Sabtu, 22 Oktober 2016

Bukan Bebukitan Teletubbies [Exploring Jaddih in MBT]


Mendatangi Kenangan

Kenangan, bisa membuat berbagai macam perasaan baru. Ia kadang datang membawa kisah haru bahkan hingga hari ini. Kukisahkan padamu bagaimana ia terjadi dan datang dari masa lalu. Sebuah dongeng yang akan berlumut jika tak segera kuceritakan padamu. Perjalanan yang terjadi mundur dari sekarang seminggu.

Bbrrr, dingin sedikit menghadang kami. Embun masih masih menggelayut di permukaan hijau dedaunan. Sedang kabut masih terjaga di jalanan. Belum jam enam dan mentari masih malu-malu. Kurapatkan jaket sementara motor terus melaju membelah pagi.


Bergerak dari titik Desa Telang, tempatku bertahan selama empat tahun. Ah, kurindu kehidupan baru lainnya. Bergerak ke utara, bebelok di Pasar Socah. Berkendara lurus hingga mendapati persawahan dan rumah warga yang halamannya rimbun ditumbuhi hutan salak. Sedangkan pagi masih sepi di daerah Kebun Celleb. It took half hour for a journey.



Tujuan utamaku pagi itu menuju lokasi MBT [Muslim Basic Training], kegiatan diklat anggota baru LDK MKMI berlangsung di sana. Bersama Mbak Neneng aku ditemani. Sesampainya di PP. Baiturrahman, sambutan hangat para panitia menjadi jamuan kami. Di sanalah kemudian cerita ini bermula.


Mulai Mendaki Waktu

Para peserta sedang berolahraga dan diberi pengarahan oleh panitia saat kami bergerak menuju lokasi outbond. Ada empat pos yang harus dilalui, jadi sepertinya masa menahan mereka. Aku tak tahu apa yang disampaikan panitia lainnya di sana.

Bersama para penjaga pos aku dan Mbak Neneng berangkat. Tak tahu pasti apa yang akan terjadi. Namun Dek Uul mengajakku ikut serta berjaga di pos empat. Dengan kaki kami pergi dan mulai berjalan mendaki. Melewati jalanan yang penuh dengan pepohonan rindang yang melindungi.

Mari Pak..


Bingung awalnya mau bagaimana menyapa warga. Meski sama-sama Madura tradisinya pasti tak sama tiap daerah. Di Pamekasan misalnya, biasanya jika melewati rumah atau kerumunan warga bilangnya, glenuun.. atau nyaraa. Di Sumenep, di rumah nenek biasanya menyapanya dengan kata, ngapora..


Namun akhirnya kata yang terlontar, “mari Pak..”Aku dan Dek Uul yang sama-sama orang Pamekasan akhirnya tak bisa menahan tawa. Haha..


Batu besar menuju Jaddih seperti penjaga gerbang yang menyambut kami tiba. Juga nyanyian burung yang bercericit riang. Seakan berkata, welcome to Jaddih Hill, dakwah doers..

Bersama Para Sahabat


Bukit Ukhuwah
Sambil menunggu peserta diklat tiba di pos empat kami melakukan beragam aksi. Ceruk dalam bukit Jaddih yang serupa gua menjadi lokasi syuting kami. Ya, kami berlagak laiknya bermain drama di depan kamera. One, two, three, say, whoaa!

Banyak gua sebenarnya di lokasi wisata bukit Jaddih ini. Ceruk yang terjadi karena warga masih melakukan penambangan kapur di lokasi. Ya, meski telah dibuka sebagai daerah wisata, masih saja banyak para penambang yang melakukan aksi tambang-menambangnya.


Batu-batu kapur yang diangkut, dipanaskan di atas tungku pembakaran yang besar. Dan kemudian akan dibuat untuk bahan bangunan. Memang benar, di Madura, tak banyak orang yang mendirikan rumah menggunakan batu bata merah. Kebanyakan fondasinya menggunakan batu kapur putih seperti di Jaddih.



Seputih Bersih
Tak hanya bukit Jaddih, ada banyak lokasi penambangan di Madura. Letaknya hampir merata di seluruh kabupaten. Namun sepertinya yang baru diblow up dan benar-benar digarap dengan serius sebagai daerah wisata hanya Jaddih.

Di Pamekasan ada juga. Nah itu dia. Awalnya aku hampir menyerah mendatangi bukit Jaddih. Karena apa? Karena isu yang tidak enak tentu saja. Makanya aku berencana mendatangi bukit kapur yang di Pamekasan saja. Belum sampai ke sana, Jaddih lebih dulu mengundangku.


Alhamdulillah, waktu ke Jaddih kemarin tak terjadi hal-hal aneh seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Lagipula, ratusan pengunjung membanjiri lokasi wisata saat aku ke sana. Hmm, semoga cuma gosip saja. Dan jika itu nyata, semoga tak terjadi lagi di masa mendatang.


Menggali Potensi
Terkait penambangan batu kapur di Bukit Jaddih, ada sebuah opini yang mengatakan, truk-truk pengangkut bebataan dan alat berat yang masih di sana dikarenakan membentuk kenangan. Membuat struktur baru wisata bukit jaddih. Bentuk lokasi baru yang akan meramaikan wahana wisata.

Selain bermain drama, sambil menunggu peserta kami juga memiliki outbound sendiri. Tepat di seberang deretan gua-gua. Di pinggir danau hijau, kami berlomba melemparkan batu. Batu siapa yang paling jauh. Ah, aku tak pernah menang. Meski mecoba dengan batu paling besar, maupun terkecil. Jadi aku jari juru kamera saja.

Tetap saja aksi mereka nantinya akan menjadi kenangan..


Melempar Kenangan

Ngomong-ngomong tentang peserta, aku dan Mbak Neneng mendapat amanah menjaga pos bayangan. Yeay, akhirnya, dapat tugas! Sebelumnya di pos awal, peserta mendapatkan tugas untuk menjaga amanah yang hanya diberikan padaku maupun  Mbak Neneng.

Masing-masing kami mendapat dua titipan. Tapi sepertinya ada yang kelupaan atau barangnya hilang di jalan. Ya, yang mereka bawa itu sebuah benda. Buah berwarna jingga terang berwarna berbentuk seperti labu runcing bertekstur kasar seperti buah pare. Jadi kami hanya dapat satu.

Menuju Puncak



Mengejar Mimpi
Bukan bebukitan Teletubbies namun ialah puncak kenangan yang mungkin tercampakkan atau tertanggalkan. Angin begitu dingin kurasa. Jaket tak lagi kubawa. Kutinggalkan ia di basecamp panitia.

Maka mulailah aku bersin-bersin tanpa rencana. Untungnya Mbak Neneng berbaik hati meminjamkan jaketnya. Berada di puncak membuatku sibuk mengabadikan kenangan. Menangkapnya dengan cara terbaik. Memotret cerita dalam bingkaian lensa. Hingga kenangan itu sempurna tak terlupakan.


Anehnya saat aku berhenti mengambil gambar angin kembali menusukkan rasa dingin. Lucky me, ada sapu tangan bersih yang kubawa. Talking about this thing, jadi teringat kebiasaan orang Eropa yang ke mana-mana membawa sapu tangan. Teringat film Oliver Twist yang sering mencurinya dari para bangsawan. Ya, di Eropa sana, sapu tangan begitu berharga.

Jalanan menuju puncak tak terlalu lama. As I told you before, that was a hill not a mountain. Hanya saja panas menyengat. Jadi sesekali kami berhenti mengatur nafas.


Telaga Kenangan
Menujunya banyak sekali wahana dan pemandangan yang bisa pengunjung nikmati. Danau hijau dekat pintu masuk tempat kita berlomba lempar batu, bukit kapur kala kita berdrama ria, Telaga Warna yang bergerak dari biru ke hijau, kolam renang, Danau Biru, dan Bukit Jaddih tujuan utama kita waktu itu. 

Kau bisa sesekali berhenti, mengabadikan kenangan akan pemandangan dan sahabat yang begitu menyenangkan. Dengannya lelah takkan lagi terasa. Mentari yang kian meninggi, panas yang memanggang sekali lagi dan peluh yang tanpa sadar mulai bercucuran akan hilang sama sekali.

Ujung Kenangan

Tulangku benar-benar remuk. Sakit yang membuatku hengkang selama satu semester kemarin rupanya masih menyisakan kenangan dalam tubuhku. Terlebih lagi, paginya aku sempat makan walau sesuap nasi.

Tibanya di puncak, aku tak lagi bisa bergerak leluasa. Dadaku rasanya menyempit sesak. Aku tak dapat mengikuti acara puncak. Proses pelegalan peserta diklat MBT menjadi anggota baru LDK MKMI.

“Rasa cinta yang mengharu biru,” angin menyampaikannya padaku di bawah rerindangan pohon. Hanya kata-kata itu yang sampai di telinga. Yang lain entahlah. Aku sibuk menata keadaan. Menjadi siluet di bawah panasnya terik mentari.


Pohon Kenangan

Pekik takbir kemudian menyusul. Mereka telah legal kini. Ikrar anggota telah terucapkan. Semoga para anggota ini istiqamah di jalan dakwah. Membuat cita akan kampus madani tak lagi sebatas mimpi.

Selamat berjuang, Dek. amanah akan semakin berat nantinya. Deru redam amarah mungkin akan datang. Cobaan akan selalu menghadang bagai aral melintang di jalanan. Namun percayalah, Allah akan selalu ada. Allah akan senantiasa bersama kita. Membantu kita yang di bergerak memperjuangkan agamanya.


Hai orang-orang mukmin,
jika kamu menolong agama Allah,
niscaya Ia akan menolongmu pula.
Serta meneguhkan kedudukanmu.
[Muhammad: 7]

Maka bersabarlah, Dek. Jalan ini memang takkan mudah akan tetapi kerjakan semuanya ikhlas lillah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? Begitu indah kalamNya, bukan? Ia termaktub rapi dalam Surat An-Nisa’ ayat duadua dan Ghafir, tujuhtujuh.

Buatlah ia menjadi kenangan, sebuah masa yang takkan terlupa hilang, hanyut bersama masa.


PS: There many things I want to tell you, tapi takut terlalu banyak spoiler tentang Jaddih, jadi kubiarkan ia menjadi misteri agar kaurasakan petualangannya sendiri ^^*

Rabu, 05 Oktober 2016

Surprise Musim Gugur

Sesuatu yang tak mungkin, bisa kita ciptakan lewat imajinasi, lewat mimpi. Musim gugur yang hanya ditemukan di luar negeri bisa juga kita nikmati di sini. Indonesia rumah sendiri.

Langit Hijau Pertanian
Jalan paling rindang di kampus adalah kawasan Fakultas Pertanian. Di kanan-kiri jalan banyak ditemukan tanaman perdu yang cukup membuat nyaman para pejalan kaki. Betah deh jalan di situ. Apalagi jika matahari sudah meninggi, jalan di situ alternatif jitu dibanding jalan kembar dekat labotorium bersama atau jalan pulang dekat Rektorat. Karena yaa, di sana hanya aspal luas yang dipenuhi kendaraan bermotor.

Jadi selain panas, banyak polusi pula.   
Alternatif banget lah jalan di sana. Ditambah kalo di pertanian banyak bebungaan. Suka ada penampakan si alamanda kuning di Green House-nya. Wangi bebungaan lavender juga. Yaa, namanya juga pertanian kann.

Tapi belakangan ada pembangunan jalan di sana. Sepertinya kawasan rindang akan dijadikan halaman parkir. Jalan yang biasa dilewati dipenuhi para pekerja. Jadilah kita, aku dan Teh Insan masuk-masuk hutan. Kalau banyak pohon kan namanya hutan yaa :D

Di sanalah kemudian aku melihat angin bertiup sepoi. Tarian lembutnya menggerakkan dedaunan. Pasti deh cantik difoto dengan long exposure. Tapi aku cukup mendamaikan hati karena hanya berhasil menangkap musim gugur. DSLR please..


Standing on Autumn

Ciamik. Jadi aku tak bisa melewatkannya meski kelas akan dimulai sepuluh menit kemudian. Maka berhentilah aku mengabadikan kenangan. Cekrek, cekrek. Ah, cantiknya musim gugur.

Tak lama hanya beberapa potret untuk mengambil hasil terbaik. Ya, cukup terpuaskan.

Sampai gedung RKBE dosennya sudah datang tapi masih di kelas sebelumnya. Then that's time to take breath. Biar nggak ngos-ngosan belajarnya. Plus, nungguin di luar sambil wifian. Yuhuu, welcome  to viral world!

Seru kuliahnya. Nama dosennya Ma'am Hanifa, ngajar Structure-III. Satu kalimat di buku dapat beliau jelaskan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari agama, psikologi, budaya, sosial dll. Jadi nggak ngebosanin kelasnya. Kita pulang dengan kepala penuh dengan berbagai ilmu deh.

"Mbak ada paket?" itu pertanyaan Dek Ani sesampaiku di kos. Sedengerku sih gitu. Kujawab iya. Paketan dataku memang baru beberapa minggu. Namun pertanyaan yang sama diulangnya lagi. Entahlah aku tak dapat menangkap suara Dek Ani dengan jelas sebelumnya. Ternyata sebelumnya Dek Ani melontarkan pernyataam bukan pertanyaan. Please focus on it tone >< Badan masih agak lelah karena perjalanan dari kampus.

Siang hari, di daerah Telang-Kamal pastilah panas. Dekat pantai soalnya. Jalan kaki dari kampus lumayan juga tambahannya. Jadi aku masih asyik mengipasi diri. 

"Ayo Mbak cepetan dibuka. Aku penasaran sama isinya," kali ini aku memasang telinga baik-baik. Daan, benar saja aku sebelumnya salah tangkap. Yang dimaksud Dek Ani itu paket barang bukan paket data.

Menyadari hal itu segera aja aku turun dari lantai dua. Cepat-cepat menghampiri paket berbungkus kertas coklat di ruang tengah. Dek Ani sudah berdiri di situ menimang-nimang barang berbentuk kotak.

Aku menerimanya.

Yup, kotak coklat pun berpindah tangan. Tertulis namaku di situ. Yeay, I won the challenge!

Sebulan sebelumnya aku memang pernah mengikuti sebuah lomba bertajuk #DariBlogUntukJatim Wah nggak nyangka bisa menang. Itu pas awal semester kemaren. Karena belum terlalu banyak tugas kuputuskan untuk mengikuti lomba. Eh, tak tahunya menang. Alhamdulillah.

Surprise di Musim Gugur
Menilik dari hadiahnya aku juara tiga. Sebuah hardisk eksternal merk Toshiba 500 GB. Berkah ngeblog nih. Aku memang lagi pengen hardisk. Lappy yang berumur itu sudah terlalu banyak makan asam-garam kehidupan. Eh maksudnya kebanyakan data. Ia sudah hidup sejak tahun 2009.

Fungsinya pun nggak buat aku saja. Seluruh anggota keluarga di rumah juga pakai. Abi, umi dan ketujuh anaknya. Semuanya punya file di situ. Adekku yang masih umur enam tahun pun punya. Jadi betapa sempitnya kapasitas lappy-ku kini.

Memang ya, katanya Allah itu memberi apa yang dibutuhkan hambanya. Daan, HE gave me one.

"Mbak, aku pengen ikut lomba yang menang laptop," gumam Dek Ani. Yuk, Dek An kita berburu. Agar ada surprise lainnya di musim gugur ini.

Ngomong-ngomong musim gugur, mau jugalah autumn dengan dedaunan ek dan maple yang cantik itu. Bismillah, kalau ada jalan Allah pasti akan membukakan. Asal mau usaha dan terus berdo'a saja. Yuuk! Kapan-kapan semoga negeri luar sana mengundang kita ^^

Selasa, 23 Agustus 2016

Dua Hari bersama AADC #2

Baru ada waktu nonton AADC #2 itupun kuhabiskan selama dua hari di sela-sela kegiatan lainnya. Awalnya dari ketua FLP Bangkalan kudapat. Dan kutonton kemarin dan hari ini. Okay lupakan opening basa-basi itu. Mari kita bahas saja film yang kutamatkan dalam waktu dua hari itu.

Ayat-ayat cinta dua ini, ups salah! Maksudnya Ada Apa dengan Cinta Dua yang akan kita dengan tanda pagar #AADC2. Dua jam tiga menit durasinya itupun karena disensor adegan dewasanya. Ya, itu keuntungannya. Asyik tak usah tutup mata melihat adegan tak pantas karena sudah dipangkas.

Seru sih, banyak mengandung sastra terutama puisi Rangga yang fenomenal itu. Iya, di film ini kulihat ada dua puisi yang ia tulis. Ini nih puisinya. Sengaja kuulang-ulang filmnya untuk menuliskannya secara lengkap.

Tidak Ada New York Hari Ini
Bandara dan udara
Memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dada
Dan rahasia yang memenuhi jantung puisi ini
Dipisah kata-kata
Begitu pula rindu
Hamparan laut dalam
Antara pulang dan sang petualang yang hilang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya
Dan sebaliknya
Atau senyummu
Dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohanku dan keinginan
Memelukmu sekali lagi

Puisi yang dikarang oleh M. Aan Mansyur kutebak judulnya adalah Tidak Ada New York Hari Ini karena di dalam puisinya ada kata New York-nya. Di kredit yang tertulis di akhir film, tersebut ada empat puisi; Batas, Pukul Empat Pagi, Pagi di Central Park dan puisi di atas. Ada satu puisi lagi yang kucatat. Kutebak judulnya adalah Batas.

Dari jendela kau melihat bintang-bintang tanggal
Satu demi satu
Berulang mengucap selamat tinggal
Kadang kau pikir lebih mudah
Mencintai semua orang
Daripada melupakan satu orang
Jika ada seorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu
Mereka datang kemudian
Hanya menyentuh kemungkinan

Dua puisi lainnya entah di mana sepertinya terlewat. Tapi seingatku cuma dua puisi itu yang ditulis Rangga. Pertama saat ia berada di atas pesawat dari New York menuju Jakarta. Kedua ketika ia akan kembali ke New York kala Cinta berdusta padanya.

Selain berbau sastra film #AADC2 ini banyak menonjolkan budaya Indonesia . Terutama dari daerah istimewa Yogyakarta. Villa yang dipakai Cinta and the gank juga bukan gedung apartemen bertingkat. Rumah dengan kehijauan dan perabotan yang hommy banget kelihatannya. Ya, masih dengan formasi lama; Cinta, Maura, Willy, Karmen dan tanpa Alya.

DJ pas Cinta jalan ke diskotek ngerapnya pakai bahasa jawa. Ada juga puppet yang adegannya bikin terharu. Keliling Jogja naik becak, ke candi sampai ke Puthuk Stumbu melihat sunrise bersama orang tercinta.


Nonton deh #AADC2, tapi kalau bisa versi yang sudah disensor. Biar nonton nggak usah repot-repot nutup kayar dengan tangan. Karena adegan itu dihapuskan. But that’s your choice. Meski nontonnya sampai dua hari, filmnya tetap berasa lho. Buktinya sampai kutuliskan di sini.

Minggu, 21 Agustus 2016

PEMIMPIN BARU, HARAPAN BARU

Sumber kabarmakkah.com
Pembangunan bukan hanya menyiram tanah kota menjadi hutan beton. Bangun, bangkit, grow up tumbuh menjadi lebih baik. Begitulah kemudian dapat kita istilahkan. Apalagi sebuah pergantian akan terjadi, maka harapan akan suatu kebaikan pasti tumbuh di Masyarakat.

Belakangan Jawa Timur mulai merangkak menuju itu. Mari kita lihat apa yang telah terjadi tahun belakangan. Di tahun 2007 silam sistem e-Procurement diterapkan di beberapa kota. Sistem ini sendiri telah ditetapkan pada 2003, tepatnya pada nomor 80. Ini menjelaskan tentang

Apa itu e–Procurement? Seperti yang ditulis tim KPK dalam bukunya Mencegah Korupsi melalui e–Procurement ini berarti proses pengadaan barang dan jasa secara online. Sehingga pengumuman, pendaftaran, proses penawaran, aanwijizing, hasil evaluasi atas penawaran dilakukan dengan memanfaatkan era internet ini. Buku tersebut mengambil salah kota di Jawa Timur sebagai objek penelitiannya. 

Di Surabaya sistem ini dikenal dengan SePS (Surabaya e–Procurement System) yang dapat diakses di www.surabaya-eproc.or.id. Selain karena ketransparannya meminimalisir terjadinya korupsi, sistem ini berfungsi untuk membiarkan pohon-pohon di hutan tumbuh dengan tenang karena paperless. Data yang diperlukan tak harus dalam bentuk hardcopy. e–Procurement juga menghemat anggaran sekitar 10-20 persen untuk biaya tender dan 70-80 persen biaya operasional. Seperti yang ditulis tim KPK dalam bukunya.

Sistem yang baik tentu akan didukung dengan baik pula oleh masyarakat. Harapannya, jika itu memang demikian maka pemerintah ke depan harusnya memberlakukannya di setiap kota di seleuruh daerah kuasanya dan tentu saja mengembangkannya. Dan pastinya masih banyak bidang unggul lainnya.

Sector yang hendaknya diperbaiki sepertinya wisata. Banyak wisata yang besar potensinya namun belum diberdayagunakan. Sperti contohnya perkebunan teh di seluruh Jawa Timur. Juga tambang batu putih yang banyak terdapat di Madura. Akses menuju daerah wisata belum memadai. Belum lagi masalah keamanan pengunjung.

Gubernur memang tak bisa bekerja sendirian. Masyarakat akan membantu jika ada gerakan untuk saling memberdayakan. Maka sosialisasi tentang sesuatu amatlah perlu.

Layaknya pemimpin yang baik ialah dia yang mengayomi masyarakatnya. Umar bin Khattab. Yang keras dan juga penyayang, yang tak membiarkan masyarakatnya kelaparan. Mengajak anak-anak yang merengek kedinginan dan perih di perut ke gudang gandum. Tak hanya itu, Umar bin Khattab membiarkan kedua tangannya memasakkan bubur panas untuk mereka. Tak peduli jenggotnya terbakar.

Di masa kini, dari negeri Arab sana, ada Hasan Al-Banna dengan pergerakannya Ikhwanul Muslimin atau Mursi yang pernah dikudeta. Hmm, orang baik memang siap dicibir dan diajuhi. Laiknya para cendikiawan hebat yang lebih banyak berdedikasi di luar negeri. Tak usah jauh-jauh, karena di Indonesia pun ada gubernur yang hafidz.

Pemilihan gubernur Jawa Timur akan dilaksanakan segera. Kita sebagai masyarakat yang baik akan memilih yang terbaik. Maka pergilah kita keadaan ringan maupun berat (9:41), untuk kesejahteraan dan kehidupan Jawa Timur yang lebih baik, seperti Allah fimankan dalam Al-Qur’an (22:41).

 (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.


Sedangkan nantinya sang pemimpin memiliki hak atau kewajiban untuk rakyatnya. Paling penting adalah menetap hukum seadil-adilnya (4:58). Tidak subjektif namun objektif. Sebagai orang Islam, tentunya ingin pemimpin Jawa Timur ke depan paham sebagaimana Islam mengajarkan tentang kepemimpinan. Allah menyarankan Firdaus sebagai surga pilihan, tentang gubernur ideal, jika itu ada kenapa tidak kita minta padaNya sebuah takhta. 

Sabtu, 20 Agustus 2016

A Morning in Tea Garden (Gucialit Lumajang)

Gucialit in Design

Before the sunrise comes and gold shine gild the earth, we were going to tea garden. A special group delegated to consider our matter with green dress. They guided us there. She is Mbak Vita, Mbak Cici and one cameraperson I cannot mention. Whoa properly, we should made introduction each other before.

We saw many kinds of flowers through the walks. The prominent one is the yellow flower. It is kind of Cosmos suplphureus. It is kind of yellow cosmos. In Indonesia it's called as bunga kenikir. I picked out one of them then inserted through the book gap. That’s nice!

***Kenikir
Along the way, Mbak Vita told us about several of tea. Two laves up the tree used as white tea, that’s why this type is the most expensive. Two leaves above usually used as green tea. Adding two leaves above them are used as black tea.

Pluck the Leaves
The path rising curve and it made us like at one’s last gasp. Breathe noisily, as if someone is exhausted. Fortunately, the committees stop at the top. Especially, nearby great gazebo. There played a game. One question you should answer, why you want to be a writer. Write there on your note and walks again follow the guide.

Let me answer first. As a writer I want to spreads the peace and kindness to whole the world. We knew that, one pen can shout million heads. That is why. I cannot speak well. Well, my speaking skill not practicing yet. Ya, I should improve that skill but me, Icomfortable in writing than speaking. In writing, we can edit our work, but in speaking when words out from your mouth you cannot take it back.

Calm Down
Actually same condition as you publish your work in media social such FB or blog. When your writing posted there and red by the reader, you cannot throw it back whilst you are hurt the reader. Fakkir qabla anta’zim. Think first, before doing something. So do not make your loyal reader suffering caused by your bad words.

Watch Out
The group stuck in the moment in the wrong way. We walk on the dead block. While thinking about the right path, the leader told us to answer the next question. Mention five things, you think about tea garden. That was the clue. All participants started to writing. In east, the sun begins to rise. It makes us inspirable to answer the question.

Still, we stand in one line because the road was too small. If we take a wrong movement, we fall down the deep chasm. Since, we are on the high hill; writing while watching the sun rising behind the mountain.

Waiting
First thing is I curious to find the beautiful flower. Then I imagine capturing the beautiful panorama with best angle. If it possible I want to catch it with the great one; DSLR. Tells God about that makes a good praying and says, Aamiin. In fact, I took it with 2 MP lens camera of phone. Alhamdulillah, you just need much light and best angle.

The third is pick up the tea. There many tea trees there. I wish I could follow the process. Take off from pluck the leaves till it becomes a cup of tea with nice aroma. How about jasmine tea?


Then fourthly is making afternoon tea such British tradition. Served there all kinds of tea; white, green the black. Adding into the table kinds of sweet also finger sandwiches, scones, which served warm. Read more about afternoon tea here. The last, enjoy the time. Use it wisely. Laugh with all participant of Writing Camp. Acquainting in their face and mention them into beads of pray. More about afternoon tea click here..

The Memorizers

Finally, we walk back, go down along the road, and descend to the hill. We walk to another path. Road with more tea trees and nice aroma. I always try to be in the front. In addition to capture picture graciously, I follows what Mbak Vita and Mbak Cici recited. Along the way, they repeat what they memorized from Holy Qur’an.

So which of favors of your Lord would you deny? I just like saw the grass, trees, and even the hill followed what they recited. Ah, I remembered that yearningly.

Core Memory
In the next post, Mbak Vita gave us a question. What theme you want to be in your writing? Absolutely, tea garden! Write that dandy journey then I made this! Published a blog-post.

Jumat, 19 Agustus 2016

FLP Awards dan Keharuannya [Writing Camp Expedition III]

Hadiah Kamar
Bertemu lagi duo MC; Aji dan Palupi. Pemandu acara yang selalu ceria dan gembira membagikan kata-kata penuh makna dengan cinta. FLP Awards tentunya acara puncak yang mendebarkan. Penghargaan yang akan menampilkan anggota-anggota kece FLP Jawa Timur.

Sweetness
Penghargaan pertama, diberikan kepada kamar terbersih. Kaget juga saat kamar kami yang dibacakan. Total anggota kamar kami ada sebelas orang; aku, Windar, Ani, Ratna, Yuni, Nur, Fitri, Irus, Halwa, Khurbi, dan Eni. Nama kamarnya Afifah Afra. Unik memang karena nama kamar kami adalah penulis ngetop Indonesia; Pipet Senja, Kang Abik, Asma Nadia, dan Tere Liye! Hopefully, Bang Tere bisa hadir sungguhan di acara FLP selanjutnya. Aamiin.

Ketua FLP Bangkalan, Ani Marlia yang maju menerima. Kategori selanjutnya yang bagi kamar yang kompak, aktif dan selanjutnya yang paling disiplin. Ternyata semua kamar mendapatkan penghargaan. Kalung penuh makanan ringan pun layak dikalungkan dan dibagikan. Barakallah..

Mars FLP
Jeda iklan sebentar, kami menyanyikan Mars FLP. Sebagian anggota sudah mengemas modul yang diberikan panitia. Maka saat MC meminta beberapa menyanyikannya ke depan banyak yang kecewa. Belum hafal juga soalnya. Tapi ada beberapa yang bawa dan tampil memperdengarkan suaranya.

Senandungkan
Tak mau kalah, FLP Banyuanyar juga menampilkan Mars andalan mereka. Tanpa teks mereka menyanyikan di depan. Dakara, shugoi! Mereka mengaku seringkali mendendangkannya sebelum pertemuan rutin dimulai. Oia, bagi mereka FLP adalah Forum Lingkar Pagi, karena kegiatan mereka rutin diadakan di pagi hari. Kalau di FLP Jatim jadi akronim Forum Lingkar Perjodohan. Semangat menjemput jodoh, haha.

FLP Awards, Now Begins!
Setidak ada 15 cabang yang tergabung di FLP wilayah Jawa Timur. Mbak Ami, bendahara umum FLP Jatim melanjutkan. Memandu FLP Awards. Kategori pertama, FLP pejuang. Alhamdulillah FLP Bangkalan disebut. Ya, walaupun hanya sebagai nominator. FLP Lumajang maju sebagai pemenang mengalahkan tiga cabang lainnya; Jombang, Sidoarjo dan Kediri.

Barakallah!
Kategori kedua FLP Terpuji. Nominatornya FLP cabang Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Lumajang. Aku nebaknya Lumajang sama Sidorajo tapi yang dibacakan Mbak Ami adalah FLP Surabaya. Congratz deh! Mereka memang patut mendapatkannya. Kerja keras memang selalu sepadan dengan hasil.

Dalam pidato kemenangannya ketua FLP Surabaya menegaskan bahwa mereka tak layak berbangga atas penghargaan tersebut. Karena cita-cita mereka sebenarnya bukan itu.  bukan itu tujuannya. Target mereka sesungguhnya adalah go international. Yuk didoakan, aamiin.

Selamat!
Penulis non-fiksi inspiratif dibacakan selanjutnya. Lima kandidatnya, Gunawan Mahendra dari FLP Malang, Hidayati Nur FLP Tuban, Fauziah Rahmawati FLP Jatim, Kholif A FLP Sidoarjo dan M.Rasyid Ridho FLP Bondowoso. Nah, pada saat ini, operatornya terlalu cepat mencet kursonya. Timingnya kurang pas. Jadi belum didreng-deng-deng sama Mbak Ami sudah muncul nama Mbak Zie.

Omedetou!
Untuk kategori fiksi ada Mashdar Zainal dari FLP Malang. Terkaan awalku beliau yang menjadi pemenang. Soalnya ‘kan sudah jadi pemateri juga. Empat saingan lainnya ada Arul Chandrana FLP Lamongan, Fanda Ari FLP Sidoarjo dan Nun Urnoto dari FLP Sumenep. Tebak yang menang siapa? Ternyata yang suhu yang dapat.

Siapa itu? Cak Nun Urnoto. Begitu biasanya rekan FLP Jatim memanggil beliau selain sandangan kata suhu. Beliau memang pantas karena untuk membuat komentar pun beliau mengutarakannya dengan sastra. Pesan beliau, jangan pernah berhenti mengirim karya ke media. Karena saking seringnya siapa tahu redakturnya bosen juga. Haha iya juga ‘kan?

Congratz!
Selain tersebut di atas masih ada satu lagi lho yaitu kategori penulis terpuji. Kali ini ada Bunda Novi dari FLP Lumajang, Verena Mumtaz FLP Jatim, Ummi Kulsum FLP Jombang, Teguh Surabaya dan satu lagi dari Jember. Kalau tak salah namanya Rifka. Karena tak memakai kaca saat acara aku hanya mengandalkan indera pendengar saja. Itu yang terdengar di telinga.

Wilujeung!
Anggota FLP Surabaya yang memenangkan  kategori itu. Ketika maju ke depan (tak mungkin maju itu ke belakang yaa itu sih namanya mundur :D) langsung diserbu anggota Surabaya lainnya. Go Surabaya, go!

Satu kategori lagi lho, Penulis Favorit. Ini berdasarkan voting teman-teman se JawaTimur. Suara terbanyak diraih oleh Mashdar Zainal Malang, Nun Urnoto Sumenep, Teguh Surabaya, Ummi Kulsum Jombang, dan sang ketua, Rafif Amir Ahnaf. Mantep dah para senior yang banyak penggemarnya. Saingan berat tuh.

Why? Entah siapa memilihku dengan dua nama berbeda. Nama pena dan nyata. Haha, dari dulu orang-orang suka memperbincangkan terkait dua nama ini. Selalu dikiranya yang bukan sebenarnya padahal nyatanya sama. Malah dengan tiga nama juga. You want to know the real me? Just me in the real world :p

Pak Rafif yang menang. Iyyap. Beliau kan jadi ketua FLP Jatim karena prestasinya yang bejibun. Setuju deh. Tapi ada yang tak setuju. Ada ceritanya. Selanjutnya mari kita beri judul Drama Babe. Babe, itu panggilan beliau di FLP Jatim.

Drama Babe
Bunda Novi tiba-tiba menyela saat tropi akan diberikan. Menurutnya Babe tak layak menerima penghargaan itu. Ya, alasannya banyak. Saking banyaknya aku pun tak mengingat salah satunya. Lagipula, aku tak mencatat juga ^^V

Aku awalnya setuju saja dengan pendapat Bunda Novi, karena harusnya tropinya diberikan kepada yang berhak. Seperti kutuliskan sebelumnya, Pak Rafif ‘kan memang ketuanya kita. Secara teknis harusnya memiliki karya yang lebih oke, keren yang berjuta-juta. Harusnya Babe didisk laiknya sebuah lomba yang mengatakan, yang sudah sering menang lomba tak boleh ikutan audisi. Karena banyak penulis mudah yang lebih dukungan torehan prestasi. Misalnya yang menuliskan ini. Jauh, euy jauh haha.

Sebagai artis nomor satu, tak mungkin Babe terpilih bukan kalau tak banyak fansnya, adalah anggota yang keberatan juga. Ingin mengemukakan pendapat bahwa Pak Rafif memang layak mendapatkan tropi itu. Aduh, Aula Lingkar Pena jadi semakin gaduh. Namun kemudian menjadi tenang dengan kedatangan Ummi Rita.

Sungguh membuat takut. Aku saja sampai tak berani mengangkat kepala. Aku juga berpikiran macam-macam. Ummi Rita malah berseberangan pendapat dengan Bunda Novi. Pak Rafif itu sudah mengorbanan segalanya untuk FLP Jatim. Khususnya acara silaturahmi wilayah jawa timur di Writing Camp Lumajang ini. Apalagi kerja keras beliau lima hari belakangan. “All of you, you should see this,” begitu kira-kira ungkap Ummi Rita versi aku.

Setangkup kue dengan lilin menyala di atasnya. Surprise! Babe ultah tho, kukira drama ini nyata ternyata hanya fiksi belaka. Good performance! Adegan drama yang luar biasa, serasa menonton opera.

“Hatiku luluh lantak,” respon Pak Rafif memulai pidato keberhasilannya, “hancur selebur-leburnya.” Tuh, ‘kan bahkan sang ketua tertarik dengan kata itu. Luluh lantak masih menjadi trending di FLP Jatim hingga seminggu kemudian.

Tanjoubi Omedetou!
“Ada banyak organisasi, tapi FLP adalah ukhuwah yang mahal. Belajar menulis sebenarnya bisa di mana saja, tapi kebersamaan di FLP tak bisa dilupakan begitu saja.”

Selalulah kuat
Selalulah produktif
Selalulah berani mengutarakan kebenaran

Pesan Pak Nun Urnoto dalam do’anya. Begitulah FLP kemudian berakhir dengan haru.

Along Remembrances’ Way
Di sepanjang jalan kenangan kita menemukan dedaunan jatuh berguguran. Kulihat kelabunya jalan. Ketika langit siap menghapus kenangan dengan jutaan tetesan airnya. Namun begitu kami segera menuliskannya di lembaran kertas warna-warni. Menuliskannya di atas catatan pribadi. Mempublikasikannya di blog kami. Mengukirnya abadi di hati. Sebelum akhirnya kenangan itu pergi. Menghilang ditelan bumi. Merantau berganti memori.

Kenangan
Di sepanjang jalan kenangan kusaksikan bunga-bunga bermekaran. Melahirkan kebahagiaan. Mengalirkan ide-ide segar tanpa terpikirkan. Melambungkan coretan makna kenangan. Menorehkan keriangan di antara kata-kata yang pilihkan pena menjadi karya.

Di sepanjang jalan kenangan kita masih akan terus mengenang. Kisah-kisah ceria. Cerita-cerita cinta. Dalam kebersamaan, dalam kenangan. Forum kita, forum lingkar pena. Sebuah jalan kita menuju surga. Insya Allah!

*selesai ditulis hingga tandasnya seteko teh melati.

Postingan selanjutnya tentang kebun teh. Menjawab pertanyaan panitia saat outbound. Wait and see yaa.