Selasa, 13 Februari 2018

Memetik Pucuk Kenangan di Ngawi [Musywil V FLP JATIM #1]

Memetik Pucuk Kenangan di Ngawi
Kenangan akan tetap berwujud sebagaimana mestinya kenangan. Dan ia bagiku akan tetap begitu; berkelindan dalam pikiran hingga purna berubah menjadi tulisan. Seperti hutang yang harus dilunaskan.

Harap maklum, jika kau melihat jariku berkolaborasi dengan kekata yang tumbuh rimbun di kepalaku. Menata kata dengan khusyuknya.

Lalu beginilah aku menceritakan kenangan pada sang waktu. Di sebuah ketika, masa, kala kenangan adalah benih yang baru saja ditanamkan.

Trip Seru bersama FLP Pamekasan
Sesuai kesepakatan, rombongan dari FLP Pamekasan berangkat bakda Ashar. Kami, para anggota bertemu di Terminal Ronggosukowati di dekat UIN Madura. Dengan mobil berwarna silver kami meluncur meninggalkan Kota Gerbang Salam

Tujuan utama kami, Ngawi. Bertemu saudara sesama pejuang pena dari seluruh cabang Forum Lingkar Pena dalam rangka Musyawarah Wilayah V FLP JATIM. Tepatnya tanggal 24-25 Desember 2017 kemarin.

Sudah beberapa minggu yang lalu. Jadi sepertinya tepat jika aku menyebutnya dengan predikat bernama 'kenangan'. Kenangan bersama rekan FLP yang mesti dituliskan.

Sampai di Sampang kami berhenti. Sholat Jamak dan menikmati sunset kemerahan di ufuk. Itu senja yang paling indah kurasa. Sekaligus menyeramkan sebenarnya karna kelamnya malam sigap menelan mentari merah yang sedang sekarat. Hai, mungkin saat itu kau juga sedang menikmatinya. Atau jangan-jangan sama sepertiku mencatatnya sebagai puisi.

Kuawali perjalanan ini dengan puisi. Sepertinya mood-ku sedang baik saat itu. Setiap berpindah kota atau daerah aku menuliskan kenangan dengan diksi.

Dibandingkan jenis tulisan lainnya aku memang lebih menyukai puisi. Seru saja melihat mereka menari. Dalam sajak. Dalam irama berdiksi. Tapi hanya itu saja. Jago kandang.

Di atas tol panjang yang melintang dari daerah Surabaya hingga rombongan Pamekasan bertemu dengan FLP Bangkalan. Beberapa anggota kami bertukar tempat. Biar akhwat-nya bisa bergabung menjadi satu. Dan akupun satu mobil dengan Dek Ani, FLP Bangkalan. Yeay! Alhamdulillah.

Duduk berdua dengan Dek Ani di mobil bagian belakang kami bercengkrama. Bercerita panjang lebar. Laiknya mendaki gunung menyelami lautan, haha. Hingga perjalanan yang melelahkan tak begitu terasa.

"Mbak seru banget ceritanya," Dek Inel menoleh dan bergabung dan sempat bersama kami di belakang.

Seru hingga mengharu biru. Padahal terakhir bertemu Dek Ani awal Oktober 2017. Tapi rasanya selalu kangen, kangen, kangen kalau sama Adek yang satu ini. 

Sejak 2014, kami sering terhimpun dalam satu divisi di berbagai organisasi dan sering ngebolang bareng juga kalau ada acara FLP. Ya gitu deh jadinya.

Hingga ada yang bilang, gaya tulisan kami mirip. Mungkin karena kami sering jalan bareng. Dan dulunya akupun anggota FLP Bangkalan.

Di Terminal Purabaya, rombongan kami semakin besar. Ada FLP Gresik yang bergabung. Asyik makin rame.

Eh, kebalik. Harusnya ketemu FLP Gresik dulu baru Bangkalan. Okay. Abdi asa tos lieur da. Peace!

Perbincangan di Mobil
"Mbak, ada yang minta fotonya Mbak," suara Dek Inel tiba-tiba mengejutkanku. Entah Pak Andika atau Pak Angga yang minta waktu aku lupa waktu itu Inel bilang siapa. Yang penting pengurus JATIM.

"Kemaren ikut berpartisipasi di Pena Award FLP JATIM, Dek?" tanya Mbak Nikmah sambil menoleh ke belakang. Mbak Nikmah dan Inel ini adalah dua anggota FLP Cabang Pamekasan. Aku mengangguk.

"Iya, Mbak ngirim 17 puisi."

Ini agak janggal sebenarnya karena saat pengiriman puisi berikut dengan fotonya, yang sudah kukirimkan waktu itu. Kenapa diminta lagi?

"Kukirim yang ini ya, Mbam?" tanya Dek Inel lagi. Dia menunjukkan fotoku saat kunjungan FLP Pamekasan ke Banyuanyar beberapa saat sebelum keberankatan. Ada spot bagus di situ, rumah vintage yang bikin kita serasa di mana gitu.

"Jangan, Dek." Aku melarangnya. Mungkin panitia-nya sedang khilaf.

"Yaaah, sudah kukirim," katanya sambil tertawa-tawa.

Duh itukan mandzur jiddan kalau aku. Ketok buanget. Oh tidak Ineeeeell.

ZzzzzzZzzzzzZzzzzZzzz.

"Kayaknya Mbak bakalan menang deh sampe dimintain foto." Wajah si Inel mulai keliatan kelabu.

"Enggak ah." Soalnya di FLP penulisnya keren-keren. Mana mungkin aku menang. Lagian aku cuma iseng saja.

"Iya, Dek barakallah yaa," Mbak Nikmah yang duduk di samping Dek Inel menimpali.

"Kayaknya beneran, Mbak. Siap-siap nerima hadiah yaa nanti." Dek Ani juga ikutan berhusnuzan.

Akunya sih benar-benar nggak terlalu berharap soalnya nanti kalau sudah terlanjur di atas awan jatohnya pasti sakit banget. Seperti yang dimelodikan Yovie Nuno, kau terbangkanku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang.

Byuuuuur. Eh itu sih kalau nyemplung ke laut ya, bukan ke jurang.

"Kok aku nggak dimintain foto yaa," Dek Inel sibuk berpikir, "Wah kayaknya aku bakal kalah deh sama Mbak soalnya aku kan ngirimnya puisi juga.."

"Nggak, Dek. Belum tentu. Bisa saja Dek Inel yang menang," aku mencoba menghibur Inel dan diri. Hmm, sepertinya nggak mungkin. Tapi perihal foto, aku sebenarnya penasaran.

Psikologi Bunda Afra dan Tugas Kita sebagai Manusia

Kami berangkat tanggal 23 sore dan sampai di Ngawi saat mentari menyapa bumi di tanggal 24 Desember. Mendekati lokasi kami disergap macet. Niatnya mau Shubuhan di Masjid Mehrunnisa' Gontor tapi nggak jadi. Di kanan-kiri jalan, semua kendaraan tersendat.

Bisa ditebak. Masjid-pom bensin di sekitar sana pun penuh. Beberapa kali kami memilih melanjutkan perjalanan saat melihat antrinya yang lumayan menyesakkan.

Akhirnya aku memilih sholat di dalam mobil. Tayammum dengan debu atas sandaran kursi. Allahu akbar, sholat sambil duduk. Beberapa rekan yang lain kuajak melakukan hal serupa.

Nah, karena postingan ini menurut sudah agak panjang kita jeda dulu. Tentang materi Bunda Afra hari itu akan kutulis dalam postingan khusus. Kukisahkan kembali #muswilflpjatim pada postingan selanjutnya.

Matahari perlahan menggeliat bangun. Berkas sinar hangatnya menyentuh dedaunan, jalanan hingga mobil kami. Satu momen yang terlewat di sini. Aku tak sempat menangkapnya. Sibuk menata diri, menata hati, menata hari. Macet masih berlanjut. Tapi dalam ingatan aku mencatatnya sebagai kenangan.

Klarifikasi Pena Award FLP JATIM
Jadi bagaimana perihal kelanjutan puisi?

Sebenarnya kalau boleh jujur sejak diumumkan para nominator dari berbagai kategori selain puisi aku sudah dilanda deg-degan yang sangat.

Rasanya detak jantungku mengalahi suara pemandu pengumuman. Saking keras. Tapi aku berusaha untuk senatural mungkin.

Lalu tibalah pada puisi.

"Mbak siap-siap." Dek Ani memegang tanganku. Membuatku tersentak kaget. Sedikit.

Namun hingga para nominator selesai dibacakan, tak sekalipun namaku masuk dalam deretan.

Alhamdulillah nggak usah maju-maju ke depan. Males aja. Malu banget pastinya. Pun waktu FLP Pamekasan dapet FLP Pejuang.

Ajaibnya ternyata foto yang dikirim Inel muncul saat pembacaan nominasi Penulis Fiksi. Lucunya bukan namaku yang tertera di situ.

"Lho itu bukan nama Mbak," spontan Dek Ani di sebelahku berkomentar. Karena kita duduknya dua atau tiga baris dari depan, komentarnya terdengar oleh yang sedang memandu.

"Ah dia mah banyak nama penanya," begitu kira-kira jelas si pemandu.

Itu kocak sekali pemirsah. Tapi aku cuma menahan geli di perut. In fact, ngomong-ngomong soal nama pena, aku memiliki banyak. Puluhan. Sebel deh kalau ketahuan itu gue. Haha.

Dan nama yang tertera di sana adalah nama asli, but that's not me lol.

Aku ingat sekarang, aku memang mengirimkan dua karya melalui email pribadiku yang namanya adalah pena. Namun karya satunya bukan milikku. Melainkan punya adikku. Nama akhir kami sama. Oh jadi itu.

Saudara-saudaraku yang lain, nama akhir nya pada sama. Nama Abi. Lha piye, nek adik-adikku semuanya ngirim karya. Nanti disangka nama penaku sedanten wkwkwk.

Pesan Haru Babe Rafif
Tak usah kuceritakan bagaimana tegangnya LPJan hingga pemilihan yang membuat FLP menjadi dua kubu. Insya Allah blogger FLP JATIM sudah menuliskannya di blog masing-masing.

Oia, sebelumnya orang-orang dengan suara terbanyak untuk kandidat ketua FLP JATIM ada empat seingatku. Satu akhwat, tiga ikhwan. Katanya mereka saat ditanya kesediaannya.

Mbak Zie menolak karena masih banyak ikhwannya. Satunya berkata ada dua yang menjadi pertimbangan; berkeluarga atau tidak dan masalah berat badan; gemuk atau kurus.

Akhirnya Pak Angga dan Babe Rafif yang maju.

Pak Angga: "FLP terlalu menawan. Saya tidak bisa untuk tidak bersedia."

Kalau Babe jawabannya lebih mengharukan. Da Babe jagonya.

"Sebelumnya saya sudah ijin pada istri saya. Katanya, beliau akan selalu mendukung. Namun dengan banyaknya amanah ini tolong jaga keluarga ini..."

*to be continue

Jumat, 02 Februari 2018

Do'a


Pagi ini gerimis. Pagi ini kelabu.

Bukan. Bukan berarti Allah sedang tidak sayang dengan memperlihatkan warna sendu.

Jika kau tahu, bahkan dalam hujan Allah turunkan rahmat. Bahkan dalam hujan Allah berikan kesempatan. Karena ialah waktu yang tepat untuk kita berdoa.

Memang. Sejatinya berdoa boleh kapan saja dan di mana saja.

Namun jika kau lebih cepat sampai ke Palestina menggunakan pesawat terbang kenapa tidak selagi kendaraan itu ada.

Begitu juga doa kala hujan merintik di atas bumi. Ialah kesempatan untuk doa. Agar doa cepat melesat ke langit ketujuh. Dan segera sampai di Arsy-Nya.

Pada doa kita panjatkan segala hajat kita. Allah akan senang. Allah bangga pada ia yang rajin berdoa dan meminta pada-Nya.

Bahkan. Allah sangat malu bila membiarkan tangan yang menengadah, pulang dalam keadaan kosong.

Maka perbanyaklah meminta pada Allah.

Ada waktu-waktu tertentu saat doa melesat dengan cepat. Selain hujan, hari Jumat tertulis ampuh mengijabah doa. Seperti yang dilisankan Rasulullah.
Begitu pula setelah azan berkumandang.

Ketika sang muazin memanggil kita untuk sholat, maka jawablah. Selepas itu, ambillah kesempatan berdoa. Karena ad-du'a bainal azan wal iqamah, la yuraddu. Doa di antara azan dan iqamah tak tertolak.

Pun kala sujud. Kita dianjurkan untuk memperlama durasinya. Biarkan kening kita menyentuh bumi. Sujud, selain diijabahnya doa adalah pula saat bergugurannya dosa-dosa kita. Meluruh dari badan dan lebur bersama tanah.

Allah Maha Pengampun. Diberinya kita minimal 34 kesempatan untuk bersujud. Kesempatan untuk bertobat meminta ampun.

Saat bepergian atau engkau sedang bertualang, itulah juga waktu melesatnya doa. Jangan engkau membiarkan kesempatan itu begitu saja. Daripada meminta dan berharap pada manusia lebih kepadaNya, Allah sang Maha Cinta.

Karena berharap pada manusia akan buat kau kecewa.

Juga di sepertiga malam. Di waktu jiwa-jiwa terlelap dalam tidur. Kala ruh-ruh diangkat sejenak dan akan dikembalikan lagi saat engkau bangun.

Qumillaila illaa qaliilaa.
Qum fa anżir. Wa rabbaka fa kabbir.


Bangunlah! Dan dirikan sholat malam. Tak ada yang berangkat kecuali sebagian kecil. Bangunlah dan berilah peringatan. Dan anggungkanlah Tuhanmu yang Maha Agung.

Begitu bukan yang Allah perintahkan dalam surat Muzammil dan Mudattsir
Hujan masih turun di sini..

Berkecipak ia dalam kenangan. Melagukan rindu di atas genting. Selagi kita diberi kesempatan.

Hendaknya kita mendoa dalam hening.


***

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
[QS. Al Baqarah: 186].


Do'a

Minggu, 21 Januari 2018

Segarnya Kebun Teh Ciwidey Bandung

Segarnya Kebun Teh Ciwidey Bandung

Selepas dari Curug Tilu, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Ciwidey. Perkebunan yang terhampar di kanan-kiri jalan. Yang sebenarnya sudah kami lewati sebelum bertemu --kesasar mencari-- Curug Tilu.

Untuk wisata yang satu ini Mbak Yuli yang paling excited. Pengen banget main di kebun teh. Dan perkebunan teh di Ciwidey ini kenyihir kami dengan hijaunya pucuk daun yang belum dipetik. Indah dan menyejukkan mata. Dijamin deh kalau punya miopia dan dilatih senam pagi setiap hari di kesejukan Kebun Teh Ciwidey bisa sembuh dalam waktu sebulan-dua bulan.

Masya Allah segarnya! Bikin aku tambah jatuh cinta dengan warna hijau. Hijau pupus pucuk daun teh.

Sejauh mata memandang hamparan hijau daun teh begitu segar memanjakan mata.

"Eh, angle dari sini bagus tuh!"

Berlompatan kegirangan kami menyiangi pohon-pohon teh yang tinggi minimalnya separuh badan. Dan sebagian membuat tubuh kita tenggelam di kehijauan.

Properti andalanku di sini buku karena yaa, rasanya nggak enak kalau nggak ada buku di dalam tas. Di sana buku di tak absen berada di dalam tas.

Perkebunan yang kami datangi ini bukanlah milik pribadi atau perseorangan melainkan milik pemerintah.

"Pak boleh metik teh-nya nggak?" Salah seorang partner travellerku bertanya pada ibu penjual berry yang menjajakan di depan kami.

Segarnya Ciwidey membuat kami tertarik untuk ikut mencicipi buat buah beri; arbei dan stoberi. Then it is! Pertanyaan temanku yang pengen banget metikin kenangan. Eh maksudnya daun teh yang menghijau.

"Ya nggak papa, Dek asal nggak banyak-banyak," kata Pak pentol yang berada di pinggir jalan kebun.

Kami? Ketawa aja! Haha.

Asyiknya perkebun teh di Ciwidey ini kita nggak usah bayar untuk masuk ke lokasi. Langsung cus aja. Berhentinya pun boleh sesuka hati. Asal tetap di pinggir jalan. Kalo keukeuh mau parkir di tengah jalan, nggak papa sih, monggo, tapi siap-siap menghadapi keributan, hoho.

Sejauh mata memandang, hijau-hijau-hijau! Bikin mata adeum dan betah berlama-lama di sana. Tapi kabut datang menyerbu kami. Semakin menebal senti demi senti. Membuat pandagan kami jadi terbatas.

Maunya bisa memotret sampai ratusan foto lebih, tapi keadaan meminta kami untuk segera beranjak pulang.

Kabut Tebal Ciwidey

"Dek, ayo cepetan! Kabutnya makin tebel nih!" Itu suara Mbak Yuli dari atas jalan raya. Sudah siap menghidupkan mesin sepeda motor.

"Bentar, Mbak satu foto lagi yaa.."

"Kalo nggak cepetan, tak tinggal lho ya,"


Hayuk makanya buruan!

Padahal masih siang. Dzuhur. Tapi kabutnya sudah tebal sangat. Ya sudah hayuk pulang. Semoga kapan-kapan bisa main lagi.

Good bye, Ciwidey!

Sabtu, 06 Januari 2018

Mengharu Biru di Curug Tilu Ciwidey

Mengharu Biru di Curug Tilu Ciwidey
Motoran bareng Kakak Gugel Mep
Mengelilingi Bandung tanpa guide, mustahilkah? Bisa lho! Guide asisstant kami si Kakak Gugel Mep. Berempat; aku, Mbak Yul, Mbak Dil dan Dek Ril motoran ke daerah Ciwidey.


Tujuan utama kami, Curug Tilu yang sudah direkomendasikan oleh Yasmin. Sayangnya Teh Li dan Yasmin nggak bisa ikutan trip kami kali ini. Lain kali, kita bareng-bareng lagi, okay?

Berbekal basmalah, kuota melimpah dan baterai terisi penuh akhwat traveller cus menuju Ciwidey dari Soreang, Bandung.

Karena kemaren sore sudah pernah melewati jalannya kita gampang tinggal ikut-ikut alur sambil mengingat-ngingat. Aku yang dibonceng, siap siaga dengan si Kakak Gugel Mep.

Sempet nyasar masuk gang. Dan si Kakak Mep membalikkan lagi ke jalan yang benar.

"Barat mana barat? Utara, utara?"

Haha. Pas memasuki keramaian pasar. Kami dibuat linglung.

Untung daerah wisata Ciwidey aksesnya gampang. Tinggal lurus aja dari Soreang (seingetku). Cuma memang jalannya lurus menanjak nanjak dan berkelok-kelok dan makin berada di ketinggian nan dingin.

Masya Allah seger! Anginnya menyapa kulit. Dingin tapi seru.

Mana Curug Tilunya?
Sempet kesasar sebentar di pasar tanjakan deket Ciwidey dan waktu deket-deket lokasi. Karena kita guide-nya pakai Kak Gugel dan ternyata lokasinya tak terlihat. Padahal karena dari awal kami nggak menemukan jalan yang bercabang jadi berhenti dulu.

"Insya Allah gampang lah. Tinggal lurus-lurus doang."

Waktu mendekati zuhur. Kami mampir di musala di kawasan Ciwidey. Kawasan Polsek daerah setempat.

Kenyataannya itu Curug Tilunya belum juga ketemu ><

Kami jalannya sudah dipelanin sambil celingak-celinguk kanan dan kiri. Kata si Kak Gumep (Gugel Mep) tinggal lima meter lagi tapi lokasi tidak menampakkan diri. Akhirnya ada sekitar tiga kali kami bertanya pada penduduk. Sebagian malah tidak tahu.

Lokasi Curug Tilu memang agak menjorok ke dalam. Nggak pas, deket jalan raya. Oh.. pantes. Tapi gerbangnya kelihatan walaupun kecil, kalau kita teliti.

Soalnya di Ciwidey banyak pilihan wisata. Karena ini memang lokasi piknik. Dari Kawah Putih sampai pemandian air panas ada! Banyak dah.

Nah, yang penting itu dia Curug Tilu kita!



Ayo kita masuk!
Dibantu Bocah
Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 10.000 per orang dan parkir Rp 5.000 kami pun masuk lokasi.

Eh?

Agak heran awalnya. Ini air terjunnya? Kecil. Hanya beberapa meter.

Tapi kalau dibanding Air Terjun Toro'an di Sampang dan di Air Terjun di Durbuk nggak tahu tinggi mana. Alhamdulillah..

Menurut kami air terjunnya buatan bukan alami. Soalnya air yang mengalir tak sampai jauh. Dan penataan batu-nya yang ummm...

Sudah lupakan! Kami bertemu dingin dan udara yang sejuk sudah Alhamdulillah.


Memandangi Kenangan
Ketua rombongan kami tetiba naik batu-batu besar di antara air terjunnya. Temen-temen yang lain juga ikutan. Aku awalnya mau nimbrung tapi setelah beberapa langkah melewati batu-batu akunya ciut. Oi, ini ternyata air terjunnya lumayan juga ketinggiannya.

Alhasil aku terhenti di tengah jalan. Duh, gimana kalau jatuh. Ngerasa kerdi rasanya. Duile, mana jiwa petualangmu?
Dua anak esde naik dengan lincah melewati bebatuan, mendekati kami. 

"Dek, nggak takut lewat situ?" Aku bertanya tipsnya gimana setelah ditolong mereka. Iya, akhirnya aku dibantuin dua barbie asli Ciwidey.

"Sudah biasa, Mbak. Tiap hari juga lewat situ."

Glek. Aku kalah sama anak esde.

Nyobain Wahana
Setelah naik melewati air terjun ada wahan yang bisa kita coba. Nggak tahu tepatnya apa. Cuma si dua anak perempuan tadi juga naik-naik. Padahal tinggi. Aku juga ikut naik. Meski sempat dikerjain sama mereka berdua. Talinya digoyang-goyang. Duh akunya deg-degan sambil ketawa.

Panen Stoberi
Di sebelah wahana ada danau yang bisa kita pancing lho tapi nggak berminat. Selain karena males nungguin lama juga nggak pas di kantong. Puluhan rebu gitu. Bisa beli cilok berbungkus-bungkus, haha.

Jadi kami lebih milih pergi ke kebun stroberi di sebelahnya lagi.

Dari wahana, kita turun. Melewati danau dan menolak penawaran pengelola Curug Tilu untuk mampir mancing dan makan siang di sana. Kita cari yang seger-seger aja deh. Stroberi!

Petik, jangan?
Yippie! Ketua rombongan kami gembira sangat. Perjalanan ini memang masuk wish-list-nya beliau. Soalnya petualngan di Ciwidey seru-seru.

Masuk kebun ditemani bapak pengelola Curug Tilu. Petik sini. Petik sana. Merasakan manis asamnya bercampur suasana yang bertambah dingin, kabut mulai turun..

Kisah Dua Sahabat
Dua anak perempuan tadi adalah sepasang sahabat yang sering menghabiskan waktu selepas sekolah dengan bermain bersama.

Ini dia yang membuatku haru. Sewaktu mereka membantu tadi. Aku ajak mereka naik beberapa wahana sambil berkenalan dan bercerita. Sayangnya aku lupa nama mereka. Ini gegara nggak langsung ditulis ><

Ada satu si eneng yang wajahnya keliatan sendu.

"Dek, di rumah tinggal sama siapa aja?" tanyaku basa-basi. Ia sebutkan nama-nama anggota keluarganya. Dan aku mendengarnya dengan ganjil di pikiran.

Apa aku salah dengar?

Mungkin. Kayaknya.

Kami bermain tali-tali yang memangjang di langit-langi Ciwidey. Kutanyakan lagi pertanyaan serupa di sela-sela permainan. Jawabannya pun sama.

Ada kakek, ayah dan lainnya tapi tidak ada ibu.

"Ibu pergi dari rumah nggak balik-balik, Teh."

Ya Allah. Anak sekecil itu. Seberani itu. Harus mengalami pengalaman yang menyakitkan. Bagaimana psikisnya?

Namun yang ada di hadapan ia terlihat tegar. Asyik seseruan bertualang bersama rekan sepermainannya di sekitar rumah yang dingin.


Putih suci dalam fitrahnya
Mari Lanjutkan Perjalanan
Sejatinya kita tak boleh menyerah atau kabur atas peliknya masalah. Karena di dalamnya, ia berikan kita hikmah. Tarbiyah kehidupan. Allah hendak berikan kita pelajaran untuk kuat dan bertahan dalam permainan dunia yang sementara. Akankah reaksi-tingkah laku-perbuatan kita jadi amal? Bekal untuk kehidupan yang kekal.

Kami pulang meninggalkan kebun stoberi dan kisah dua orang sahabat. Perjalanan masih panjang. Ada sekian hikmah yang harus kita ambil. 

Melewati danau, dan menuruni bebatuan air terjun kami pulang. Aku menemukan pohon mawar besar di dekat pintu keluar. Mirip pohon sakura jadinya karena batangnya bongsor dan bunga-nya banyak.

Ya Allah kelindan kehidupan sedang menanti. Entah itu baik atau buruk, semoga semuanya membawa kita semakin dekat dengan-Mu.

Masih bukan bunga sakura.

Kamis, 14 Desember 2017

Cinta dan Kelindan Aksara

Allah menciptakan kita dengan cinta.
Sebentar. Biarkan aku menulis segala kekata yang berkelindan di kepala. Engkau yang terjebak di sini, datang kemari dan membaca tulisanku, mungkin ini nampaknya tidak terlalu penting. Jadi tak mengapa jika kau tak membacanya sampai akhir.

Entahlah. Kurasa pintalan kusut sedang menari-nari dan membuat keadaan semrawut. Tentu saja tidak semua. Hanya sebagian kecil. Karena apalah dunia ini kan ya. Cuma sementara.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Baiklah ini seperti kereta api yang melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Kuda yang berlari kencang. Gesekan batu purbakala. Kesemuanya memiliki percikan api pabila mereka bertemu satu sama lain. Tapi begitu adanya.

Roda kereta akan selalu berjalan di atas rel. Jika ia melenceng dari jalurnya, jatuhlah ia.

Kuda berpacu di atas tanah. Cepat atau pun dengan pelan.

Batu harus bergesek untuk menciptakan api kehidupan. Melanjutkan detik-detik yang bertalu bersama waktu.

Bagaimanalah mereka bisa menghindar jika takdir menghendaki demikian. Keduanya harus bertemu sesuai hukum alam.

Kehidupan di dalam kereta akan selesai, dalam artian mati atau kecelakaan jika ia berjalan tak seirama. Tak sesuai dengan jalurnya.

Kuda akan diam saja tak ke mana-mana. Tak menjelajahi dunia. Padahal ia luasnya luar bisa. Setiap incijengkal bumi dapat kita telusuri. Di tiap sudutnya Allah beri pelajaran-pelajaran. Hikmah agar kita menjadi orang yang bijaksana.

Pun batu. Api yang tercipta darinya membantu kita memasak. Melanjutkan kehidupan.

Sebagaimanapun kita menghindar, percikan api kan selalu ada. Maksudku ia memang tercipta sesuai hukum alam. Itu alami dan natural.

Begitulah. Kita sebagai insan, kalau mau berfilosofis laiknya Plato yang mengatakan bahwa ia seorang makhluk yang tak bisa hidup sendirian. Harus ada interaksi-interaksi antar sesama agar kehidupan terus berlanjut. 

Kita memerlukan pelajaran dari orang lain. Kita memerluan bantuan orang lain. Kita memerluka kasih sayang orang lain.

Hukumnya memang begitu. Tak terelakkan. Tak bisa menghindar ke manapun kita pergi.

Tapi ingatlah, kala percikan api menghampiri. Ada Allah yang selalu siap menampung segala resah hati.

Wahai hati yang sedang retak, menyatulah. Bersatu dengan ikhlas. Tanpa prasangka. Biar Allah yang membantu segalanya.

Cinta semoga ia tumbuh di sana. Jauh ke dalam bumi. Jauh ke dalam hati. Dengan beningnya prasangka yang menjadikan segalanya menjadi baik. Benih-benih tumbuh. Menumbuhkan agar yang kokoh. Daun-daun hijau. Serta bebungaan yang indah, sedap dipandang.

***

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. Al-Mumtahana: 7]


Jumat, 01 Desember 2017

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan
Selama di Bandung kita dua kali main ke rumah Teh Insan. Selama itu pula suguhan ala Sunda selalu terasa. Sambal lalap yang paling menarik perhatian. Bikin nggak tega sih mau nambah terus, haha.

Dan itu sambel ter-enak menurutku. Bikinnya gimana sih?

Dari dulu rasa penasaranku belum juga terpuaskan. Jadi ketika mendapatkan sambel top-markotop itu langsung kupasang wajah antusias dengan mata bundar berbinar-binar tak mau melewatkan step by step-nya.

"Ya gitu weh bikinnya bawang, tomat, cabai," jelas si Mamah merendah. Ah, Ibu mah kitu da. Sebenarnya di rumah yang panggil Mamah cuma Hanin, adik bungsu Teh Insan. Kalau saudara-saudara yang lain panggilnya, 'Ibu'. Maklumlah 'Kids Zaman Now.' Terus aku-nya labil. Kadang panggil Mamah, kadang Ibu, hoho.

"Tapi pas abdi bikin, kadang suka kebanyakan bawang, Bu. Atau terlalu kecut kebanyakan tomat." Aku kekeuh minta resep. "Kumaha takarannya biar pas. Biar enak kayak bikinan Ibu..," gitulah kira-kira percakapan yang difasilitasi sama Teh Insan.

Akhirnya aku dibisikin deh resep rahasianya. Here we go!

Sssst, ini aku minta resepnya untuk porsi delapan orang. *ups ketahuan deh keluarga besar :D

***


Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan



Bahan:
Cabai 20 biji.
Bawang merah 3 siung.
Bawang putih 1 siung.
Tomat 2 buah.
Gula merah 1 ons.
Petis Madura♡ 1 sdm menggelembung.
Minyak 3 sdm.
Terasi dikiiiit aja.
Garam secukupnya.


Cara bikinnya:
1. Cuci bersih tomat, bawang dan cabainya. Potong-potong minimal jadi dua bagian agar tidak meletup-meletup saat digoreng, seperti rasa cinta yang menari-nari, kata JKT 48.


2. Panaskan minyak. Setelah dirasa agak panas, goreng rombongan di step pertama. Oia, terasinya diikutkan juga. Jangan sampai ketinggalan. Nanti dia ngambek.

3. Setelah udara sudah mulai bikin bersin-bersin jangan dekati kompor. Nanti sambelnya terkontaminasi wkwkwkwk. That's why apinya jangan gede-gede. Soalnya dia suka bikin serang☆. Kecilin apinya. Yang sedang-sedang sajaaa, yang sedang-sedang saja.

4. Ulek gula merah dan garam sampai halus. Tuang rombongan dari wajan. Biarkan mereka nimbrung dan menyatu dengan alam. Eh, maksudnya biar ngariung di cobek. Hah?

5. Tambahkan petis Madura biar makin top-markotop. Karena masih musim kemarau (baca: panas hasil ulekan sebelumnya), jadi gampang ngulek petisnya.

6. Tes rasa. Kalau sudah cukup dan sesuai selera garam dan gulanya, berarti sudah saatnya dihidangkan. Taraaa, this is sambal lalapan ala Mamah Teh Insan sudah siap disantap!

***

Hasilnya mantap bener. Meski hanya dimakan berdua dengan nasi yang mengepul hangat. Dijamin berhasil bikin kita berhahuha kepedesan dan tambah nasi, Insya Allah! Alhamdulillah bi ni'mati tatimmus shaalihaat.

Alhamdulillah padahal uji coba pertama kali nih.

Rencang (teman/lauk) nasinya paling afdhal sama timun, kemangi dan tahutempe. Iya, kalau memang mau diniatkan 'nyunda,' rombongan sayur ini sunnah muakkad sampai wajib hukumnya; terong bulat, leunca, petai, timun dan kemangi.

Kalau ada ayam goreng dan dadar telur tentu saja akan disambut dengan hati senang walaupun tak punya uang, oi. Tapi mah seadanya weh. Sabar ya nunggu gajian. Karena meski sekarang tanggal satu, masih merah alias libur.
Sila dinikmati. Jangan lupa baca basmalah sebelum makan!

***

Kemaren kami sempet curiga pas kunjungan kedua ke rumah Teh Insan. Sambelnya makin enak. Kulihat Mamah senyum-senyum.

"Tahu nggak kenapa sambelnya enak? Ibu kasih petis Madura." Wah pantesss makin maknyus!

Alhamdulillah oleh-olehnya kepake, soalnya kami sudah dag-dig-dug takut nggak suka awalnya. Eh, Ibu ternyata jago ngolahnya. Two thumbs up for you, Mom!

Kalau nggak ada petis Madura-nya juga masih bisa dibikin sambel lalapan pakai bahan dan step di atas. Tetep enak! Sekian resep sambal lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan. Selamat mencoba!

Note:
☆serang, bahasa Madura untuk udara yang bikin segak, hidung gatal, batuk, atau bersin-bersin biasanya diakibatkan oleh aroma masakan. Kalo Sunda-nya nyereng kata Teh Insan.

♡Kita pakainya petis Madura, tepatnya daerah Pamekasan, yang ada manis-manisnya gitu. Bukan petis Tanjung yang agak pahit atau petis Sumenep yang agak asin.


Jumat, 06 Oktober 2017

Seseruan di Rainbow Garden Bandung

Jika ingin mengetahui wajah Kota Kembang Bandung maka kunjungilah Rainbow Garden. Wahana wisata yang berada satu area dengan Floating Market. As I mentioned before, there are many sites you can enjoy here. Dan aku memilih masuk taman bunga ini.

Untuk masuk area Raibow Garden kita ditarik karcis Rp 10. 000 per orang. Huumb, meskipun masih satu lokasi dengan Floating Market, masuknya kudu bayar lagi. Dilarang langsung nyelonong. Karena nggak sopan. Soalnya ada yang jaga di depannya.

"Terus gue selama ini dianggap apa?" *mode FTV lebay :D

Kalau nanti beneran dibilang gitu sama penjaga karcisnya, aku nggak mau tanggungjawab ya. Soalnya kan dah dikasih tau; kudu bayar ceban :D

Kenapa memilih Rainbow Garden dibanding wahana lainnya di Floating Market? Padahal ada juga area Kota Mini, rumah kelinci, Museum Kereta api dll.


Kenapa yaa. Karena aku suka bunga. Dan diajakin Mbak Yul juga. Dari jauh warna-warnanya sudah kelihatan. Melambai-lambai minta di datengi. 

"Sini dong, sini," panggil mereka pake TOA.

Hihi.

"Lho di Kebun Begonia kan sudah bunga-bunga?"

Iya! Tapi ini The Real Paris van Java. Perwujudan Kota Kembang sesungguhnya. Sini deh aku ceritain di sana ada apa aja dan keseruannya gimana. Cekidot!

Here We are in Rainbow Garden
Setelah mendapat topi kurcaci sewarna pelangi, kami akhirnya passed the gate that guided by bodyguard with the black coat.

Alhamdulillah, yeay!

Baru melangkah, melewati gerbang saja sudah terpana. Deretan bebungaan seketika membius kami. Selanjutnya pasti deh ngapain. Ambil kamera, cekrek-cekrek mengabadikan momen. Mumpung batre masih ada kan. Dan mumpung masih di Bandung.

Krisan berbagai macam warna dan anggrek yang menggantung menjadi bunga paling dominan. Pun mawar-mawarnya yang beragam. Lainnya, belum sempat ta'aruf tanya nama :D

Rumah ala Eropa
Lurus dari pagar, belok kanan, naik sebentar, ada rumah ala Eropa. Di berandanya anggrek bulan besar-besar berwarna putih. Tanaman menjuntai memenuhi dinding rumah. Ah, aku mau rumah kayak gini ><


Puas menjelajahi rumah berbunga itu kami lurus ke kanan dan belok kiri di tangga panjang. Di situ potnya lucu-lucu. Konsepnya ciamik sangat. Teko-teko saling mengalirkan air. Drainasenya keren!

Rumah Kaca Penuh Bunga
Melewati tangga kami menjumpai rumah dengan beranda penuh kaca. Di sini banyak mawarnya. Dari kuning-putih-merah ada! Ketemu anggrek jenis lainnya juga. Bikin gemes pengen dipetik.


Kata Bang Tere Liye, biarkan mawar mekar di sana. Biarkan semua yang melihat memuji keindahannya. Dan terus tumbuh dengan decak kagum lalu lalang orang. Jika kau petik. Maka habislah kebahagian si mawar. Soalnya kamu nikmati sendiri di kamar.

Aku setuju sama Oki Setiana Dewi. Kali mau ngasih bunga sekalian sama potnya. Biar dia nggak mubadzir dan terus tumbuh. Biar kita bisa menikmatinya lebih lama.

Asyik kan meski sudah gugur bunganya, ia akan menjadi biji yang siap tumbuh. Batangnya yang lain pun sedia membungakan mawar baru.

Ngomong-ngomong kita nggak boleh petik bunga-bunga di Rainbow Garden Floating Market ini. Petik artinya beli. Jadi mending beli di Toko Bunga ajah, lebih legal. Jangan lupa sekalian sama potnya yaa. Etapi ada beberapa spot khusus untuk tanaman  yang dijual. Deket situ ada mamang-mamang penjaga kebunnya. Boleh banget kalo mau tanya-tanya.

However, di rumah yang satu ini, view-nya bagus. Kita bisa melihat Floating Market dari ketinggian. Everything goes green. Ternyata cukup jauh Rainbow Garden dari sana. Tapi kami nggak merasa capek. Mungkin karena pemandangan di sekitarnya elok-elok.

Masya Allah, indah sekali ciptaanmu, Tuhan.

Rumah Hidroponik
Kelar dari situ kami ke Rumah Hidroponik. Ruang itu menjelaskan bagaimana caranya melakukan hidroponik sendiri meski tidak ada seorang guide di dalamnya.

Selada Hidroponik

Terlihat biji-biji ditaruh di atas spon basah. Selada hijau yang segar-segar sedang tumbuh. Juga tomat-tomat yang mulai memerah ranum. Semuanya ditanam dengan media air. Saat kami masuk ke sana, serasa disambut dengan orkestra, gemericik airnya yang menenangkan jiwa.

Ah, meuni adeumm.

Rumah Pohon
Meski gerimis datang lagi, dan tentu saja itu tak menyurutkan langkah kami. Waktu aku keluar dari ruang hidroponik itu, malah Mbak Yul dan Dek Ril yang ikutan ke Rainbow Garden sudah ada di rumah pohon. Teteupp ya :D , walaupun langit semakin hitam.

Aku dan rekan lainnya memilih duduk rehat di bawah rumah itu. Ada semacam kursi bulat yang digantung berjejer di situ. Kursinya dibikin ala ayunan gitu. Apa sih namanya.

Di dekat kami ada deretan stoberi yang baru mulai merangkak. Buahnya masih putih kehijauan. Nah dari situ keliatan tuh rumah-rumah warna flourescent di Kota Mini.

Nggak lama rehatnya, karena lanjut menelusuri bunga-bunga. Bayangin aja sawah tapi tiap lajurnya penuh kembang. Masya Allah, indahnyaa..

Tapi gerimis yang masih turun dan sore yang mau pamit memaksa kami untuk tidak berlama-lama. Deuh, yang mau pulang, tapi nggak pulang-pulang, haha. Abis bunganya bikin betah.

Di samping Raibow Garden ini ada wahana baru juga. Kami curious pengen tahu. Apalagi jalan menuju ke sana nggak kalah indahnya. Nggak ada tanda-tanda kudu bayar lagi. Tapi melihat dari penataannya, ini spot baru dan di luar Rainbow Garden.

Ternyata itu kebun-kebun yang baru dibangun. Sepertinya kebun stroberi gitu.

Karena lahannya kosong. Dan kelihatan tanamannya masih gersang dan sebagian juga baru ditanami, akhirnya kami balik. Memutuskan pulang lewat jalur Rainbow Garden [lagi].

Tapi di jalan ketemu deretan bunga berwarna kuning macam seruni. Ketemu gerombolan lavender yang bikin hati pengen berhenti. Ah, spotnya masih banyak di Rainbow Gardennya.
Banyak. Buaaaanyak. Hihi.

Pulang, Nak. Pulang..
Kudu dari pagi mainnya. Biar puas seharian. Dan siap-siap gempor :D

Akhirnya pulang juga. Mengingat Maghrib yang siap-siap mengetuk pintu waktu.

Tiket parkir kena lima rebu. Dihitungnya perjam. Sejam pertama tiga rebu, katanya. Jam berikutnya beda lagi. Oia, waktu masuk Floating Market sebelumnya kan didata. *Astaghfirullah, lupa ya, Mpok.. :D


Kesannya sama Rainbow Garden ini; must visited place kalo kita pergi ke Bandung. Aku juga bakal mampir ke sini lagi kalo ada kesempatan ke Kota Kembang, Insya Allah! Aamiiin. Soalnya areanya lebih luas, spotnya lebih banyak, dan penataan kebunnya juga lebih kece dibanding Kebun Begonia. Inspirasi banget-lah buat para mahasiswa arsitektur lanskap.

Bener-bener Paris van Java! Perwujudan kota kembang yang penuh romansa..

Koleksi bunganya bikin betah.
♡.♡


Sudah, sudah. Pulang, pulang.
*diseret Emak l.o.l



***
Gelang, sepatu gelang..

Gelang, si rama-rama...



Keluar dari situ kami balik pulang. Baru jam setengah lima ternyata. Pulangnya lewat Cihampelas Walk, lalu lanjut Jl. Asia Afrika dengan lampu jalannya yang fenomenal itu. Mampir sholat di Masjid Agung Bandung.

Mari pulang, marilah pulang..

Marilah pulang, bersama-sama...



Dan karena gerimis datang lagi membuat perut makin keroncongan, jadilah dinner kami di abang tukang bakso Mang Ihsan. Rekomen Ibu Teh Lia juga nih tempatnya.

Batagornya enak. Gede-gede. Daging baksonya kerasa dan banyak. Bikin kenyang. Teh hangatnya gratis. Membuat kami gembira melihat kantong tipis :D

Oia, selama sepekan kami di Bandung, pengeluaran nggak sampe 200 rebu. Mungkin traveling hemat ala kami bisa dijabarkan di Kebun Kekataku juga, kali yaa. Anyway ada yang mau tips-nya, nggak? Kalo mau, nanti dibikinin postingan beneran. Insya Allah. Diingatkan yaa.

Selanjutnya halan-halan kami keee....... Ciwidey! Wait us on the next blogpost, Insya Allah!