Tampilkan postingan dengan label #puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2015

LOMBA TEMA RINDU


Jumpa lagi di tahun 2015. Ini event pertama dari Meta Kata di tahun ini. Kali ini event yang dipandu oleh Risty Arvel mengangkat tema tentang kerinduan. Kerinduan seseorang, bisa kepada kekasih, sahabat, orang tua, nenek, kakek atau siapa pun itu. Kerinduan yang digambarkan dengan luar biasa dalam kepada orang lain. Kepada siapakah kerinduanmu tertaut?

 
Tak perlu berpanjang-lebar ini dia persyaratannya :
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Lomba dibuka dari tanggal 15 Februari sampai dengan 15 Maret 2015 (pukul 23:59 WIB).
  3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
  5. Naskah dalam bentuk  :Flash Fiction : panjang naskah maksimal 700 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan. Atau Puisi : panjang naskah 16 baris boleh ditulis dalam 4 bait boleh lebih dan ditambahkan biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat e-mail) Biodata narasi tidak boleh dipisah dengan naskah.
6. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisinya.
7. Tulis subjek email dan nama file: Puisi/ff_judul_nama penulis jika dikirim ke arvelristy13@gmail.com.
8. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya bisa dalam bentuk Flash Fiction atau puisi.
9.Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event Rindu” yang dilakukan oleh Risty Arvel setiap hari senin dan kamis.

10.  Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik : souvenir dari penerbit meta kata + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
Puisi terbaik : souvenir dari penerbit meta kata + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat

#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.

11.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh sertifikat cetak dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.

12.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 maret 2015

PJ Risty Arvel

Sabtu, 31 Januari 2015

AKHIR DARI CERITA DIA

Kering kerontang di halaman belakang
Aku tak pernah mengenalnya. Siapa dia atau apapun ia. Hingga saat ini ketika ia mulai mengetahui banyak hal tentangku. Mulai mengenalku. But, I’m really don’t know; apa yang ia mau sebenarnya.

Ia mendarat begitu saja. Terbang bersama merpati awalnya. Lalu seperti yang sudah aku utarakan, ia mendarat begitu saja. Tak tahu dari mana asalnya.

Ia berceloteh dengan riangnya. Bernyanyi semaunya. Ku biarkan saja ia bertingkah seenaknya. Hingga kadang aku terhanyut, ikut bernyanyi dengannya. Bersenandung bersama. Membicarakan angin yang kebetulan lewat tanpa sengaja.

Tapi itu saat kata “Ya sudahlah” belum terlontar. Saat tren ‘Shoimah’ belum begitu menyebar. Ya, itu dulu. Hingga ritual senandung pun akhirnya berubah. Ia kemudian mulai menyebut tentang daun yang melegang begitu saja. Jatuh di atas tanah tanpa sepatah kata dari pemiliknya, pohon.

Ia juga menyebutnya tanah yang membiarkan daun yang gugur berubah warna coklat, kemudian membusuk tanpa ia sapa.

Mungkin aku adalah angin. Yang membuat daun gugur tanpa permisi. Membuatnya jatuh di pelataran tanah kemudian membusuk.

Lihatlah di antara proses itu. Dia-yang tak lagi terjatuh dari punggung merpati- diam. Bergeming ketika celoteh datang. Bernyanyi sendiri dalam bahasanya yang kemudian diam. Kembali terdiam. Dan berulang kali diam.

Tak lagi ku mengerti ketika ia mengajakku bernyanyi di antara riak malam. Berbicara di antara barisan yang amat panjang. Ia kembali. Bermain kata semaunya. Ya, semaunya. Tak peduli ketika senja datangkan malam.
Dia! Dia yang kini menjadi tanah bagi daun yang perlahan membusuk. Dia yang kini menjadi daun tergeletak jatuh dari atas pohon.

Ugh! Sungguh sebuah sikap menjadikanku mengambil keputusan; Tak ada lagi cerita tentang dia. Maka ini adalah akhir cerita tentangnya. Tentang dia!

Yasmin, 14 Oktober 2012

Rabu, 21 Januari 2015

TERSENYUM

Tetaplah untuk:
Tatap mentari pagi
Walaupun cahayanya menyilaukan mata
Hadapi ia di siang hari
Walaupun panasnya membakar raga
Temui ia kala senja
Karena warnanya menyejukkan jiwa
Relakan ia pada malam
Karena ia lenyap tinggalkan siang
Tergantikan bulan terangi malam

Yah, karena kau tetap akan temuinya
Tak bisa hindarinya
Karena ia bersama kita hadapi dunia

13 Juni 2011

BENCI BUKAN PADA MERPATI*

aku benci dalam duka,
aku benci pada haru,
aku benci di antara sepi,
aku benci menaut pilu,
melaut biru,
gelombang rasa yang takku mengerti.

sekali lagi aku benci!

karna aku benci!
benci berbalut luka,
mengalir darah dalam parah,
benci membalut hati,
membuatnya perih,
sakit yang merintih.

benci memuncak parah,
benci membuat luka,
benci mencuat serakah,
tinggalkan hati dalam diri,
membalut dengki pada duri

tak kuasa kumenahan sedih
dalam hati yang terus merintih,
sedih

aku pun pilu hingga batu,
aku pun sendu dalam rindu,
aku pun ratu pada belukar biru

yeah!
meski terkadang pada air terdapat batu kerikil.
pun ia menderas pada laju mengalir.

membuatnya berbelok arah,
memancing pelbagai gundah,
pada aur yang memerah,
air pun melaju pasrah.

merpati datang terbangkan kepaknya.
terbang di antara awan putih menawan cerah.
suci beralas langit bersih.
lembut menebar cerita.

senyum kembali merekah pada hati yang gundah.
merpati putih, kita satu!
merpati putih,
lembut suci dari dalam ketulusan hati...

Juli 2011
*puisi kolaborasi dengan seorang sahabat, Robi

LANGIT MALAM

pandangku tersapu langit kelam,
ia bersih tanpa debu malam,
namun di manakah para gemintang?

15 Agustus 2011

BEGINI

ketika kau tahu semua tak lagi sama,
ketika kau tahu perbedaan itu ada,
ya, begitulah..

ya.. dan kurasa sudah saatnya untuk sayonara
karena memang tak seharusnya
aku di sana

hmm, ya!
ia tertidur dalam luka

pergi sejauh mungkin,
meninggalkan semua yang tersisa
tinggalkan masa kelam penuh lara
menuju dunia baru yang penuh cahaya

bagaimana caranya?
menatap semua masalah dengan sabar dan tegar
kecilkan masalah, besarkan Allah!
jadinya..

Agustus 2011

*sebuah puisi kolaborasi dengan seorang sahabat, Wina

SAMPAH

Perlu kuulang kembali
Kata- kata murah tak berarti
Aku hanya menyesalkan
Perlakuan tak berbudi
Yah!
Tepat mendarat di atas tempurung
Batok lapis baja
Senyum seiris tanpa gigi
Memamerkan manis
Perlu kuulang lagi
Dan
Kejadian itu ingin kuulang sekali lagi
Tentu,
Tanpa sadar

Ar- Rayhan Hostel, 8 Februari 2011

Rindu

Ingin sekali aku keluar darinya
Terperangkap jauh dalam rindu
Ingin sekali ku mendapatkannya
Kunci bahagia tatkala berhasil
keluar darinya
Rasanya ingin kabur saja
Bebas dari belegu rindu
Berhasil lepas keluar bebas
Bagaimana tidak,
Ia terus saja menggrogoti rasa
Memendam bahagia kemudian terkubur di sana
Entah mengapa
Kali ini ia menguak rindu
Mengubur lekat cinta pada kalbu
Membakar perlahan senyum tawa
Lalu bagaimana
Jika semua sirna
Lihat! Kau pendam bara
Di balik rasa yang
Seharusnya tak ada
Menurutku, kau buang saja
Ke langit nestapa
Namun rindu tlah mengakar
Tersiram begitu haru

KRA, 10 Nov 2011

Rindu Pelangi

Hujan, beramai-ramai mengunjungi bumi
Menjadikan tanah sebasah resah
Membuat rindu akan indahnya pelangi
Tapi, di manakah mentari?
Bukankah ia yang mempersatukan warna pelangi?
Tidak, ia pun tak datang menemani hujan
Seperti kau yang tahu, tak ada pelangi hari ini
Deras itu kian menggebu
Membentuk aliran berliku
Langit turut bersorak, mencipta mendung kelabu
Menutup matahari, menghalang pelangi
Mungkin benar, harus kutabung rindu itu
Rindu akan tujuh warna pelangi
Yah, bersabar layaknya pelangi rinduku
Senantiasa menunggu hingga hujan pun reda
Deras masih menyisakan gerimis
Rintik hujan masih gembira
Tetesannya seakan bunyikan merdu
Ciptakan elegi senandung rindu
Rindu cerah damainya MEJIKUHIBINIU
Merah darah cerah hilangkan resah
Jingga terang terangi kegalauan
Kuning berbinar bagikan senyuman
Hijau lembut menyumbang ketenangan
Biru laut nan syahdu
Nila manis secantik bidadari
Ungu merdu hilangkan rindu
Yah, rindu pelangi itu...


KRA, 17 Desember 2011

Minggu, 21 Desember 2014

TENTANG SESEORANG

Standing alone

Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok kerato putih;
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera
Atau aku lari ke hutan lalu belok ke pantai?

Puisi Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta

Senin, 01 Desember 2014

MENDING WALL

Something there is that doesn’t love a wall,

That sends the frozen-ground-swell under it,

And spills the upper boulders in the sun,

And makes gaps even two can pass abreast.

The work of hunters is another thing:

I have come after them and made repair

Where they have left not one stone on a stone,

But they would have the rabbit out of hiding,

To please the yelping dogs. The gaps I mean,

No one has seen them made or heard them made,

But at spring mending-time we find them there.

I let my neighbor know beyond the hill;

And on a day we meet to walk the line

And set the wall between us once again.

We keep the wall between us as we go.

To each the boulders that have fallen to each.

And some are loaves and some so nearly balls

We have to use a spell to make them balance:

“Stay where you are until our backs are turned!”

We wear our fingers rough with handling them.

Oh, just another kind of outdoor game,

One on a side. It comes to little more:

There where it is we do not need the wall:

He is all pine and I am apple orchard.

My apple trees will never get across

And eat the cones under his pines, I tell him.

He only says, “Good fences make good neighbors.”

Spring is the mischief in me, and I wonder

If I could put a notion in his head:

“Why do they make good neighbors? Isn’t it

Where there are cows? But here there are no cows.

Before I built a wall I’d ask to know

What I was walling in or walling out,

And to whom I was like to give offense.

Something there is that doesn’t love a wall,

That wants it down.” I could say “Elves” to him,

But it’s not elves exactly, and I’d rather

He said it for himself. I see him there,

Bringing a stone grasped firmly by the top

In each hand, like an old-stone savage armed.

He moves in darkness as it seems to me,

Not of woods only and the shade of trees.

He will not go behind his father’s saying,

And he likes having thought of it so well

He says again, “Good fences make good neighbors.”

A poem by Robert Frost

Minggu, 16 Februari 2014

US

Allah has promised those who believe and do righteous deeds [that] for them there is forgiveness and great reward.
Surat Al Ma’idah 5:9
 ***
I wanna be your friend till jannah..
We.
Do you exactly, why Allah made us?
Why Allah created us?
To life?
or just many time for laugh?

I.
Then I'll show that life doesn't easier than you think
Must make subservient
for the real life
next
;Akhirah

You.
throw away many time
just for having fun

They.
Alone
to be separated
gather with god in pray

Rabu, 12 Februari 2014

AKU TAK BISA LAGI BERNYANYI



Poem by GusMus

Aku tak bisa lagi bernyanyi, gitarku di sana! buzzfeed.com

Aku tak bisa lagi bernyanyi bagiku kini tak ada lirik dan musik yang menarik
untuk kunyanyikan bersamamu atau sendiri

Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah berasa merdeka
membuatku tak lagi mengenali suaramu atau suaraku sendiri 

 
Taman tempat kita istirahat becek darah yang seharusnya tak tumpah jalan-jalan tempat kita mendekatkan hati tertutup dihadang geram dan amarah  malam-malam tempat kita menyembunyikan cinta telah dionarkan kobaran kebencian 
 
Daging-daging yang selama kita manjakan pun ikut terpanggang api dendam
udara disekitar kita meruapkan bau terlalu anyir
dan lalat-lalat berpesta dimana-mana

Bagaimana aku bisa bernyanyi
aku tak mampu meskipun menyanyikan lagu duka
aku tak bisa mengadukan duka pada duka
mengeluhkan luka pada luka

Senar gitarku putus dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi
dan langitpun seolah-olah sudah muak dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

Maaf sayang aku tak bisa lagi menyanyi bersamamu atau sendiri
entah jika tiba-tiba Nabi Daud datang membawa seruling ajaibNya

BINTANG DUA MUSIM

membuat sejarah sejati dari buzzfeed.com
Musim telah berganti kawan,
langit yang biasanya bersinar terang itu harus pudar
matahari tak setiap hari menerangi
cahaya telah pergi
         ,bersiap
badai besar menantang
akan ada banyak gelombang
lautpun ikut pasang
kita tak hanya akan berdiri mematung saja bukan?

Masa depan memang tak pasti
namun cahaya cerah mentari,
tahu
kitalah pembuat sejarah sejati

Ada pandang di balik arah lawan
dan sejatinya kita
;Sang Pemenang

Labu menguning di titik sebelas

Senin, 10 Februari 2014

LELAH

Jauh melintang kehidupan
Masi tercecer
di antara hikmah dan pertemuan

Kisah, cinta, lalu aroma
Ada sekian puluh ribu otak dalam kepala
Menyongsong
      Menyisir
            Membagi

Sama
Tentang jalinan ynag kita bina


di titik kealpaan, 13 dan 11

Minggu, 26 Januari 2014

KITALAH

Aku ada
di setiap relung jiwa
yang berkata

Hati yang tak pernah lelah
berdzikir pada-Nya

Kita semua bisa
Mencapai Surga

dengan segala
amal baik sebagai tabungannya

Kau dan aku mungkin berbeda
usia,
suku atau bangsa

Namun, kita sama
Islam sebagai agama

x-pumpkin, usai dhuhur

Sabtu, 25 Januari 2014

NYAMUK

terngiang dalam ruanganku
tertawa memegang sembilu
mengecap darah kekuasaan

terjal
terjun
lembah kepiluan

memutar arah, mencari mangsa
tak ada lagi catatan
semua berakhir di antara hajatan

ada mangsa segar

dengan lahap menyantap
tanpa peduli sekitar
sanak saudara kelaparan

labusebentarlagisepuluh

Kamis, 23 Januari 2014

SUASANA

Gemericiknya tak lagi seperti kemarin

Menyenandungkan nada

berbeda

Selautan hikmah bergelombang mesra

merangkap suasana

di kelilingi cinta

Asmara menciut

kerdil

X-Pumpkin di titik delapan

Rabu, 22 Januari 2014

THE ARMADILLO



Poetry by Elizabeth Bishop

For Robert Lowell
This is the time of year
when almost every night
the frail, illegal fire balloons appear.
Climbing the mountain height,

rising toward a saint
still honored in these parts,
the paper chambers flush and fill with light
that comes and goes, like hearts.

Once up against the sky it's hard
to tell them from the stars—
planets, that is—the tinted ones:
Venus going down, or Mars,

or the pale green one.  With a wind,
they flare and falter, wobble and toss;
but if it's still they steer between
the kite sticks of the Southern Cross,

receding, dwindling, solemnly
and steadily forsaking us,
or, in the downdraft from a peak,
suddenly turning dangerous.

Last night another big one fell.
It splattered like an egg of fire
against the cliff behind the house.
The flame ran down.  We saw the pair

of owls who nest there flying up
and up, their whirling black-and-white
stained bright pink underneath, until
they shrieked up out of sight.

The ancient owls' nest must have burned.
Hastily, all alone,
a glistening armadillo left the scene,
rose-flecked, head down, tail down,

and then a baby rabbit jumped out,
short-eared, to our surprise.
So soft!—a handful of intangible ash
with fixed, ignited eyes.

Too pretty, dreamlike mimicry!
O falling fire and piercing cry
and panic, and a weak mailed fist
clenched ignorant against the sky!

Jumat, 10 Januari 2014

JALAN PULANG




Aku memulainya kembali
Menggali potensi yang telah lama pergi
Aku tahu
Telah begitu lama aku berdiam diri
Mengikuti jejak wewangian kasturi
Bukan karena aku merasa iri
Atau mungkin seperti yang kau katakan,
“Kau terlalu dengki!”
Ah! Biarkan saja orang berkata semaunya
Kau tahu? Aku tetap pada prinsipku
Jadi jangan kembali kau menggangguku
Aku sudah kembali
Berjalan pada jalanku
Bernafas dengan paru-paruku sendiri
Aku tak lagi butuh kau
Si Pencabik, perusak kehidupan seseorang
Mungkin kau bisa menuduhku egois
Terserah!
Tapi kau terlau tega dan terlalu jauh
Menyeret dan melemparkanku
Pada jurang nestapa
Lembah nista
Kenapa masih saja menghalang-halangiku
Kau tak dapat seenaknya melarangku
Atau bahkan mempelajari pribadiku
Karna aku ingin kembali
Mengejar mimpi
Merajut, merangkainya kembali
Asa, cita-cita yang tertutup rapi

“Cinta adalah ketika aku bertemu tuhanku
 Ketika diriku berjumpa dengan kekasihku
 Nanti, di sana
 SURGA; tempat pulang kita”

Ruang inspirasi, duaenamnolempatduaributigabelas