Kamis, 11 September 2014

SEBUAH TENDA DI ANTARA JEMURAN

Nah sekarang aku sudah selesai mencuci baju. Bersantai di bawah tendaku. Hmm, melihat anak-anak menonton tivi rasanya gimana gitu. Dalam kausu ini adik-adikku. Adik-adikku suka sekali menonton TV.

Hanger-hanger yang tergantung lesu

Ceritanya tadi aku disuruh umi untuk menjemur pakaian yang baru dicuci beliau. Sebagai anak yang patuh tentu saja aku bangkit dari dudukku. Semua orang juga sudah tahu bukan. Telapak kaki ada di bawah surga. Ups! Kebalik. Maksudnya surga ad di bawah te;apak kaki ibu. Aku menyebut ibu dengan umi. Umi berasal dari bahasa arab yang artinya ibu. Untuk itu aku bersegera untuk menjemur mereka. Pakaian basah yang sudah melolong minta dijemur. Yosh, hajimemashouka!

Mengambil hanger dan bersiap. Tara! Aku menemukan ide briliant tatkala akan menjemur seprei berwarna orange. Do uou know what? Oshiete kudasai, kata rumput yang bergoyang.
Jadi begini. Aku akan membuat tenda dari seprei itu. Seprei? Tenda? Maksudnya?

Iya membuat tenda dari seprei di antara sampaian yang berjejer. Nah, tahu kan sebenarnya anak-anak suka sekali bermain. Bukan duduk anteng di depan TV. Jadi aku akan membuat seprei untuk mengalihkan perhatian mereka. Treng-teng! Karena taraa terlalu mainstream :D

Summer time!
Gimana, gimana? Oke punya tak :-B

Langsung saja adik-adikku berlarian. Mereka malah membantuku mendirikan tenda. Menyiapkan alas dan menyapunya dengan bersih. Hoho, dedek-dedek imut nan lucu malah membawa kaca mata.

Cute-Ball..
“Kaya, liburan di pantai aja ya, Mbak,”

Ada-ada saja. Tuh kan mereka pada senang. Si Mbak juga mengambil alas lainnya. Yuhu! Semuanya pada ramai-ramai main tenda-tendaan. Lalu diriku yang asyik mengambil gambar mereka.

Cekrek,  cekrek!

Ups! Masih ada cuciaN yang tersisa. Lanjutkan...

*ini ceritanya flashback ya...ditulis di bawah tenda dan juga para pakaian yang sedang berjuang mengeringkan diri :D

JEJAK LANGKAH-NYA PRAMOEDYA

BENARKAH  BAHASA BELANDA ADALAH BAHASA PENGETAHUAN YANG DIAKUI DUNIA?

Semua pasti sudah mahfum tentang English atau bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Anak Indonesia bahkan diajarkan bahasa internasional sejak bersekolalh di tingkat dasar. Bahkan kini dalam pendidikan anak usia hal itu juga diajarkan.

Lalu kenapa Belanda tidak? Bahasa dari negeri Kincir Angin tersebut 'kan adalah bahasa pengetahuan, jadi kenapa tidak diajarkan? Siapa yang bilang? Jejak  Langkah! Novel teralogi karya Pramoedya Ananta Toer.

Buku sangat menarik perhatian saya saat memasuki perpustakaan kampus di minggu pertama aktif kuliah. Seperti ada wajah baru. Pula, buku ini buku tertebal di deretan buku sastra. Sebuah novel roman karya orang terkenal.

MY FIRST ROMAN
Jejak Langkah nove tetralogi Pramoedya
Roman. Apa sih  roman. Yang pasti ini berbeda dengan ‘romance’. Karena kalau yang itu artinya tentang percintaan. Sambil menunggu dosen datang aku dan teman-teman mahasiswa lainnya berusaha menafsirkan arti kata tersebut.

Seorang temanku mengartikan roman itu adalah karya sastra yang rumit. Sulit. Tak gampang bahasanya. Tak mengalir.  Tak semudah membaca karya sasta yang terbit di jaman sekarang. Dan menurutku roman adalah karya sastra jaman dulu. Klasik. It’s kind of canon literature.

Let’s check on wikipedia.

 “Roman adalah sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau ganjaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Bisa juga roman artinya adalah ‘kisah percintaan’


Ngomong-ngomong sola wikipedia, jadi inget kemarin. Seorang mahasiswa yang mempermasalahkan web tersebut. Let me tell you later.

Keren! Di dalam novel tersebut Minke, si tokoh utama dapat berbicara dalam berbagai bahasa. Bahasa asing, melayu dan beberapa bahasa daerah. Shugoi, na!

Coba deh baca. Jejak Langkah, novel setebal 700 halaman lebih.
Fuih! *ngelap dahi :p

Top markotop. Apalagi 4 buku yang dijilid jadi satu ini sudah pernah diterjemahkan ke dalan 40 bahasa lebih. So is my work soon, Amiin!
 


QUOTED: PRINCESS CHARM SCHOOL


I wont let you down!



Let me say, I believe every one of you has a princess potential.

Work hard, stay dedicated and you will achieve it.



Proud of caring.

Did you know what thing makes you a princess? Not a crown, but character.

Confident without character it’s danger.

Keep in your mind that we will apart again, someday.

It is an owner to be your princess. Princess Sophia!



There is a princess in everyone.

Because I’m perfectly comfortable with my self.

Senin, 08 September 2014

AWAS ADA PAPARAZZI!!


Paparazzi, apa sih artinya. Papanya Razzi, ya? Yang jadi juri sebuah acara da’i cilik Ramadhan kemarin? Itu sih Amu Ramzi :D


Paparazzi atau dalam bahasa Inggrisnya Paparazzo. Oh, jadi papanya si Razzo *plak. Depend on WordWeb dictonary, paparazzo is means a freelance photographer who pursues celebrity to take candid photographs of them to sell to newspapers or magazines. Tukang foto yang suka ngambil gambar diam-diam. Tanpa sepengetahuan yang difoto. Terus, biasanya suka dijual ke koran atau majalah. Kalau kata dosen Journalism-ku, lumayan kipas-kipas uang :p


Tapi kalau gambarnya tak senonoh atau malah mencemarkan nama baiknya, bisa-bisa dilaporin ke KOMNAS HAM, tuh. Walakin ghairu sawa’ ma’ie. *diplototin guru Nahwu*kabur..


Gue kan malah bikin kalian berasa artis.biar dikenal sama teman-teman blogger gue *peace ^.^V

Nah, gue demen nih ame yang beginian. Abis lucu sih *wink


Foto-foto ini aku ambil pas ada jeda kuliah sebentar. Break-time, biasanya digunain macem-macem. 

Cie yang lagi asyik berselfie :p


Selfie! Poto-poto diri sendiri. Liat tuh dua sekawan yang asyik ber-selfie ria. Yak, satu-dua-tiga, cekrek! Awas, hati-hati. Kebanyankan selfie bisa mabok lho. Emang dikata minuman keras :p
 
Hayuk! Anak Sastra kudu rajin baca buku, yak! (y)


Jangan ngaku anak sastra kalau di dalam tasnya nggak ada buku. Like one of my friends, yang lagi baca puisinya Tere Liye. Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta. #eaa
 
Beacause book is the window of the world! Yossha..


Ada yang bilang, kalau suka baca masuk Sastra saja! Kata siapa? Buktinya temen gue yang anak Linguistik ini suka baca juga kok. Kata Krisan, nggak  ada ruginya kita baca buku. We will learn something from reading. Baca terus ya bukunya. Jangan lupa, sampai tamat!


Ehem! Gimana? Temen-temen gue pada rajin, kan? Yang selfie mungkin lagi ikutan lomba selfie. Yang lagi baca buku, bisa jadi ikutan IRC. Lumayan! Ada banyak orang yang sukses dari hobi.

Thank’s me! Karena kalian sudah saya jadikan artis di sini *kipas-kipas lagi. Indonesia lagi musim kemarau, euy!


Awas ada papanya Razziii...

Eh?

BACA BUKU INI JADI PENGEN PINDAH JURUSAN..

Bener, deh. Pas tamat baca buku ini langsung terbersit untuk pindah ke jurusan Ilmu komunikasi saja! Apa pasal? Si Alif bikin gue ngiler pengen jadi Jurnalis...

Kalau di Negeri 5 Menara Alif  memburu berita di ruang lingkup pondok saja, maka sekarang Alif sudah mengepakkan sayapnya lebih lebar. Bekerja di sebuah penerbitan di kota besar.

Banyak ilmu tentang  jurnalism di dalam novel Rantau 1 Muara. Ada kode etik yang Alif ajarkan pada saya. Tentang bagaimana seorang jurnalis sesebenarnya. Hati-hati dengan uang tip yang digunakan apalagi ketika meliput berita dengan tersangka korupsi. Sogokan oh sogokan!

“La’natullah! ‘Ala ar-rasyi wa al-murtasyi! Allah melaknat orang yang menyogok dan disogok ”

Rantau 1 Muara
Liat gambar covernya saja membuat cita-citaku kuliah di luar negeri kembali menyala. Rantau 1Muara, buku ketiga setelah Ranah 3 Warna dan Negeri 5 Menara. Semua angkanya dalam bilangan ganjil. Kesukaan Allah dan Rasul, tuh.

Masih tentang perantauan Alif. Merantau menjadi anak pondok, kuliah di kota besar, dan mengejar cita-cita hingga luar negeri sana.

Jika buku pertama menceritakan kisah perantauannya di lingkungan santri, kedua sebuah pertukaran pelajar di luar negeri, maka ketiga tentang Alif ini juga bercerita tentang kehidupan rantau Alif ketika kuliah.Rantaunyapun sampai hingga ia menemukan sang bidadari. Sama-sama jurnalis pula. Hmm, pengen ya?

Petualangan Alif di luar negeri lagi-lagi diceritakan dalam novel berwarna tosca ini. Diceritakan pula tentang kejadi sebelas semtember silam. Kejadian yang menghancurkan gedung besar di Amerika itu, ternyata si Alif ada di sana kawan. Melintas garis dari polisi.

Ya iyalah, dia kan jurnalis. Jurnalis bisa ke mana saja. Ke istana negara, melewati para penjaga berotot kawat dan bertulang besi. *gatot kaca, kali ya :D

Nah, itu dia yang bikin aku pengen banget jadi jurnalis. Bisa ke mana aja. Di Ilmu Komunikasi kan diajari tuh gimana caranya ngeburu berita. Oh, I hope, I hope! *seperti teriakan Emily  di film dedek Barbie.

Then I realize it this semester. I take Journalism for one of my course. Jadi tak menyesallah saya jadi anak sastra *wink