Jumat, 20 November 2015

Menghabiskan Waktu dengan Ummi

Ada banyak orang yang menyayangi kita. Yang dekat saja. Keluarga adalah kasih yang tak tertandingi. Cinta yang tak terkatakan. Tak usah mencari perhatian kesana-kemari. 

Lawan jenis yang tak halal? Buang jauh-jauh dari pikiran!!

Menyenangkan! Menonton drama Korea bersama Ummi. School 2015: Who are You?

Menonton kisah kehidupan di sekolah. Banyak hal yang terjadi. Kasus bullying yang paling disorot.

Sebagai guru, Ummi pasti punya pandangan tersendiri terhadap kisah ini. Karena lingkungannya yang penuh dengan anak-anak. Menonton drama ini bersama? Okelah. Bukankah itu cocok?

Yang paling aku suka drama ini memiliki banyak teka-teki. Plot-nya lompat-lompat. Jadi tiap episode punya misteri yang menyenangkan untuk dipecahkan. Pun begitu, setiap episode cerita tetap berkesinambungan.

Kasus kembar: Lee Eun Bee dan Go Eun Byul. Berbeda sekolah dan sekelumit kisah remaja. Eun Bee yang dikabarkan mati karena bullying gank Kang So Young di Taeyoung. Wajah baru Go Eun Byul di SMA Sekang. Belum lagi Gong Tae Kwang yang dianggap gila mendadak berubah karena kasus cinta. Jun Soo In, siswi SMA Sekang yang meninggal di dalam kelas. Lalu sang atlet renang, umm siapa sudah namanya?

Di akhir cerita setiap permasalahan akhirnya terselesaikan dengan solusi yang tepat. Haha, itu intinya. Cerita berakhir bahagia. Meski tebakan sering meleset dari skenario sutradara.

Menghabiskan  waktu luang bersama orang tersayang seperti keluarga itu lebih menyenangkan. Dibanding hangout dengan orang yang tak halal.

Ja ne! Tanoshikatta!

Rabu, 11 November 2015

Si Semprol


Sempat merinding membaca status seorang teman. Terharu. Kita sudah tua ya.

Pertengahan 2012 lalu perasaan kita masih unyu-unyu. Belum kenal satu sama lain. Masih malu-malu.

Ahh.. ospek jurusan itu yang kemudian menyatukan kita. Kemudian diskusi-diskusi ringan setiap sore di lantai atas cakra.

Kelas-kelas yang kita ikuti. Ayoo yang pernah telat. Haha.

Yang ikutan kelas Jepang! Haha, cuma ada 12 orang. Kita berjuang banget ya buat dapetin itu kelas. Ngurus KRS-nya susseh beud. Nggak kayak kelas Arabic atau Prancis.

Hiks, pengen ikutan kelas Pak Eko lagi. Sayang beliau sudah nggak ngajar lagi ya. Belajar huruf Katakana sampai grammarnya. Saking semangatnya kita sampai ingin motokopi buku pegangannya tapi nggak dikasi.
Atau kelasnya Waiting for Godot. Haha. Tegang-tegang gimana gitu. Serius dan tegas. Cerita drama itu mesti jadi contoh di kelas.

Apalagi adu argumentasi di kelas SOL; Sociology of Literature. Pasti deh heboh di kelas ini. Haha. Ada aja yang didebatin.

Hmm, banyak teori-teori keren sih. Kita kan jadi semangat. Seruu!
Tapi tak terasa semuanya berjalan bersama roda waktu.

Lihat saja seorang teman akan presentasi proposalnya hari ini. Seminar.

Wah, akhirnyaa. Ikut senang juga.
Semangat ya teman! Semoga yang lain cepat menyusul :)

Rabu, 04 November 2015

Lima Buku di Balik Kumpulan Debu

Kemarau begini, debu bebas bertebangan sepuasnya. Di Kota Batik saat ini hujan belum bertandang.
Meski begitu, kota Gerbang Salam tetap semarak. Dalam rangka hari jadi Pamekasan memiliki seabrek kegiatan.
Selama bulan Oktober banyak acara menarik di Pamekasan. Mulai dari bazar yang diikuti berbagai dinas di Arek Lancor. Seperti dinas pertanian, kesehatan dan lain ya. Seru! Banyak kegiatan positif dan gratis di sana. Pesertanya banyak dari luar Madura. Ada karnaval juga yang berlangsung di akhir Oktober.

Oia, untuk satu minggu ini para guru di Pamekasan diwajibkan memakai seragam batik ke sekolah. Good job! Namanya juga Kota Batik :)

Kemudian ada pameran buku murah yang diadakan di Perpustakaan Daerah Pamekasan. Beneran murmer! Novel English (bukan terjemahan) hanya 10-20 rebu saja*sayangnya tak terbeli karna temanya kurang mengena di hati*eiaa.

Nah, agenda yang satu itu tuh yang menarik perhatianku. Buku!
Selain karena aku bookworm, acara tersebut adalah satu-satunya yang tidak berada di Arek Lancor. Tempatnya kan di dalam gedung jadi tak usah berpanas-panas ria seperti di jantung kota.Yosh, ikemashou!

Dasar memang akunya yang sedang tidak fit. Keadaan kemarau, debu sedikit saja membuatku bersin dan batuk-batuk. Partikel halus dalam bedak saja membuatku harus tutup hidung.

Perjalanan menuju pameran pun diiringi banyak polusi kendaraan yang memaksaku untuk menggunakan masker. Sesampai di tempat bazaar buku akupun lega. Berharap bisa menghirup nafas segar. Karena acaranya berada di area gedung perpusda. Namun nyatanya, banyak lelaki yang merokok.

Jadilah aku tetap memakai masker sambil memilah-milah buku. Pengunjung yang datang kebanyakan mahasiswa*dilihat dari penampilan. Banyakan dewasa. Pantes bau asap  di mana-mana. Menjadi dewasa tak seharusnya mencemari  segarnya udara kan?

Hwaa, akhirnya  kelar juga setelah megap-megap cari buku. Meskipun aku sudah melakukannya dengan cepat* karena aku tak tahan dengan asap. Ternyata hunting buku memakan waktu sejam. Lama juga yaa.

Inilah lima buku yang aku dapat setelah bertarung dengan debu berterbangan. Master Mic-nya Larry King, Biografinya Dan Brown, dan The Magic of Picture-nya Dan Roam. Itu yang non-fiksi. Serta ada dua novel; De Journal dan Ice and Fire. Semuanya 90 rebu saja. Murah dan meriah bukan? 
Pameran bukunya sampai 8 Nov!

Senin, 26 Oktober 2015

Menyemarakkan Bazar Buku Murah 2014


Dari sepuluh ribu , hanya satu orang yang minat membaca buku. Wheuw! Miris ya. Itu yang dikatakan UNESCO.  Hanya 0,01% 

Goenawan Muhammad  juga berpendapat bahwa koleksi buku dari Indonesia yang dipamerkan di Frankrut bulan ini adalah yang paling kurus dibandingkan dengan negara lain. Ayo para penulis, segera selesaikan dan terbitkan bukumu! Biar Indonesia makin maju.

Menjadi penulis tentu saja harus sejalan dengan minat baca yang tinggi. Untuk itu Perpusda (Perpustakaan Daerah) Pamekasan mengadakan pameran buku murah. Kegiatan ini dibuka dari Senin kemarin (26/10) dengan seminar dan bedah buku berjudul "Aku Ingin."

Tak hanya itu, pameran tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai macam lomba. Mulai dari lomba mewarnai untuk anak TK hingga lomba resensi untuk umum.

Meski baru memasuki hari kedua stand-stand bazar buku sudah ramai dikunjungi. Tak heran, karena buku-buku dijual dengan harga sangat murah. Buku dengan ratusan halaman dapat dibanderol dengan harga Rp 10.000 saja.

Perpustakaan Daerah Pamekasan terletak di Jalan Pangliman Sudirman No.4. Hanya 3 menit dari alun-alun kota. Bazar buku buka mulai jam 08:00-16:00. Segera! Sebelum kegiatan ini berakhir 08 November nanti. Dan ikuti berbagai acara kerennya setiap hari.
Lumayanlah dimuat di Surya

Minggu, 11 Oktober 2015

Sang Penghianat

Aku baru saja selesai menonton "Angels & Demons." Film lama. Aku mendapatkan film ini dari seorang teman karena dia menjadikannya objek tugas kuliah. Sebenarnya aku juga memiliki novelnya. Hanya saja belum kujamah.

Seperti cerita sebelumnya yang melibatkan Robert Langdon, profesor simbologi dari Harvard sebagai tokoh utama. Cerita di dalamnya menguak suatu cerita lama. Gereja memang sedari dulu memusuhi sains. Dan itu yang juga terjadi pada zaman Galileo. Tentang perputaran matahari dan bulan.
Ingat?

Dan Illuminati juga memusuhi gereja. Pada akhirnya. Mungkin hal itu juga terjadi hingga saat ini. Siapa yang tahu.

Ceritanya diawali dengan dengan kematian Paus di Vatikan Roma sana yang ternyata tak wajar. Ada musuh di balik selimut. Pembunuh Paus adalah abdi setianya, sang Camerlengo.

Seorang pengkhianat. Tentu saja. Dan Brown melakukan itu hampir pada setiap novelnya. Mari kita bicara keempat novel yang sama-sama memerankan Robert Langdon sebagai otak yang selalu berhasil memecahkan kode-kode atau simbol yang mengancam; The Davinci Code, Angels and Demons, The Lost Symbol, dan Inferno.

Novel pertama, memasukkan kelompok Biarawan Sion sebagai pemanis cerita. Ceritanya seputar siapa Yesus sebenarnya dan pencarian cawan suci. Dalam misi tersebut, Robert ditemani Sophie Neveu, seorang kriptolog. Mereka harus segera menguak rahasianya, karena polisi DPCJ Paris semacam FBI di Amerika mengejar mereka. Dalam keadaan mendesak mereka bertemu Leigh Tobing, sejarawan Inggris yang menghabiskan hidupnya meneliti tentang cawan suci. Kawan yang tepat, tapi sayangnya penghianat.

Di dalam novel Angels and Demons pengkhianatnya adalah sang penasehat Paus. Sang camerlengo yang sudah dianggap Paus sebagai anaknya sendiri. Seorang Illuminati yang menyusup ke dalam gereja dan membunuh sang Paus.

The Lost Symbol. Jika sebelumnya ada Biarawan Sion dan Illuminati maka sekarang Freemason yang memiliki US Capitol sebagai basecamp. Peter Solomon adalah salah satu anggotanya. Dia dan keluarganya memiliki sebuah rahasia. Rahasia mason. Ibu dan anak Peter dibunuh atas hal itu. Piramida yang ada di tangan Robert Langdon tak aman. Peter lantas diculik dan hanya ditemukan sepotong tangannya yang berisi simbol-simbol aneh. Penculiknya adalah pembunuh di masa lalu. Pemburuan semakin seru saat Inou Sato, direktur CIA mencurigai Robert dan mengejarnya. Robert Langdon selalu menjadi bulan-bulanan polisi. 

Yang jelas sang pengkhianatnya adalah Mal’akh dengan nama Andros dan Zachary di masa silam. Anak Peter yang menyimpan dendam terhadapnya, yang sempat dikabar meninggal tercincang di penjara.

Novel yang terakhir lebih mengerikan karena bercerita tentang neraka. Inferno dalam puisi The Divine Comedy-nya Dante Alghieri. Sebuah virus akan diluncurkan jika Robert tak bergegas. Virus yang dengan mudah menyebar lewat udara dan dengan mudahnya menyebar ke seluruh dunia. Menemukannya hanya dengan petunjuk puisi Dante yang penuh simbol. Sienna Brooks, si gadis genius yang ahli dalam Biologi dan memiliki IQ 208 –mengalahi Sibis yang masuk Harvard pada usia 11 tahun- tentu saja sangat membantu tapi dia adalah penghianat sesungguhnya. Kekasih Zobrist, sang pencipta virus. Dan yang ini, aku belum nonton. Filmnya lagi proses pembuatan.

Sang pengkhianat diciptakan Dan Brown pastilah beralasan. Tokoh-tokoh tersebut ada bisa jadi kejadian nyata di masa silam, atau mungkin kesemrawutan atau liberalisme yang melanda dunia barat. Dan dengan mudahnya mendapatkan karakter pengkhianat pada kehidupan nyata.

Jumat, 09 Oktober 2015

Seblak Kuning Akhir Pekan

Udah lama sih pengen seblak. Tapi apa daya tangan tak sampai*emang gunung? :D


Dan sampailah kita pada weekend. Yeay! Beberapa hari kemarin ada temen Umi kasi oleh-oleh seplastik kropok puli mentah. Kerupuk kuning berbentuk bulat. Bisa dibikin seblak tuh.


Bukan kerupuk yang biasa buat seblak. Teh Lia sukanya bikin pake kerupuk kecil-kecil warna oren. Dan tingkat ketebalannya pun pas.

Karena kropok puli agak tebal makanya kudu direndam pake air panas mendidih. Ditinggal aja dulu, sembari kita menyiapkan bumbu-bumbu. Baru deh setelah bumbu diulek, ditumis dan berbau harum, kropok diangkat dari rendaman dan dimasukkan dalam wajan penggorengan. Karena aku bikin cuma dua porsi pakenya teflon aja.


Resep awalnya dapet dari Teh Lia, barudak Bandung yang tinggal sekos. Teh Lia suka banget bikinin anak-anak. Karena keseringan bikin bareng, aku ikut ketularan ilmunya deh. Lumayan. Selain seblak, kita bikin cimol, cireng dan makanan lainnya. 

Setelah beberapa menit; membiarkan bumbu meresap, seblak siap diangkat dan dihidangkan. Yeay! Aku makan berdua dengan si adik bungsu.



Yuk makan sebelum dingin. Lezat disantap selagi hangat. Enak, dan kenyal. Bumbu mericanya membuat tenggorokan nyaman. Legaa..

Santapan tepat menemani liburan kamu ^_^

Aku Tahu Mengapa Dokter Berjodoh dengan Ayam

Apa? Ayam? Bagi kami ayam adalah masakan istimewa yang hanya dimakan saat lebaran. Apalagi soto ayam khas Pamekasan. Beuh.. Nggak ada yang nandingin rasanya. Pizza aja kalah.

Oke, sebenarnya itu tiada kaitannya. Yang ada hanyalah pertanyaanku selama ini terjawab. Bagaimana orang sepintar dan secakep itu tulisannya amburadul? See, faktanya memang begitu. Sampai aku berpikir kalau aku jadi dokter mungkin takkan separah itu.

Waktu itu kita rapat. Hanya berempat. Dan menggunakan hijab*itu yang pembatas cewek-cowok di masjid. Pengeras suara yang teramat nyaring membuat kita menulis isi rapat di kertas. Jadilah semacam surat-suratan. Ketika kertas berada di daerah sebelah, benda itu menginapnya lamaaa. Voila, waktu kami terima, tulisannya sangat bagus dan rapi. Cantik! Seperti bukan tulisan lelaki.

Di kelas aku mempunyai seorang rekan yang tulisannya tak beraturan. Sayangnya dia seorang perempuan. Sebaliknya dosen yang mengajari kami puisi sangat senang tulisan yang rapi. Nilaimu bisa berkurang gegara tulisan cakar ayam.

"Cewek kok tulisannya begini. Yang rapi dong! Kalau kalian sabar pasti tulisannya bagus. Tak usah keburu-buru dikejar waktu," kira-kira begitulah nasehat ketika menemukan tulisan mengerikan.
Sabar! Tentu saja.

Aku pernah berobat ke rumah dokter. Dan antriannya hingga larut malam. Padahal mendaftarnya dari siang. Di rumah sakit pun daftar jam delapan, jam sebelas pun belum tentu kelar. Lihat! Rumah sakit hanya memiliki beberapa dokter dan pasien yang mengantri membludak.

Waktu! itu jawabannya!

Para dokter memburu waktu. Ada banyak pasien yang menunggu. Begitulah mengapa tulisan resep dari dokter carut-marut seperti cakar ayam.