Rabu, 20 Januari 2016

Gimana Nanti Gue Jadi Emak-Emak?


Pernah mengalami ini? Pagi-pagi riweuh-nya minta ampun. Si Emak tereak ini, si anak nangis meraung-meraung. Tak jarang terjadi percekcokan di antara keduanya.

Cut! Back to the reality. Itu mah adegan sinetron emak-emak durhaka :D

Eh, tapi pernah ngalamin gituan nggak sih?*eaa balik lagi.

Teman FB! Friend-list gue di sana kebanyakan udah emak-emak. Ude berumah tangga. If I am not mistaken dulu itu bikin FB taon 2009. Pas SMA.

Niatnya bikin FB adalah connects the dots seperti apa yang pendiri Apple bilang. Aku suka nulis dan pengen jadi penulis. Maka setiap aku nemu buku dan aku suka, ditambahlah sang penulis jadi temanku. Yang kebanyakan para penulisnya para mahasiswa.

Pas baru kenalan sama FB, guenya masi mondok di pesantren. Bisa ngenet kalo uda liburan. Jadilah di pondok gue bikin list penulis yang aku suka. Penulis-penulis yang uda aku baca dari es de.
Nah, sekarang giliran gue uda mahasiswa itu penulis uda pada nikah. Ada yang uda punya anak dua. Uda jadi mertua dan lain sebagainya.

Emak gue yang berprofesi sebagai guru te ka punya koleksi buku parenting bejibun. Gue yang kalap kehabisan buku dilalap juga itu tumpukan. Lumayan sambil belajar.

Belajar parenting before married itu penting lho. Di pondok aje gue udah diajarin Bab Nikah. Kelas satu es em a udah ada yang namanya pelajaran Tarbiyah Nasawiyah. Di situ kita belajar gimana ngerawat anak semenjak dari lahir. Hihi, padahal kita masih bawang yee. Tapi bermanfaat juga sih. Temen gue abis lulus langsung nikah tuh. Ada enam malah yang udah nikah.

Bicara tentang buku. Di bukunya Ifa Avianty tentang bagaimana menjadi emak yang baik ditulis tuh di sana: sekalem apapun elo waktu muda bahkan seperti putri salju sekalipun pas jadi emak-emak bisa berubah nenek sihir. Whoaa serem amat yak jadi emak-emak. Kasian anak gue entar. Yang ini malah buku tugas resensi temen waktu es em a. Hayoo.
Huhu.

But, in fact nggak seserem itu kok :D Gue punya Adek di rumah. Usianya masih es de. Ada dua malah. 
Hmm, tiap pagi emang riweuh sih tapi ceritanya begini,

"Kakak itu Adek kaos kakinya dipasangin."

"Kakak gorengin telor dulu yaah.."
Maklum Emak guru te ka. Dan kudu bergegas juga. Nah, misalnya gue di dapur terus Adek gue nongol.

"Kakak, minta tolong botol aye diisiin." Nah misal gue bergeming juga nerusin ubek-ubek telor dia lanjutin jurusnya, "Kakak, minta tolong dong. Kakak yang cantik segalaksiii," matanya sambil mengerjap-ngerjap seumpama bintang yang terang.

Kyaaa, gimana nggak meleleh tuh. Langsung aja cus ngisiin aernya. Sampe itu telor gosong di wajan. Nggak gitu juga kalii :D

Tuh 'kan anak kecil nggak seserem itu. Imut nan lucu malah. Perhatikan deh. Matanya yang menyala penuh cita-cita. Kawai desu yo ne.. Ne?

Pernah ada santri yang nanya kenapa sih anak kecil itu imut banget. Coba deh anak kecil lewat di depan kita-kita langsung itu pipi dicubit-cubit imut sama santri-santri.

"Ya soalnya kalau anak kecil nggak imut, bisa seteresss orang tuanya."

Iya juga 'kan. Bayangkan misalnya si emak uda beresin rumah dari pas dini hari. Rumah udah disapuin. 
Lantai dipel mengkilat. Eh, giliran ditinggal ke pasar, rumah udah berubah awut-awutan tak karuan. Kyaaa bisa meledak itu emosi.

Muka imut nan chubby itulah yang bisa menenangkan diri. Apalagi masih cadel-cadel gitu. "Bunda tati ata tucing macuk uumah." Aduuh langsung deh melted.

Tenang! Dunia anak tak seseram yang dibayangkan. Oh come on, jangan terlalu mendramatisir*Mario Teguh mode on.

Buat seorang kawan, semoga nggak takut anak kecil lagi yaa. Memang mereka suka nangis digendong orang tak dikenal. Uda biasa. Semoga kamu nggak trauma.

Kata seorang pakar, dunia anak kecil cuma dua; mainan dan makanan. Kalo dia nangis meraung-raung a.k.a tantrum bisa dipancing dengan itu. Anak juga bisa diajarkan untuk mengungkap perasaan. Memberi tahu apa yang ia mau. Bukannya malah nangis begitu.

Hei, what's on your mind? Pesbuk 'kalii...

Sudah! Cukup sekian dan terimasih :)

Dari calon emak-emak. Kyaaa berapa taon lagi tuh. Skripsi noh kelarin. Calon juga belom adee :p

Oke! Abaikan >_<

Jumat, 11 Desember 2015

Piscok yang Ngocok Banget!

Lek Cimahe, begitu biasa aku panggil datang dari desa membawa sekarung buah. Ada mangga sama pisang. Pisang raja, mangga gadung sama yang satu lagi nggak tahu jenisnya, tapi seperti mangga apel karena warnanya hijau kemerahan.

Jadilah beberapa hari ke depan kami punya stok buah-buahan. Ditambah pepaya di samping rumah yang mulai menguning. Sedangkan alpukat dan jambu belum kasi tanda mau buah. Melon di belakang yang tumbuh sejak bulan puasa kemaren buahnya dimakan keong. Hiks!

That's why we thanked to  Allah who has send Lek Cimahe kinds of fruit. Arigatou..

Mangganya dimakan biasa, nggak diolah. Paling dibikin rujak. Nah si pisang ini yang istimewa karena perlakuannya kudu istimewa. 

Di rumah nggak terlalu doyan pisang. Kecuali jenisnya pisang emas yang kecil-kecil. Salah satu dedekku malah nggak suka sama sekali.

Abi yang paling excited. Beliau mengolahnya menjadi pisang rebus. Ummi ngolah jadi pisang goreng. Sedangkan si kunyuk-kunyuk pengen pisang keju. Beda usia, beda keinginan ternyata :D

Untunglah keesokan harinya Ummi beli tepung roti, susu coklat dan keju. Bahan yang lain ada mah di dapur.
Cocok buat have fun di rumah. Ditambah udara; sejuknya musim hujan. Dingin-dingin gini bawaannya laper. Cocok banget dengan udara dingin dan perut keroncongan itu. Haha.

Caranya gampang aja sih. Setelah pisang dikupas dan dipotong memanjang, langsung celup ke dalam adonan tepung terigu yang sudah dicampur garam gula. Gulirkan di atas tepung roti dan goreng! Setelah warnanya kuning keemasan, angkat dan tata di atas piring saji. Beri topping susu coklat dan parutan keju. Jadi deh!

Selama dua hari si kunyuk-kunyuk ngonsumsi itu olahan. Nggak ada bosen-bosennya. Syukurlah. Daripada jajan sembarangan, haha. Stok buahnya juga masih banyak. Tuh pisangnya masi sisa di karung dan mangganya tinggal yang gadung di kardus.

Yoilah, that's the story today. Next time it'll be more fun stories. Ja ne! Oyasumi!
 

Rabu, 09 Desember 2015

Mencari Jejak Masa Lalu

Bil haqiqah, ini postingan harusnya dipublish semester kemaren. Tapi kemudian menjadi tumpukan bagian dari tumpukan outline. Huhu.. 

 A DAY WITH CONGRATULATIONS!

Begitu judul yang tertera, namun aku lupa akan menerbitakan apa. Lupa isi yang seharusnya aku tulis. Wheuw, sebuah ide yang hangus. Oh, no!

Apa? Apa?

Aku bersikeras untuk menemukan apa yang akan kutulis di masa lalu. Begitu tuh. Makanya jika kau punya segudang ide di kepala cepatlah dieksekusi. Arrgh, tapi aku tak ingat. Tolong T.T

Itu judul berkumpul dengan Kampus Rawa. Akhir dari sore yang kehujanan. Itu saja yang kuingat. Pulang dari kampus terjebak banjir. Lalu apa? Kepalaku makin pening.

Tunggu dulu, matte yo!

Draft tulisan itu tertanggal 17 April 2015. Nama file-nya juga begitu. Semester kemaren.  Sedangkan foto-foto kampus rawa sehari sebelumnya. 16 April 2015. Ada harapan!

That's the date!

Aku pun mulai mencari jejaknya. Menelusuri file-file kuliah. Apa yang sebenarnya terjadi.

Mari berhitung. April, bulan keempat dan ketiga di semester enam. Itu dia! Awal semester lima dimulai bulan Februari. Jadi tiga bulan setelah adalah ujian pertengahan semester. UTS! Maka meluncurlah aku ke sana. Tumpukan file semester lama.

Untuk pengarsipan file, aku tergolong rapi menempatkannya. Semester satu, dua, tiga.... Nah itu dia folder semester lima! Lalu pandanganku terarah menuju jadwal UTS.

Yokatta, ternyata aku masih menyimpannya. So, what happen in the middle test?

My pinky class.

Taraa! Ternyata tanggal 16 April adalah ujian SOL; Sociology of Literature. Pelajaran yang aku dan temen-temen suka, karena kelasnya sangat meriah dan penuh dengan diskusi. Dosennya juga kece. Jadilah itu a day with congratulation.

Selain karena hari itu adalah ujian SOL yang menyenangkan, hari itu juga hari terakhir ujian. Yeay!!! Seneng kan pastinya. Seluruh rintangan telah terlewati. Huft!

Dan akhirnya misteri terpecahkan! Yeayyy! Dan postingan ini tidak terbuang. Yuhuuu. Happy Blogging!

Kampus Rawa Laskar Pelangi

Hi, hi! It almost middle December! Yuhuu, it’s rainy season yang penuh dengan bunga-bunga dan rinai hujan penyenang jiwa. Karena lagi have a good mood, kupustan untuk blogging saja. Kali ini aku akan mempublikasikan ide dari masa lalu.


Kejadian dari foto di musim penghujan lalu. Tepatnya semester enam. Cekidot!


Hari itu sangat menyenangkan. Sore yang membuat hati membuncah. Karena apa? Karena, sore menandakan kegiatan ngampus kita berakhir dan saatnya pulang ke kos. Yeay! Siapa yang tak senang coba.


Hari itu adalah hari kamis tertanggal 16 April 2015. Hari terpaaadat di dunia. Biasanya hari itu full kuliah dari pagi hingga sore. Fiuh, penatnya. Di tengah hati yang gembira. Tiba-tiba hujan deras datang melanda. Haah?

Maka jadilah kita masih waiting beberapa saat di RKB-E, gedung yang biasa kita tempati untuk kegiatan perkuliahan. After few minutes, kita pun go to adventure. Jalanan menggenang. Seperti di rawa-rawa. Oh tidaak.


Kampus kami memang mewah, mepet sawah. Haha. Jadi ceritanya, dulu daerah sini adalah rawa-rawa, namun kemudian kini dipenuhi bangunan. Rawa-rawa itu ditimbun dan dibangun. Jadilah kalau hujan seperti ini banjir.


Sore itu kami pulang bertiga. Sekarang ‘kita’ jadi ‘kami’ :D Aku, Lilis dan Teh Insan. Kos kita berbeda jiah balik pakai ‘kita’ lagi, haha.Lilis daerah Cendana dua tapi masih searah dengan kami dari kampus.

Dan perjalanan pun dimulai. Kami lompat-lompat seperti kodok. Menghindari jalanan yang penuh air. Berhenti dan menjauh ketika ada kendaraan lewat. Takut kecipratan airrr.. >_<


Pertama, Teh Insan yang kena air dan melanjutkan perjalanan dengan merelakan si kaki mencelup ke dalam genangan yang kian meninggi. Apalagi ketika jalanan makin ramai dengan berbagai macam kendaraan. Belum ada trotoar,jadi kita memang berjalan di pinggiran aspal. Sementara aku dan Liilis masih bertahan dengan gaya lompat-lompat. Teh Insan sudah berjalan santai meski sepatu basah terendam.


Memasuki Gang Cendana, Lilis kecebur juga. Dan aku masih lompat-lompat di atas bebatuan. Jalanan di situ lumayan banjirnya. Airnya deras. Kami pun berjalan, berlidung di bawah pepohona. Gaya jalan kami sekarang menunduk-nunduk di bawah reranting seperti maling. Tak apalah daripada baju basah.



Menuju kos Lilis di kompleks Cendana dua. Huaa. Tapi liat itu banyak jalan yang terpendam. Berkat rawa-rawa yang meluap. Huhu, tak ada jalan lagi supaya kaki aman tak basah. Supaya sepatuku bebas aku pakai keesokan harinya.


Whoaa banjiiir
“Lewat sini saja,” sekarang Lilis yang menjadi pemimpin jalan. Rupanya ia mengetahui jembatan dari batu-batu besar yang disusun. Katanya tadi pagi pun ia lewat situ. Jadi aman. Aku sih paginya diantar dengan motor jadi tak tahu aku ada trek itu, haha. Jembatan yang ternyata dibuat oleh warga untuk membantu kita. Arigatou, semoga menambah saldo pahala.


Kami pun mendekat. Aku berteriak kegirangan dalam hati. Akhirnya sepatuku akan selamat. Teh Insan menyusul terlebih dahulu. Ye, ye!

Hei!


Ternyata oh ternyata! Itu jembatan terendam air juga. Oh tidaak. Hiks, hiks!
Tenggelamnya Jembatan


“Ayo, nggak ada jalan lagi nih,” teriak Lilis yang sudah sampai di seberang. Huhu. Akhirnya kucelup juga T.T

Rokku pun basah. Hihi.

Merelakan Kaki
 My trip my adventure!” seruku dan Lilis tetap kegirangan. Sedangkan Teh Insan geleng-geleng melihat tingkah kita. Jadilah sore itu basah-basahan di jalan. Seru ternyata. Dan lihat, deh ada pelangi! Whoaa, keren banget kan? Setelah kita adventure melewati trek penuh air dan ternyata Allah menghendaki kita memandang lukisan yang indah di lihat. Whoaa, subhanallah. Itu kado terindah. Thank’s, God!


Lihat!
Kurang terang sih di foto, tapi aslinya keren sekali. Lain kali harus pakai DSLR nih, haha. 

Adventure kali itu sungguh membuat rindu. Miss you guys..

Amaryllis shofia

Dari dulu aku ingin sekali menamai suatu bunga. Nama ilmiahnya. Keinginan itu aku pendam sejak SMP. Ya, aku memang suka sekali biologi. Dulu, karena kenyataannya aku sekarang mahasiswa sastra. Sastra Inggris, tepatnya.

Awal musim hujan kemarin, netizen sempat dihebohkan dengan rusaknya kebun bunga milik seorang warga. Bunga amaryllis namanya. Bunga yang hanya mekar sepekar di awal musim hujan. Ada yang menyebutnya lili hujan.

Lili hujan yang tumbuh di sana berwarna oranye terang. Menurut si empunya kebun, bibit bunganya didapat dari warga sekitar. Para petani menganggap bunga ini hanya hama, jadi dibuang. Dari situlah ia tertarik dan membelinya. Kini kebunnya sudah mencapai sekian hektar.

Di sekitar rumah juga ada ternyata. Tumbuh di pinggir jalan-jalan yang lembab terkena hujan. Pagi-pagi ketika ummi datang dari warung dibawanya seikat yang kemudian jadi pajangan di rumah. Tapi warnanya putih.

Segera saja aku gugling untuk memastikan nama bunga tersebeut. Bunga-bunga yang sama-sama berbunga di musim hujan. Awalnya aku mencari dengan keyword 'Amaryllis types,' 'aneka amaryllis,' dan lain-lain. Tapi tidak juga menemukan dengan yang serupa di foto. Dan kebanyakan bunga-bunga yang tumbuh di luar negeri sana.

Lalu aku berinisiatif mencarinya dengan gambar yang kuambil, tapi hasilnya nihil. Pertama, ia dimirip-miripkan dengan bunga krisan. Kedua, disamakan dengan bunga kramat jawa yang mekar tengah malam. Wijaya kusuma dan yang terakhir semakin aneh.

Pencarianku

Setelah gugling sana-sini. Mulai dari yang wikipedia sampai taman bunga. Mulai dari yang berbahasa Indonesia sampai yang dunia. Belum nemu-nemu juga. Melihat dari bentuk dan cara berbunga aku yakin ini genusnya amaryllis, tapi belum nemu spesies. Whoaa..

Akhirnya aku menamakannya, Amaryllis shofia. Ya, siapa tahu memang belum diberi nama. Haha. Nah, nah..


Kembang di Awal Musim


Amaryllis shofia
Lili Hujan
Seikat Bunga

Holla Desember!

Hello world!
Grow up
 
Budding
Say Hello
Closer




 
Flunk
Ending     
Bunga desember.
Begitu kami menyebutnya.
Tumbuh di pekarangan.
Di halaman depan.
Di bawah dinding yang memucat.
Memerah ia dalam sepekan di musim penghujan.
Lalu ronanya memuda rbertempur dengan waktu.
Hanya dedaunan yang melebat seiring musim.
Bila kemarau menjenguk habislah ia ditelan.
Meratakan diri dengan bumi.
Hanya bila rintiknya datang, kuncupnya menyembul semi.
Si Merah hadir kembali.
Haemanthus multiflorus
Holla!