Jumat, 30 Juni 2017

Kidung Hari Raya

Soto khas Pamekasan adalah panganan yang aku nanti-nanti saat hari raya. Berbeda dengan soto Madura yang tercampur saus kacang dalam kuahnya. 

Makanan tradisional dari Gerbang Salam ini berisi topping suwiran ayam, potongan  telur rebus, goreng kentang, bihun, dan kerepek kancur. Serta yang paling penting sesendok cabai agar suasana semakin ceria dengan seruan ha-hu-ha.
Soto Ayam Pamekasan
Oia, selain harus pakai ayam kampung, soto ini tak pakai nasi. Maka akan sangat komplit bila ia hadir di Lebaran Ketupat. Hari raya di hari ketujuh setelah berpuasa Syawal. Cuma sekarang banyak yang cheating.

Penataannya begini, potong-potong ketupat menjadi delapan (biar mudah dihap kalau kecil) tata di mangkok. Tambahkan bihun dan toping yang sudah aku sebutkan di atas. Lalu siram dengan kuah ayam. Lauk ayam berupa, kepala, sayap atau cekernya sangat boleh. Kalau aku lebih suka bagian yang terdapat paru di sana. Di Madura dikenal dengan brughuk.

Setelah kerepek kancor diremukkan dan cabai ambil bagian di atasnya, dan jeruk nipis telah direpas eh diperas maksudnya dan, dan, daaan voila! Soto Ayam Pamekasan telah siap untuk disantap. Yum, yum, yum!

25 Juni 2017
Maka saat Hari raya tiba, setelah bersalaman dengan nenek maka dapur adalah tujuan utama. Mencari semua perlengkapan soto di dapur dan mendekorasi mangkok seapik mungkin. Biar makin berasa makannya, hoho. Bila beruntung semuanya sudah siap sedia tinggal disantap saja. Biasanya begitu, soalnya di sini juga ada langghar.

Sayangnya Ied kali ini aku beraya di tempat berbeda. Tak sama makanan khasnya. Di Sumenep, menu utama raya adalah daging sapi. Tak jadilah aku bersua dengan si soto asam pedas kriuk itu.

Hari raya ketupat, adalah kesempatan kedua. Apalagi ketupat memang hadir sebagai pelengkapnya.

Meski banyak sodara yang mengolah bola-bola daging alias bakso, aku tetap menginginkan soto! Soalnya ummi juga nggak bikin pentol :p

Di hari ketiga Syawal, orang-orang sudah ngantri di penggilingan daging. Nya Aton, Ebok Mus hatta Mbak Pipit, bola-bola dagingnya sudah siap masuk air mendidih di hari itu. Yang mendekam di lemari es sebelum hari H tiba.

27 Juni 2017
Pulang dari Sumenep meluncur-lah daku ke Pamekasan. Raya ketupat belum tiba, namun rindu nenek di Pamekasan begitu membuncah. Karena sampai di rumah bersamaan dengan senja yang akan menyingsing, daku bertandang ke sana keesokan paginya, di hari ketiga.


Tak afdhal rasanya kalau kumpul-kumpul nggak rujakan. Sedang Ummi paham betul. Dari rumah sudah dibawa itu seperangkat alat sholat eh maksudnya alat rujak. Petis beserta cabainya.

"Mara kanak vidio reya se arojag," saran Emba melihat para cucunya seronok sangat mantap menyantap rujak. Ada mungkin lima kali ngucek pettes. Sayangnya hape-hape sedang mati dan diisi dayanya. Keseruan kita ngerujak pun nggak sempet dividio.

28 Juni 2017
Seperti rencana sehari sebelumnya, kami akan panen cabai dan terong bersama nenek di sawah.

Melangkah

Hari rasanya dingin. Tak ingat aku berkeringat meski melewati sawah lembah antar desa. Meski harus menyebrangi sungai melintasi jembatan besar dan mampir di rumah para sepupu.

Satu keresek hasil panenan kami setelah berhasil berlari-lari melewati  puluhan petak sawah. Setelah bertarung sengit melawang semut-semut merah yang membuat kulit bentol-bentol. Pantas saja si Rehan nggak mau ikutan ke sawah. Semutnya sedang demo!  Satu keresek itu sudah lebih dari cukup untuk persediaan beberapa hari.

Menjelang sore kami pulang. Nenek diantarkan Ummi dengan motor menuju home sweet home. Allah yang Maha Penyayang menakdirkan kami bertemu di jembatan pembatas desa Samiran.

Aku dan adik-adik menyusul pulang ke rumah karena di saat matahari menyenja keluarga besar Ummi akan datang bersilaturrahim.

30 Juni 2017
Aku sedang mencuci piring, Dek Eva sedang mengucek baju di halaman belakang, Dek Diah sedang menyapu dibantu Dek Nina membereskan rumah. Ummi dan Abi bersama tetamu mengerjakan urusan sekolah di teras depan.


Pagi itu.
Pagi itu.
Ya, pagi itu.


Itu hanya satu jam sebelum kita kehilangan segalanya.

2 Juli 2017

Apa kabar soto ayam khas Pamekasan?


Masihkan mangkokmu beraroma daun jeruk resep nenek yang tak boleh ketinggalan?

Semua kerabat keluar di pagi dengan pakaian terbaik. Tak mesti baru. Yang penting ceria dan wangi.

Di dapur sudah mengepul. Menyebarkan beragam aroma lezat nan menggoda.

Semua berkumpul di rumah nenek. Semua. Anak-anak nenek yang masih hidup. Cucu-cucu beliau. Terkecuali Om Bakri yang berada di Malaysia dan Kak Sipol di Borneo sana. Semuanya berkumpul di sini. Di sebuah daerah yang orang sebut Kebun.

"Lakar, ta' iyâ,  bândâr ca'-oca'na orèng. Bhâlâ reya akompol  mon ding la bhâdâ parlo otaba pate."

Semangkok soto ayam siap disantap. Lengkap dengan taburan bawang daunnya. Juga toping yang mantap-suratap itu. Namun bukan buatan nenek lagi.

Kami yang membuatnya bersama.
Semua.
Saudara, kerabat yang jauh dan dekat.


------

Then these moments return to the gloomy days that full of sadness. We are ikhlas, insya Allah. But the memory; your keen attitute brings us back into the tears. How fast the time. It runs so quickly.

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.


Rest in peace, my lovely grandma; Pamekasan, 30 Juni 2017, 08:40 WIB.

Selasa, 27 Juni 2017

Agar Batik Nggak Gampang Luntur

Sudah pada tau kan kalo batik kebanggaan kita-kita sudah dikenal di manca negara. Bahasa kerennya sudah go international.

Jadi memilihnya sebagai baju lebaran adalah pilihan yang tepat. Cuma si dia agak rewel. Ngurus-ngurusnya susah-susah gampang.

Kain batik ini ngerawatnya kudu disayang-sayang. Nyucinya nggak boleh sembarangan. Dki rumah suka pakai deterjen khusus. Biasanya Ummi beli buah lerak di pasar.

Tapi jaman sekarang semuanya sudah pada praktis. Seblak ada aja ada yang instan, tuh kan jadi pengen hunting kencur di halaman belakang.

Nah, toko Batik Keris tak hanya menjual koleksi batik modern, tapi di sana juga tersedia detergen khusus batik. Komplit kan. Bahan dasarnya pun sama kayak yang Ummi beli di pasar, pakai buah lerak.


Jadi lumayan lah buat awet-awetin baju batik kita. Biar nggak cepet pulak alias pudar. Tapi teteupp makenya nggak boleh banyak-banyak juga. Nanti cepet habis. Irit dong*tepok jidat, haha.

Hihi, bukan gitu juga sih, memang si kain batik ini butuh perhatian kelas kakap.  Kalo sabunnya kebanyakan kualitas warnanya jadi menurun. Gitu ceritanya.

Terus, kalo mau tambah awet lagi ada tips lainnya nih. Jemurnya nggak boleh di bawah matahari langsung. Jangan di teriknya. Tarohlah itu baju di bawah pepohonan atau di bawah siluet genteng. Biar adeumm alias nggak gampang pulak.

Pas diseterika juga ada caranya. Suhunya disetel di daerah sedang. Tidak disarankan pada angka maksimal. Dikhawatirkan akan merusak kualitas kain. Jadi nggak awet lagi nanti.

Sekian tips dari saya biar kain atawa baju kita-kita yang terbuat dari batik kebanggaan Indonesia nggak gampang kusut. Eh maksudnya nggak cepet pudar. Biar nanti as dipake lagi kualitasnya masih sama ketika baru beli. Itu dia saat dicuci, dijemur dan diseterika harus diperhatikan apa-apa yang dia butuhin. Iya kebutuhan si kain.

Oh iya info penting lainnya*penting dan kudu dicatet*hoho. Dengan uang Rp. 23.000 deterjen khusus batik ini bisa dibeli di toko Batik Keris. Deterjen spesial buat si kain spesial.

Hofully your dress jadi tambah awet yaa.

Taqabbalallahu minna wa minkum, mentemen.

Sabtu, 10 Juni 2017

Retaknya Berlian Mahal

Seringkali kita berada di lingkaran yang kuat ukhuwahnya, kokoh kekerabatannya, erat tali silaturrahimnya. Dan seketika pecah dan retak semuanya gegara berbeda isi kepala. Tak sama pendapat yang dimilikinya.

Maka selanjutnya aku memilih diam tanpa tak seolah jemu padakuuuuu
*loh kok malah nyanyi D'Masive :D 

In addition when other people berbicara dengan sangat menggebu berdasarkan pandangannya. Dan kita berada di seberang. Pendapat yang sangat kontradiktif. Kita bisa apa jika kita tidak ditakdirkan bersama? Hayati lelah, Bang! >< 

Skip! Film Kapal van der Wick mencoba menjadi sponsor postingan :p 

Dan jika kedua pendapat letaknya di kutub utara dan selatan which is never be met in a place. Silence is the best choice. 

Daripada nanti pecah perang dunia keenam, coba? *because in Cinder has World War IV 

Nomorsatukan ukhuwah. 
Utamakan persatuan. 

Hal-hal yang memecahbelahnya jangan sampai diunjukgigikan atau ditampilterangkan ke permukaan. 


Kompromi. 
Adalah kata yang seharusnya menjadi tindakan. Agar kepala kembali dingin. Agar kekata tak harus saling berseteru. 

Instead, masing-masing kubu memiliki fondasi, dasar yang sama-sama benarnya. Yang keduanya telah teruji betul di IPB dan ITB. 

Mahalnya berlian karena dibanting sekalipun tak pernah ia retak atau pecah. Bukanlah kaca yang berdebu, terlalu keras kau membersihkannya maka hancurlah ia. Pelan saja kaubersihkan nodanya maka begitulah adanya ia. Kotor sepanjang masa. Eh?

Karena kau tahu, akhwatii, ikwanii fillah. Ukhuwah laksana berlian mahal yang tak boleh hilang keindahannya.

***
"Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya." 
[HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkanan-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 273]

Senin, 01 Mei 2017

Seronoknya di Kampung Kita!

"Di kampung kita, apa seronoknya?" 
Semangat sekali teman-teman kelas Upin-Ipin bertanya. Antusias.

Faktanya Fizi, Meimei, dan sang ketua pada berlibur ke museum, kebun binatang serta taman negara. Sedang Upin dan Ipin hanya menghabiskan masa di sekitar rumah saja. Meski begitu, seronok sangat cerita mereka.

Pergi kebun Datok Dalang dan menghabiskan berbuah kelapa muda. Atribut lainnya, seperti batok dan serabutnya dikemas kreatif bersama Mail, si saudagar muda. Banyaklah untung mereka liburan itu.

Menonton Upin-Ipin memori kita seakan tercerabut dari masa lampau. Tumbuh, hadir dan mekar di masa kini. Mungkin teman seangkatan ataupun yang lebih tua akan merasakan hal yang sama. Terlebih masa kanak kita habiskan di desa. Kampung yang seronok sekali dibuat bermain.

Setidaknya begitulah masa kecilku. Lebih asyik main di sungai daripada ke taman kota. Berjam-jam berendam di sana sambil belajar berenang dan mencari ikan.

Hijau dan jernih sungainya. Dengan pohon bambu dan putri malu di tepi-tepinya. Seronoklah. Gesekan bambu menjadi dawai yang indah. Menjadi lagu latar pelbagai permainan kami.

Biasanya sebelum meloncat berenang, kami tidurkan putri-putri itu. Pulangnya ketika badan kecil usai berbasah diri, dan para putri telah bangun, kita tidurkan lagi. Bisa bayangkan berapa lamanya kita bermain. Bisa sepagian, sesorean.

Sampai di rumah siap-siap deh. Tapi amarah para tetua akan reda melihat hasil tangkapan kami. Sekeranjang ikan dan kerang-kerang sungai. Di desa kami namanya; kejing (kerang longjong) dan demmis (kerang kuning).

Kalau sudah begitu dengan nada lebih menurun kita disuruh mandi dan berganti baju*deuh ngala' ateh :D Selepasnya, tangkapan kami tadi sudah menjelma hidangan dan siap disantap. Yummy!

Masa kanak adalah masa bermain. Kalau tidak bermain banteng, engklek, ular naga, atau sejenis permainan tradisonal lainnya di halaman rumah yang luas. Bersama, bergerombol  kekawan kita akan menuju hutan bambu yang tak jauh dari rumah. Hanya selemparan saja. Berbeda dengan sungai yang berjarak tiga rumah.

Di dalam hutan bambu, terkadang kita menemukan kembali santapan mewah. Jamur-jamur yang ditumis menjadi sangat lezat. Atau bayi-bayi bambu yang siap jadi rebung dalam wajan. Kenyang selalulah kita orang.

Di sana biasanya bertumbuhan bunga melati. Yang oleh teman sebaya perempuan bisa disematkan di rambut nan hitam. Harumm. Iya, hitam. Pulang-pulangnya sudah berubah ia menjadi semerah rambut jagung, haha.

Atau pada musim tanam ikutlah kita pergi ke sawah. Berbecek ria menanam bibit baru padi-padi. Pun ketika tembakau tumbuh remaja, bergelian kita membuang ulat-ulat hijau. Ulat imut, jangan ganggu tanaman kami yaa. Selepas berlelah, tahu-tempe, koa maronggi, ikan asin dan pelengkap nasi jagung; sambal bujâ cabbi sudah menanti di gubuk tengah sawah. Amboi sedapnya sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

Di musim kemarau, sawah kosong bisa menjadi lapangan yang seru kita bermain. Kita mah nggak kenal bias gender. Cowok-cewek main deh semuanya tendang bola.

Atau kita mengumpulkan kayu-kayu sisa tembakau untuk dijadikan sahabat di tungku. Teman tanak nasi dan lauk-pauk kami. Atau main ke bukit-bukit dengan bebatuan besar-besar sambil menatap kehijauan di kejauhan.

Menemukan daun kelapa beserta ranting cabangnya?*eh morfologi kelapa itu gimana sih? Pokoknya itu lho rek daun yang masing melekat di batangnya tapi jatuh. Bukan batang kayanya ya. Entahlah. Yang penting bahasa Madura-nya kleres. Nah, benda itu bisa jadi mainan kita juga. Duduk di atasnya lalu kita tarik bergantian, yuhuu.

Pohon-pohon di sekitar rumah akan jadi korban selanjutnya. Naik ke atasnya. Siapa yang memanjat duluan boleh dijadikan rumah. Tergantung pohon apa yang kita panjat. Bisa mangga, jambu atau kersen! Makin betah deh di situ sambil makan buahnya.

Gimana, seronok tak? Sepupu-sepupu yang kebetulan tinggal jauh akan datang bertandang. Ikutan seseruan main di hutan, sungai hingga bebukitan. Dulu, kita mana kenal itu gawai.

Game pun masih awam. Paling banter gembod yang layarnya hitam putih itu kita mainkan bergantian. Senapan kita bikinlah dari bambu. Pistol kita buat dari pohon pisang. Gaptek deh kita urusan begituan. Sukanya main lompat tali sampai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.

Tuuh kan. Tak usah jauh-jauh ke kota. Kampung kita pun sudah seronok. Tak ada permainan? Mudah! Semuanya bisa kita ciptakan. Tinggal pilih mau tanah lempung atau dedaunan?

Sabtu, 29 April 2017

Merah Hijau My Stupid Bos

Hal pertama yang menarik perhatianku ketika menonton My Stupid Boss adalah warna hijau dan merah buah naga. Yang menurutku ngejreng banget. Kontrass. Warna yang mendominasi dekorasi rumah Diana sang pemeran utama dan Dika, suaminya.

Warna hijau yang dipadupadankan dengan merah entah dia muda, naga atau keunguan sekalipun, nggak matching. I guess. Kedua sejoli warna ini selalu mengingatkanku pada kue cina sahabat bakpao. Lupa apa nama kuenya. Dia yang bentuknya lonjong, berisi kacang hijau dan biasanya beralaskan daun pisang.

Aku nggak pernah setuju ngeliat dua warna itu bersatu sejak pertama kali. Sejak esde di sebuah hajatan. Aku yang anak desa ketika melihatnya, waktu itu merasa berontak. Pemikiranku rasanya tak sepadan. Eciye, masih kecil udah ngomong pemikiran.

Tapi gitu sih memang. Gatau kena brainwashing di mana.

Daan itu yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa harus hijau dan merah?

Scene yang nggak cuma muncul sekali. Di mana-mana, dua warna ini mesti bergandengan. Selalu ada. Misal Diana memakai baju warna merah berpadu dengan roknya yang hijau. Suaminya juga. Kulihat, style dia suka memakai baju kotak-kotak warna merah.

Teman sekantornya juga. Kalo mereka berbaris pasti ada yang memakai dua warna itu. Shikin dengan baju merahnya dan si pria bertasbih dengan baju hijaunya.

Selalu! Di mana-mana!

Hatta mobil sang big boss yang merah dan hutan yang hijau. Renternir hijau dan dua bodyguardnya di belakang.

Kukira hanya kebetulan. Awalnya. Tapi ternyata tidak. Hingga akhir My Stupid Boss ditayangkan, semua adegan penuh dengan warna merah dan hijau.

Yaa, terlepas dari Reza Rahardian  dengan perawakannya yang tambun, kepala botak dan logat jawanya yang medok di latar negeri jiran Malaysia!

Oia, yang memerankan Diana adalah Bunga Citra Lestari. Imut dan keren deh akting primadona yang satu ini.

Mungkin selain tentang merah-hijau-nya film My Stupid Boss aku akan sedikit menceritakan kisahnya. Diana adalah orang Indonesia yang memulai peruntungannya bekerja di sebuah perusahaan milik tokoh nyebelin bernama Big Boss.

Kenapa nyebelin? Karena nggak pernah membuat para bawahannya aman damai tenteram dan sentosa. AC rusak, disuruhnya, benerin! Yah, meski semua orang sudah tau alat pendingan ruang memang usianya sudah kakek-kakek. 

Ketika rapat semua masukan akan ditampungnya. Tapi tetap saja opini pribadi sang Big Boss yang akan dijalankan. Jadi pendapat peserta meeting akan puf! Hilang begitu saja tanpa dipedulikannya.

Greget sih melihat tingkah mbossii  sang kepala itu. Yang suka gangguin karyawannya di jam dua pagi. Tapi lega ketika sang penulis skenario memberi the bridge through the blank spaces. Bahwa setiap orang berhak memiliki hati malaikat.

Teteupp. Di akhir cerita, tokoh cerita My Stupid Boss berdiri gagah dengan pakaian serba merah-hijau. Ada apa sih dengan kedua sejoli itu?

Sabtu, 18 Maret 2017

S2, Bekerja, atau Menikah?

Tanpa bantuan kaum feminis, wanita di mata Islam telah diagungkan sebelumnya. Ia sama derajatnya dengan kaum pria. Bahwa baik pria maupun wanita berkah mendapat pahala, berhak mendapat surga, berhak akan perjumpaan dengan Tuhan Allah azza wa jalla.

Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
[An Nisa’: 124]

Maka sebenarnya terkait menuntut ilmu pun sama. Karena dalam sebuah hadits disebutkan pencarian ilmu diserukan kepada semua lapisan. Baik pria maupun wanita. Bahkan pencarian ilmu dimulakan sejak bayi di dalam kandungan hingga ruh dicabut dari badan. Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi, begitu bunyi sebuah hadits shahih.

Kesempatan menuntut ilmu, melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi adalah juga sebuah peluang. Strata dua misalnya. Hatta meski ia seorang wanita. Namun bagi wanita yang sudah menempuh strata satu, hal ini masih menjadi kegelisahan tersendiri.

Ditambah andaikata datang seorang lelaki melamar. Ini terkadang juga merumitkan. Karena animo yang beredar di masyarakat, tidaklah mudah menjalani kuliah sembari menikah.

Jadi, lanjut S2 atau menikah? Atau, karena sudah memiliki gelar, banyak pekerjaan halal menggiurkan datang memberi peluang kerja. Sehingga pelanjutan ilmu di bangku formal, rasa-rasanya tak lagi diperlukan. Sedang gairah akan mencari ilmu sedang menggebu.

Kuliah, menikah atau bekerja saja?

Ini bukan tentang iklan pemutih wajah itu. Hanya realita yang menjadi kegalauan para wanita selepas kuliah. Pertanyaan semacam seringkali melintasi benak. Membutuhkan jawaban dan kepastian.

Ambil saja apa-apa yang ringan. Yang sama kadarnya dengan kemampuan. Jika mendapat beasiswa S2 ke luar negeri contohnya. Amat disayangkan jika harus dilepaskan. Terlebih, perjuangan untuk mendapatkannya juga lumayan. Jadi, lanjutkan!

Perkara pangeran yang datang kemudian, bisa saja diajak bersama. Berjuang di negeri orang. Lagi pula ada banyak beasiswa yang juga menawarkan biaya untuk pasangan. So, don’t worry losing your dream, girls!

Nah, jadi bisa ambil keduanya kan? Kerja juga bisa sambil dijalankan. Disarankan berkarir yang sesuai dengan passion. Jadi menjalaninya bisa dengan happy setiap hari. Sehingga jika hobinya menulis, bisa menjadi penulis. Menulis buku atau yang lebih ringan dituangkan di blog. Banyak lho wanita-wanita berpenghasilan lumayan dari blog.

Suka craft, mengutak-atik komputer, desain atau berdagang? Cus, jalankan yang sesuai minat. Wanita yang sukses dari berjualan online juga tidak sedikit jumlahnya. Kenali passion kemudian take action.

Wah, bisa jalan ketiga-tiganya ya. Bismillah.

Tapi yang pasti kembalikan lagi semuanya pada jalan Allah. Pastikan S2 diniatkan untuk Allah, kerjanya yang halal. Yang penting semua yang dikerjakan adalah hal-hal yang mendekatkan pada Allah. Tentang pasangan, pastikan pilih yang sholeh ya!

*published on Minhaj 73 ed

Selasa, 27 Desember 2016

Itsar dan Ibadah


Itsar, mementingkan, mendahulukan saudara muslim kita dibandingkan diri kita sendiri.

Allah juga memakai istilah ini dalam kalamNya yang menerangkan kokohnya kekerabatan, persahabatan Muhajirin dan Anshar. Padahal tak ada yang menyatukan mereka kecuali kedatangan Islam.

..wa yu'tsiruuna 'ala anfusihim wa lau kaana khashaashah
-Al Hasyr: 9

Namun demikian, itsar tak boleh diterapkan dalam hal ibadah.
Tak boleh kita mengatakan, "silahkan antum duluan," misalnya ketika akan mengambil wudhu. Silahkan antum duluan, misalnya dikatakan karena sempitnya tempat sholat sehingga kita mendahulukan saudara kita untuk memakainya terlebih dahulu.

Tidak.

Dalam hal ibadah, tak ada dulu-duluan, mendahulukan saudara kita. Yang ada fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Belomba siapa di antara kita akan yang wudhu duluan.

Berlomba siapa di antara kita-kita yang baris terlebih dahulu di belakang imam.
Begitulah seharusnya.

Tak boleh misalnya seorang lelaki menyilahkan saudaranya untuk mengkhitbah terlebih dahulu wanita yang padahal selama ini diincarnya.
Ketahuilah, ikhwah fillah bahwa menikah adalah ibadah. Bahwa menikah adalah sebagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah. Yang menandakan bahwa cinta itu fitrah.

Tidak.

Tidak ada itsar dalam hal ini. Jika ia memang cenderung padanya, seseorang engkau ketahui baik agamanya maka datanglah sang pangeran menjemputnya di istana untuk mempersuntingnya. Membawa sang Rapunzel dari kastilnya yang tinggi.
Itsar mestilah diletakkan pada tempat yang seharusnya.

Begitulah Habiburrahman El Shirazhy mengisahkan dalam novelnya, "Ketika Cinta Bertasbih."