Jumat, 19 Agustus 2016

FLP Awards dan Keharuannya [Writing Camp Expedition III]

Hadiah Kamar
Bertemu lagi duo MC; Aji dan Palupi. Pemandu acara yang selalu ceria dan gembira membagikan kata-kata penuh makna dengan cinta. FLP Awards tentunya acara puncak yang mendebarkan. Penghargaan yang akan menampilkan anggota-anggota kece FLP Jawa Timur.

Sweetness
Penghargaan pertama, diberikan kepada kamar terbersih. Kaget juga saat kamar kami yang dibacakan. Total anggota kamar kami ada sebelas orang; aku, Windar, Ani, Ratna, Yuni, Nur, Fitri, Irus, Halwa, Khurbi, dan Eni. Nama kamarnya Afifah Afra. Unik memang karena nama kamar kami adalah penulis ngetop Indonesia; Pipet Senja, Kang Abik, Asma Nadia, dan Tere Liye! Hopefully, Bang Tere bisa hadir sungguhan di acara FLP selanjutnya. Aamiin.

Ketua FLP Bangkalan, Ani Marlia yang maju menerima. Kategori selanjutnya yang bagi kamar yang kompak, aktif dan selanjutnya yang paling disiplin. Ternyata semua kamar mendapatkan penghargaan. Kalung penuh makanan ringan pun layak dikalungkan dan dibagikan. Barakallah..

Mars FLP
Jeda iklan sebentar, kami menyanyikan Mars FLP. Sebagian anggota sudah mengemas modul yang diberikan panitia. Maka saat MC meminta beberapa menyanyikannya ke depan banyak yang kecewa. Belum hafal juga soalnya. Tapi ada beberapa yang bawa dan tampil memperdengarkan suaranya.

Senandungkan
Tak mau kalah, FLP Banyuanyar juga menampilkan Mars andalan mereka. Tanpa teks mereka menyanyikan di depan. Dakara, shugoi! Mereka mengaku seringkali mendendangkannya sebelum pertemuan rutin dimulai. Oia, bagi mereka FLP adalah Forum Lingkar Pagi, karena kegiatan mereka rutin diadakan di pagi hari. Kalau di FLP Jatim jadi akronim Forum Lingkar Perjodohan. Semangat menjemput jodoh, haha.

FLP Awards, Now Begins!
Setidak ada 15 cabang yang tergabung di FLP wilayah Jawa Timur. Mbak Ami, bendahara umum FLP Jatim melanjutkan. Memandu FLP Awards. Kategori pertama, FLP pejuang. Alhamdulillah FLP Bangkalan disebut. Ya, walaupun hanya sebagai nominator. FLP Lumajang maju sebagai pemenang mengalahkan tiga cabang lainnya; Jombang, Sidoarjo dan Kediri.

Barakallah!
Kategori kedua FLP Terpuji. Nominatornya FLP cabang Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Lumajang. Aku nebaknya Lumajang sama Sidorajo tapi yang dibacakan Mbak Ami adalah FLP Surabaya. Congratz deh! Mereka memang patut mendapatkannya. Kerja keras memang selalu sepadan dengan hasil.

Dalam pidato kemenangannya ketua FLP Surabaya menegaskan bahwa mereka tak layak berbangga atas penghargaan tersebut. Karena cita-cita mereka sebenarnya bukan itu.  bukan itu tujuannya. Target mereka sesungguhnya adalah go international. Yuk didoakan, aamiin.

Selamat!
Penulis non-fiksi inspiratif dibacakan selanjutnya. Lima kandidatnya, Gunawan Mahendra dari FLP Malang, Hidayati Nur FLP Tuban, Fauziah Rahmawati FLP Jatim, Kholif A FLP Sidoarjo dan M.Rasyid Ridho FLP Bondowoso. Nah, pada saat ini, operatornya terlalu cepat mencet kursonya. Timingnya kurang pas. Jadi belum didreng-deng-deng sama Mbak Ami sudah muncul nama Mbak Zie.

Omedetou!
Untuk kategori fiksi ada Mashdar Zainal dari FLP Malang. Terkaan awalku beliau yang menjadi pemenang. Soalnya ‘kan sudah jadi pemateri juga. Empat saingan lainnya ada Arul Chandrana FLP Lamongan, Fanda Ari FLP Sidoarjo dan Nun Urnoto dari FLP Sumenep. Tebak yang menang siapa? Ternyata yang suhu yang dapat.

Siapa itu? Cak Nun Urnoto. Begitu biasanya rekan FLP Jatim memanggil beliau selain sandangan kata suhu. Beliau memang pantas karena untuk membuat komentar pun beliau mengutarakannya dengan sastra. Pesan beliau, jangan pernah berhenti mengirim karya ke media. Karena saking seringnya siapa tahu redakturnya bosen juga. Haha iya juga ‘kan?

Congratz!
Selain tersebut di atas masih ada satu lagi lho yaitu kategori penulis terpuji. Kali ini ada Bunda Novi dari FLP Lumajang, Verena Mumtaz FLP Jatim, Ummi Kulsum FLP Jombang, Teguh Surabaya dan satu lagi dari Jember. Kalau tak salah namanya Rifka. Karena tak memakai kaca saat acara aku hanya mengandalkan indera pendengar saja. Itu yang terdengar di telinga.

Wilujeung!
Anggota FLP Surabaya yang memenangkan  kategori itu. Ketika maju ke depan (tak mungkin maju itu ke belakang yaa itu sih namanya mundur :D) langsung diserbu anggota Surabaya lainnya. Go Surabaya, go!

Satu kategori lagi lho, Penulis Favorit. Ini berdasarkan voting teman-teman se JawaTimur. Suara terbanyak diraih oleh Mashdar Zainal Malang, Nun Urnoto Sumenep, Teguh Surabaya, Ummi Kulsum Jombang, dan sang ketua, Rafif Amir Ahnaf. Mantep dah para senior yang banyak penggemarnya. Saingan berat tuh.

Why? Entah siapa memilihku dengan dua nama berbeda. Nama pena dan nyata. Haha, dari dulu orang-orang suka memperbincangkan terkait dua nama ini. Selalu dikiranya yang bukan sebenarnya padahal nyatanya sama. Malah dengan tiga nama juga. You want to know the real me? Just me in the real world :p

Pak Rafif yang menang. Iyyap. Beliau kan jadi ketua FLP Jatim karena prestasinya yang bejibun. Setuju deh. Tapi ada yang tak setuju. Ada ceritanya. Selanjutnya mari kita beri judul Drama Babe. Babe, itu panggilan beliau di FLP Jatim.

Drama Babe
Bunda Novi tiba-tiba menyela saat tropi akan diberikan. Menurutnya Babe tak layak menerima penghargaan itu. Ya, alasannya banyak. Saking banyaknya aku pun tak mengingat salah satunya. Lagipula, aku tak mencatat juga ^^V

Aku awalnya setuju saja dengan pendapat Bunda Novi, karena harusnya tropinya diberikan kepada yang berhak. Seperti kutuliskan sebelumnya, Pak Rafif ‘kan memang ketuanya kita. Secara teknis harusnya memiliki karya yang lebih oke, keren yang berjuta-juta. Harusnya Babe didisk laiknya sebuah lomba yang mengatakan, yang sudah sering menang lomba tak boleh ikutan audisi. Karena banyak penulis mudah yang lebih dukungan torehan prestasi. Misalnya yang menuliskan ini. Jauh, euy jauh haha.

Sebagai artis nomor satu, tak mungkin Babe terpilih bukan kalau tak banyak fansnya, adalah anggota yang keberatan juga. Ingin mengemukakan pendapat bahwa Pak Rafif memang layak mendapatkan tropi itu. Aduh, Aula Lingkar Pena jadi semakin gaduh. Namun kemudian menjadi tenang dengan kedatangan Ummi Rita.

Sungguh membuat takut. Aku saja sampai tak berani mengangkat kepala. Aku juga berpikiran macam-macam. Ummi Rita malah berseberangan pendapat dengan Bunda Novi. Pak Rafif itu sudah mengorbanan segalanya untuk FLP Jatim. Khususnya acara silaturahmi wilayah jawa timur di Writing Camp Lumajang ini. Apalagi kerja keras beliau lima hari belakangan. “All of you, you should see this,” begitu kira-kira ungkap Ummi Rita versi aku.

Setangkup kue dengan lilin menyala di atasnya. Surprise! Babe ultah tho, kukira drama ini nyata ternyata hanya fiksi belaka. Good performance! Adegan drama yang luar biasa, serasa menonton opera.

“Hatiku luluh lantak,” respon Pak Rafif memulai pidato keberhasilannya, “hancur selebur-leburnya.” Tuh, ‘kan bahkan sang ketua tertarik dengan kata itu. Luluh lantak masih menjadi trending di FLP Jatim hingga seminggu kemudian.

Tanjoubi Omedetou!
“Ada banyak organisasi, tapi FLP adalah ukhuwah yang mahal. Belajar menulis sebenarnya bisa di mana saja, tapi kebersamaan di FLP tak bisa dilupakan begitu saja.”

Selalulah kuat
Selalulah produktif
Selalulah berani mengutarakan kebenaran

Pesan Pak Nun Urnoto dalam do’anya. Begitulah FLP kemudian berakhir dengan haru.

Along Remembrances’ Way
Di sepanjang jalan kenangan kita menemukan dedaunan jatuh berguguran. Kulihat kelabunya jalan. Ketika langit siap menghapus kenangan dengan jutaan tetesan airnya. Namun begitu kami segera menuliskannya di lembaran kertas warna-warni. Menuliskannya di atas catatan pribadi. Mempublikasikannya di blog kami. Mengukirnya abadi di hati. Sebelum akhirnya kenangan itu pergi. Menghilang ditelan bumi. Merantau berganti memori.

Kenangan
Di sepanjang jalan kenangan kusaksikan bunga-bunga bermekaran. Melahirkan kebahagiaan. Mengalirkan ide-ide segar tanpa terpikirkan. Melambungkan coretan makna kenangan. Menorehkan keriangan di antara kata-kata yang pilihkan pena menjadi karya.

Di sepanjang jalan kenangan kita masih akan terus mengenang. Kisah-kisah ceria. Cerita-cerita cinta. Dalam kebersamaan, dalam kenangan. Forum kita, forum lingkar pena. Sebuah jalan kita menuju surga. Insya Allah!

*selesai ditulis hingga tandasnya seteko teh melati.

Postingan selanjutnya tentang kebun teh. Menjawab pertanyaan panitia saat outbound. Wait and see yaa.

Items on Detail [Writing Camp Expedition II]

Main Dulu
Setiap sebelum acara dimulai mesti ada games menarik yang disediakan panitia. Game pertama yang dimainkan saat kami semua datang berkumpul bernama Game Taaruf. Aula lingkar Pena.

Panitia membagikan lima kertas berwarna-warni kepada masing-masing peserta. Kami diminta menulis nama lengkap dan asal FLP cabang. Kemudian menggulung dan memasukkan kertas ke dalas gelas yang disediakan. Setelahnya masing-masing peserta ikhwan dan akhwat membuat lingkaran besar.


In Colors
Peserta tidak diperkenankan membuat rekannya memiliki gelas kosong tanpa kertas. Sebaliknya peserta yang lain harus membagikan kertas yang dimilikinya sebanyak mungkin. Time’s up! Itu artinya semua peserta harus kembali duduk dan menyebut nama yang tertera di gelasnya. Serta mencari dan bekenalan dengan seseorang tersebut. Selanjutnya acara kesepakatan kontrak belajar.

Di kontrak belajar, kami dibagi empat kelompok masing-masing putra dan putri. Kali ini tentang kontrak belajar. Ada empat kelompok; disiplin, bersih, kreatif, dan solid. Nah, kita dimintai peraturan yang cocok. Rules yang kemudian akan disepakati dan dijalankan bersama. Namanya juga anak sastra, kaidahnya pun dituliskan dengan rasa. Dari tim solid, bersatu kita sendiri, belima kita ngumpul, hihi. Sesudah seluruh peraturan disahkan, berlanjutlah acara, motivasi menulis dari Bunda Shinta.

Motivasi Bunda Shinta
Materi pertama disampaikan oleh Bunda Shinta. Beliau memaparkan tentang motivasi menulis kepada para peserta. Ketua FLP se-dunia tersebut dipandu oleh Mbak Zie; membagikan oleh-oleh dari Korea. Writing Residence yang diikuti Bunda Shinta beberapa waktu lalu. Seol Foundation of Arts and Culture. Sekitar satu bulan di sana.

Sebelum memulai, Mbak Zie memainkan pena sembari berfilosofi tentangnya. Pena yang dapat membuat perang dunia. Memulainya dari kata-kata yang dituliskannya. Bahkan menurut Sayd Qutb, jika penembal jitu bisa melumpuhkan seorang dengan satu peluru maka dengan satu pena, penulis dapat menembus jutaan kepala.

Bunda Shinta Yudisia sesekali menampilkan video-video beliau saat di Korea. Pemaparan beliau membuatku tak berhenti berdesir. Apalagi saat beliau menceritakan bahsa indonesia yang dibacakan di depan audience Writing Residence. Menurut mereka, bahasa indonesia adalah bahasa yang sangat indah. Mereka berkesan, “Indonesia, good people, good prayer.”

Cerita beliau mendapat undangan ke Korea adalah tentang karyanya yang dimuat koran nasional dan tak mendapat fee dari redakturnya. Nyatanya rezeki beliau bukan nasional tapi di level internasional. Bukan di Indonesia namun di Korea. Judulnya, Sedekah Minus yang terbit di media tahun 2012 silam.

Semangat penyair, begitulah kata Bunda yang membuat Korea maju seperti sekarang. Adalah Dong Ju, penyair Korea yang ditahan Jepang hingga ia berpulang. “Janganlah para remaja Korea pernah berbahasa Jepang karena oleh mereka saya diinjak dan dihina,” pesan Dong Ju yang dipaparkan Bunda.

Begitu hormatnya bangsa Korea mengenang Dong Ju, dan tidak terjadi pada Chairil Anwar di Indonesia. Miris memang. Para pejuang pena masih rendah di mata masyarakat nusantara. Tak sederajat dengan dokter ataupun tentara.

Banyak penulis mancanegara yang menginspirasi beliau, seperti yang tertulis di sini. Salah satunya pesan agar seorang penulis setidaknya memiliki dua sampai tiga ketrampilan lain. Misalnya menulis, bernyanyi dan memainkan gitar sambil bermusikalisasi. Hmm, aku apa ya? Ingin menguasai dunia menulis, desain dan fotografi. Harapan selanjutnya memenangkan DSLR di arena kompetisi. Doakan ya. Yuk, asah juga kemampuan yang lain, yang kita minati tentunya.

Jangan menjadi penulis ynag begitu-begitu saja. Jadilah penulis yang inspiratif. Yang menyuarakan kebisuan. Menebar kebermanfaatan, kebaikan. Ingin go international juga? Saran beliau cobalah menulis dengan bahasa Inggris. Coba kunjungi web resartis dan banyak-banyak mengirimkan karya ke media. Semangat!

Main Lagi!
Game kedua dimainkan sehabis Isya’. Nama permainannya Game Angka. Itu aku yang menamakannya, aku lupa Mbak Zie menyebutkan apa namanya. Jadi dalam sebuah lingkaran besar kami diminta menyebutkan angka. Di angka tiga, tujuh dan kelipatannya diharuskan mengatakan ‘boom.’

Ronde pertama aku sudah kalah. Harus diakui aku lebih menyukai permainan rasa dalam kata daripada logika. That’s why aku diterima di jurusan sastra. Permainan semakin sengit saat lingkaran menjadi semakin kecil. Peserta yang lain satu per satu jatuh berguguran. Di akhir permainan, Mbak bergamis hijau dan pria berbaju putih maju sebagai pemenang. Materi tentang keefelpean kemudian disampaikan Pak Rafif.

Keefelpean [Rafif Amir Ahnaf]
Malamnya selepas Isya’, Rafif Amir Ahnaf, sebagai ketua FLP Jawa Timur mengisi materi selanjutnya. Qabla memulai paparannya beliau menceritakan kisah marcus Decade. Seorang Sastrawan Prancis yang menuliskan tulisan yang amat vulgar. Itulah mengapa ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan.

Meski di dalam penjara, ia tetap berkarya. Menuangkan isi kepala dengan tinta-tinta. Istri sang sipir penjara kemudian yang menjadi kurir. Mengantarkan karya-karyanya ke media tanpa diketahui oleh negara. Namun akhirnya mereka dapat mengendusnya.


Writer Style
Maka diambillah, fasilitas yang mendukung Decade untuk menulis, akan tetapi ia tetap menulis. Decade melontarkan idenya dengan anggur yang dihidangkan kepadanya. Di atas sprei tempat ia berbaring kelelahan. Istri sang sipir tetaplah yang menjadi pesuruhnya. Saat anggur ditiadakan, ia menulis dengan darahnya di atas baju yang ia pakai. Tulisannya pun dicium penguasa, dan pakaiannya ditanggalkan. Pada akhirnya ia menulis dengan tinjanya di dinding penjara.

Sebagai penulis yang bijak, tentunya kita tahu ada hal yang tak patut dicontoh pada diri Decade. Namun semangat menulisnya yang harusnya jadi panutan. Gigih dan terus berjuang terhadap apa yang dicitakan. Fokus sampai lulus! Yosh, berdo’a semoga dosen pembimbing segera diumumkan. Eh :D

“Kematian sesungguhnya bagi saya bukanlah saat dipenjara, namun saat saya berhenti menulis. Penjara yang sesungguhnya bagi saya adalah saat ide saya terpenjara.

Seperti Pak Rafif jelaskan, FLP bermula dari diskusi kecil tiga srikandi; Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Lalu lahirlah FLP pada 22 Februari 1997. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia, kenang Pak Taufik Ismail. Organisasi yang memberikan pencerahan lewat tulisan.

Salah satu falsafah FLP bermula dari visi yang membulatkan tekad untuk cinta baca, menulis dan membangun jaringan penulis. Di FLP Jatim sendiri kita memiliki rapor bulanan yang wajib disetor, kemudian adanya FLP wilayah-cabang hingga ranting. Juga Taman Baca dan Kelas Menulis di setiap pekannya.

Karena FLP adalah organisasi, maka tak hanya kepenulisan yang kita fokuskan tapi juga keorganisasian dan keislaman. Sebab sejatinya kita adalah mujahid-mujahidah pena yang mengharapkan karyanya bagai amal jariyah yang mengalir hingga ke singgasana surga.

Saat semua peserta beranjak memeluk dinginnya malam, seorang  utusan dari setiap cabang berkumpul. Mendiskusikan permasalahan yang dialami. Entahlah apayang mereka perbincangkan, sang ketua belum membagikan kisahnya. Mungkin nanti, ketika semua anggota kembali ke kampus. Ya,di Bangkalan semua anggota berstatus mahasiswa. Yang kini masih berlibur ria. Doakan, nantinya anggota datang dari berbagai kalangan; ibu rumah tangga, guru, dan berbagai profesi lainnya. Serta anak-anak tentunya. Biar ada FLP Kids juga.

Itu permainan dan materi di hari pertama. Di hari kedua, hari dimulai dengan Tahajjud, Shubuhan dan dzikir Al-Ma’tsurat bersama. Sesudahnya outbound di bebukitan kebun teh. Ini ceritanya, berikut jawaban dari pertanyaan panitia saat itu. Tak ada game lagi di hari kedua.

Biarkan Jari Menari [Fiksi Mashdar Zainal]
Mashdar Zainal menjadi pemateri pertama pada keesokan harinya. Materi yang dibawakan tentang menulis fiksi. Paginya saat mentari belum menampakkan keemasannya kami mengunjungi hijaunya kebun teh dalam sebuah perjalanan. Serta senam pinguin lucu sebelum acaranya benar-benar dimulai.

Dengan dimoderatori oleh Wahyu Purwanto beliau menyajikan cerita yang sangat indah di awal acara. Kisah ayah dan rumah. Ayah yang tak pernah hadir di hadapan sang anak. Ibu yang menafsirkan ayah sebagai rumah tempat berpulangnya lelah.


Sajak Kehidupan

Berikutnya, pada layar proyektor Pak Mashdar banyak menampilkan kalimat-kalimat penuh perasaan. “Ini hanyalah susunan kata-kata yang saya manis-maniskan.” Tertuli di layar, biarkan perasaanmu mengembara, menemukan benang kata terindah. Biarkan jarum penamu menari memintal benang katamu. So sweet, bukan?

Sebai penulis yang banyak termuat karyanya di berbagai media, beliau mengaku menargetkan membaca lima cerita pendek dalam sehari. Kemudian menuliskan satu cerita terbaik dalam sepekannya. Begitulah salah satu resep rahasia beliau.

Pak Mashdar tak banyak berteori karena beliau lebih banyak menggunakan waktu untuk menjawab pertanyaan peserta. Ada satu kata peserta yang menjadi trending pembicaraan para anggota FLP Jatim hingga sekarang.  Ketika salah seorang peserta asal FLP Lumajang menyebutkan kata “luluh lantak.” Itulah kata yang muncul dengan timing tepat.

Sehabis materi Pak Mashdar tersampaikan, Ibrahim Maulana, ketua FLP Surabya menyampaikan satu-dua patah kata berharga. Mengucapkankan penghargaanya terhadap seorang anggota FLP, Zaky yang ahli di bidang gambar. Dari keahlian inilah ia mendapatkan berbagai gadget keren termasuk laptop dan wacom. Alat yang saat kita menggambar di atasnya, visualnya langsung muncul di PC.


Shining Culture
Beliau menghimbau para peserta untuk menghargai karyanya dengan mendukung salah satu karyanya di sini. Next, kami diberi oleh-oleh kece. Buku Prejengane Kutho Suroboyo. Aw, mengagumkan bukan buah tangannya. Wah, terimakasih, FLP Surabaya! Buku yang berhalamankan 300 itu dilengkapi dengan ratusan foto didalamnya. Jadi nanti bacanya nggak bosan.

Isinya tentang berbagai budaya yang di penjuru Surabaya. Tak ketinggalan pula lezatnya kuliner dan serunya permainan tradisional di sana. Buku yang menghabiskan waktu dua tahun pengerjaannya ini berkolaborasi dengan PT Smelting. Keren ya, negosiasinya sampai bisa menariknya sebagai sponsor. Patut dicontek nih dan diburu ilmu marketingnya.

FLP Banyuanyar juga tampil ke depan. Salah satu ranting dari FLP Pamekasan ini mengundang kami, anggota se FLP Jawa Timur ke acara Tasyakuran mereka bulan Oktober nanti. Asyik, bakalan reuni lagi nih.

Non-Fiksi Bunda Wigati
Kalau ada materi fiksi pastinya juga ada non-fiksinya juga dong. Karena FLP bukan tentang cerita khayalan saja. Realita, fakta, kenyataan juga ada dong pastinya. Kali ini Bunda Abiyz Wigati yang akan memaparkan tentang itu. Tetapi sebelumnya ada yang lewat dulu.


Bacalah!
FLP Kids Lumajang, menampilkan sebuah pertunjukan. Ada gadis berbusana pink bunga-bunga memaikan biola. Rekannya dengan kaos hijau biru mepresentasikan sastra. Ia membacakan puisi di sana. Pagelaran musikalisasi puisi dimainkan dengan cantik nan indah.

Di Writing Camp kedatangan tamu spesial setelah itu dari Dinas Pendidikan Lumajang. Dalam sambutannya beliau berharap organisasi yang kita rintis berbagi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena papar beliau sesungguhnya menulis adalah menularkan ilmu. Yang dengan itu mudah-mudahan menjadi amal jariyah nantinya.

Barulah setelahnya acara non-fiksi dimulai. Bunda Wigati didampingi Mbak Cici meminta kita membagi kelompok yang di dalamnya terdapat dua orang saja; si A dan si B. Ada dua menit yang diberikan bagi si A untuk bercerita tentang jalan-jalan di kebun teh tadi paginya. Sebaliknya si B juga bercerita dengan topik yang sama namun dengan sudut yang berbeda tentunya.


Tabayyun!
Lepas bercerita, si A mauupun B menuliskan apa yang didengarnya. Beberapa peserta dipilih untuk menceritakan tulisannya di depan. Dari simulasi tersebut Bunda Wigati kemudian menjelaskan materinya. Ada validitasnya yang harus dimiliki.

Sebuah tulisan atau bahkan postingan salinan yang kerap kali kita temukan di grup. Katanya, copas dari grup sebelah. “Grup sebelah iku sopo? Ojo’ sembarang share!” Harusnya sebagai penulis yang arif, kita tak sembarang comot dari status di efbi misalnya. Cantumkan! Siapa penulis aslinya, siapa pemilik foto sebenarnya; sang fotografer. Jangan asal menampilkan atau membagikan karya orang. Tulis dalam kutipan apalagi dalam sebuah penelitian. Wajib itu hukumnya.

Postingan pertama bisa dibaca di sini, happy reading. Oia, ada yang seru juga di FLP Awards.

Kamis, 18 Agustus 2016

A Journey to Lumajang [Writing Camp Expedition I]

How We got There
Sejak ba’da Shubuh, di bawah gerimis yang jatuh di pulau Garam, tujuh orang bidadari berlarian kecil berlindung dari hujan yang jatuh ke bumi. Berkumpul di halte, menunggu kendaraan yang sudi mengangkut diri yang sedikit menggigil. Tepat tiga puluh menit dari angka lima, kami pun berangkat. Menuju Suramadu, penghubung dua pulau; Jawa dan Madura. Tepatnya Kabupaten Bangkalan dan Kota Surabaya sana. Konon menurut ibu ketua, rute ini jalan tercepat agar kami tak datang terlambat.

Masih Menunggu
Namun nyatanya tak sesuai perkiraan. Menunggu dan terus menunggu. Bis besar yang biasanya lewat tak kunjung memunculkan badan bongsornya. Jam setengah delapan, barulah kemudian kami memutuskan menaiki mobil yang sedari tadi menawarkan diri menjadi alternatif kami. Maka dengan tiga penumpang tambahan berangkatlah mobil membelah lautan.

With Love
Gerimis masih melawat bumi saat kami sampai di Kota Pahlawan. Langit masih muram, congkak dengan kelabu yang ia tawarkan. Kami bertujuh anggota FLP Bangkalan bergegas mencari bis tujuan. Bis tua yang akhirnya memilih kami. Mesinnya tampak sangar dengan suaranya menderum geram. Bisa ditebak, bis yang kami tumpangi mogok di Pasuruan. Dan itu semakin menambah keterlambatan kami. Bis hijau nan elegan, ke sanalah selanjutnya kami berpindah tempat. Menyisakan bis tua mengigil di jalanan.

Terilhami Pasuruan
Daripada tergugu kala menunggu, kuperhatikan jalan saat memasuki kota Pasuruan. Persemedian ini dimulai ketika bus tua merengek. Bermula dari sebuah reklame yang terpasang di pinggir jalan. Sebuah ajakan Diskominfo Pasuruan. Intinya mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada pengamen, pengemis dan pengelap kaca mobil. Melihat itu segera saja aku menggerakkan jemari; mencatatnya. Aku terinspirasi sesuatu.

Berganti bus elegan berwarna hijau pun lamunan terus berlanjut. Renungan berganti ketika banyak pekerja sedang berusaha mendestruksi dan membangun trotoar. Pemandangan itu berlangsung lama. Inspirasi kemudian muncul kembali. Ditambah melihat pedagang minuman yang terjepit.

Kotak Kehidupan
Seorang yang tampak sebagai adik-kakak terlihat saling berpelukan. Beragam minuman bubuk dalam sachet bersembunyi di belakangnya lengkap dengan alat penghancurnya; blender. Sementara itu para pekerja sedang menhancurkan material trotoar lama di kanan-kiri mereka berdua.

Kalau kita telaah kembali, sebenarnya fungsi trotoar adalah side walk. Tempat untuk para pejalan, mirisnya fasilitas ini banyak diambil alih pedagang kaki lima. Sudah ribuan barangkali Satpol PP mengusirnya namun tak banyak pedagang terinspirasi untuk taubat.

That’s why Fathia Izzati, seorang vlogger yang bercerita pada dunia bahwa kebanyakan orang Indonesia lebih banyak bepergian menggunakan motor. Selain karena menghindari kemacetan, khususnya di Ibu Kota adalah karena fasilitas side walk yang tidak memadai. Atau karena diambil alih? Whoaa, jadi ingin teriak rasanya.

Tradisi Oral dan Minak Koncar
Sekitar jam satu siang bis hijau pak kondektur mengatakan akan tiba di Terminal Wonorejo. Namun berdasarkan arahan dari panitia, seharusnya kami berhenti di Terminal Minak Koncar. Awalnya sempat bingung juga tapi ternyata hanya perbedaan istilah saja. Seperti Bu Hanifah paparkan di kelas LRM, bahwa kebanyakan orang Indonesia masih menganut tradisi oral.  Lebih terkenal apa yang dikatakan orang-orang daripada yang tertulis di papan.

Negeri Awan
Misal di bandara, sudah jelas tertulis tujuan ini, itu ke mana namun masih saja bertanya pada orang di sekitarnya. Ya samalah, dengan kasus terminal tersebut. Tertulisnya Minak Koncar tapi orang lebih mengenalnya Wonorejo. Di Pamekasan juga ada, tertulis nama pasar Tujuh Belas Agustus, namun orang lebih mengenalnya dengan Pasar Bara’. Atau sekolah di dekat rumah terkenal dengan SMEA, padahal tertulis SMKN I. Mungkin karena dulunya bernama begitu.

Sesampai di terminal hal pertama yang kami lakukan adalah mencari masjid karena panitia menyediakan angkutan untuk para peserta di sana. Masjid dalam keadaan terkunci. Aneh juga ya, padahal itu adalah fasilitas umum. Karena tak bisa masuk, kami memilih duduk di pinggiran trotoal sambil melepas penat dan mulai menghubungi panitia. Selang beberapa menit ada anggota FLP lain yang mendekat. Mbak Fitri dari FLP Lamongan dan Mbak Nur Gresik.

“Sudah sholat?” Mbak Nur yang bertanya diiringi gelengan kepala rombongan. Ternyata ada jalan rahasia menuju masjid, masuk ke sebuah area parkiran. Karena mobil jemputan belum kunjung tiba, kami memanfaatkan waktu dengan menjamak sholat terlebih dahulu.

Mobil Jemputan dalam Imajinasi
Setelahnya kami ngobrol ngalor ngidul dengan para anggota sembari menunggu. Mobil jemputan yang disediakan panitia untuk mengangkuti kita. Karena hari waktu beranjak sore, sedangkan jam makan siang akan segera lewat. Maka topik yang terpilih adalah gerobak bakso di seberang jalan. Mulai deh sikut-sikutan siapa yang akan menjamin semua anggota dengan traktiran.

Jangan ditanya deh mahasiswa yang sedang galau akan isi dompet yang beberapa hari lagi ludes akibat perjalanan panjang. Maka hingga akhir, tak ada yang bancaan. Selanjutnya semoga ada rezeki dari Allah mentraktir kalian. Perbekalan sedang pas juga soalnya. Belum lagi kelar Writing Camp langsung cuz bayar daftar ulang kuliah. Jadi doakan saja semoga selanjutnya aku bisa.

Di chit-chat grup FLP Jatim sempat disinggung perihal mobil jemputan. Dalam sebuah candaan ada yang mengatakan rombongan akan dijemput menggunakan truk. Jadilah beberapa delegasi sibuk memperhatikan truk yang lalu-lalang.

“Truk yang mana, Mbak?” tanya seorang anggota. “Truk yang bercat merah muda,” mendengar penjelasanku mereka mangut-mangut, ”dengan bumper senada warna lautan Indonesia; tosca,” yang mendengarkan alisnya mulai mengerut.”Jangan lupa si pengemudi katanya mengenakan kaos merah menyala,” sontak deh tertawa.  Ketahuan bohongnya.

Jelas itu hanya imajinasi. Dasa pencinta fiksi ya. Eh, tapi ada sopir berkaos merah kemudian mendekat. Menanyai kami. Itu dia pengemudinya! Wah, imajinasi menjadi nyata nih.Tapi bukanlah, itu cuma sopir angkot yang menawarkan diri. Aslinya panitia yang menjemput menggunakan kaos biru-hijau. Seragam seluruh panitia Writing Camp 2016.

Ia datang dua jam kemudian. Hikmah menunggu, kami jadi memilki waktu buat jama’ sholat dan saling berkenalan satu sama lain, hingga berimajinasi sampai ke negeri berawan. Mobil pun melaju, menaiki bebukitan. Menanjak dan terus maju hingga hawa dingin merasuk. Mengetuk pintu dan membisiki sesuatu, “welcome to Writing Camp!”

Hello There
Yosh! Kami pun bersorak kegirangan menyaksikan bunga-bunga di kanan-kiri jalan. Aloha Gucialit, Lumajang! Sesampainya di penginapan, kami disambut para panitia berseragam biru dan menuntun kami ke jalan rahasia. Dari aula menuju ke kamar peserta.

Rentetan Recehan
Ada uang dapat berjalan-jalanlah kita. Meski tak selalu begitu karena kita memiliki kaki pemberian Tuhan yang dapat dipakai bersama sandal atau sepatu. Kita juga dianugerahi Allah kemampuan yang sangat luar biasa, yang dengannya kita secara ajaib mengeluarkan pundi-pundi. Alhamdulillah, perjalanan kali ini terbantu dengan lolosnya dua tulisan di blog. Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?

Pun begitu mari kita rincikan. Seluruh pengeluaran saat di perjalanan. Utamanya ongkos yang membawa kita dari dan menuju Lumajang. Dari Telang kami menaiki angkot yang dikenakan Rp. 6. 000,00- ke arah Tangkel, daerah menuju Suramadu. Dari sana kami menaiki mobil carry dengan biaya Rp. 25.000 hingga Terminal Purabaya (Bungur) Surabaya. Bis Ak*s kena Rp. 35.000, bis yang kemudian ngadat di Pasuruan. Menuju lokasi kami dijemput.

Pulangnya, setelah diantar ke Terminal Minak Koncar oleh panitia, kami menaiki bis yang lupa kuingat apa warnanya. Dengannya kami ditagih Rp. 23.000 saja. Berbeda jauh ya. Bis ini mengantarkan kami bertujuh hingga Terminal Purabaya. Dari sana kami lanjut menumpangi bus Damri yang kemudian kena Rp. 6000, bis mengangkut rombongan sampai ke Pelabuhan Perak.

Tetibanya di sana, kami langsung berlarian mengejar kapal karena waktu menunjukkan jam sebilan lewat. Jam segitu, itu giliran kapal terakhir yang berangkat. Kalau tidak cepat bisa terlambat dan baru dapat keesokan harinya jam setengah tujuan. Karcis seharga, Rp. 5000 tapi biasanya kalo menujukkan kartu mahasiswa bisa korting seribu.

Sampai di seberang alhamdulillah rombongan tiba dengan selamat di Pelabuhan Kamal. Kembali naik angkot menuju Telang dengan Rp. 5000. Dengan itu maka berakhirlah perjalanan hari itu. Stay tune, ya. Postingan selanjutnya aku akan bercerita tentang dua hari di Lumajang. Lengkap dengan rangkuman seluruh materi. Ja, ne!

Senin, 15 Agustus 2016

Tugas, Hobi dan Serba-Serbinya

Jika kita diberi amanah otomatis orang tersebut mengerti dan paham bahwa kita sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan. Apabila kita sebagai anggota kemudian disuruh sang ketua melakukan sesuatu pastilah ia tak sembarang menunjuk. Pastilah dengan berbagai pertimbangan.
Allah kan juga gitu. FirmanNya di ayat terakhir surat Al-Baqarah. Allah tak akan memberikan suatu ujian melainkan sesuai dengan kesanggupan hambaNya. Allah tahu kadar kita. Dan begitulah ujian atau cobaan yang kita dapat.

Karena aku suka corat-coret [baca: mendesain], maka itulah tugasku saat itu. Membuat desain keren untuk acara perekrutan anggota baru. Ya, jadi waktu itu, aku kedapetan tugas membuat poster. Dan ibu ketua memintaku untuk menyelesaikannya hari itu juga. Mendadak? Sangat! Ah, tak sukanya organisasi yang kesusu. Tapi untungnya Allah memberikan ide segar sehingga itu desain sudah terbayang-bayang di kepala.

Sampailah, aku ke depan komputer jinjing a.k.a lepi. Laptop yang sudah menemani sejak aku SMP dan sampai kini akan memulai skripsi. Yah, itulah satu-satunya PC yang Mbak warisi. Jadi mau tak mau akan kujaga sepenuh hati hingga nanti. Hihi, kok malah berpuisi ya.

Saat kubuka dan sang lepi mulai menyapa, ia terlihat bahagia dan baik-baik saja. Selanjutnya  program Corel yang sudah menemaniku malang-melintang di dunia desain pun terbuka. Awalnya sih baik-baik saja tapi tiba-tiba ia ngadat. Kursornya tak bekerja. Huhu, sedangkan ibu ketua sudah memanggil-manggil. Meminta hasil desain.

Whoa, piye iki? Ketua sudah meminta sedangkan desainnya belum kelar. Indeed, komputernya tak bisa diajak bekerjasama. Terus aku kudu piye? That’s thing just made me crazy.

Tugas ngadat gegara komputer itu memang sangat sesuatu. Apalagi di tengah tenggat dan kita tak bisa minggat. Benar-benar deh pokoknya. Kepala seperti cahaya di malam gelap penuh ngengat. Wuing-wuing, seperti kunang-kunang.

“Kayaknya kamu memang perlu ganti deh. Laptopmu juga sudah sepuh, sudah senior,” begitu kira-kira saran seorang teman. Hmm, memang sih. Tapi terus bagaimana? Desainku juga harus selesai secepatnya. Tanggap membaca keadaan, temanku kemudian meminjamkan laptopnya. Ya, untungnya di kos ada lima anak yang juga jago mendesain. Jadi tanpa menunggu menginstal aplikasinya kembali, aku pun mulai bekerja, lagi. Mendesain poster keren layaknya pinta sang ketua.

Tuh kan, laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha. Allah takkan memberatkan hambaNya. Pasti selalu ada jalan keluar saat hambatan menghadang. Saat komputer kita error, ada teman yang meminjamkan. Di lain kesempatan saat terkonek wifi akupun mencoba gugling. Mencari spesifikasi laptop yang kira-kira cocok dan ramah di kantong.

Tibalah aku di MatahariMall. Kebetulan sedang ada promo laptop Acer murah juga. Wah lumayan ini. Promo juga ada yang up to 30%. Deskripsi di halaman membuatku tertuju ke Acer Aspire ES1 131. Karena harganya terjangkau hanya 3 jutaan dan mungil pula. Jadi tak khawatir memberatkan punggung saat memanggul ransel. Tahulah anak semester akhir semakin bejibun saja tugasnya. Tapi ada juga Acer Aspire ES1-131-C3V5 yang harganya 2 jutaan pakai diskon pula. Wah jadi mupeng kan.

Buat yang borjuis, mau mahalan dikit juga ada. Acer Predator namanya. Keyboardnya bisa menyala lho. Jadi kalau gelap atau mati lampu, tak perlu khawatir huruf keyboard tak kelihatan. Lengkap dengan cool pad yang akan dengan mudah mendinginkan laptop yang kepanasan.Tepatnya seri Acer Predator 15 G9-591 i7 6700HQ GTX970M. Kalau yang ini di MatahariMall bisa dibawa pulang seharga Rp 27.990.000 Lumayan bukan? Di toko lain hampir 29 jutaan.
Lho kok cari yang mahal? Kan katanya Allah pilihlah firdausil a’la. Surga yang paling tinggi derajatnya. Selaras sama Ustadz Yusuf Mansur, kalau kepengen apa-apa jangan yang kecil. Allah Maha Besar, mintalah yang besar-besar padaNya.

Ah, kalau rezeki takkan ke mana. Allah tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Seperti Allah tahu ujian yang sesuai dengan kadarnya. Bismillah, doakan saja kawan :)


Nah, mumpung ada promo laptop Acer murah. Yuk ah!

Minggu, 07 Agustus 2016

Ophi Ziadah, Sang Jawara Lulusan Australia


Beliau adalah..
Tamu kita di hafcoum.blogspot.com kali ini adalah Mbak Ophi. Seorang sarjana hukum lulusan Autralia sana. Tepatnya di Melbourne University ambil School of Law sebagai tujuan masternya. Umm, maka tak heran beliau sekarang ikut berkecimpung dengan urusan perundangan di DPR. Jago sih. Karena keahlian ini pulalah, Mbak Ophi memiliki blog khusus yang serius memaparkan tentang perhukuman di Marlekum. Mari melek hukum, begitu tagline-nya.


Graduated
Meski  begitu rumah adem seorang mamah dengan tiga anak ini, beliau sering menyebutnya dengan Mom of Trio Krucils menetap di ophiziadah.com Rumah yang telah lama dihuni semenjak 2012 lalu. Wah pantes sudah jago ya. Berarti sudah empat tahun kayak Mbak Deka.

Untuk blografi kali ini, aku bikin wawancara lagi selain inspect di rumah beliau (baca: kunjungan blog). Saat chatting pertama dengan Mbak Ophi, seperti biasa kita perkenalan. Tau, aku anak UTM (Universitas Trunojoyo Madura), beliau langsung tanya tentang Gita Arasy. Teman beliau selama S2 di Melbourne. Honestly, I don’t know her well. Tapi untungnya teman kos ada yang kenal. Kebetulan dosen Teh Lia di Akuntansi. According to Teteh, beliau ngajar perpajakan di kelas. Oh..

It Called as Family
FYI, Mbak Ophi S2-nya pakai beasisiwa lho. Luarbiasa bukan? Jadi pengen juga. Bismillah, ya. Apa sih yang bisa kalau kita usaha. Seperti kata Mbak Ophi, kalau mau dapetin beasisiwa kudu "don't give up." Pastilah ketat banget seleksinya. Namanya gratisan kan juga harus wira-wiri sana-sini ngurusin dokumen*ga digemukin aja, haha. Usaha, usaha! Karena terdapat ratusan beasiswa yang bisa kita menangkan. Insya Allah! Makanya hardwork, itu penting. Jangan lupa juga minta sama Allah :)

Labelling
Waktu pertama berkunjung ke beranda Mbak Ophi, ada banyak postingan yang terlihat. Uncompleted writing, karena kalau mau lihat keseluruhan blogpost harus click here to continue. Tak seperti blog saya yang belum rapih ini. Satu beranda berisi lima postingan penuh. Ah, semoga segera beberes ini blog.

Up
Semua postingan oke-oke. Anggota arisan juga setuju, kalau tulisan Mbak Ophi keren-keren. Betah deh lama-lama di rumah Mbak Ophi. Nah, karena pas pertama berkunjung jadinya bingung melihat tulisan yang kece-kece itu, akupun mencoba menelusuri. Melihat berbagai kategori. Untungnya Mbak Ophi menandai postingannya dengan label maka tibalah aku di sana.

Berbunga-bunga Kita
Ternyata Mbak Ophi punya 15 label. Paling banyak Travelling ada 121 tulisan (pas terakhir berkunjung). Akupun berencana meluncur, karena akan banyak tempat keren yang tersinggah nanti. Tapi melihat 121 sebagai angka tertinggi, maka akupun penasaran sama it smallest number. Dan aku tersangkut di sana; Food Combining!

Food Combining
Wah seru nih! That’s words yang terbenak saat itu. Indeed, aku juga pelaku food combining. That’s why I interested in. Aku buka deh satu-persatu tulisannya. Ummi yang awalnya asyik ngerujak di sampingku jadi ikut-ikutan baca. Haha, ketularan virus. Penasaran sama anaknya yang khusyu banget baca henpon.

Dua jam lebih terikat sama tulisan itu. Malam yang menjadi semakin dingin jadi terlupakan. Ah, betah deh pokoknya baca tulisan Mbak Ophi. Bener kata buibu arisan. Saking betahnya sampe lupa lagi chattingan sama beliau. Gomenne, Ophi-sama.

Merona Ia
Food Combining sendiri aku diperkenalkan oleh Adek dari sebuah buku. Persisnya buku Mitos dan Faktanya Erikar Lebang. Tak hanya itu, Adek juga nyuruh ngubek-ngubek blog beliau. Dan menemukan konsep food combining di situ.

Berketepatan waktu sakit pas itu. Jadilah konsep itu teraplikasikan. Makan makanan yang tidak diolah a.k.a rawfood. Seperti mengkonsumsi buah dan sayur. Makanan yang tak perlu dikukus, digoreng atau ditambahi bahan lainnya serupa gula. Cukup makan bahan itu saja.

Itu lebih sehat lho karena rawfood bisa membuat PH tubuh menjadi seimbang dan bebas dari berbagai serangan penyakit mengerikan. Lebih lanjutnya tentang food combining, bisa tuh kepoin blognya Mbak Ophi di label tersebut. Atau main-main ke blognya Erikar Lebang, sang pakar.

Anyway, baca blognya Mbak Ophi jadi pengen ikutan lomba sunpride. Tapi kalau menang buahnya dikirim ke daerah jadebotabek saja. Hiks, akunya kan di Madura. Mupeng juga lihat Mbak Evrina yang berkali-kali menang lomba sunpride. Eh, kalau hadiahnya dikirim ke rumahnya Eceu, kumaha nya? Ada tuh sodara di Bogor.

Tampilan Blog





Tampilan Mbak Ophi, simpel. Nggak terlalu banyak ornamen tapi cantik. Aku suka button Mom of Trio-nya. Eh, itu button bukan ya? Sama desain click here to read more-nya. Kece! Jadi kepikiran buat juga. Bismillah, otak-atik Corel nanti.


Backgroundnya pun putih. Jadi kelihatannya bersih. Tulisan postingan, juga tak membuat mata sakit. Hitam. Itu pilihan yang sempurna menurut para pakar. Tulisannya juga lebih terorganisir dengan adanya label. Jadi tak tersesat mau jelajah tulisan yang lain.


Nah, kalau mau lebih lanjut tentang Mbak Ophi di blognya juga ada menu About Mom dan Mom’s Achievement. Mbak Ophi keren loh. Sudah jadi langganan jawara. Tahun ini saja lolos di Zurichid, OPPO, masih banyak lagi. Di tiap tahun semenjak 2013, beliau tak pernah absen mengisi kolom achiement-nya. TOP be ge te, kan. Jadi semangat ikutan lomba-lomba. Yuks!

Book on the Bench
Nggak cuma jawara nge-blog, Mbak Ophi juga punya buku berjudul Melihat Dunia. Buku pertama Mbak Ophi. Dan pastinya, Mbak Ophi, adalah jawara di hati putra-putrinya. Sholih-sholihah ya, Dek. Bikin mamah Ophi bangga.