Minggu, 11 November 2018

November Rain: Sakura di Sepanjang Jalan UTM

Halo November dan jalan raya UTM yang penuh sakura di musim penghujan! Iya, momen-momen yang gloomy karena langit sering kelabu.

Keadaan yang enaknya duduk di ruang perpustakaan privadi. Di samping kaca jendela berembun. Dilatarbelakangi rintik gerimis dan murattal Syaikh Misyari Rasyid. Dengan secangkir coklat panas mengepul di meja dan buku bacaan favorit di tangan.

Dan tiba-tiba kulihat bunga-bunga sakura telah bermekaran di sepanjang jalan yang selalu kulewati saban hari.

Tsaaaah.

Sakura yang sering kulihat berlokasi di sepanjang di jalan kenangan.


Jalan raya Universitas Trunojoyo Madura. Ia tumbuh sejak engkau turun di pertigaan halte bus. Hingga gerbang kecil tempat engkau dari kampus.

Honestly itu bukan sakura. Cuma pohon besar yang berbunga semua seperti sakura.

Bungur; Pohon Berbunga Sakura di UTM
Tulisan ini terinspirasi dari postingan Alfi yang bercita-cita mengabadikan momen bersama Tatebuya sp. Bunga sakura ala Alfi. Bedanya bunga ini berwarna kuning.

Nah, kalau bunga yang kumaksud adalah bunga bungur!

Aku baru menyadari adanya bunga ini ketika Divisi Pers IT mengadakan pertemuan rutin SABAN HARI. Kerjaannya, membedah karya!



Sesi Bedah Karya Pers IT

Kami kumpulin karya, kami bedah bareng-bareng. Apa yang kurang.  SPOKnya sudah cocok atau belum. Itu hikmah tulisannya apa and so on. Semuanya weh dianalisis. Atau mungkin lebih tepatnya dikeroyok, haha.

Intinya kami ngebahas bagaimana supaya karya kami sempurna. Perfecto. Supaya yang salah dibenerin. Yang kurang ditambahin. Layak dibaca. Biar nggak bikin sakit mata pembaca wkwkwk.

Itu jaman ketika negara api belum menyerang. Eh nggak ding itu mah jaman pas dinosaurus yak. Kita mah belum ada. Belum lahir :D

Itulah jaman Mbak Alin sudah nggak di Yasmin. Terus saat Dek Anggun gabung di Pers IT dan memberi tahu tentang bunga kesukaannya; trifolia.

Ketika itulah aku menyadari bahwa sepanjang jalan UTM banyak tumbuh SAKURA!

Sakura Pink (Google)

Hihi iya, karena kami berangkat bedah karya pagi-pagi. Jam enam sudah harus di lokasi. Jadilah jam lima kami sudah berangkat. Saling jemput. Bersepeda atau jalan kaki.

Kos Mbak Alin dan Dek Anggun yang paling membuat aku SADAR itu bunga SAKURA banget!

Sakura Kuning (Google)

"Itu namanya bunga bungur, Mbak," jelas Dek Anggun menunjuk pohon berbunga lebat di depan indekosnya.

Apapun nama aslinya bagiku tetap sakura, wkwkwk. Efek belum pernah menyentuk sakura secara langsung.

Tentu saja pagi-pagi jalanan masih sepi. Berkabut dan dingin. Apalagi sisa hujan semalam.

Membuat kami melangkah santai. Sambil memandangi bunga sakura penuh kenangan.

Aku menghitung ada sekitar 8 atau 9 lebih pohon bungur di sepanjang jalan UTM.

Sakura Putih (Google)

Di antara halte bus sampai daerah gang Yasmin tumbuh bungur berwarna putih. Tumbuh dan berbunga satu-dua.

Di depan kos Mbak Alin ada warna pink. Bunganya rimbun. Sampai reranting yang tingginya selutut pun berbunga. Bikin betah kalau main.


Di seberang jalan warnet Safa, tepat di tukang pentol langanan sepulang kuliah ada warna pink keunguan. Pohonnya agak tinggi. Besar. Lebar. Jadi bunganya banyak.
Di pertigaan BTN ada warna ungu. Pohonnya mungil tapi tinggi banget. Kalau mau dijepret harus dizoom. Dan mungkin inilah satu-satunya pohon sakura yang tersisa sekarang.

Banyak indekos yang dibangun sepanjang jalan. Warung-warung baru. Toko-toko yang direnovasi. Jalan kampus yang diperlebar. Membuat bunga-bunga sakura harus tumbang.

Bungur Merah Muda di dekat Bakso Metropolis

Pernah suatu kali aku sedang bersepeda menikmati pagi. Berburu udara sehat sebelum tercemar klakson dan knalpot di jalanan kampus.

Kami menemukan batang bunga bungur yang sudah ditebang. Dibuang di rawa-rawa. Malang melintang di antara ilalang yang kian meninggi.

Namun pohon tersebut hidup menghasilkan banyak bunga!
Masya Allah! Sakuraku! 

Jadilah si bunga jadi props foto-foto.

Bungur dan Buku

Hihi. Memang pertemuanku dengan sakura, sukanya ketika matahari belum meninggi. Apalagi rapat-rapat kampus seringnya pagi-pagi.

Waktu itu juga pernah. November yang gerimis. Ketika jalan-jalan pagi dengan anak Yasmin. Hanya sakura di pertigaan BTN yang berbunga.

Entah sekarang. Live cherry blossoms! 

Semoga masih ada. Meski hanya tersisa satu dua pohon. Setelah beberapa hari tanah kenangan menjadi tuan rumah bagi gerimis di bulan November.



November Rain ala Dek Ani bisa dibaca di sini.

Jumat, 09 November 2018

Mati

Tentang hati, tentang mati.
Tentang istiqamah yang harus dinyalakan berkali-kali.

---

Suasana riuh. Nasyid menjadi latar yang memenuhi ruangan. Satu-persatu tamu maju ke pelaminan untuk diabadikan sebagai sebuah kenangan.

Seorang teman mendekat kepadaku. Memilih tidak bergabung dengan keramaian.

"Mbak, bagaimana caranya agar bisa istiqamah?" sebuah pertanyaan yang sulit. Karena kita tahu, iman seringkali terbolak-balik.

Itulah mengapa Ummu Salamah memberi tahu bahwa do'a yang sering dibaca Rasulullah shallaahu wa 'alaihi wa sallam ketika sujud adalah,

Ya muqallibal quluub. Tsabbit qalbii 'ala diinik.

Aku meletakkan hidangan berusaha untuk fokus memberikan jawaban.

Padahal Rasulullah saja yang sudah jelas terjaga. Ada malaikat Jibril yang senantiasa membersamai masih meminta dalam sujud panjangnya.

Then me. Who am I? I am just a dirty dust girl.

Pun dengan ribuan basuhan air hujan. Mungkin tak dapat luntur debu-debu dosa pada diri

Yet, bukankah adalah kewajiban kita ketika ada saudara yang meminta nasihat sudah selayaknya kita memberi?

Baiklah.

Alunan nasyid sudah berganti. Teman-teman sejawat masih mengantri menuju pelaminan. Sedangkan ia menarik kursi. Mencoba mendengarkan.

---

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqomah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati.

[QS. Al-Ahqaf: 13]

Ibnu Katsir tidak menjelaskan secara rinci dalam kitab tafsir. Beliau hanya memberi pesan bahwasanya orang-orang yang beriman; yang mengakui bahwa Allah adalah satu-satu Tuhan yang harus disembahnya, tidak pantas baginya untuk bersedih hati. Tidak untuk masa lalu. Tidak pula untuk masa depan.

Tapi syarat selanjutnya adalah istiqamah.

How can it be?

---

Ajal,
Begitu cepat ia menjemput
Sedang amal belumlah cukup

Hari,
Adalah dentingan waktu
Menunggu mati

Haiku di atas aku tulis Jum'at, 19 Oktober 2018. Ketika Pak Wi meninggal. Tiba-tiba.

Beliau tidak punya penyakit. Biasanya kulihat duduk di depan Griya. Memperhatikan anak-anak pulang-pergi. Memperbaiki perkakas yang rusak serta menjaga dan membantu kebutuhan Griya.

Istrinya bercerita. Beliau waktu itu pulang ke rumah. Duduk-duduk. Lalu tak lama kemudian meninggal.

Teringat pula nenekku yang juga tak punya penyakit. Sedang asyik menggendong cucu, kemudian tetiba malaikat Izrail datang.

---

Ajal,
Begitu cepat ia menjemput
Sedang amal belumlah cukup

Hari,
Adalah dentingan waktu
Menunggu mati

Gempa di Lombok, Tsunami di Palu.
Musibah di darat, laut dan udara yang menelan nyawa manusia.

Bukankah semua adalah kehendak Allah? Peristiwa yang diingini-Nya.

Fa ana tadzhabuun?

Mau ke mana kita pergi? Tempat mana yang dapat kita jadikan lokasi tuk bersembunyi?

Daun yang gugur tertiup angin. Semut di bawah tanah. Burung-burung di balik pepohonan. Bahkan ikan yang berenang di kedalaman laut.

Tak ada yang luput dari penglihatan Allah.

---

"Tahu nggak apa yang ada di pikiranku?" Hening tak ada jawaban. Mungkin dia menggeleng. "Ya Allah bisa nggak yaa, aku masuk surga." Bening menghangat. Tanpa permisi menuruni pipi.

"Aku juga sering berpikir gitu. Banyak dosa dan belum ada bekal ke sana. Ya Allah..."

Dalam do'a kami berpelukan. Saling menguatkan dalam diam.

---

Kami tak tahu kapan kami memiliki pesta, pernikahan kami sendiri namun mati adalah hal yang harus dipersiapkan.

Sejak semula Allah telah menetapkan. Jodoh, rezeki, mati.  Namun banyak orang sibuk mencari dengan siapa ia akan dipasangkan. Sibuk mencari apa yang nanti akan dimakan. Sedang mati telah suri terlupakan untuk disiapkan.

Bukankan dalam Adz-Dzariyat ayat 56 Allah telah menerangkan. Musabab kita diciptakan; agar tunduk patuh kita beribadah kepada-Nya.

Beribadah. Berharap rida Allah. Adalah hal krusial yang harus diprioritaskan.

Karena dunia ini adalah permainan. Tempat kita menabung amal. Persinggahan sebelum  tiba kematian, yang bisa kapan saja datang.


Nasyid sudah lama tak terdengar.

---
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.

[QS. Al-Fajr: 28].

Sabtu, 27 Oktober 2018

Jawaban

Seringkali di antara pilihan-pilihan yang rumit kita membutuhkan jawaban. Kepastian.

Langkah kehidupan di depan kita di depan pun memerlukan perencanaan yang matang.

Berangkat dari diri yang serba kekurangan. Memiliki banyak sekali kelemahan. Kita membutuhkan Allah Ar Rahim. Untuk membantu kita memutuskan.

Meminta pencerahan atas rumitnya masalah. Meminta bantuan untuk kita dapat melangkah.

Ihdinas shirathal mustaqiim.

Ialah pinta yang seringkali kita curahatikan pada-Nya. Dalam permulaan shalat. Dua hingga empat kali di setiap pertemuan.

Atas permintaan seorang mukmin yang sungguh-sungguh iklas dan tuma'ninah dalam sholatnya, Allah menjawab:

Separuh untuk-Ku dan separuh lainnya buat hamba-Ku, serta bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Begitulah Ibnu Katsir menerangkan ayat ke-6 surat Al Fatihah.

Bahwasanya dalam setiap Al Fatihah yang kita baca di kala sholat, ada dialog dengan Allah. Ayat demi ayat.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan kalimat:

Berilah kami ilham jalan petunjuk, yaitu agama Allah yang tiada kebengkokan di dalamnya.

Sedang memurut Ibnu Jarir ayat tersebut merupakan pinta untuk taufik dan hidayah. Dari seorang hamba kepada Rabb-Nya.

- - -

Rasulullah mengajarkan kita Istikharah untuk problematika yang terkadang membuat pening kepala dan tak bisa kita memutuskannya. Jalan mana yang harus diambil. Berbelok ke kanan atau tetap di tempat.

Kehidupan tak pernah sepi dari permasalahan. Hitam-putih hingga warna lainnya yang membuat suasana hati gembira maupun duka.

Satu-dua hal acapkali membuat kita bingung. Bagaimana menentukan masa depan.

Lewat khalwat dengan Sang Maha, kita bertanya.

Kendaraan mana yang harus kita pilih.

- - -

Sebagai mukmin kita menginginkan agar saban hari adalah waktu untuk menabung. Mengisi pahala agar cukup ia dibawa ke surga. Jika bisa.

Maka hal-hal yang membuat Allah rida-lah yang idealisnya kita lakukan.

Dengan istikharah kita meminta diberikan pilihan. Diberikan petunjuk. Diberilan bimbingan.

Agar langkah yang kita ambil nantinya ialah jalan yang membuat Allah senang. Ialah jalan yang ketika kita melokoninya, hari-hari terasa nikmat.

Hingga Allah pun rida.

Karena Engkaulah yang menakdirkan. Sedangkan hamba tidak.
Karena Engkaulah Sang Maha Tahu. Sedangkan hamba tak tahu menahu.

- - -

Jawaban dari hal yang membingungkan tersebut bisa terlihat dari,

Perihal mana yang rasanya semakin sulit dilakukan.
Perihal mana yang semakin Allah mudahkan.

Satu dua jalan dibukakan.
Satu dua pintu ditutup.

- - -

Mungkin kita tak pernah mengira bahwa jawaban yang Allah berikan adalah hal yang tidak terlintas ataupun direncakan sebelumnya.

Qanaah. Cara agar hati kita lapang. Menerima takdir yang diberikan-Nya.

Mencoba menjalani kehidupan yang kita miliki sekarang dengan sebaik-baik penerimaan. Menjalani peran sebagai insan dan hamba. Yang bermanfaat serta peduli terhadap diri dan sekitar.

Cita-cita? Mari kita gantungkan lagi. Pada Allah Rabbul A'la. Pencipta langit dan bumi.

Selasa, 09 Oktober 2018

Stay Here

Setelah segala apa yang kita kerjakan; melakukannya sepenuh hati, menghabiskan waktu dan tenaga yang tak sedikit...

Namun ketika proyek itu selesai,

Atasan, dosen atau bahkan rekan kita sekalipun menganggap hal itu hanya percuma.

Sia-sia belaka...
..

Jika yang kamu kerjakan adalah kebaikan,

Ketahuilah,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sungguh, Allah tidak akan menzhalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.

[Surat An-Nisa', Ayat 40 ].

Maka apakah yang lebih melegakan; membahagiakan dibanding hadiah pahala yang Allah berikan pada kita?

Insya Allah! Jika kita ikhlas.

Stay connected with Allah.
Stay here. Stay istiqamah.
Semoga Allah rida.

Minggu, 23 September 2018

Menulis: Spontan dan Sekarang!

Menulis secara spontan dan sekarang juga. Bisa?

Artinya kau bebas menuliskan apa saja. Bingung?

Begini langkah-langkahnya. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah mengambil medianya. Entah itu komputer jinjing, ponsel ataupun pena dan kertas.

Aku sering melakukan challenge ini hampir setiap hari. Menulis apa saja yang ada di benakku selama sepuluh menit. Topiknya terserah. Bisa sesuatu yang simpel seperti mencurahkan isi hatimu. Tulisan sederhanamu bahkan bisa berupa masalah-masalah sedang kamu hadapi hari ini.

Idealnya tulisan adalah terdiri dari opening, discussion and conclusion. Tentu saja sebuah tulisan berupa masalah dan solusi. Nah, dari menuangkan problematika kehidupan dalam sebuah tulisan maka secara tidak sadar kau akan menemukan solusinya.

Karena sistem urutan secara teknis membuat otak kita berpikir lebih jernih meskipun tidak menegak minuman bersoda. Jadi kamu tidak perlu bingung menuliskan apa dalam mediamu.

Mudahnya selain menuliskan kelindan permasalahan, kamu bisa juga menuliskan apa yang ada di hadapanmu. Let say, mobil yang lewat, awan yang biru, ataupun pepohonan yang rindang.

Pendengaran dan indera lainnya juga patut kita ikut sertakan. Misalnya, kicau burung penyambut pagi, angin yang bertiup sepoi sekali hatta bahkan bunyi klakson yang lewat di depan rumah.

Tuliskan apa saja! Semuanya!

Kau juga boleh mencontek kegiatan rutinku. 10 menit menulis. Aku bisanya menulis menggunakan aplikasi blogger atau catatan di ponsel daripada software semacam office. Setelah media-nya siap, kita bisa menyetel alarm selama 10 menit.

Sepuluh menit itu tidaklah lama bukan dibandingkan main instagram? Jadi kamu juga pasti bisa.

Terkadang aku sampai ketagihan dari yang awalnya ingin sepuluh menit saja hingga-bisa-sampai satu jam! Haha. Ditambah lagi jika ide tiba-tiba datang memyerbu dan boom!

I think it helpful for monthly challenge like Wicha (Writing Challenge), ODOP (One Day One Poem), ODOW (One Day One Work), and so on. Due to the fact, oftenly, in ten minutes I got 300-500 words.

Sesuai kan? Biasanya challenge-challenge tersebut menghendakinya begitu, I means the total of the words.

If you are interested joining the challenge, FLP Jawa Timur has Wicha that consists of classes. Ikut aja dulu kelas pertamanya, nanti lak ketagihan. It builds your skill in writing. Trust me it works ^^

Hubungi Pak Angga, Direktur Wicha yang siap merekrut anggota selanjutnya. Eits, tapi syaratnya harus terdaftar jadi anggota FLP yang berdomisili di Jawa Timur dan harus ber-NRA (Nomer Registrasi Anggota) untuk bergabung di Wi-Cha ini.

"Kalau ikutan Wi-Cha suka nulis apa, Mbak?"

Aku pribadi suka berkontemplasi. Menulis benang kusut yang sedang mengetuk kehidupan. As thesis that has the background of study, permasalahan yang rumit adalah langkah awal agar otakku lebih bekerja. Menuliskan A-Z yang berisi kerumitan-kerumitan tersebut, kemudian secara spontan sinaps di dalam kepala menghasilkan jembatan yang berupa solusi.

Tetiba tulisanku sudah berisi how to break the problem. Secara tidak sadar.

Ting! Bohlam yang bercahaya tersebut datangnya dari Allah melalui buku-buku yang pernah kubaca, pengalaman-pengalaman yang kerap menghampiri dan hikmah yang sebenarnya berlimpah di mana-mana. Semua solusi tersebutkan berkelindan, menghembuskan nafas lega.

Seringkali sebuah proses menulis berakhir melegakan. Setidaknya bagiku. It must be caused by the solution I have after writing activity. I know it'll be happen for you too.

Writing is healing. Kata Bunda Sinta begitu. Menulis adalah salah satu terapi yang bisa menyembuhkan luka. So, instead of, curhat di sosmed yang jatohnya kamu bisa buka aib diri sendiri, bisa tuh menuangkan segala duka lara dalam bentuk tulisan.

Menulis sekarang dan secara spontan? Bisa! Coba deh. Sepuluh menit aja. Siapa tahu nanti kamu ketagihan. Dan bonusnya tulisanmu akan semakin lincah terasah.

Afala tadzakkaruun? Apakah kau tak berpikir? Ayat yang sering Allah ulang. Pertanyaan agar manusia memilki keutuhan eksistensinya. Menulis adalah kegiatan berpikir. Menyambung satu kata menjadi kalimat, kemudian menjelma paragraf hingga lengkaplah satu tulisan. Menulis maka aku ada. Membiarkan otakku lebih bekerja dan memanfaatkan kelebihan yang Allah beri pada hamba-Nya.

That's all. Happy writing and keep spreading the positive vibes!

Selasa, 19 Juni 2018

Ini Cerita Serunya MQM di Karangpandan

MQM 5 KARANGPANDAN
Tahun ini Isy Karima mengadakan Mukhoyyam Qur'ani Muslimah (MQM) di 9 tempat; Malang, Banjarmasin, Pekanbaru, Karangpandan, Tawangmangu, Sukoharjo, Bandung, Banten dan Lampung. Dan aku memilih Karangpandan.

Mengapa Karangpandan? Simply because, di broadcast-nya tertulis that the centre is here. Kesekretariatannya MQM ada di Karangpandan dan Pondok Isy Karima-nya sendiri letaknya di sini. That's why.

Teman-teman yang lain juga berasalan serupa. Meski kenyataan tak seindah harapan. Uhuk. FYI, MQM Pusat-nya itu ternyata yang di Tawangmangu.

Tapi kalau memilih Tawangmangu, kami tak akan disatukan dalam lingkaran cinta ukhuwah bernama "Baitul Ma'mur."

Alhamdulillah 'ala kulli haal ♡

Baitul Ma'mur, nama kamar kami. Bisa dibilang asrama juga karena kami ber-duapuluh bertempat tinggal di satu rumah. Di pengumuman ada 20 orang tapi hingga tiba di akhir acara, kami hanya ber-empatbelas. Ahh, takdir Allah so sweet yaa. Hanya orang-orang yang Allah pilih, yang bisa bertemu di bawah naungan quran MQM.

Oia, kegiatan yang digagas Isy Karima ini khusus perempuan. Women only. Sesuai dengan namanya, Mukhoyyam Qur'ani Muslimah. Mukhoyyam artinya Camp. Kegiatan yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Then here we come to..

Pembukaan MQM 5 Karangpandan

TAK KENAL MAKA TA'ARUF
Berpindah tempat dari daerah Pampung yang dingin menuju Karangpandan yang hangat..

Awalnya asing. Tak saling kenal.

Atmosfernya berasa jadi santri baru. Benar-benar seperti pertama kali mondok.

"Mbak beneran mondok dong," respon si Eceu waktu aku menitipkan ponsel. Reading Challenge Super Reader pun aku titipkan pada Kepala Sekolah karena alasan tersebut.

Honestly, hari pertama masih berasa hitam-putih. Kelabu. Tak berwarna.

Wong belum ada satupun yang dikenal og, hihi.

Qadarullah, hari pertama nggak langsung tancap gas. Masih ramah-tamah dulu. Panitianya pengertiann tenann.

Hingga akhirnya Baitul Ma'mur menjadi kamar terkompak. Menurut penilaianku, hihi. Soalnya kamar (rumah) yang lain jaraknya berjauhan. Alibi nih :D

OUR ACTIVITIES
Oke, setelah berkenalan dengan teman di kanan-kiri saatnya kita beraksi! Ganbatte! Sambil mengencangkan ikat kepala ala orang Jepang, hihi. Go, go!

Peserta Mukhoyyam dibangunkan jam setengah dua pagi untuk bersiap QIYAMULLAIL. Karena ini sepuluh malam terakhir maka Tarawihnya ketika dini hari. Tarawih and qiyamullail is the same thing ya, guys.

Siapa yang berani mandi jam segitu? Yang nggak mau antre berani dong. Daripada entaran, antreannya membludak. Aku pun pernah. Pernah aja, nggak selalu, haha. Soalnya setelah menemukan KM nyaman di Griya Nabawi, mandinya di sana ajah. Secara Baitul Ma'mur adalah rumah yang terjauhh. Jauhhh. Harus naik gunung (baca: jalannya menanjak).

Setelah qiyamullail kita TAHSIN. Belajar memfashihkan bacaan yang dibimbing oleh Ustadzah Laila. Kami fokus di Surat Al Fatihah. Biar makin disayang Allah. Sholatnya enakeun. Malaikat yang di samping kita juga betah mencatat pahala sambil dengerin. Aamiin.

Tahsin ini tiga kali sehari. Pertama, ketika jam tiga pagi. Kedua, siang. Sekitar jam satu-an lewat. Tiga, sore bakda dzikir petang.

Sehabis tahsin, kami makan-makan alias SAHUR :D

Terus sholat shubuh, dzikir pagi, dan TADARUS.

Target kami khatam tilawah Al-Quran selama di MQM. Jadi ada sekitar 4-5 kali tadarus dalam sehari. Konsepnya, Musyrifah membaca dengan mushaf dan kami para peserta menyimak; mendengarkan dengan seksama dan membetulkan jika ada yang salah.

Seperti di yang di-taushiah-kan oleh Ustadz Fauzin, para salafus shalih itu sehari bisa khatam pas Ramadhan. Ketika Ramadhan, ulama pun lebih giat bertilawah daripada menghafal. Karena ialah bulan Al-Quran. Imam Syafi'ie bisa dua kali khatam. Masya Allah. Kalo sudah hafal mah sehari juga bisa ya. Sambil nyapu, sambil menyiram tanaman, lisan tak henti bertilawah. Namun, di luar Ramadhan makruh. Hanya boleh menghatamkan Quran dalam waktu tiga hari.

Setelah tadarus, peserta boleh mandi, boleh menyiapkan hafalan bagi yang sudah rapi wangi. Karena setelah akan ada HALAQAH. Kegiatan menyetorkan hafalan. Boleh muraja'ah (mengulang), boleh ziyadah (menambah hafalan).

Setoran hafalannya hanya dua sesi ; bakda tadarus pagi dan jam 08:30 (cmiiw) hingga jam 11 siang. Kalau tahun kemarin katanya temen-temen yang pernah ikutan, halaqah sampai lima kali. Sahur-sahur pun setoran..

Sore setelah tahsin kita ngabuburit. Mendengarkan taushiah dari para asatidzah Isy Karima. Insya Allah contekannya di post berikutnya.

Selain kegiatan di atas, kami ada game-game seru. Main tali semrawut, sedotan tissue. Kocak-kocakan di tenda. Terus ada lomba cerdas cermat juga.

Go, Baitul Ma'mur go!

Ini beberapa list pertanyaan kami:
1. Siapa pendiri Al-Aqsha?
2. Sahabat yang suaranya merdu?
3. Dan puluhan pertanyaan lainnya


Boleh banget kalau mau bantu jawab di komentar ^^

Oke itu aktivitas kami di MQM 5. Nggak tahu nanti MQM 6.
*Dilan mode on :D

Menu Bukber MQM 5 Karangpandan
GRADUATION CEREMONY
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan..

Pagi-pagi ketika jalanan masih sepi dan gelap, kami sudah turun (dari tanjakan :D) mendorong koper dan tas-tas besar. Bersiap pulang T.T

Telah tiba kita di acara puncak. Graduation ceremony. Wisuda akbar kami digabung dengan teman-teman di cabang Tawangmangu. Makin rame makin seru, kata anak gahul begitu.

Kami berangkat dengan bus besar. Sambil menatap mentari yang menyembul perlahan di balik Gunung Lawu. Slow motion. Tahu banget kita lagi melow nggak mau pisah T.T

Disambut dingin. Kami tiba di Kampung Halloween Sekipan, Tawangmangu.

Sejauh mata memandang bawaannya segerrr. Hijaunya pinus yang rimbun di bebukitan. Cengkeh yang berjejer. Villa-villa yang cantik memanjakan mata. Masya Allah arsitekturnya keren-keren dengan penataan taman serta bebungaan yang membuatku tak berhenti berdecak kagum.

Masya Allah. Fa bi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadzdzibaan.

Rumah impian rasanya ♡

Wisuda kali ini, dibuka pembacaan juz 30 bareng yang dipandu Syaikh Matrud dari Yaman. Bacaannya merdu sekali. Bagaimana Abu Musa yaa yang didatangkan ribuan malaikat hingga memenuhi langit bumi. Bagaimana bacaan Rasulullah yaa yang langsung diajarkan oleh Jibril T.T

Do'a khataman yang dibaca Syaikh Matrud juga bikin nyess. Alhamdulillah ngerti dikit-dikit bahasa Arab jadi doanya kerasa menyayat banget. Di sekitarku suara akhwat terisak membuat suasana semakin sendu.

Pembacaan Juz 30 Oleh Syaikh Matrud Yaman
Ya Allah.. inilah nikmat-Mu yang sesungguhnya. Bisa berinteraksi dengan Al-Quran. Bisa bertemu dengan para pecinta Al-Quran..

Ada yang lebih menyesakkan lagi. Orasi tentang Palestina. Warga Syam yang selalu dicekam ketakutan selama bertahun-tahun.

Kita di sini aman-nyaman membaca Al-Quran. Sedang di sana ledakan peluru adalah soundtrack para huffadz..

Nyess lagi T.T

Aku lupa bagaimana urutannya; tepatnya prosesi wisudanya di sesi ke berapa.

Semua peserta MQM 5 maju ke depan, membawa syahadah. Berfoto bersama kelompok halaqah masing-masing. Tentu saja musyrifah juga ikutan. Terhitung ada sekitar 400-600 peserta di dua cabang MQM; Tawangmangu dan Karangpandan.

Para pemenang lomba game etc, juga diumumkan di wisuda ini. Termasuk peserta terbaik MQM.

Seru deh. Nget-nget-nget. Alhamdulillah bi ni'matillah tatimmus shaalihat. Bertemu dengan para peserta memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri. Uhibbukunna fillah.

Keluarga Baitul Ma'mur Mengucapkan
Jika tulisanku ini belum memuaskan, yuk ikutan di MQM selanjutnya! Di MQM tahun ke-enam. Semoga Allah memberikan kesempatan. See you there.

Minggu, 17 Juni 2018

Menceritakan Dingin

Dingin. Bahkan jaket, selimut tebal dan kaos kaki harus hadir bersamaan untuk menghalau perasaan dingin tersebut. Baiklah. Akan kukatakan.

Tak hanya suhu udaranya yang dingin. Yang membuat gigi bergemeletuk atau bahumu bergetar hebat karena saking dinginnya. Suasananya pun serupa.

Sepi sedang bergelayut. Meninggalkan dingin yang disertai kabut. Sendirian. Mencekam erat dan kuat.

Gunung yang biasa aku tatap kala membuka jendela raib. Pun matahari yang kerapkali menghangatkan bumi.

Di tempat aku menulis sekarang ini memang sedang musim kemarau. Namun dinginnya akan cepat akrab dengan siapa saja.

Kabut Datang Berkunjung
Jam 12:00 siang hari, seringkali adalah puncak. Ketika gerombolan kabut datang tanpa tahu kau sedang apa. Ya, memang itu jadwal kunjungannya. Entah kau sedang memasak, membaca atau disergap tenggat waktu yang mendesak selalu.

Itulah pilihan. Kau mau tetap melanjutkan aktivitasmu, misal menghafal surat cinta dari langit atau menarik selimut dan tenggelam di sana.

Saat pertama kali datang ke sini kau akan mengira lantai rumah basah terkena air. Padahal tidak.

Bukan seperti episode Balqis yang menjinjitkan kaki karena ikan-ikan di lantai kerajaan buatan Sulaiman. Dia takut bajunya basah. Namun tidak begitu. Itulah karunia Allah yang diberikan pada Nabi Sulaiman. Allah membuat lantai transparan laksana kolam.

Di sini tak ada ikan-ikan berkejaran seperti yang bermain di kaki Balqis. Hanya saja lantainya dingin. Sedingin es batu--hanya perasaan saja sepertinya.

Air yang kau seduh akan cepat dingin. Salad buah yang kau racik akan dingin secara alami tanpa dimasukkan ke dalam kulkas. Minum seperti biasa pun akan terasa menyegarkan. Dingin yang tanpa lemari pendingin.

Pun gorengan yang hangat akan cepat kehilangan asapnya jika tak lekas kau santap.

Itu ketika pertama kali kau datang. Saat kau telah menetap di sini, akan ada tiga orang. Satu merasakan dingin yang dengan segera merapatkan jaket. Dua, kepanasan karena kebanyakan makan. Tiga, dia yang biasa saja menyikapi kehidupan.

Pada episode menunjukkan jam tepat tiga dini hari atau pukul lima pagi semuanya sepakat mengatakan dingin.

Sedang ibu menyuruh untuk bergegas.

"Ayo cepetan, nanti ketinggalan rakaat sholat 'ied."

-----

Saat ini, siang 12:12 kabut sedang lebat-lebatnya turun. Beginilah musim kemarau yang bisa membuatmu membeku. Istilah si Eceu ini, hihi.

-ditulis di sebuah lembah, daerah bebukitan Gunung Lawu, berkecamatan Tawangmangu.

Lawu Menyapa