Kamis, 28 Juli 2016

Cerita Mbak Deka, si Mamah Muda [Blografi]


Yosh! Akhirnya setelah UAS, lebaran, liburan akhirnya back to bikin blografi lagi. Blografi, istilah yang aku dapat dari Mbak Meriska. Jadi semacam biografi tapi di dunia blogging. Teman-teman yang lain juga punya berbagai macam istilah. Seperti Mbak Ophi dan Mbak Lina mengistilahkannya dengan blogtour. Intinya sih bagaimana kita mengulas profil tentang seorang blogger.  Mbak Fifah malah punya rubrik tersendiri namanya Sabtu Kenalan.

Kita punya pikiran kita sendiri. Our own opinion. Namun lama-lama dipikir semakin pusing. Nah makanya ada yang namanya the power of sharing. Dengan membaginya dengan orang lain pikiran mumet kita setidaknya berkurang. Dengan bercerita ia akan mendatangkan perasaan lega. Nah, mungkin muasal kenapa nama blog Mbak Deka berjudul Berbagi Cerita.

Yup seperti kata Mbak Meriska, ngeblog itu ibarat ritual buang sial. Menurutnya dengan blogging kita bisa mengurangi stress dan penatnya pikiran. Tidak berbeda jauh dengan pendapat Mbak Deka, “buat saya ngeblog itu me time, Mbak.” Baginya ngeblog adalah sarana refreshing jiwa dan raga.

Hello There
Tentu saja sebagai mamah dengan tiga anak ini pastinya ‘capek ’ ya ngurus rumah seharian. Pantas jika Mbak Deka mengaku nyaman dengan dunia blogging. Iya, mamah yang satu ini sekarang sudah memiliki anggota baru. Debay uang usianya belum genap sebulan. Wah Faiq dan Fahima punya temen baru tuh.

Nih kata Mbak Deka dengan ngeblog uneg-uneg di hati bisa tertuliskan. Pendapat atau pemikiran bisa tersampaikan melaui tulisan. Mbak Deka mengaku lebih suka menuliskan sesuatu daripada dilontarkan langsung melalui lisan. Iya juga ya, soalnya kalau tulisan masih bisa diedit-edit. Kita kalau sekali ngomong keceplosan dan salah bisa langsung bikin sakit hati orang. That’s why, fakkir qabla anta’zhim. Think first before you speak..

Eh kok di atas ada semacam percakapan ya? Ehem, jadi ceritanya di blografi kali ini aku menerapkan metode baru. Kalau biasanya kan nulis profil blogger linked with something I like, seperti kembang di profil Mbak Meriska, anime dan buku di Mbak Fifah atau jalan-jalan di blognya dokter Liza. Jadi sekarang ditambah dengan interview. Selain berkunjung ke rumah beliau di dekamuslim.com aku juga wawancara lewat WA. Begitulah ceritanya*ala Kakek di film Malaysia Pada Zaman Dahulu.

Halo, Apa Kabar?
Meski Mbak Deka terlihat sibuk dengan tugas rumah tangga, itu tak menyurutkan prestasi di dunia blogging lho. Lihat saja prestasinya yang segudang itu.   Such as lomba review-nya Bentang Pustaka, lomba anak, dan berbagai lomba lainnya. Daan ntulisan Mbak Deka juga pernah tembus media. Wah keren ya! Two thumbs up deh, Mbak (y). Apa nih rahasianya sanga juata? Apalagi kalo ngeblog kudu nunggu anak-anak bobo. “Saya ngeblognya pas anak-anak tidur, Mbak.” Hihi, iya dong kalo mereka masih melek kan sebagai mamah kudu mencurahkan perhatian kepada mereka. Betul tak, Mah? 

New Life
Prestasi segudang juga bisa dikarenakan pengalaman. Nah, Mbak Deka ini sudah memasuki dunia blogging sejak 2012. Postingan pertama di blog juga tanggal segitu. Di profil Mbak Deka juga mencantumkan demikian. Pas kita wawancara juga iya. Eh, ngomong tentang postingan. Ada postingan sangat populer di blog Mbak Deka. Artikel tentang cinta terpendam menduduki tangga pertama selama berminggu-minggu*berasa host radio gue :D Sejak 2012 itu pula awal blogging Mbak Deka di dekamuslim.com dan itu satu-satunya blog yang beliau punya. Bagus ‘kan biar kita bisa fokus sampai lulus. Lulus DA/PA dengan nilai kece maksudnya*cie yang baru belajar DA/PA.

Blog Mbak Deka tak hanya berisi tentang keluarga, ada berbagai macam topik yang ditulis dengan 36 label. Bahkan ada bookreview-nya juga lho. Jumlah tulisan ada 222 postingan yang terakhir kulihat. Angka yang cantik ya, jadi pengen nyanyi. I’m feeling 22! Everything will be alright, if you keep me next to you..

Hijau Hutanku
Tak seperti blogger perempuan lainnya yang dominan memakai warna pink sebagai watermark, Mbak Deka lebih memilih hijau. Yuhu, coba deh berkunjung ke dekamuslim.com maka kau akan disajikan dengan warna hehutanan. Dan itu karena Mbak Deka menyukai warna hijau. Kalau Mbak Deka suka warna jingga mah desain blognya sudah dikasih oren. Jadi inget percakapan di Hunger Games, “layaknya warna saat mentari menyenjana senja.”

Oia, dari tadi Mbak Deka mulu siapa sih nama aslinya? Panjangnya Dekaaaaaa. Itu sih gaya zaman anak esde kalo ditanyain nama panjang, hihi ^^V. Jadi lengkapnya Diah Kusumastuti. Kok bisa Deka? Bisa! Karena itu huruf pertama dan kedua dalam nama beliau. Mbak Deka ini asli Solo. Ternyata kita itu sempet tetanggaan. Aku sempat di sana hampir setahun. Eh gatau deh tepatnya tempat beliau di mana tapi daerahnya Sukoharjo. Lupa nanyanya. Soalnya aku di Tawangmangu tepatnya kaki gunung Lawu. Tapi sekarang beliau sedang tinggal di Sidoarjo dan sebelumnya itu kuliah di Surabaya.

Keep Smiling Keep Shining
Nah, biar tambah kenal sama Mbak Deka bisa dihubungi dari berbagai akun. Kirim email saja melalui d3kusumastuti@gmail.com inbox di FB Diah Kusumastuti atau DM di twitter @dekamuslim dan instagram dengan nama akun yang sama. Terakhir, tahu nggak Mbak Deka itu pengennya dengan blogging bisa berbagi manfaat dengan pembaca. Bener banget ya, kaya slogannya temen-temen penulis FLP menebar kebaikan dengan tulisan that we called as dakwah pena. Karena dakwah tak harus  ceramah. Yosh!

Senin, 25 Juli 2016

Touring on the Day of Celebration

Sebelum Lebaran Tiba
Ada yang spesial saat lebaran tiba. Ketiga adikku tinggal di asrama sekolah, aku sedang kuliah di kota lainnya. Sisanya, anak Ummi ada di rumah. Kami tujuh bersaurdara yang jadwal libur sekolahnya tak sama. Ya, karena status dan jenjangnya berbeda; SD, SMP, SMA dan kuliah. Belum lagi satunya di swasta, satunya di negeri. Pokoknya suka susah ngumpulinnya.

Then, when lebaran comes, otomatis itu hari spesial kita. Meski ada yang pulang pas lima hari sebelum  lebaran*itu gue T.T Eva sudah pulang sebelum Ramadhan tiba. Nina pertengahan puasa. Diah seminggu mau lebaran dia sudah di rumah. Aku pulangnya terakhiran, huhu. Secara masih ada dua minggu UAS. Baru tahun ini ngabisin Ramadhan di kampus. Hampir sebulan pula*ngejerr :D

When all families gathered, it’s time to mudiiik. Yeay!

Yosh, Mudiik!
Nyiur Melambai
Tapi mudik kita mah biasa saja. Perjalanan cuma sejam dari rumah. Dan kita tak perlu berjejalan di transportasi publik karena kita mudiknya dijemput dan tak perlu acara macet. Apalagi memasuki wilayah Sumenep, kita akan dimanjakan dengan nyiur melambai di kanan-kiri. Dan sebelum itu kita akan melewati pemandangan laut. Jika mau sih bisa berhenti di Pantai Talang Siring atau vihara merah di dekatnya. Kapan-kapan mampir ah..

Terombang-ambing
Tepatnya rumah nenek kami terletak di daerah Kapedi. Perjalanan menanjak dan menantang masuk sana. Mobil yang kami tumpangi sampe mundur-mundur. Bahasa Maduranya, Dhagha ngetek tako’ labu ka baba, artinya kita sampe dag-dig-dug takut jatuh ke bawah. Pasalnya kita mundur-mundur di tempat yang menanjak banget tahulah jalanan desa lebarya Cuma semeter-dua meter. Maka pantaslah kita tak berhenti komat-kamit saat itu. Indeed, kita dulu pernah mengalaminya.

Daan semuanya terbayar saat kami tiba di rumah Mbah dengan selamat. Alhamdulillah..

Touring ala Kapedi
Let’s Touring! Mari kita artikan touring di dengan bersilaturrahmi atau bisa juga dengan jalan-jalan. Di malam takbiran, kita sudah mulai tuh keliling. Salam-salaman sama keluarga yang masih satu desa. Malam itu rame banget. Selain karena takbir di masjid-masjid, ada langit yang ramai dihiasi kembang api. Meskipun dikata desa, kembang api yang diluncurkan gede-gede dan berwarna. Hmm, kebanyakan itu didapat dari pemudik dari kota-kota besar di Pulau Jawa.

Besoknya, tepat hari raya Idul Fitri kita mulai deh berkeliling ke rumah saudara yang lebih jauh. Dari Desa Sompor kita berjalan, menuju Mantaman, melewati Ju Bara’ dan terakhir Oro. Meskipun berjalan kaki, ternyata seru lho apalagi perginya bareng-bareng sama keluarga besar. Sambil berhenti sana-sini untuk fota-foti. Sayangnya semua foto pada hari itu musnah tak berbekas. Sorry, I can’t show you the pictures. Gomenne.

Nyebur ke Sungai
Hari ketiga kami sekeluarga sudah kembali ke Pamekasan. Dari rumah nenek di Sumenep kami langsung cuss ke rumah nenek yang di Pamekasan. Nah.. karena pas kita nyampe siang, eh, para anak-anak imut (baca: adik-adik) minta main ke sungai. Jadilah kita berangkat, marii.

Main di sungainya lumayan lama. Semuanya pada nyebur. Eh nggak semua sih soalnya ada yang jadi juru kamera, haha. Di sana kita malah main sambil diajari renang sama Ummi. Seru deh pokoknya. Sampe-sampe Dek Lubna yang baru beberapa tahun umurnya nggak mau naek. Terus dia bergaya nggak mau dilepas. Maunya renang sendiri. Hihi, aku tak tega lah. Aku biarkan ia berbaring di tangaku dan kecipak-kecipuklah ia di atas air.

Gratis! Kalo mau belajar renang, ke sungai di Samiran aja, haha.

Akalenjar ka Ghanding
Kejutan! Keeseokan harinya ada surprise kiita sekeluarga besar (baca: keluarga dari Ummi) pada mau jalan ke Ghanding, sebuah daerah di Kabupaten Sumenep. Total ada tujuh keluarga yang ikutan. Dengan bus kami pun melaju pada jam tujuh pagi.

Rute yang kami pakai bukan jalur biasanya. Kami ambil Pakong sebagai alternatif tercepat. Pakong adalah daerah pegunungan di bagian utara Kabupaten Pamekasan. Sepanjang kami disuguhi berbagai macam lahan pertanian dan bebukitan. Daan, brrrr. Lewat sana berasa dinginnya.

Up There
Bu’ Ipong, adalah saudara tertua Ummi yang masih hidup dan berkeluarga di Ghanding, Sumenep. Tahun ini beliau tidak merayakan hari raya di Pamekasan. That’s why kali ini kami menyambangi beliau. Tentu saja kami akan melakukannya dengan senang hati karena, banyak bonusnya!

Masuk daerah Ghanding, sudah terasa khasnya. Baling-baling angin di areal persawahan, gemericik air sungai dan arsitektur perumahan yang masih tradisional banget. Di Madura ada konsep yang namanya Taneyan Lanjhang. Rumah keluarga besar biasanya berjejer sehingga terlihatlah halaman yang memanjang. Di bagian barat rumah biasanya terdapat kobhung. Sawuh atau gazebo tradisional.

Biarkan Angin Menerpa
Kobhung ini dipakai untuk sholat keluarga. Dan terkadang banyak anak-anak tetangga ikut berkumpul dan belajar mengaji. Jika begitu fungsinya berubah menjadi langgar, tempat ibadah. Suatu ketika langgar akan menjadi semakin besar (berubah masjid) seiring banyaknya anak-anak belajar mengaji.


Sampai di rumah Bu’ Ipong para anak-anak imut langsung berganti baju dan nyebur ke sungai. Di sana bilangnya sok-sok. Dan para remajanya mengawasi dan sibuk fota-foti dan main kecipak-kecipuk air.

Puas bermain air, kerlari ke hutan lalu belok ke pantai. Eh salah yaa. Kami pindah lokasi mencari spot keren untuk berfoto ria. Dan dibiarkan itu anak-anak berjemur di pantai mencari kerang. Eh maksudnya di sungai.


Main ke hutan dan beraksi fota-foti di sana. Ya, karena the big reason is kami tak membawa pakaian ganti rentan juga terlihat auratnya. Meski masih nuansa ber lebaran, masih ada segelintir orang yang lalu-lalang ke sawah. Dan tentunya menyebrangi sungai tempat kami mandi. Eits, rawat terliwat aurat juga. Malu ah.


It’s called as Silaturahmi [Pamekasan Touring]
Lebaran Idul Fitri di Sumenep dan Ketupat di Pamekasan. Yup, kalau di Madura begitu. Hari ketujuh Syawal, ada lebaran lagi yang namanya Ketupat. Tepat sekali, di hari spesial itu akan ada banyak aneka macam ketupat yang takkan kau temui di hari Idul Fitri. Lebaran Ketupat ini diadakan karena ada puasa sunnah yang dianjurkan selama enam hari pada waktu Syawal. Jadilah hari ketujuhnya ada perayaan tersebut.

Kami menyebutnya Tellasan Topa’. Masakan di hari ini lebih bervariasi dari Idul Fitri. Selain Soto Pamekasan, ada yang bikin gado-gado dan juga bakso. Itu sih mayoritasnya. Opor mah tak ada. Jarang sepertinya. Idul Fitri juga begitu.

Kalo di sini yang umum itu Soto Pamekasan. Umm, bedanya dengan Soto Madura apa yaa.. Topingnya mungkin. Terus kalo Soto Madura ada kacangnya. Jadi dalam satu mangkok kita potong-potong itu ketupat. Dan diberi toping di atasnya seperti bihun, suiran ayam, kentang goreng, telur ayam rebus yang dipotong memanjang, sambal dan kentang goreng. Kentang goreng berbetuk kotak tipis. Setelah semua siap, lalu siram dengan soto spesial. Tak lupa sertakan potongan ayam yang sukai. Mau bagian sayapp, paha atau kaki (ceker). Oia, tambahkan perasan jeruk nipis biar mantap.

Pagi hari diisi dengan tahlil atau pengajian di langgar dan masjid-masjid. Barulah hidangan tadi disuguhkan. Di sini juga masih ada tradisi ter-ater. Saling mengantarkan makanan ke tetangga. Selain rumah warga, langgar dan masjid menjadi tujuan utama hantaran makanan. Jadi kita bisa saking icip tuh masakan tetangga.
Kelar acara tersebut kita touring ke rumah saudara di rumah nenek. Salaman, icip kue dan kadang dihidangkan makanan berat juga. Daan, angpau tentunya. Yang kecil-kecil sih dikasi. Kita mah yang sudah gede nggak ikutan.

Di Sana, Air Terjun Samiran
Masih inget kan di dekat rumah nenek ada sungainya? Nah di ujung barat sananya, ada air terjun. Ke sanalah kita melanjutkan touring. Cuma yang seumuran sih. Para sepupu dari usia SMP sampai kuliah. Sebenarnya bukan air terjun. Itu hanya DAM. Hanya saja alirannya mirip air terjun. Jadi begitulah orang-orang menyebutnya. Kalo do Samiran terkenal dengan nama Daaman.
Falling Down
Daaman sedang dalam pembangunan besar-besaran. Pemerintah setempat akan mengubahnya menjadi wiasata yang lebih keren lagi. Sayangnya pohon-pohon cemara udang yang berjejer di utara sungai ikutan tertimbun proyek. Padahal tahun sebelumnya itu spot favorit kami. Tapi tak apalah, fota-foti tetap berjalan teruss.

Hayuk Ngarujak
Ba’da jelong-jelong dan fota-foti, kami lanjut touring dong. Kebetulan ada keluarga yang tinggal deket situ jadi weh kita mampir. Daan, selanjutnya ke rumah para sepupu. Dua rumah tujuan kami selanjutnya ada di Desa sebelah. Melewati jembatan besar dengan derasnya air sungai.
Say Peace!

Ada barakah dengan jama’ah. Kami anak desa, maka tak terasa capek berjalan ber-kilokilo jauhnya. Yosh, ke Desa Bettet kami menuju. Berhenti di rumah Indah disuguhi bakso, ngabisin kue dan mampir sholat Dhuhur. Lanjut jalan melewati persawahan. Dan sambil sesekali fota-foti dong. Haha.

Di rumah Mbak Pipit kita disuguhi bakso lagi. Kali ini tentu saja tak pakai lontong. Hanya menikmati pentol-pentol. Haduh, itu perut sudah membledug rasanya. Eits, si tuan rumah malah ngajakin rujakan. Sambalnya ala Madura pastinya. Petis ikan dengan cabe berenang. Apa sih istilahnya. Ya gitu deh. Maka dengan potong mangga muda, timun dan bengkoang kita pun let’s go!

Saat Kita Bersama
Tenaga yang didapat lumayan buat jalan lagi menuju rumah nenek. Melewati persawahan, sungai, hutan jati dan bambu. Sampai di tempat, tepar deh..

Haha, seru deh pastinya lebaran tahun ini. Idul Fitri maupun Tellasan Topa’nya. Apalagi touringnya. Setelah itu masih ada keseruan lainnya. Tellasan Topa’ ‘kan Rabu ya. Minggunya kita nobar KMGP dan jalan-jalan ke Gladhak Anyar. Masih dengan para sepupu kompak.



Sekarang, adikku sudah kembali ke sekolah.Sudah pada balik pondok, dan memulai aktivitas kuliah. Sepi lagi deh rumah. Semoga tahun depan bisa lebaran bareng lagi :*

Jumat, 24 Juni 2016

Jalan-jalan ke Aceh, Yuk!

Aceh? Iya, daerah istimewa di ujung Indonesia sana. Tepatnya di Pulau Sumatera. Sudah pada tahu tentunya. Daerah ini adalah salah satunya tempat yang menegakkan syariat Islam. Makanya disebut Serambi Mekkah. Orang Zina di sana benar-benar dicambuk.

Sebagai orang Islam siapa yang tak ingin pergi ke Mekkah. Nah, mungkin jika tabungan belum cukup bisa berwisata ke daerah ini terlebih dahulu. Tapi kalao kesasar gimana? Tenang kita pumya guide yang tinggal di daerah sana. Ibu dokter yang bernama Liza Fathia. Dokter yang ngakunya suka jalan-jalan. Jadi pantaslah kita ajak.


Bunda Liza ini sudah memiliki satu anak. Beralamatkan di http://liza-fathia.com/. Personal blog yang dikelolanya sejak tahun 2011. Eh nggak tahu juga ding, soalnya ada tulisan yang diposting pada tahu segitu. Nah, mungkin kita menanyakan langsung tentang hal itu. BIsa berkirim lewat surel pribadinya di liza.fathirani@gmail.com atau media sosial beliau di @fatheeya (Twitter) dan Liza Fathiariani di Facebook.

Okay, segitu dulu kenalannya. For more information langsung saja chit-chat ke akun beliau, ne?Sekarang saatnya kita jalan-jalan. Yuk kita ke Aceh!


Pertama kita ke Air Terjun Ceuraceu dulu. Merasakan segarnya pancuran di antara kehijauan. Seger pati yaa. Apalagi siang-siang gini pas puasa. Mungkin rasanya seperti ter-charge 100% haha. Yang jago pota-poti mesti tak akan membiarkan pemandangan idah di sana tanpa terpotret. Tapi kata Bunda Liza, wisata ini tidak dibuka untuk umum. Jadi harus izin para tetua di sana. Zanen da yo..


Terus ke pantai. Ada namanya Pantai Lampuk. Lihat tuh, biru dan hijaunya bikin mata melek seketika. Seru nih buat liburan abis UAS. Saat tumpukan makalah dan mini-thesis done perferctly. Maka jalan-jalan ke pantai berpasir putih pastilah ganjaran yang sempurna. Eh maksudnya? :D



Pantai Lange juga nggak kalah. Hijau dan biru lautnya tambah bikin traveling there. Yang nggak suka sama pasir, bisa leyeh-leyeh di rumput hijau itu. Biar pas nyuci baju nggak berat ya? Iya thu. Pengalaman, haha. 


Di Pantai Lange ini ada keunikan lainnya. Di sana ada semacam gletser. Pancuran. Air yang memancar dari tanah. Pancuran di pantai Lange ini terjadi karena himpitan karang-karang. Air yang memancar juga masih asin alias masih air laut. Percaya kan air laut itu asin. Kalau nggak, nanti deh diincip pas ke laut :D



Selain Ceuraceu ada juga namanya Putro Aloh. Ini air terjunnya kecil dan tidak terlalu dalam. Cocok buat main sama anak kecil. Dan sepertinya arusnya tidak deras. Jadi tak khawatir si kecil hanyut. Kayaknya cocok buat Adekku yang sedikit trauma mandi di sunagi.


Selalu cantik! Gambar di atas terletak di Sabang. Ciamik ya. Ibu dokter keren motretnya. Jadi selain bisa merawat dan memberi obat, Bunda Liza juga jago motret. Tak heran hasil pota-poti beliau keren-keren. Two thums up!


Lelah jalan-jalan, ada juga nih kuliner yang mungkin bisa bikin baper orang laper. Namanya Mie Celor. Makanan dengan kuah kuning kental. Tapi katanya Bu Dokter ini tak boleh disantap penderita dislipidemia atau kelainan kolesterol. Soalnya salah satu bahannya adalah udang. Tuh, asyiknya punya kenalan dokter gitu, kita bisa tahu mana makanan yang bermanfaat dan yang tidak baik untuk kita. Karena kan katanya tak sekedar halal, tapi jug aharus thayyib ^^b

Oia, kalau mau kuliner yang satu itu harus perginya ke Palembang. Eh? Iya, jadi kudu beli pas berangkat atau pulangnya ya, mampir dulu ke Palembang sebelum ke Aceh. 

Kamis, 16 Juni 2016

Lima Keistimemawaan Ramadhan*


Kita tahu ‘kan Ramadhan adalah bulan istimewa. Bulan penuh keberkahan karena kebaikan yang lakukan di bulan ini berlipat ganda pahalanya. Bahkan tidur saja mendapatkan poin. Kenapa? Itu yang ditanyakan adikku yang baru kelas satu. Umm, mungkin karena pada saat kita tertidur kita tak melakukan dosa apapun. Perhaps.

Dalam hadits juga disebutkan, para jin, iblis dan setan pun dikerangkeng. Jadi bulan ini benar-benar suci. Terus kalau ada ceritanya orang nyolong di bulan puasa itu keterlaluan namanya. Berarti dia bertindak atas kemauan sendiri bukan bujukan ataupun rayuan setan. FYI, kemarin ada kasus. Seorang tante-tante gendut sedang nyolong di indekosnya. Huhu, miris! Sungguh!

Okay, back to the topic about istimewanya bulan Ramadhan. Apa saja sih? Cuz yuk! Rock the world with this points.

Puasa
Bicara Ramadhan tentunya tak jauh-jauh dari puasa. Berpuasa memang bukan hanya di bulan ini saja. Ada banyak macam-macam puasa. Puasa Daud yang puasanya lompat-lompat hari. Sehari puasa, sehari nggak. Puasa Senin-Kamis, ayyamul bidh, dan lainnya.

Tahu nggak, puasa adalah satu-satunya ibadah yang langsung diberikan Allah kepada hamba-Nya. Tanpa perantara malaikat Raqib dan Atid, pencatat amal. Jadi kudu serius ya puasanya karena ia spesial.

Puasa menurut istilah adalah menahan dan meninggalkan. Yang paling utama adalah menahan lapar. Tak minum, tak makan. Kita tahu bahwa kebutuhan pokok manusia adalah makan dan minum. Nah, jika manusia bisa menahan kebutuhan paling inti tersebut maka tidak dapat dipungkiri bahwa manusia akan atau dapat menahan diri dari meninggalkan maksiat. Makanaya dalam hadits disebutkan. Jika tak bisa menikah dianjurkan untuk puasa.




Tarawih
Tarawih itu hanya di bulan ramadhan. Tarawih disebut juga qiyamullail. Nah jika di hari-hari biasa kita ada tahajjud, maka di bulan puasa namanya tarawih.  Yah, sholat malam di bulan Ramadhan.

Tak diperdebatkan masalah berapa jumlahnya. Mau 11, mau 21 yaa silahkan. Monngo dilaksanakan. Yang penting kualitasnya. Kalau 11 tapi kilat ya, naudzubillah. Apalai jika 21. Miris mendengar kabar sholat tarawih 21 rakaat cuma dikerjakan dalam waktu 7 menit saja. Itu sholat, atau ngejar sepur?

Fawailul limushallin. Maka rugilah orang-orang yang sholat. Dapat capeknya tapi belum tentu dapat pahalanya. Rasulullah saaj sholatnya sampai bengkak. Nah, kita sholatnya sampai goyang-goyang nggak kuat nahan ayat panjang. Bertaubatlah kawan.

Di bulan Ramadhan Rasullullah itu suka ahyaul-qiyamul lail. Menghidupkan malam. Apalagi di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bahkan beliau menembangunkan keluarganya untuk ibadah bersama.

Kenapa qiyamul lail, istilahnya? Itu maksudnya kita nggak boleh tidur terus. Disuruh bangun! Tahukah? Kita setiap hari mati. Coba liat do’a sebelum tidur, bismikaallahumma aya wa amut. Dengan namaMu aku mati dan hidup. Perhatikan pula do’a saat bangun. Segala puji bagimu Allah yang telah membangunkan dari mati. Kita tidur, kita mati. Bangunlah dari tidurmu dan sholatlah.


Tilawah
Ada berapa sosial media yang kita miliki? Berapa menit kita membukanya setiap setiap hari? Baca WA, status di pesbuk, momen di path, cuitan di twitter. Coba kita gabungkan postingan itu mungkin lebih dari jumlah halaman satu juz.

Kita lho tidak lebih sibuk 20 halaman. Baca qur’an bukan sosial media, matikan hape! Reminder, kalau ada masalah pribadi, kalau ada perlu, langsung japri jangan di grup. Itu kan mengganggu.


Sebenarnya kita kalau mau, bosa khatam dalam sebulan, maupun sepekan dalam bulan Ramadhan. Coba gunakan waktu 15 menit saja untuk qur’an.ayat-ayat itu akan merindukan kita dan memanggil untuk dibaca.





Para ulama biasanaya 7-3 hari khatam Al-qur’an. Bahkan Imam Syafi’i kalau di bulan ramadhan sehari bgisa kelar satu quran. Mudah saja bagi belaiu. Imam Syafi'i telah menghafalnya. Jadi bacanya gampang. Tahu kan Imam Syafii  sudah hafal sejak kecil. Dulu pun beliau sudah jadi mufti [hakim] saat berusia lima tahun. Daebak! Dakara, shugoi yo!

Kok bisa ya? Kakalau menurutku karena Imama Syafii sudah hafal sejak kecil. Beliau pun saat umur lima tahu sudah jadi mufti [hakim]. Daebak! Kita lho nggak lebih sibuk daripada para ulama dan para nabi. Kita tuh hanya sok sibuk. Sok nggak punya waktu buat ngaji. 





Infaq
Rasulullah itu orang yan paling dermawan. Apalgi di bulan Ramadha. Kedermawanan Nabi seperti angin berhenbus. Sekali tiup meerpa segal asesutatu yang melewatiinya. Bahkan tanaman.

Infaq yang paling baik itu saat ramadhan. Berinfaqlah dengan infaq terbaik. Afdhalus shadqa fi Ramadhan.

Berbuatlah, semampumu, beribadahlah semapumu. Fattaqullaha mas tatha’tum. Kalau tak bisa bersedekah dengan uang bisa dengan senyuman. Tapi kalau pengen yang lebih ya traktirin teman, termasuk menggembirakan juga pahala lho. Man fathhatara shoiman.

Jika kita memberikan buka puasa kita mendapat pahala serupa. Biar pahalanya banyak carilah yang ibadahnya banyak saat bulan puasa, biar kita ikutan dapat poin gede juga. Al yadul ulya khairun minal yadis sufla, yang ntarktir lebih baik dariipada yang ditraktir. Maka luang uang mununtuk mentraktir :D



That’s all, lima hal paling urgen di bulan Ramadhan. Rmaadhan sudah semingu lebih kita laksanakan. Semoga bisa lebih maksimal lagi. Dalam setahun Allah hanya minta sebulan saja untuk mengkhususkan diri kita di bulan beribadah kepadaNya. Di Bulan Ramadhan. Setidaknya dalam sebulan ini kita memenuhi permintaan Allah. Kalau bisa , cobalah di sepuluh malam terakhir. Fokus ibadah, kepada Allah,. Tutup toko, lupakan urusan duniawi. Kalau tak bisa malam-malam ganjil saja. Kalau tak bisa. Pastikan kau dapat malam lailatul qadr. Kalau tak bisa juga, takbir empat kali atas kematian!



*Rangkuman materi tabligh akbar acar islamic culuture Festival FKI Al-Alazzam FISIB UTM

Rabu, 08 Juni 2016

Mbak Afifah, si Kutu Buku dan Bukan si Otaku


Sekarang waktunya mengulas pemilik blog Flying without Limit sama Lady Book’s Note. Yosh, meski Ramadhan harus, kudu, nggak boleh lupa update postingan. Kan, kan, kan*gaya Upin-Ipin. Meski puasa, meski tugas bejibun, meski UAS jadwalnya belum keluar juga. Katanya sih tanggal 20 Juni. Tapi sampai kapan? Jiah, malah curcol*gomenne :D
 
Si empunya Blog, Mbak Afifah
Etapi, ngomongin soal buku, saya juga ada another blog focus on talking about books namely, Walking around the Books. Itu plesetan dari idiom walking around the bush. eh, kok malah promosi blog sendiri ya, hihi.

Okay, nama lengkapnya Afifah Mazaya. Ketemu pertama kali [maksudnya pertama kali mainke blognya] pas temen-temen arisan nyerahin akun sosmednya. Maka sampailah saya di sana. Di sebuah instagram Mbak Afifah Mazaya. Nah di sana tertera alamat blog Mbak Afifah. Tepatnya sebuah blog buku. Judul blognya Lady Book’s Note. 
Rumah buku Mbak Fifah
Postingan yang aku baca waktu itu bukan review buku sebenarnya; manga. Itu buku juga, tapi temen-temen pecinta anime, otaku dan sebangsanya*bangsa apaan coba? Bilang kalau buku komik itu namanya manga, kalau dijadikan film kartun namanya anime, trus kalau manga-nya diadatasi jadi film namanya Live Action. Kalau dorama Jepang itu memang pure drama, bukan berasal dari manga ataupun anime. Nah, hati-hati memakai istilah di atas jika kalian bergaul dengan otaku, hihi.

Beberapa koleksi buku Mbak Afifah
Otaku itu, orang yang addict banget sama anime. Koleksinya sampai tera*lebih dari sekedar giga, tapi temenku yang koleksi anime-nya satu hardisk nggak mau dibilang otaku. Suka cosplay alias suka pakai baju-baju ala anime kesukaan. Tapi Mbak Afifah juga bukan otaku. Just a girl who loves reading even a manga, agirl with glasses yang aseli Bogor dan alumnus IPB juga.

Mbak Afifah nggak perlu diargukan lagi sebagai bookblogger. Postingan bukunya kece, rajin ikut event. Bahkan baru-baru ngehost beberapa event. Seperti blogger pro, Mbak Afifah juga bergabung di beberapa kelompok; Blog Blogger Indonesia, Kumpulan Emak Blogger, Asinan Blogger dan Blogger Perempuan.Kelompok yang terakhir, yang akhirnya mempertemukan saya dengan Mbak Afifah. 
Flying without Limit
Di Flying without Limit, meski gado-gado kece juga lho. Bahkan Mbak Afifah punya jadwal tersendiri. Misalnya Rabu Jajan sama Sabtu Kenalan. Terus ada review anime sama drama juga di sana. Wah, two thumbs up deh buat Mbak Afifah. Semoga aku juga bisa banyak berbagi dan memberi manfaat pada para pembaca T.T

Oia, Mbak, ada dorama seru. Judulnya Siren, tentang detektif. Ceritanya bikin greget sampai akhir. Endingnya tak tertebak. Kuberi lima bintang deh.That’s all, Mbak Afifah. Siapa tahu nanti kita bisa barteran buku atau film terbaru ;)

Untuk mengenal lebih lanjut tentang Mbk Afifah bisa langsung mengunjungi blognya atau berkenalan saja secara langsung. cari di sosial media dengan nama yang sama. bye, bye..