Senin, 08 September 2014

AWAS ADA PAPARAZZI!!


Paparazzi, apa sih artinya. Papanya Razzi, ya? Yang jadi juri sebuah acara da’i cilik Ramadhan kemarin? Itu sih Amu Ramzi :D


Paparazzi atau dalam bahasa Inggrisnya Paparazzo. Oh, jadi papanya si Razzo *plak. Depend on WordWeb dictonary, paparazzo is means a freelance photographer who pursues celebrity to take candid photographs of them to sell to newspapers or magazines. Tukang foto yang suka ngambil gambar diam-diam. Tanpa sepengetahuan yang difoto. Terus, biasanya suka dijual ke koran atau majalah. Kalau kata dosen Journalism-ku, lumayan kipas-kipas uang :p


Tapi kalau gambarnya tak senonoh atau malah mencemarkan nama baiknya, bisa-bisa dilaporin ke KOMNAS HAM, tuh. Walakin ghairu sawa’ ma’ie. *diplototin guru Nahwu*kabur..


Gue kan malah bikin kalian berasa artis.biar dikenal sama teman-teman blogger gue *peace ^.^V

Nah, gue demen nih ame yang beginian. Abis lucu sih *wink


Foto-foto ini aku ambil pas ada jeda kuliah sebentar. Break-time, biasanya digunain macem-macem. 

Cie yang lagi asyik berselfie :p


Selfie! Poto-poto diri sendiri. Liat tuh dua sekawan yang asyik ber-selfie ria. Yak, satu-dua-tiga, cekrek! Awas, hati-hati. Kebanyankan selfie bisa mabok lho. Emang dikata minuman keras :p
 
Hayuk! Anak Sastra kudu rajin baca buku, yak! (y)


Jangan ngaku anak sastra kalau di dalam tasnya nggak ada buku. Like one of my friends, yang lagi baca puisinya Tere Liye. Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta. #eaa
 
Beacause book is the window of the world! Yossha..


Ada yang bilang, kalau suka baca masuk Sastra saja! Kata siapa? Buktinya temen gue yang anak Linguistik ini suka baca juga kok. Kata Krisan, nggak  ada ruginya kita baca buku. We will learn something from reading. Baca terus ya bukunya. Jangan lupa, sampai tamat!


Ehem! Gimana? Temen-temen gue pada rajin, kan? Yang selfie mungkin lagi ikutan lomba selfie. Yang lagi baca buku, bisa jadi ikutan IRC. Lumayan! Ada banyak orang yang sukses dari hobi.

Thank’s me! Karena kalian sudah saya jadikan artis di sini *kipas-kipas lagi. Indonesia lagi musim kemarau, euy!


Awas ada papanya Razziii...

Eh?

BACA BUKU INI JADI PENGEN PINDAH JURUSAN..

Bener, deh. Pas tamat baca buku ini langsung terbersit untuk pindah ke jurusan Ilmu komunikasi saja! Apa pasal? Si Alif bikin gue ngiler pengen jadi Jurnalis...

Kalau di Negeri 5 Menara Alif  memburu berita di ruang lingkup pondok saja, maka sekarang Alif sudah mengepakkan sayapnya lebih lebar. Bekerja di sebuah penerbitan di kota besar.

Banyak ilmu tentang  jurnalism di dalam novel Rantau 1 Muara. Ada kode etik yang Alif ajarkan pada saya. Tentang bagaimana seorang jurnalis sesebenarnya. Hati-hati dengan uang tip yang digunakan apalagi ketika meliput berita dengan tersangka korupsi. Sogokan oh sogokan!

“La’natullah! ‘Ala ar-rasyi wa al-murtasyi! Allah melaknat orang yang menyogok dan disogok ”

Rantau 1 Muara
Liat gambar covernya saja membuat cita-citaku kuliah di luar negeri kembali menyala. Rantau 1Muara, buku ketiga setelah Ranah 3 Warna dan Negeri 5 Menara. Semua angkanya dalam bilangan ganjil. Kesukaan Allah dan Rasul, tuh.

Masih tentang perantauan Alif. Merantau menjadi anak pondok, kuliah di kota besar, dan mengejar cita-cita hingga luar negeri sana.

Jika buku pertama menceritakan kisah perantauannya di lingkungan santri, kedua sebuah pertukaran pelajar di luar negeri, maka ketiga tentang Alif ini juga bercerita tentang kehidupan rantau Alif ketika kuliah.Rantaunyapun sampai hingga ia menemukan sang bidadari. Sama-sama jurnalis pula. Hmm, pengen ya?

Petualangan Alif di luar negeri lagi-lagi diceritakan dalam novel berwarna tosca ini. Diceritakan pula tentang kejadi sebelas semtember silam. Kejadian yang menghancurkan gedung besar di Amerika itu, ternyata si Alif ada di sana kawan. Melintas garis dari polisi.

Ya iyalah, dia kan jurnalis. Jurnalis bisa ke mana saja. Ke istana negara, melewati para penjaga berotot kawat dan bertulang besi. *gatot kaca, kali ya :D

Nah, itu dia yang bikin aku pengen banget jadi jurnalis. Bisa ke mana aja. Di Ilmu Komunikasi kan diajari tuh gimana caranya ngeburu berita. Oh, I hope, I hope! *seperti teriakan Emily  di film dedek Barbie.

Then I realize it this semester. I take Journalism for one of my course. Jadi tak menyesallah saya jadi anak sastra *wink

EROPA, AKU DATANG!



Hamparan salju memutih, bunga-bunga musim semi yang berwarna-warni, dan jutaan daun pohon ek serta maple yang berjatuhan hangat. Negara empat musim  selalu menjadi impian orang-orang tropis yang hanya memiliki dua musim. Eropa! Tentu saja.


Benua yang terletak di lintang di sekian derajat. Sebut saja negara-negara yang bikin kamu ngiler di sana. Paris, negeri paling romantis. Belgia dengan coklatnya yang selalu terlihat manis. Siapa sih yang nggak pengen ke sana.


Dan akhirnya kesampaian. Itu bermula saat Ramadhan kemarin. Saat diundang oleh ketua FLP Pamekasan untuk datang berbuka bersama para penulis dari Pamekasan di Rumah Cahaya. Omong-omong soal Rumah Cahaya FLP Pamekasan, saat aku datang di sana tengah duduk anak-anak yang sedang serius belajar menulis. Salut deh buat FLP!


Tau kan yang namanya Rumah Cahaya pasti banyak tumpukan buku di sana. Yup! Apalagi, kalau bukan hunting buku. Ada banyak buku yang menarik, tapi yang pasti aku harus mengambil yang paling asyik. Lalu buku itu seperti bersinar, memangil-manggil diriku, tsah... B-) FYI, bukunya memang berwarna kuning lho.

JALAN-JALAN HEMAT KE EROPA

Jalan-Jalan Hemat ke Eropa. Buku terbitan Gramedia dengan penulis bernama Yudhinia Venkanteswari. Hatiku lompat-lompat kegirangan. Eh, nggak mungkin kan aku lompat beneran. Secara, banyak para undangan :D


Pas aku pegang buku ini banyak yang melirik aku. Pastinya karena buku ini keren banget-nget-nget! Mau dong ke Eropa... Tenang, antri ya kawan-kawan..


Buku ini memang keren banget-nget-nget! Buku ini adalah langkah awal sebelum kita pergi ke Eropa. Juga bagi kamu yang pengen jalan-jalan ala backpacker. 


Ririe, begitu penulisnya biasa disapa memulai perjalanannya di benua Eropa dari negara yang pernah menjajah kita. Belanda! Bahasa efek  masih Agustusan nih B-) Lalu Paris, kemudian... ah! Baca sendiri saja ya, pasti lebih seru!


Lengkap banget, kalau boleh aku bilang. Mulai bagaimana kamu mengurus paspor dan visa lalu bagaimana mendapat penginapan serta makanan khas yang halal. Ya, begitu! Banyak juga referensi yang bisa kamu pilih terkait harga akodomodasi, makanan hingga pulsa! Secara, di luar negeri tarifnya tentu berbeda. Selain itu, ada juga kamus kecil yang bisa membantu kamu menjelajah berbagai kota di belahan Eropa. Karena orang Eropa tak semuanya pintar berbahasa Inggris bukan? Hitung-hitung buat menambah kosa kata kita.


Hampir setiap halaman disertai gambar. Jadi pas banget buat visualisasi kamu. Biar kamu nggak sekedar baca, tapi ikutan jalan-jalan juga.


Nah, itu ceritanya gimana bisa aku sampe ke Eropa. Melalui buku. Melalui visualisasi dan imajinasi. Serta tentu saja mimpi! Oke, ini awalnya. Next, aku akan benar-benar ada di sana. Doakan ya..


Mari terus berkarya dan bermimpi!

Regard,



Sheila Evelina Putri

Jumat, 05 September 2014

AYO KE JEPANG LAGI!

Semester baru, semangat baru! Jangan sampai baruy*, ya! Karena itu artinya basi. Jadi keinget komentar seorang dosen. Brainwashing. Otak kita pada dicuci. Pas di kelas, giliran si ibu dosen mengajukan pertanyaan, disuruh jawab, anak-anaknya pada diem. Lupa. Kan katanya Tasya, kalau liburan simpanlah tas dan bukumu. Modus, ih! :D

Aku mengawali semester ini dengan ikutan presentasi organisasi kepada para mahasiswa baru. Bertemu ddengan teman-teman baru. Alias teman-teman lama yang baru ketemu. Nah, di pertemuan itu kita saling tukar-tukar buku. Ada dua buku tentang Jepang. Satunya buku kisah seorang mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studinya ke Jepang. Wuih, pengen ke Jepang! Satunya lagi tentang romance yang bersetting Jepang.

Tentunya aku lebih tertarik membaca buku yang pertama. Buktinya setelah membaca bukunya semakin membuat semangatku lebih membara. Semangat belajar lebih giat. Yossha! Saya tak salah memilih buku.

Pojok Gaijin: Cerita Mahasiswa di Negeri Matahari Terbit
Kapan ya ke sana? Someday, of course..

Gaijin, itu artinya orang asing. Jadi buku ini menggambarkan keseluruhan tentang Jepang dengan sudut pandang orang asing. Tepatnya dengan sudut pandang orang Indone][sia yang sedang mendapatkan beasiswa. Rizal, nama penulis buku ini. Si tokoh dan penulis buku. Oia, ini alamat blognya jika ingin berinteraksi langsung. www.rizaldp.wordpress.

Diceritakan di sana, bagaimana kita menjadi minoritas. Ya, tentu saja. Karena kita sebagai orang asing. Dengan kultur budaya yang berbeda. Jika di Indonesia, seringnya ketika memasuki supermarket ataupun perpustakaan, maka tas dan barang bawaan mesti dititipkan. Tapi tidak jika anda berada di Jepang.

Kebanyakan sih yang diceritakan buku ini tentang perbedaan Indonesia sama Jepang. Misalnya penulis bercerita jika di Jepang suka antri, di Indonesia sukanya menerobos antrian. Orang Jepang memfasilitasi fasilitas umum untuk kaum difabel, di Indonesia hampir tak pernah ditemukan. Eh kebanyakan sih Jepang dapet banyak baiknya. Eh, tapi kita sebagai orang Indonesia harus tetap bangga ya. Secara! Indonesia lebih kaya. Terutama jika berbicara tentang sumber daya alam. Hmm, Jepang pasti kalah..

Selain itu penulis juga tentang benturan dan gegar budaya kerap kali terjadi. Begitu yang penulis alami dan ceritakan dalam buku ini. Ada juga beberapa solusi jika mengalami hal tersebut. Culuture shock dan culture bump! Jadi aku juga belajar CCU. Cross Cultural Understanding. Mata kuliah yang aku ambil semester ini.
Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekalian jalan-jalan ke Jepang, sekalian belajar CCU. Materi minggu ini juga mengenai kultur budaya Jepang. Yah, klop deh!

Hmm, aku kekurangan cerita. Cerita kurang. Tiba-tiba habis. Tiba-tiba sudah satu buku kubaca. Ayo! Aku pengen ke Jepang lagi!

*baruy adalah bahasa Madura yang artinya basi. Biasanya yang dikatakan baruy itu nasi :p