Senin, 08 September 2014

BACA BUKU INI JADI PENGEN PINDAH JURUSAN..

Bener, deh. Pas tamat baca buku ini langsung terbersit untuk pindah ke jurusan Ilmu komunikasi saja! Apa pasal? Si Alif bikin gue ngiler pengen jadi Jurnalis...

Kalau di Negeri 5 Menara Alif  memburu berita di ruang lingkup pondok saja, maka sekarang Alif sudah mengepakkan sayapnya lebih lebar. Bekerja di sebuah penerbitan di kota besar.

Banyak ilmu tentang  jurnalism di dalam novel Rantau 1 Muara. Ada kode etik yang Alif ajarkan pada saya. Tentang bagaimana seorang jurnalis sesebenarnya. Hati-hati dengan uang tip yang digunakan apalagi ketika meliput berita dengan tersangka korupsi. Sogokan oh sogokan!

“La’natullah! ‘Ala ar-rasyi wa al-murtasyi! Allah melaknat orang yang menyogok dan disogok ”

Rantau 1 Muara
Liat gambar covernya saja membuat cita-citaku kuliah di luar negeri kembali menyala. Rantau 1Muara, buku ketiga setelah Ranah 3 Warna dan Negeri 5 Menara. Semua angkanya dalam bilangan ganjil. Kesukaan Allah dan Rasul, tuh.

Masih tentang perantauan Alif. Merantau menjadi anak pondok, kuliah di kota besar, dan mengejar cita-cita hingga luar negeri sana.

Jika buku pertama menceritakan kisah perantauannya di lingkungan santri, kedua sebuah pertukaran pelajar di luar negeri, maka ketiga tentang Alif ini juga bercerita tentang kehidupan rantau Alif ketika kuliah.Rantaunyapun sampai hingga ia menemukan sang bidadari. Sama-sama jurnalis pula. Hmm, pengen ya?

Petualangan Alif di luar negeri lagi-lagi diceritakan dalam novel berwarna tosca ini. Diceritakan pula tentang kejadi sebelas semtember silam. Kejadian yang menghancurkan gedung besar di Amerika itu, ternyata si Alif ada di sana kawan. Melintas garis dari polisi.

Ya iyalah, dia kan jurnalis. Jurnalis bisa ke mana saja. Ke istana negara, melewati para penjaga berotot kawat dan bertulang besi. *gatot kaca, kali ya :D

Nah, itu dia yang bikin aku pengen banget jadi jurnalis. Bisa ke mana aja. Di Ilmu Komunikasi kan diajari tuh gimana caranya ngeburu berita. Oh, I hope, I hope! *seperti teriakan Emily  di film dedek Barbie.

Then I realize it this semester. I take Journalism for one of my course. Jadi tak menyesallah saya jadi anak sastra *wink

Tidak ada komentar:

Posting Komentar