Kamis, 18 Agustus 2016

A Journey to Lumajang [Writing Camp Expedition I]

How We got There
Sejak ba’da Shubuh, di bawah gerimis yang jatuh di pulau Garam, tujuh orang bidadari berlarian kecil berlindung dari hujan yang jatuh ke bumi. Berkumpul di halte, menunggu kendaraan yang sudi mengangkut diri yang sedikit menggigil. Tepat tiga puluh menit dari angka lima, kami pun berangkat. Menuju Suramadu, penghubung dua pulau; Jawa dan Madura. Tepatnya Kabupaten Bangkalan dan Kota Surabaya sana. Konon menurut ibu ketua, rute ini jalan tercepat agar kami tak datang terlambat.

Masih Menunggu
Namun nyatanya tak sesuai perkiraan. Menunggu dan terus menunggu. Bis besar yang biasanya lewat tak kunjung memunculkan badan bongsornya. Jam setengah delapan, barulah kemudian kami memutuskan menaiki mobil yang sedari tadi menawarkan diri menjadi alternatif kami. Maka dengan tiga penumpang tambahan berangkatlah mobil membelah lautan.

With Love
Gerimis masih melawat bumi saat kami sampai di Kota Pahlawan. Langit masih muram, congkak dengan kelabu yang ia tawarkan. Kami bertujuh anggota FLP Bangkalan bergegas mencari bis tujuan. Bis tua yang akhirnya memilih kami. Mesinnya tampak sangar dengan suaranya menderum geram. Bisa ditebak, bis yang kami tumpangi mogok di Pasuruan. Dan itu semakin menambah keterlambatan kami. Bis hijau nan elegan, ke sanalah selanjutnya kami berpindah tempat. Menyisakan bis tua mengigil di jalanan.

Terilhami Pasuruan
Daripada tergugu kala menunggu, kuperhatikan jalan saat memasuki kota Pasuruan. Persemedian ini dimulai ketika bus tua merengek. Bermula dari sebuah reklame yang terpasang di pinggir jalan. Sebuah ajakan Diskominfo Pasuruan. Intinya mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada pengamen, pengemis dan pengelap kaca mobil. Melihat itu segera saja aku menggerakkan jemari; mencatatnya. Aku terinspirasi sesuatu.

Berganti bus elegan berwarna hijau pun lamunan terus berlanjut. Renungan berganti ketika banyak pekerja sedang berusaha mendestruksi dan membangun trotoar. Pemandangan itu berlangsung lama. Inspirasi kemudian muncul kembali. Ditambah melihat pedagang minuman yang terjepit.

Kotak Kehidupan
Seorang yang tampak sebagai adik-kakak terlihat saling berpelukan. Beragam minuman bubuk dalam sachet bersembunyi di belakangnya lengkap dengan alat penghancurnya; blender. Sementara itu para pekerja sedang menhancurkan material trotoar lama di kanan-kiri mereka berdua.

Kalau kita telaah kembali, sebenarnya fungsi trotoar adalah side walk. Tempat untuk para pejalan, mirisnya fasilitas ini banyak diambil alih pedagang kaki lima. Sudah ribuan barangkali Satpol PP mengusirnya namun tak banyak pedagang terinspirasi untuk taubat.

That’s why Fathia Izzati, seorang vlogger yang bercerita pada dunia bahwa kebanyakan orang Indonesia lebih banyak bepergian menggunakan motor. Selain karena menghindari kemacetan, khususnya di Ibu Kota adalah karena fasilitas side walk yang tidak memadai. Atau karena diambil alih? Whoaa, jadi ingin teriak rasanya.

Tradisi Oral dan Minak Koncar
Sekitar jam satu siang bis hijau pak kondektur mengatakan akan tiba di Terminal Wonorejo. Namun berdasarkan arahan dari panitia, seharusnya kami berhenti di Terminal Minak Koncar. Awalnya sempat bingung juga tapi ternyata hanya perbedaan istilah saja. Seperti Bu Hanifah paparkan di kelas LRM, bahwa kebanyakan orang Indonesia masih menganut tradisi oral.  Lebih terkenal apa yang dikatakan orang-orang daripada yang tertulis di papan.

Negeri Awan
Misal di bandara, sudah jelas tertulis tujuan ini, itu ke mana namun masih saja bertanya pada orang di sekitarnya. Ya samalah, dengan kasus terminal tersebut. Tertulisnya Minak Koncar tapi orang lebih mengenalnya Wonorejo. Di Pamekasan juga ada, tertulis nama pasar Tujuh Belas Agustus, namun orang lebih mengenalnya dengan Pasar Bara’. Atau sekolah di dekat rumah terkenal dengan SMEA, padahal tertulis SMKN I. Mungkin karena dulunya bernama begitu.

Sesampai di terminal hal pertama yang kami lakukan adalah mencari masjid karena panitia menyediakan angkutan untuk para peserta di sana. Masjid dalam keadaan terkunci. Aneh juga ya, padahal itu adalah fasilitas umum. Karena tak bisa masuk, kami memilih duduk di pinggiran trotoal sambil melepas penat dan mulai menghubungi panitia. Selang beberapa menit ada anggota FLP lain yang mendekat. Mbak Fitri dari FLP Lamongan dan Mbak Nur Gresik.

“Sudah sholat?” Mbak Nur yang bertanya diiringi gelengan kepala rombongan. Ternyata ada jalan rahasia menuju masjid, masuk ke sebuah area parkiran. Karena mobil jemputan belum kunjung tiba, kami memanfaatkan waktu dengan menjamak sholat terlebih dahulu.

Mobil Jemputan dalam Imajinasi
Setelahnya kami ngobrol ngalor ngidul dengan para anggota sembari menunggu. Mobil jemputan yang disediakan panitia untuk mengangkuti kita. Karena hari waktu beranjak sore, sedangkan jam makan siang akan segera lewat. Maka topik yang terpilih adalah gerobak bakso di seberang jalan. Mulai deh sikut-sikutan siapa yang akan menjamin semua anggota dengan traktiran.

Jangan ditanya deh mahasiswa yang sedang galau akan isi dompet yang beberapa hari lagi ludes akibat perjalanan panjang. Maka hingga akhir, tak ada yang bancaan. Selanjutnya semoga ada rezeki dari Allah mentraktir kalian. Perbekalan sedang pas juga soalnya. Belum lagi kelar Writing Camp langsung cuz bayar daftar ulang kuliah. Jadi doakan saja semoga selanjutnya aku bisa.

Di chit-chat grup FLP Jatim sempat disinggung perihal mobil jemputan. Dalam sebuah candaan ada yang mengatakan rombongan akan dijemput menggunakan truk. Jadilah beberapa delegasi sibuk memperhatikan truk yang lalu-lalang.

“Truk yang mana, Mbak?” tanya seorang anggota. “Truk yang bercat merah muda,” mendengar penjelasanku mereka mangut-mangut, ”dengan bumper senada warna lautan Indonesia; tosca,” yang mendengarkan alisnya mulai mengerut.”Jangan lupa si pengemudi katanya mengenakan kaos merah menyala,” sontak deh tertawa.  Ketahuan bohongnya.

Jelas itu hanya imajinasi. Dasa pencinta fiksi ya. Eh, tapi ada sopir berkaos merah kemudian mendekat. Menanyai kami. Itu dia pengemudinya! Wah, imajinasi menjadi nyata nih.Tapi bukanlah, itu cuma sopir angkot yang menawarkan diri. Aslinya panitia yang menjemput menggunakan kaos biru-hijau. Seragam seluruh panitia Writing Camp 2016.

Ia datang dua jam kemudian. Hikmah menunggu, kami jadi memilki waktu buat jama’ sholat dan saling berkenalan satu sama lain, hingga berimajinasi sampai ke negeri berawan. Mobil pun melaju, menaiki bebukitan. Menanjak dan terus maju hingga hawa dingin merasuk. Mengetuk pintu dan membisiki sesuatu, “welcome to Writing Camp!”

Hello There
Yosh! Kami pun bersorak kegirangan menyaksikan bunga-bunga di kanan-kiri jalan. Aloha Gucialit, Lumajang! Sesampainya di penginapan, kami disambut para panitia berseragam biru dan menuntun kami ke jalan rahasia. Dari aula menuju ke kamar peserta.

Rentetan Recehan
Ada uang dapat berjalan-jalanlah kita. Meski tak selalu begitu karena kita memiliki kaki pemberian Tuhan yang dapat dipakai bersama sandal atau sepatu. Kita juga dianugerahi Allah kemampuan yang sangat luar biasa, yang dengannya kita secara ajaib mengeluarkan pundi-pundi. Alhamdulillah, perjalanan kali ini terbantu dengan lolosnya dua tulisan di blog. Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?

Pun begitu mari kita rincikan. Seluruh pengeluaran saat di perjalanan. Utamanya ongkos yang membawa kita dari dan menuju Lumajang. Dari Telang kami menaiki angkot yang dikenakan Rp. 6. 000,00- ke arah Tangkel, daerah menuju Suramadu. Dari sana kami menaiki mobil carry dengan biaya Rp. 25.000 hingga Terminal Purabaya (Bungur) Surabaya. Bis Ak*s kena Rp. 35.000, bis yang kemudian ngadat di Pasuruan. Menuju lokasi kami dijemput.

Pulangnya, setelah diantar ke Terminal Minak Koncar oleh panitia, kami menaiki bis yang lupa kuingat apa warnanya. Dengannya kami ditagih Rp. 23.000 saja. Berbeda jauh ya. Bis ini mengantarkan kami bertujuh hingga Terminal Purabaya. Dari sana kami lanjut menumpangi bus Damri yang kemudian kena Rp. 6000, bis mengangkut rombongan sampai ke Pelabuhan Perak.

Tetibanya di sana, kami langsung berlarian mengejar kapal karena waktu menunjukkan jam sebilan lewat. Jam segitu, itu giliran kapal terakhir yang berangkat. Kalau tidak cepat bisa terlambat dan baru dapat keesokan harinya jam setengah tujuan. Karcis seharga, Rp. 5000 tapi biasanya kalo menujukkan kartu mahasiswa bisa korting seribu.

Sampai di seberang alhamdulillah rombongan tiba dengan selamat di Pelabuhan Kamal. Kembali naik angkot menuju Telang dengan Rp. 5000. Dengan itu maka berakhirlah perjalanan hari itu. Stay tune, ya. Postingan selanjutnya aku akan bercerita tentang dua hari di Lumajang. Lengkap dengan rangkuman seluruh materi. Ja, ne!

Senin, 15 Agustus 2016

Tugas, Hobi dan Serba-Serbinya

Jika kita diberi amanah otomatis orang tersebut mengerti dan paham bahwa kita sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan. Apabila kita sebagai anggota kemudian disuruh sang ketua melakukan sesuatu pastilah ia tak sembarang menunjuk. Pastilah dengan berbagai pertimbangan.
Allah kan juga gitu. FirmanNya di ayat terakhir surat Al-Baqarah. Allah tak akan memberikan suatu ujian melainkan sesuai dengan kesanggupan hambaNya. Allah tahu kadar kita. Dan begitulah ujian atau cobaan yang kita dapat.

Karena aku suka corat-coret [baca: mendesain], maka itulah tugasku saat itu. Membuat desain keren untuk acara perekrutan anggota baru. Ya, jadi waktu itu, aku kedapetan tugas membuat poster. Dan ibu ketua memintaku untuk menyelesaikannya hari itu juga. Mendadak? Sangat! Ah, tak sukanya organisasi yang kesusu. Tapi untungnya Allah memberikan ide segar sehingga itu desain sudah terbayang-bayang di kepala.

Sampailah, aku ke depan komputer jinjing a.k.a lepi. Laptop yang sudah menemani sejak aku SMP dan sampai kini akan memulai skripsi. Yah, itulah satu-satunya PC yang Mbak warisi. Jadi mau tak mau akan kujaga sepenuh hati hingga nanti. Hihi, kok malah berpuisi ya.

Saat kubuka dan sang lepi mulai menyapa, ia terlihat bahagia dan baik-baik saja. Selanjutnya  program Corel yang sudah menemaniku malang-melintang di dunia desain pun terbuka. Awalnya sih baik-baik saja tapi tiba-tiba ia ngadat. Kursornya tak bekerja. Huhu, sedangkan ibu ketua sudah memanggil-manggil. Meminta hasil desain.

Whoa, piye iki? Ketua sudah meminta sedangkan desainnya belum kelar. Indeed, komputernya tak bisa diajak bekerjasama. Terus aku kudu piye? That’s thing just made me crazy.

Tugas ngadat gegara komputer itu memang sangat sesuatu. Apalagi di tengah tenggat dan kita tak bisa minggat. Benar-benar deh pokoknya. Kepala seperti cahaya di malam gelap penuh ngengat. Wuing-wuing, seperti kunang-kunang.

“Kayaknya kamu memang perlu ganti deh. Laptopmu juga sudah sepuh, sudah senior,” begitu kira-kira saran seorang teman. Hmm, memang sih. Tapi terus bagaimana? Desainku juga harus selesai secepatnya. Tanggap membaca keadaan, temanku kemudian meminjamkan laptopnya. Ya, untungnya di kos ada lima anak yang juga jago mendesain. Jadi tanpa menunggu menginstal aplikasinya kembali, aku pun mulai bekerja, lagi. Mendesain poster keren layaknya pinta sang ketua.

Tuh kan, laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha. Allah takkan memberatkan hambaNya. Pasti selalu ada jalan keluar saat hambatan menghadang. Saat komputer kita error, ada teman yang meminjamkan. Di lain kesempatan saat terkonek wifi akupun mencoba gugling. Mencari spesifikasi laptop yang kira-kira cocok dan ramah di kantong.

Tibalah aku di MatahariMall. Kebetulan sedang ada promo laptop Acer murah juga. Wah lumayan ini. Promo juga ada yang up to 30%. Deskripsi di halaman membuatku tertuju ke Acer Aspire ES1 131. Karena harganya terjangkau hanya 3 jutaan dan mungil pula. Jadi tak khawatir memberatkan punggung saat memanggul ransel. Tahulah anak semester akhir semakin bejibun saja tugasnya. Tapi ada juga Acer Aspire ES1-131-C3V5 yang harganya 2 jutaan pakai diskon pula. Wah jadi mupeng kan.

Buat yang borjuis, mau mahalan dikit juga ada. Acer Predator namanya. Keyboardnya bisa menyala lho. Jadi kalau gelap atau mati lampu, tak perlu khawatir huruf keyboard tak kelihatan. Lengkap dengan cool pad yang akan dengan mudah mendinginkan laptop yang kepanasan.Tepatnya seri Acer Predator 15 G9-591 i7 6700HQ GTX970M. Kalau yang ini di MatahariMall bisa dibawa pulang seharga Rp 27.990.000 Lumayan bukan? Di toko lain hampir 29 jutaan.
Lho kok cari yang mahal? Kan katanya Allah pilihlah firdausil a’la. Surga yang paling tinggi derajatnya. Selaras sama Ustadz Yusuf Mansur, kalau kepengen apa-apa jangan yang kecil. Allah Maha Besar, mintalah yang besar-besar padaNya.

Ah, kalau rezeki takkan ke mana. Allah tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Seperti Allah tahu ujian yang sesuai dengan kadarnya. Bismillah, doakan saja kawan :)


Nah, mumpung ada promo laptop Acer murah. Yuk ah!

Minggu, 07 Agustus 2016

Ophi Ziadah, Sang Jawara Lulusan Australia


Beliau adalah..
Tamu kita di hafcoum.blogspot.com kali ini adalah Mbak Ophi. Seorang sarjana hukum lulusan Autralia sana. Tepatnya di Melbourne University ambil School of Law sebagai tujuan masternya. Umm, maka tak heran beliau sekarang ikut berkecimpung dengan urusan perundangan di DPR. Jago sih. Karena keahlian ini pulalah, Mbak Ophi memiliki blog khusus yang serius memaparkan tentang perhukuman di Marlekum. Mari melek hukum, begitu tagline-nya.


Graduated
Meski  begitu rumah adem seorang mamah dengan tiga anak ini, beliau sering menyebutnya dengan Mom of Trio Krucils menetap di ophiziadah.com Rumah yang telah lama dihuni semenjak 2012 lalu. Wah pantes sudah jago ya. Berarti sudah empat tahun kayak Mbak Deka.

Untuk blografi kali ini, aku bikin wawancara lagi selain inspect di rumah beliau (baca: kunjungan blog). Saat chatting pertama dengan Mbak Ophi, seperti biasa kita perkenalan. Tau, aku anak UTM (Universitas Trunojoyo Madura), beliau langsung tanya tentang Gita Arasy. Teman beliau selama S2 di Melbourne. Honestly, I don’t know her well. Tapi untungnya teman kos ada yang kenal. Kebetulan dosen Teh Lia di Akuntansi. According to Teteh, beliau ngajar perpajakan di kelas. Oh..

It Called as Family
FYI, Mbak Ophi S2-nya pakai beasisiwa lho. Luarbiasa bukan? Jadi pengen juga. Bismillah, ya. Apa sih yang bisa kalau kita usaha. Seperti kata Mbak Ophi, kalau mau dapetin beasisiwa kudu "don't give up." Pastilah ketat banget seleksinya. Namanya gratisan kan juga harus wira-wiri sana-sini ngurusin dokumen*ga digemukin aja, haha. Usaha, usaha! Karena terdapat ratusan beasiswa yang bisa kita menangkan. Insya Allah! Makanya hardwork, itu penting. Jangan lupa juga minta sama Allah :)

Labelling
Waktu pertama berkunjung ke beranda Mbak Ophi, ada banyak postingan yang terlihat. Uncompleted writing, karena kalau mau lihat keseluruhan blogpost harus click here to continue. Tak seperti blog saya yang belum rapih ini. Satu beranda berisi lima postingan penuh. Ah, semoga segera beberes ini blog.

Up
Semua postingan oke-oke. Anggota arisan juga setuju, kalau tulisan Mbak Ophi keren-keren. Betah deh lama-lama di rumah Mbak Ophi. Nah, karena pas pertama berkunjung jadinya bingung melihat tulisan yang kece-kece itu, akupun mencoba menelusuri. Melihat berbagai kategori. Untungnya Mbak Ophi menandai postingannya dengan label maka tibalah aku di sana.

Berbunga-bunga Kita
Ternyata Mbak Ophi punya 15 label. Paling banyak Travelling ada 121 tulisan (pas terakhir berkunjung). Akupun berencana meluncur, karena akan banyak tempat keren yang tersinggah nanti. Tapi melihat 121 sebagai angka tertinggi, maka akupun penasaran sama it smallest number. Dan aku tersangkut di sana; Food Combining!

Food Combining
Wah seru nih! That’s words yang terbenak saat itu. Indeed, aku juga pelaku food combining. That’s why I interested in. Aku buka deh satu-persatu tulisannya. Ummi yang awalnya asyik ngerujak di sampingku jadi ikut-ikutan baca. Haha, ketularan virus. Penasaran sama anaknya yang khusyu banget baca henpon.

Dua jam lebih terikat sama tulisan itu. Malam yang menjadi semakin dingin jadi terlupakan. Ah, betah deh pokoknya baca tulisan Mbak Ophi. Bener kata buibu arisan. Saking betahnya sampe lupa lagi chattingan sama beliau. Gomenne, Ophi-sama.

Merona Ia
Food Combining sendiri aku diperkenalkan oleh Adek dari sebuah buku. Persisnya buku Mitos dan Faktanya Erikar Lebang. Tak hanya itu, Adek juga nyuruh ngubek-ngubek blog beliau. Dan menemukan konsep food combining di situ.

Berketepatan waktu sakit pas itu. Jadilah konsep itu teraplikasikan. Makan makanan yang tidak diolah a.k.a rawfood. Seperti mengkonsumsi buah dan sayur. Makanan yang tak perlu dikukus, digoreng atau ditambahi bahan lainnya serupa gula. Cukup makan bahan itu saja.

Itu lebih sehat lho karena rawfood bisa membuat PH tubuh menjadi seimbang dan bebas dari berbagai serangan penyakit mengerikan. Lebih lanjutnya tentang food combining, bisa tuh kepoin blognya Mbak Ophi di label tersebut. Atau main-main ke blognya Erikar Lebang, sang pakar.

Anyway, baca blognya Mbak Ophi jadi pengen ikutan lomba sunpride. Tapi kalau menang buahnya dikirim ke daerah jadebotabek saja. Hiks, akunya kan di Madura. Mupeng juga lihat Mbak Evrina yang berkali-kali menang lomba sunpride. Eh, kalau hadiahnya dikirim ke rumahnya Eceu, kumaha nya? Ada tuh sodara di Bogor.

Tampilan Blog





Tampilan Mbak Ophi, simpel. Nggak terlalu banyak ornamen tapi cantik. Aku suka button Mom of Trio-nya. Eh, itu button bukan ya? Sama desain click here to read more-nya. Kece! Jadi kepikiran buat juga. Bismillah, otak-atik Corel nanti.


Backgroundnya pun putih. Jadi kelihatannya bersih. Tulisan postingan, juga tak membuat mata sakit. Hitam. Itu pilihan yang sempurna menurut para pakar. Tulisannya juga lebih terorganisir dengan adanya label. Jadi tak tersesat mau jelajah tulisan yang lain.


Nah, kalau mau lebih lanjut tentang Mbak Ophi di blognya juga ada menu About Mom dan Mom’s Achievement. Mbak Ophi keren loh. Sudah jadi langganan jawara. Tahun ini saja lolos di Zurichid, OPPO, masih banyak lagi. Di tiap tahun semenjak 2013, beliau tak pernah absen mengisi kolom achiement-nya. TOP be ge te, kan. Jadi semangat ikutan lomba-lomba. Yuks!

Book on the Bench
Nggak cuma jawara nge-blog, Mbak Ophi juga punya buku berjudul Melihat Dunia. Buku pertama Mbak Ophi. Dan pastinya, Mbak Ophi, adalah jawara di hati putra-putrinya. Sholih-sholihah ya, Dek. Bikin mamah Ophi bangga. 

Kamis, 28 Juli 2016

Cerita Mbak Deka, si Mamah Muda [Blografi]


Yosh! Akhirnya setelah UAS, lebaran, liburan akhirnya back to bikin blografi lagi. Blografi, istilah yang aku dapat dari Mbak Meriska. Jadi semacam biografi tapi di dunia blogging. Teman-teman yang lain juga punya berbagai macam istilah. Seperti Mbak Ophi dan Mbak Lina mengistilahkannya dengan blogtour. Intinya sih bagaimana kita mengulas profil tentang seorang blogger.  Mbak Fifah malah punya rubrik tersendiri namanya Sabtu Kenalan.

Kita punya pikiran kita sendiri. Our own opinion. Namun lama-lama dipikir semakin pusing. Nah makanya ada yang namanya the power of sharing. Dengan membaginya dengan orang lain pikiran mumet kita setidaknya berkurang. Dengan bercerita ia akan mendatangkan perasaan lega. Nah, mungkin muasal kenapa nama blog Mbak Deka berjudul Berbagi Cerita.

Yup seperti kata Mbak Meriska, ngeblog itu ibarat ritual buang sial. Menurutnya dengan blogging kita bisa mengurangi stress dan penatnya pikiran. Tidak berbeda jauh dengan pendapat Mbak Deka, “buat saya ngeblog itu me time, Mbak.” Baginya ngeblog adalah sarana refreshing jiwa dan raga.

Hello There
Tentu saja sebagai mamah dengan tiga anak ini pastinya ‘capek ’ ya ngurus rumah seharian. Pantas jika Mbak Deka mengaku nyaman dengan dunia blogging. Iya, mamah yang satu ini sekarang sudah memiliki anggota baru. Debay uang usianya belum genap sebulan. Wah Faiq dan Fahima punya temen baru tuh.

Nih kata Mbak Deka dengan ngeblog uneg-uneg di hati bisa tertuliskan. Pendapat atau pemikiran bisa tersampaikan melaui tulisan. Mbak Deka mengaku lebih suka menuliskan sesuatu daripada dilontarkan langsung melalui lisan. Iya juga ya, soalnya kalau tulisan masih bisa diedit-edit. Kita kalau sekali ngomong keceplosan dan salah bisa langsung bikin sakit hati orang. That’s why, fakkir qabla anta’zhim. Think first before you speak..

Eh kok di atas ada semacam percakapan ya? Ehem, jadi ceritanya di blografi kali ini aku menerapkan metode baru. Kalau biasanya kan nulis profil blogger linked with something I like, seperti kembang di profil Mbak Meriska, anime dan buku di Mbak Fifah atau jalan-jalan di blognya dokter Liza. Jadi sekarang ditambah dengan interview. Selain berkunjung ke rumah beliau di dekamuslim.com aku juga wawancara lewat WA. Begitulah ceritanya*ala Kakek di film Malaysia Pada Zaman Dahulu.

Halo, Apa Kabar?
Meski Mbak Deka terlihat sibuk dengan tugas rumah tangga, itu tak menyurutkan prestasi di dunia blogging lho. Lihat saja prestasinya yang segudang itu.   Such as lomba review-nya Bentang Pustaka, lomba anak, dan berbagai lomba lainnya. Daan ntulisan Mbak Deka juga pernah tembus media. Wah keren ya! Two thumbs up deh, Mbak (y). Apa nih rahasianya sanga juata? Apalagi kalo ngeblog kudu nunggu anak-anak bobo. “Saya ngeblognya pas anak-anak tidur, Mbak.” Hihi, iya dong kalo mereka masih melek kan sebagai mamah kudu mencurahkan perhatian kepada mereka. Betul tak, Mah? 

New Life
Prestasi segudang juga bisa dikarenakan pengalaman. Nah, Mbak Deka ini sudah memasuki dunia blogging sejak 2012. Postingan pertama di blog juga tanggal segitu. Di profil Mbak Deka juga mencantumkan demikian. Pas kita wawancara juga iya. Eh, ngomong tentang postingan. Ada postingan sangat populer di blog Mbak Deka. Artikel tentang cinta terpendam menduduki tangga pertama selama berminggu-minggu*berasa host radio gue :D Sejak 2012 itu pula awal blogging Mbak Deka di dekamuslim.com dan itu satu-satunya blog yang beliau punya. Bagus ‘kan biar kita bisa fokus sampai lulus. Lulus DA/PA dengan nilai kece maksudnya*cie yang baru belajar DA/PA.

Blog Mbak Deka tak hanya berisi tentang keluarga, ada berbagai macam topik yang ditulis dengan 36 label. Bahkan ada bookreview-nya juga lho. Jumlah tulisan ada 222 postingan yang terakhir kulihat. Angka yang cantik ya, jadi pengen nyanyi. I’m feeling 22! Everything will be alright, if you keep me next to you..

Hijau Hutanku
Tak seperti blogger perempuan lainnya yang dominan memakai warna pink sebagai watermark, Mbak Deka lebih memilih hijau. Yuhu, coba deh berkunjung ke dekamuslim.com maka kau akan disajikan dengan warna hehutanan. Dan itu karena Mbak Deka menyukai warna hijau. Kalau Mbak Deka suka warna jingga mah desain blognya sudah dikasih oren. Jadi inget percakapan di Hunger Games, “layaknya warna saat mentari menyenjana senja.”

Oia, dari tadi Mbak Deka mulu siapa sih nama aslinya? Panjangnya Dekaaaaaa. Itu sih gaya zaman anak esde kalo ditanyain nama panjang, hihi ^^V. Jadi lengkapnya Diah Kusumastuti. Kok bisa Deka? Bisa! Karena itu huruf pertama dan kedua dalam nama beliau. Mbak Deka ini asli Solo. Ternyata kita itu sempet tetanggaan. Aku sempat di sana hampir setahun. Eh gatau deh tepatnya tempat beliau di mana tapi daerahnya Sukoharjo. Lupa nanyanya. Soalnya aku di Tawangmangu tepatnya kaki gunung Lawu. Tapi sekarang beliau sedang tinggal di Sidoarjo dan sebelumnya itu kuliah di Surabaya.

Keep Smiling Keep Shining
Nah, biar tambah kenal sama Mbak Deka bisa dihubungi dari berbagai akun. Kirim email saja melalui d3kusumastuti@gmail.com inbox di FB Diah Kusumastuti atau DM di twitter @dekamuslim dan instagram dengan nama akun yang sama. Terakhir, tahu nggak Mbak Deka itu pengennya dengan blogging bisa berbagi manfaat dengan pembaca. Bener banget ya, kaya slogannya temen-temen penulis FLP menebar kebaikan dengan tulisan that we called as dakwah pena. Karena dakwah tak harus  ceramah. Yosh!

Senin, 25 Juli 2016

Touring on the Day of Celebration

Sebelum Lebaran Tiba
Ada yang spesial saat lebaran tiba. Ketiga adikku tinggal di asrama sekolah, aku sedang kuliah di kota lainnya. Sisanya, anak Ummi ada di rumah. Kami tujuh bersaurdara yang jadwal libur sekolahnya tak sama. Ya, karena status dan jenjangnya berbeda; SD, SMP, SMA dan kuliah. Belum lagi satunya di swasta, satunya di negeri. Pokoknya suka susah ngumpulinnya.

Then, when lebaran comes, otomatis itu hari spesial kita. Meski ada yang pulang pas lima hari sebelum  lebaran*itu gue T.T Eva sudah pulang sebelum Ramadhan tiba. Nina pertengahan puasa. Diah seminggu mau lebaran dia sudah di rumah. Aku pulangnya terakhiran, huhu. Secara masih ada dua minggu UAS. Baru tahun ini ngabisin Ramadhan di kampus. Hampir sebulan pula*ngejerr :D

When all families gathered, it’s time to mudiiik. Yeay!

Yosh, Mudiik!
Nyiur Melambai
Tapi mudik kita mah biasa saja. Perjalanan cuma sejam dari rumah. Dan kita tak perlu berjejalan di transportasi publik karena kita mudiknya dijemput dan tak perlu acara macet. Apalagi memasuki wilayah Sumenep, kita akan dimanjakan dengan nyiur melambai di kanan-kiri. Dan sebelum itu kita akan melewati pemandangan laut. Jika mau sih bisa berhenti di Pantai Talang Siring atau vihara merah di dekatnya. Kapan-kapan mampir ah..

Terombang-ambing
Tepatnya rumah nenek kami terletak di daerah Kapedi. Perjalanan menanjak dan menantang masuk sana. Mobil yang kami tumpangi sampe mundur-mundur. Bahasa Maduranya, Dhagha ngetek tako’ labu ka baba, artinya kita sampe dag-dig-dug takut jatuh ke bawah. Pasalnya kita mundur-mundur di tempat yang menanjak banget tahulah jalanan desa lebarya Cuma semeter-dua meter. Maka pantaslah kita tak berhenti komat-kamit saat itu. Indeed, kita dulu pernah mengalaminya.

Daan semuanya terbayar saat kami tiba di rumah Mbah dengan selamat. Alhamdulillah..

Touring ala Kapedi
Let’s Touring! Mari kita artikan touring di dengan bersilaturrahmi atau bisa juga dengan jalan-jalan. Di malam takbiran, kita sudah mulai tuh keliling. Salam-salaman sama keluarga yang masih satu desa. Malam itu rame banget. Selain karena takbir di masjid-masjid, ada langit yang ramai dihiasi kembang api. Meskipun dikata desa, kembang api yang diluncurkan gede-gede dan berwarna. Hmm, kebanyakan itu didapat dari pemudik dari kota-kota besar di Pulau Jawa.

Besoknya, tepat hari raya Idul Fitri kita mulai deh berkeliling ke rumah saudara yang lebih jauh. Dari Desa Sompor kita berjalan, menuju Mantaman, melewati Ju Bara’ dan terakhir Oro. Meskipun berjalan kaki, ternyata seru lho apalagi perginya bareng-bareng sama keluarga besar. Sambil berhenti sana-sini untuk fota-foti. Sayangnya semua foto pada hari itu musnah tak berbekas. Sorry, I can’t show you the pictures. Gomenne.

Nyebur ke Sungai
Hari ketiga kami sekeluarga sudah kembali ke Pamekasan. Dari rumah nenek di Sumenep kami langsung cuss ke rumah nenek yang di Pamekasan. Nah.. karena pas kita nyampe siang, eh, para anak-anak imut (baca: adik-adik) minta main ke sungai. Jadilah kita berangkat, marii.

Main di sungainya lumayan lama. Semuanya pada nyebur. Eh nggak semua sih soalnya ada yang jadi juru kamera, haha. Di sana kita malah main sambil diajari renang sama Ummi. Seru deh pokoknya. Sampe-sampe Dek Lubna yang baru beberapa tahun umurnya nggak mau naek. Terus dia bergaya nggak mau dilepas. Maunya renang sendiri. Hihi, aku tak tega lah. Aku biarkan ia berbaring di tangaku dan kecipak-kecipuklah ia di atas air.

Gratis! Kalo mau belajar renang, ke sungai di Samiran aja, haha.

Akalenjar ka Ghanding
Kejutan! Keeseokan harinya ada surprise kiita sekeluarga besar (baca: keluarga dari Ummi) pada mau jalan ke Ghanding, sebuah daerah di Kabupaten Sumenep. Total ada tujuh keluarga yang ikutan. Dengan bus kami pun melaju pada jam tujuh pagi.

Rute yang kami pakai bukan jalur biasanya. Kami ambil Pakong sebagai alternatif tercepat. Pakong adalah daerah pegunungan di bagian utara Kabupaten Pamekasan. Sepanjang kami disuguhi berbagai macam lahan pertanian dan bebukitan. Daan, brrrr. Lewat sana berasa dinginnya.

Up There
Bu’ Ipong, adalah saudara tertua Ummi yang masih hidup dan berkeluarga di Ghanding, Sumenep. Tahun ini beliau tidak merayakan hari raya di Pamekasan. That’s why kali ini kami menyambangi beliau. Tentu saja kami akan melakukannya dengan senang hati karena, banyak bonusnya!

Masuk daerah Ghanding, sudah terasa khasnya. Baling-baling angin di areal persawahan, gemericik air sungai dan arsitektur perumahan yang masih tradisional banget. Di Madura ada konsep yang namanya Taneyan Lanjhang. Rumah keluarga besar biasanya berjejer sehingga terlihatlah halaman yang memanjang. Di bagian barat rumah biasanya terdapat kobhung. Sawuh atau gazebo tradisional.

Biarkan Angin Menerpa
Kobhung ini dipakai untuk sholat keluarga. Dan terkadang banyak anak-anak tetangga ikut berkumpul dan belajar mengaji. Jika begitu fungsinya berubah menjadi langgar, tempat ibadah. Suatu ketika langgar akan menjadi semakin besar (berubah masjid) seiring banyaknya anak-anak belajar mengaji.


Sampai di rumah Bu’ Ipong para anak-anak imut langsung berganti baju dan nyebur ke sungai. Di sana bilangnya sok-sok. Dan para remajanya mengawasi dan sibuk fota-foti dan main kecipak-kecipuk air.

Puas bermain air, kerlari ke hutan lalu belok ke pantai. Eh salah yaa. Kami pindah lokasi mencari spot keren untuk berfoto ria. Dan dibiarkan itu anak-anak berjemur di pantai mencari kerang. Eh maksudnya di sungai.


Main ke hutan dan beraksi fota-foti di sana. Ya, karena the big reason is kami tak membawa pakaian ganti rentan juga terlihat auratnya. Meski masih nuansa ber lebaran, masih ada segelintir orang yang lalu-lalang ke sawah. Dan tentunya menyebrangi sungai tempat kami mandi. Eits, rawat terliwat aurat juga. Malu ah.


It’s called as Silaturahmi [Pamekasan Touring]
Lebaran Idul Fitri di Sumenep dan Ketupat di Pamekasan. Yup, kalau di Madura begitu. Hari ketujuh Syawal, ada lebaran lagi yang namanya Ketupat. Tepat sekali, di hari spesial itu akan ada banyak aneka macam ketupat yang takkan kau temui di hari Idul Fitri. Lebaran Ketupat ini diadakan karena ada puasa sunnah yang dianjurkan selama enam hari pada waktu Syawal. Jadilah hari ketujuhnya ada perayaan tersebut.

Kami menyebutnya Tellasan Topa’. Masakan di hari ini lebih bervariasi dari Idul Fitri. Selain Soto Pamekasan, ada yang bikin gado-gado dan juga bakso. Itu sih mayoritasnya. Opor mah tak ada. Jarang sepertinya. Idul Fitri juga begitu.

Kalo di sini yang umum itu Soto Pamekasan. Umm, bedanya dengan Soto Madura apa yaa.. Topingnya mungkin. Terus kalo Soto Madura ada kacangnya. Jadi dalam satu mangkok kita potong-potong itu ketupat. Dan diberi toping di atasnya seperti bihun, suiran ayam, kentang goreng, telur ayam rebus yang dipotong memanjang, sambal dan kentang goreng. Kentang goreng berbetuk kotak tipis. Setelah semua siap, lalu siram dengan soto spesial. Tak lupa sertakan potongan ayam yang sukai. Mau bagian sayapp, paha atau kaki (ceker). Oia, tambahkan perasan jeruk nipis biar mantap.

Pagi hari diisi dengan tahlil atau pengajian di langgar dan masjid-masjid. Barulah hidangan tadi disuguhkan. Di sini juga masih ada tradisi ter-ater. Saling mengantarkan makanan ke tetangga. Selain rumah warga, langgar dan masjid menjadi tujuan utama hantaran makanan. Jadi kita bisa saking icip tuh masakan tetangga.
Kelar acara tersebut kita touring ke rumah saudara di rumah nenek. Salaman, icip kue dan kadang dihidangkan makanan berat juga. Daan, angpau tentunya. Yang kecil-kecil sih dikasi. Kita mah yang sudah gede nggak ikutan.

Di Sana, Air Terjun Samiran
Masih inget kan di dekat rumah nenek ada sungainya? Nah di ujung barat sananya, ada air terjun. Ke sanalah kita melanjutkan touring. Cuma yang seumuran sih. Para sepupu dari usia SMP sampai kuliah. Sebenarnya bukan air terjun. Itu hanya DAM. Hanya saja alirannya mirip air terjun. Jadi begitulah orang-orang menyebutnya. Kalo do Samiran terkenal dengan nama Daaman.
Falling Down
Daaman sedang dalam pembangunan besar-besaran. Pemerintah setempat akan mengubahnya menjadi wiasata yang lebih keren lagi. Sayangnya pohon-pohon cemara udang yang berjejer di utara sungai ikutan tertimbun proyek. Padahal tahun sebelumnya itu spot favorit kami. Tapi tak apalah, fota-foti tetap berjalan teruss.

Hayuk Ngarujak
Ba’da jelong-jelong dan fota-foti, kami lanjut touring dong. Kebetulan ada keluarga yang tinggal deket situ jadi weh kita mampir. Daan, selanjutnya ke rumah para sepupu. Dua rumah tujuan kami selanjutnya ada di Desa sebelah. Melewati jembatan besar dengan derasnya air sungai.
Say Peace!

Ada barakah dengan jama’ah. Kami anak desa, maka tak terasa capek berjalan ber-kilokilo jauhnya. Yosh, ke Desa Bettet kami menuju. Berhenti di rumah Indah disuguhi bakso, ngabisin kue dan mampir sholat Dhuhur. Lanjut jalan melewati persawahan. Dan sambil sesekali fota-foti dong. Haha.

Di rumah Mbak Pipit kita disuguhi bakso lagi. Kali ini tentu saja tak pakai lontong. Hanya menikmati pentol-pentol. Haduh, itu perut sudah membledug rasanya. Eits, si tuan rumah malah ngajakin rujakan. Sambalnya ala Madura pastinya. Petis ikan dengan cabe berenang. Apa sih istilahnya. Ya gitu deh. Maka dengan potong mangga muda, timun dan bengkoang kita pun let’s go!

Saat Kita Bersama
Tenaga yang didapat lumayan buat jalan lagi menuju rumah nenek. Melewati persawahan, sungai, hutan jati dan bambu. Sampai di tempat, tepar deh..

Haha, seru deh pastinya lebaran tahun ini. Idul Fitri maupun Tellasan Topa’nya. Apalagi touringnya. Setelah itu masih ada keseruan lainnya. Tellasan Topa’ ‘kan Rabu ya. Minggunya kita nobar KMGP dan jalan-jalan ke Gladhak Anyar. Masih dengan para sepupu kompak.



Sekarang, adikku sudah kembali ke sekolah.Sudah pada balik pondok, dan memulai aktivitas kuliah. Sepi lagi deh rumah. Semoga tahun depan bisa lebaran bareng lagi :*

Jumat, 24 Juni 2016

Jalan-jalan ke Aceh, Yuk!

Aceh? Iya, daerah istimewa di ujung Indonesia sana. Tepatnya di Pulau Sumatera. Sudah pada tahu tentunya. Daerah ini adalah salah satunya tempat yang menegakkan syariat Islam. Makanya disebut Serambi Mekkah. Orang Zina di sana benar-benar dicambuk.

Sebagai orang Islam siapa yang tak ingin pergi ke Mekkah. Nah, mungkin jika tabungan belum cukup bisa berwisata ke daerah ini terlebih dahulu. Tapi kalao kesasar gimana? Tenang kita pumya guide yang tinggal di daerah sana. Ibu dokter yang bernama Liza Fathia. Dokter yang ngakunya suka jalan-jalan. Jadi pantaslah kita ajak.


Bunda Liza ini sudah memiliki satu anak. Beralamatkan di http://liza-fathia.com/. Personal blog yang dikelolanya sejak tahun 2011. Eh nggak tahu juga ding, soalnya ada tulisan yang diposting pada tahu segitu. Nah, mungkin kita menanyakan langsung tentang hal itu. BIsa berkirim lewat surel pribadinya di liza.fathirani@gmail.com atau media sosial beliau di @fatheeya (Twitter) dan Liza Fathiariani di Facebook.

Okay, segitu dulu kenalannya. For more information langsung saja chit-chat ke akun beliau, ne?Sekarang saatnya kita jalan-jalan. Yuk kita ke Aceh!


Pertama kita ke Air Terjun Ceuraceu dulu. Merasakan segarnya pancuran di antara kehijauan. Seger pati yaa. Apalagi siang-siang gini pas puasa. Mungkin rasanya seperti ter-charge 100% haha. Yang jago pota-poti mesti tak akan membiarkan pemandangan idah di sana tanpa terpotret. Tapi kata Bunda Liza, wisata ini tidak dibuka untuk umum. Jadi harus izin para tetua di sana. Zanen da yo..


Terus ke pantai. Ada namanya Pantai Lampuk. Lihat tuh, biru dan hijaunya bikin mata melek seketika. Seru nih buat liburan abis UAS. Saat tumpukan makalah dan mini-thesis done perferctly. Maka jalan-jalan ke pantai berpasir putih pastilah ganjaran yang sempurna. Eh maksudnya? :D



Pantai Lange juga nggak kalah. Hijau dan biru lautnya tambah bikin traveling there. Yang nggak suka sama pasir, bisa leyeh-leyeh di rumput hijau itu. Biar pas nyuci baju nggak berat ya? Iya thu. Pengalaman, haha. 


Di Pantai Lange ini ada keunikan lainnya. Di sana ada semacam gletser. Pancuran. Air yang memancar dari tanah. Pancuran di pantai Lange ini terjadi karena himpitan karang-karang. Air yang memancar juga masih asin alias masih air laut. Percaya kan air laut itu asin. Kalau nggak, nanti deh diincip pas ke laut :D



Selain Ceuraceu ada juga namanya Putro Aloh. Ini air terjunnya kecil dan tidak terlalu dalam. Cocok buat main sama anak kecil. Dan sepertinya arusnya tidak deras. Jadi tak khawatir si kecil hanyut. Kayaknya cocok buat Adekku yang sedikit trauma mandi di sunagi.


Selalu cantik! Gambar di atas terletak di Sabang. Ciamik ya. Ibu dokter keren motretnya. Jadi selain bisa merawat dan memberi obat, Bunda Liza juga jago motret. Tak heran hasil pota-poti beliau keren-keren. Two thums up!


Lelah jalan-jalan, ada juga nih kuliner yang mungkin bisa bikin baper orang laper. Namanya Mie Celor. Makanan dengan kuah kuning kental. Tapi katanya Bu Dokter ini tak boleh disantap penderita dislipidemia atau kelainan kolesterol. Soalnya salah satu bahannya adalah udang. Tuh, asyiknya punya kenalan dokter gitu, kita bisa tahu mana makanan yang bermanfaat dan yang tidak baik untuk kita. Karena kan katanya tak sekedar halal, tapi jug aharus thayyib ^^b

Oia, kalau mau kuliner yang satu itu harus perginya ke Palembang. Eh? Iya, jadi kudu beli pas berangkat atau pulangnya ya, mampir dulu ke Palembang sebelum ke Aceh.