktif di pecinta alam. Sekarang di kampus juga-kah?" 

Nostalgia masa lalu emang selalu seru. Apalagi kenangan yang menyenangkan. Kita bisa ngakak bareng lagi dibuatnya.

Topik Hits
Bisa juga ngobrolin yang lagi happening kayak buku paling bestseller atau penulis paling ngetop di tahun 2017. 

Asal jangan ngegosipin artis atau temen sendiri. Apalagi ditambah prasangka. Bahaya! Bukan cuma dosa. Tidak baik untuk dipraktekkan. Hal ini dapat merenggangkan hubungan antar manusia.

Biar tau topik paling hits kita kudu update berita. Sesekali pantengin republika, tempo, atau portal daerah. Siapa tau ada wisata baru yang ternyata deket banget sama kita. Kan bisa sekalian halan-halan hunting bareng.

Wefie-Groufie
Halo anak sekarang! Kalau kamu udah kehabisan ide, ponsel pintarmu bisa dijadikan alat basa-basi. Nyalakan kamera depan, pasang tongsis. Semua akan tersedot pasang gaya. Cekrek!

"Wuih keren yaa, hapenya berapa MP nih?
"Sini, aktifin bluetooth! Apa namanya?"

Weis, topik keren nih. Selanjutnya, mau pasang gaya apa? ^^

Akun Sosmed
Anak jaman sekarang siapa yanh nggak punya sosial media. Saat bertemu handai taulan, bisa nih dijadikan jurus andalan.

"Nomor WAmu berapa?
"Akun IGmu apa namanya, sini kufollow!"

Asyik kan jadi punya follower baru. Sama-sama senang dan nggak ada yang tersakiti pulang.

Memang lidah tak bertulang. Ia bisa tergelincir kapan saja. Tapi kitalah ratunya yang menentukan kekata yang mana yang harus meluncur. Apakah kekata penuh bebungaan atau dedurian tajam.

Qul khairan awil yasmut. Katakan yang baik atau diam begitu Islam mengajarkan.

Mood kita pun seringkali tak menentu, suka berubah laiknya bunglon yang saban berpindah tempat ia berbeda warna. Setiap insan yang percaya akan Tuhan, selayaknya kita meminta tuk selalu dikokohkan di jalan ketaatan penuh kebaikan.

Ya muqallibal qulub tsabbit qalbii 'ala diinik.

Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkan daku pada agamu. Aamiin.

Semoga kita tetap menjalin kekerabatan dan membangun komunikasi yang baik. Pertemuan yang membuat rindu bukan kekata basa-basi pilu.

#ODOP

Minggu, 06 Agustus 2017

Getting Ideas in the Stuck Moment


Ini bukan stuck in the moment with you. Tapi in the moment when kita yang awalnya doyan nulis lagi kehabisan ide. Bawaannya matung aja di depan layar tanpa ada satu kalimat pun tertulis.

No excuse, kata Pak Isa Alamsyah gitu. Nggak ada alasan untuk berhenti menulis biasanya. Apalagi alasannya hanya karena bad mood.

Tenang itu bisa diatasi. Piye caranya? Ini dia!

Ngeliat Foto
Saat kita nggak tau mau nulis apa, coba aja liat foto-foto lama. Ini bisa mendatangkan inspirasi baru lho. Seperti aku yang mulai kehabisan ide mau nulis apa lagi tentang pernikahan Teh Lia.


Ya, nengokin foto-foto pas acara mendatangkan kekata baru bagiku. Ada ekspresi atau detail yang bisa kita tambahkan dalam tulisan.

Buku
Baca buku adalah rujukan ketika kita membutuhkan ragam ilmu. Nah, pas  badmood, coba aja baca.


Nanti dari situ kita bisa parafrase atau retelling isi buku dengan bahasa kita. Sekedar untuk menambah referensi juga bagus. Biar tulisan kita makin bermutu.

Jalan-jalan
Tak mesti mendaki gunung lewati lembah, kita cukup hirup udara segar pergi keluar rumah. Beli deterjen di warung atau nyemil seblak di kedai sebelah.


Rasa yang kita dapat ataupun pemandangan di jalanan bisa jadi tulisan baru.

Blogwalking
Bener memang. Kita nggak punya alasan untuk badmood karena orang yang sudah berkomitmen tidak akan memedulikan ini. Karena kita sudah punya target, punya rencana maka semua harus kembali dilakukan sesuai planning awal.

Jalan-jalan ke blog mentemen dan dapatkan inspirasi dari tulisan mereka. Sekalian silaturahim.


Nonton Film
Inspirasi bisa datang darimana saja. Tergantung kita peka atau nggak menangkapnya. Termasuk waktu seseruan nonton film.

Adegan-adegan lucu atau hikmah tersembunyi di balik bisa jadi bahan baru untuk tulisan.
Tak ayal orang yang lagi nulis fiksi romance misalnya maka nontonnya film serupa macam Kimi no Nawa.

Peka
Seperti yang kusebutkan sebelumnya. Harus peka melihat peluang datang. Bahkan angin yang berbisik lembut adalah ide segar yang menenangkan.

Kejadian yang bisa dijadikan puisi, prosa atau bahkan hukum gravitasi. Seperti Newton yang duduk rehat di bawah pohon apel. Dia bisa menjadikannya sebuah teori.

Tuuh kan nggak ada alasan sebenarnya. Kalau ada mungkin itu hanya rasa malas atau bisikan setan yang kita turuti kemauannya.

Sekian. Semoga kita makin peka dengan keadaan sekitar. Dan inspirasi yang datang menjadi tulisan mencerahkan.
Yuk!

#ODOP


Sabtu, 05 Agustus 2017

Di Bandung ke Mana Ajah?

Tiba di Bandung nggak mungkin berhenti sebentar ke tempat-tempat kece. Apalagi wisatanya banyak. Enaknya ke mana ajah ya? Nah, mungkin ini bisa jadi referensi. Yuk!

kue-balok.blogspot.com
Alun-alun
Pergi ke jantung kota. Melihat bagaimana indahnya suasana. Di alun-alun ini banyak tempat yang bisa menjadi tujuan. Gedung sate, pergi ke jalan Asia-Afrika, dan banyak taman-taman bertema dari jomblo dan lansia di sekitar situ. Enaknya lagi ada sepeda yang bisa disewa.

wisatajabar.com
Begonia!
Pecinta bunga wajib datang ke sini nih. Bermain di antara kembang. Berkenalan dengan berbagai macam jenis bebungaan.

ragamwisandkulinerindo.blogspot.com
Floating Market
Ini nih pusat jajanan khas Bandung. Mulai cilok, batagor dan sebangsanya, ada! Uniknya semuanya dijual ala pasar apung. Belinya bisa sambil naik perahu. Atau bisa juga berjalan jika tempatnya tepat di pinggir danau.

http://waterwaterfall.blogspot.com/2014/11/kebun-strawberry-ciwidey.html
Kebun Teh-Stroberi
Tempat dingin seperti Bandung pasti punya dong wisata kebun macam ni. Dan ada memang di daerah Ciwidey. Asyik deh. Yasmin, adik Teh Lia mau katanya nemenin kita ke sini. Yosh!

Itu saja sepertinya yang baru menarik perhatian. Aslinya, pasti banyak yang keren-keren. Kalau kamu pernah main ke tenpat kece bolehlah drop tempatnya dan apa serunya di sana.

Akhwat Yasmin belum nentuin juga dari beberapa tempat di atas mana saja yang fix mau didatengin. Santai saja deh dulu. Nanti kalau jodoh, pasti kita kan tiba di tempat itu.

Kalau uang masih cukup, tenaga masih ada boleh main juga ke Farm House, teropong bintang di Boscha, atau ke kampus-kampus terdekat sekalian observasi tempat pendidikan selanjutnya macam Universitas Padjajaran, atau Universitas Pendidikan Indonesia.

Semoga saja budget dan tenaganya cukup.

Sekarang nulis #ODOP5 dulu buat #BloggerMuslimahIndonesia. Yang penting planning aja dulu, jalan tidaknya biar Allah tentukan kemudian. Yosh!




Jumat, 04 Agustus 2017

Things to Do on the Train [Yasmin Goes to Bandung #2]

Menurut tiket yang kita terima, rombongan akhwat traveller Yasmin akan berangkat 8:10 dan tiba di Bandung 23:25. Jadi perjalanan kereta dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Kiaracondong memerlukan waktu 15 jam.

A log journey we have on the train. Pasti dong sudah kebayang gimana suntuknya duduk-duduk di kereta tanpa melakukan kegiatan apapun. Dan kalau nggak dibawa fun bisa bikin kamu tambah sakit punggung.

Beberapa hal di bawah ini dapat kamu lakukan untuk mengatasi rasa jenuh di kereta. Contekan biar perjalananmu nggak membosankan. Check these out!



Nyemil
Lima belas jam perjalanan tanpa cemilan itu rasanya taman tanpa bunga-bunga. Oke, bolehlah kamu berpuasa, tapi you have not to take that's long.

Isilah tasmu dengan makanan ringan. Seperti roti, biskuit, atau kerupuk dan temannya keripik biar travellingmu makin kriuk. Kalau masih bisa dipersiapkan boleh bekal nasi juga.
Nggak mungkin dong kita jalan-jalan tapi keburu kehabisan tenaga di kereta. Whoaa, bisa jadi nggak semangat lagi tuh karena konser tunggal di perut.

Nonton
Kalau ranselmu nggak berat bolehlah bawa laptop. Kulihat ada beberapa orang di kereta yang sibuk dengan komputer personal mereka.

Karena jauhnya perjalanan, boleh tuh sambil dibawa nonton. Nggak mesti di lappy, kamu juga menaruh film keren di hape. Ponsel sekarang kan sudah canggih-canggih tuh. Bisa ditancepin flashdisk OTG. Atau bisa juga ditaro di memori hape.

Baca Buku
Nah, sebelum berangkat, pilihlah buku bacaan yang menarik. Kalau bisa cari yang handy. Biar pegangnya mudah dan nggak berat. 


Bacaan ringan saja, novel ataupun buku humor. Cari deh buku yang kamu suka.

Ngaji
Akhwat traveller nggak boleh lupa nih. Abis jama' sholat di kereta, mushaf adalah temen yang harus diajak berinteraksi. 


Karena perjalanannya masih lama, lumayan lho kalau bisa sampai sejuz-dua juz.

Main
Seru-seruan aja. Dibawa have fun. Main ABC ada berapa, kuis atau tebak-tebakan apa gitu. Sambil melibatkan mobil lewat, pohon kelapa. Bawa buku teka-teki malah bisa jadi alternatif.


Kalau di hapemu ada games, bisa tuh dimainin juga. Adu poin sama travel mate di sebelah. Ajakin seseruan bareng. Ayo kita bersaing!

Kenalan
Kalau kita sebangku sama orang asing bolehlah diajak kenalan. Biar makin banyak relasi. Kita kemaren main-main sama adik kecil. Ketemu sama orang Madura juga yang kebetulan sebaris. Ada akhwat dari Sumatera juga. Mereka sama mau halan-halan.

Orang-orang baru, cerita baru.


Itu dia ide, hal-hal asyik yang bisa jadi contekan kalau perjalananmu lumayan panjang. Tak hanya di kereta, di pesawat atau bus juga bisa dipraktekkan. Gimana kamu-lah biar nggak garing.

Kalau mau cepat sampai, perjalanan malam bisa dipilih. Karena Allah melipatkan jarak di kala gulita. Di kereta kita tinggal bobo aja. 

Nyampenya udah pagi.

Anyway, kita para akhwat traveller dari Yasmin, tiba di Kiaracondong jam 23:31. Dan alhamdulillah dijemput Ibu-Bapah Teh Lia. Sang penganten yang mau halal besok Ahad. Doakan biar si pangeran lancar bilang qabiltunya dan kita bisa kompak bilang 'saaaah'.


NB: Kalau masih bete juga di kereta bisa kayak aku, nulis  blogpost sambil ikutan #ODOP #BloggerMuslimahIndonesia sambil motret candid mentemen. Biasanya kalo candid mereka pada suka. Soalnya lebih natural gayanya, ceuna rarencangan kitu da.