Kamis, 03 Agustus 2017

Rempongnya Akhwat Travellers [Yasmin Goes to Bandung #1]

Alhamdulillah, salah satu anggota Yasmin akan menyempurnakan separuh agamanya. Iya, Teh Lia esok lusa akan halal, pemirsah. Doakan ya semoga lancar.

Then that's the reason why kita para warga Yasmin sudah rempong sejak jauh-jauh hari. Dan ini, aku bisikin bagaimana kita-kita riweuh menyiapkan segalanya.

Dua Bulan Sebelum Hari-H
Pas dari sebelum puasa anak-anak sudah saling kode. Pokoknya yang mau nikah kudu ngabarin kita jauh-jauh hari. Biar bisa nabung. Apalah kita kan para freelancer. Uangnya mesti diirit-irit untuk tabungan masa depan.


Bulan Juni, akhirnya tanggal diumumkan. Tapi exclusive news cuma diudarakan di Yasmin. Yosh, makin gencar kita nabung.

Jadi ada yang nabung diam-diam dibalik jobreview, fee translator, bikin desain. Alhamdulillahi bini'matihi tatimmus shalihat.

Maka akhirnya jadilah kita ngerencanain trip to Bandung. Akhwat-akhwat rempong, haha.

Tiket-Akomodasi
Pesan tiket sekarang mah bisa di mana saja. Di platform jalan-jalan juga banyak yang bisa. Tapi aku sendiri belinya di toko terdekat.


Bisa ditebak rempongnya karena aku belinya di Kota Gerbang Salam dan mentemen di Kota Pahlawan, maka kita gerbongnya pisah. Mereka tiga, aku satu. Jauh sekali bukan.

Ada beberapa hal yang membuatnya demikian.

Tas sudah kuisi novel tebal biar nggak bengong sendirian. Camilan sudah siap dari malam sebelumnya.

Kan katanya akhwat setrong. Yosh!

Kado
Meski anak kampus sedang liburan --kecuali thesis fighter tentunya-- kontrakan Yasmin ramai. Penuh barang.


Sedari sore, mentemen aktifis kampus yang kebetulan satu organisasi berdatangan. Titip kado. Sedangkan malamnya, kita yang kerempongan bungkus. Punya kita sendiri malah belum disiapin.

Jadi suasana Yasmin semalam.
Ada yang nulis surat..
Seterika hingga packing baju..
Belanja cemilan..
Dan bungkus kado yang belum terselesaikan.


Riweuh deh. Mulai kertas kado yang kurang, motifnya childish, hadiahnya gede dan butuh kertas yang sama. Gitu lah, akhwat-akhwat rempong.

Kostum
Katanya sih ini paling krusial karena kita mau pergi mantenan. Tapi tetep syariat yang menjadi prioritas.


Mau pakai yang itu, sepertinya menarik perhatian. Bling-bling memusingkan. Terus nggak jadi. Mau yang ini rasanya seperti emak-emak. Padahal kita mah juga calon bunda :D

Mau pakai yang satunya, lha bajunya samaan. Gitu deh. Selera masing-masing ikut andil dalam menentukan.

Yo sak karep wes. Yang penting bajunya yang longgar yo. Nggak boleh ketat atau nerawang. Kudungnya juga minimal menutup dada.

Semuanya kita satukan. Soalnya nanti bakal pegel gendong-gendong tas.

Tapi teteup aja banyak ternyata bawaanya, haha.

Menuju Kereta
Menaiki motor, kita berempat diantar ke Stasiun Gubeng Surabaya. Ya, akhirnya hanya segitu yang ikutan. Soalnya ada yang lagi KKN, nggak bisa ninggalin skripsi, mondok pas liburan ataupun yang harus berada di kampung halaman.


Bersama para jagoan yang handal kita ngebut lewat Suramadu. Wuz, wuz! Tapi sempat terhenti karena ada kado yang terjatuh. Meski rempong kita kan akhwat setrong. Jadi si kado imut itu kembali lagi bersama :D

Sampai di stasiun, kereta datang masih sejam lagi. Jadi ada waktu untuk cipika-cipiki sama power rangers dan registrasi ulang.


Menuju monitor kita scan barcode, cetak tiket dan menunggu. Berkenalan di kanan-kiri sambil jagain barang yangt bejibun.

Kereta menuju Kiaracondong berangkat jam 08:15 dan 07:30 kita sudah siap-siap diperiksa tiketnya melewati garis pemeriksaan pakai KTP.


Drama Gerbong
Aku sudah bersiap untuk patah hati sama insiden beda gerbong. Namun sebelum say good bye sama mentemen, angkut-angkut barang dulu. Kita putuskan, bawaan berat dikumpulkan di gerbong tiga.



Mbak Yul malah siap nemenin di gerbong satu. Soalnya penumpang sebangku nggak mau diajak tukeran.

Jadilah setelah barang ditaro di bagasi, aku siap hijrah ke gerbong satu ditemani Mbak Yuli. Di sana penumpangnya satu rombongan ternyata. Jadi nggak bisa lobi-lobi.

Mbak Yul balik lagi ambil tas di gerbong sebelah. Jadi Mbakku yang paling kusayang itu memutuskan untuk duduk bersamaku saja di gerbong satu. Soalnya rombongannya suka bully.

Tapi bukan Mbak Yul kalo nggak bisa menyatukan hati dua insan. Eh :D

Ada kabar baik dari gerbong tiga, satu kursi kosong tersedia untukku. Yeay! Alhamdulillah ♡

Kini para akhwat sudah rehat menikmati pemandangan. Di satu gerbong yang Allah sediakan.

Semoga kita nggak semakin rempong, hoho.

Tunggu kami, Bandung!

Ditulis di Yasmin-Stasiun Gubeng-Kereta Pasundan menuju Bandung. Saat ini masih di Stasiun Caruban.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia





Rabu, 02 Agustus 2017

Lima Keahlian Wajib Blogger

Menghadapi MEA [Masyaratkat Ekonomi ASEAN], untuk bertahan kita harus memiliki lima keahlian dalam diri seseorang. Setidaknya begitu menurut Afifah Afra dalam satu postingannya. Karena kita bukan lagi bersaing di antara bangsa sendiri. Melainkan dengan Negara-negara tetangga di sekitar kita. Seperti Malaysia, Brunei, Vietnam dll. Persaingan semakin ketat.

Serem nggak sih? Macam perang ideologi nggak? Eh itu mah namanya ghazwul fikr. Lain kali saja kita bahasnya. Oke skip, lanjut!

Agar bisa defense di antara orang-orang lainnya. Nah, menurutku setidaknya ini kima keahlian yang wajib dimiliki seorang blogger.

Writing
Mengapa menulis menjadi nomor urut pertama karena kita harus pintar bermain kekata di dunia tulisan. Isi atau content paling krusial di blog kan tulisan. Tanpa tulisan blog kita akan kosong melompong. 

Penempatan EYD yang benar juga harus diperhatikan. Karena mau tidak-mau kita kudu mengedukasi pembaca di dunia virtual ini. Tapi sekali-kali pakai gue-elu juga nggak papa, kan? Well, itu hanya masalah style, haha. 

Ya, pokoknya mah sebisa mungkin diusahakan atuh ya. Ikut SPOK. Biar pelajaran Bahasa Indonesia yang kita pelajari bertahun-tahun di bangku sekolah tidak mudah dimakan zaman, hoho.

Pun, agar pembaca mengerti maksud dari tulisan yang kita publikasika di blog. Agar pembaca tidak bingung, ini maksudnya apa yang dibicarakan.


Graphic Designer
Ini tambahan biar tampilan blog kita makin kece. Bikin blog lebih berwarna dan membuat pembaca betah tinggal lama-lama. 

Hihi, aku sebenarnya juga belajar. Mengutak-ngatik corel, main photoshop. At least kita paham bagaimana mendesain blog secantik mungkin. Menurut selera kita tentunya.

Di zaman modern ini, belajar desain tak harus bertatap muka. Banyak orang-orang di dunia virtual ini yang bisa membantu. Blog-blog perempuan keren Indonesia juga banyak yang menyediakan tutorial gratis di dalam blognya. Seperti punya Mbak Alma ini misalnya. Aku sering lho belajar banyak di sana.

Ini hanya masalah kita mau belajar atau tidak.

Programmer
Jangan bilang hanya perlu keahlian menulis di dunia blogging. Sedapat mungkin kita pelajari kode CSS atau temannya yang bernama HTML. Bagaimana caranya agar blog loadingnya nggak lama. Gambar, font yang nyaman di mata pembaca itu bagaimana. Dalam hal ini, Mbak Shinta banyak membantuku dalam postingan kece di blog beliau.

Editor
Penulis yang baik, harusnya mengedit dulu tulisannya. Melihat kembali apakah ada typo, atau SPOK yang ketinggalan. Dalam buku 101 Dosa Penulis Pemula dijelaskan komplit di situ. Bagaimana cara menjadi penulis yang baik. Blogger juga harus memperhatikan ini.

Jadi tidak hanya skripsi yang perli revisi berkali-kali. Tulisan blogger pun perlu. Dosen pembimbingnya kita sendiri. Asyik kan tak perlu janjian buat ketemuan. Yes!


Photography
Tidak afdal kan kalau kita hanya menyuguhkan tulisan. Ibarat bertamu ke orang, dikasih pegangan tapi lupa minuman. Kasihan kalau tamunya tersedak. Apalagi di dunia serba canggih ini, katanya foto adalah bukti.

If you have a smartphone sila digunakan. Tak harus kamera DSLR. Kalau ada mah monggo. Tapi sayang tabungan belum cukup, apa daya beli kamera yang harganya berjuta-berjuta itu. Tak pe, akupun pakai kamera yang hanya 2 MP. Foto-fotoku di @hafidzahcumlaude kebanyakan begitu. Tapi habis itu diolah. Edit sana-sini pakai aplikasi yang sudah bertebaran di playstore. Jika mengandalkan cahaya matahari bisa lho bikin gambar kece. 

Boleh juga nih belajar sama Mbak Nahla di sini

That's all, lima keahlian yang menurutku wajib dimiliki blogger. Saban hari blogger tambah banyak lho. OKB! Oke, kita bersaing. Bersaing sportif tentunya. Para muslimah pasti paham, fastabiqul khairat. Alias berlomba-lomba dalam kebaikan. Yuk!

Macam ikutan #ODOPnya #BloggerMuslimahIndonesia biar makin istiqomah menebar kebaikan. 
Ganbatte, minna-san :*

Selasa, 01 Agustus 2017

Agar Bunga-bunga Bermekaran di Kebun Kekataku

Taman bunga yang indah haruslah dipupuk dengan baik. Maka Kebun Kekataku haruslah ditanami bibit bagus nan unggul. Serta disiram setiap hari.
Nah kalau kosong melompong tak jadilah ia sebuah kebun yang  beraneka macam tanaman.

Seperti blogku ini. Bertajuk Kebun Kekataku haruslah menjadi taman yang bermacam postingan. Tak kosong tulisan karena absen diisi.

Hiks, nantinya akan menelan ludah sendiri. Jika sepi, blog ini hanya akan jadi kuburan. Tak ada pengunjung yang memang biasanya datang menikmati bacaan. Apalagi jika semua hidangan sudah habis dilahap.

Mana nih tulisan barunya, kok itu-itu ajah?

Huhu, jadi bikin pembaca kecewa deh.

That's why, aku mencoba untuk rutin menanam pohon dan menyiraminya setiap hari di sini. Ikutan program ODOPnya Blogger Muslimah. Biar Istiqamah.

Gue demen nih challenge beginian.

Kan katanya kebaikan yang terorganisir lebih daripada tidak direncanakan. Apalagi melihat anggota Blogger Muslimah yang jumlahnya ribuan, makin seru dong pastinya.

Biar saling menyemangati. Ada yang mengingatkan juga. Sebagai Muslimah yang baik maka memang selayaknya kita mengaplikasikan Surat Al-Ashr ayat 4. Saling mengingatkan dalam kesabaran juga kebaikan.

Menyebarkan kebaikan juga termasuk dakwah. Menyeru, mengajak orang-orang agar senantiasa berada di jalan yang benar. Bahasa kerennya, dakwah bil qalam.

Bener tuh slogannya anak-anak MDC [Muslim Designer Community]. Bahwa dakwah nggak harus ceramah. Kabar baik buat kita-kita yang belum jago ngomong.

Teteup. Bisa mengajak sekitar. Walaupun medianya beda. Kita pakai tulisan di blog, anak MDC bikin poster keren.

Harapannya ikutan ODOP ini, biar istiqamah dan pena lebih terasah. Kita mah dari Teka juga sudah diajarin nulis. Cuma kada dipakenya cuma pas nugas ajah. Nah, dengan nulis tiap siapa tahu tulisan kita bisa tambah kece macam Tere Liye atau Bu J.K ♡.♡

Dan pastinya biar makin banyak temen yang ngingatin. Plus, ikutan challenge ini juga sebagai ajang silaturrahim. Memperbanyak sodara sesama perempuan Islam.

Terakhir, agar ilmu yang kita dapat bertambah tiap harinya. Dengan saling baca punya mentemen peserta misalnya. Muslimah sholehah insya Allah nulis dan sharenya yang baik-baik. Lumayan kan ketularan jadi orang baik. Aamiin.

Bismillah, aku ikutan #ODOP #BloggerMuslimahIndonesia untuk 30 hari ke depan! Agar kebunku lebih beraneka kata-kata. Dan tentunya semoga darinya bisa kudapat surga ♡.♡

Senin, 31 Juli 2017

Kisah Cinta yang Rumit

Imajinasiku sedang mengembara di sekitar SMA Noceng karangan Asma Nadia. Bacaan yang aku dapatkan ketika menggelar Taman Baca FLP Pamekasan di Arek Lancor. Banyak buku seru yang dibawa ke sana. Jadi ada beberapa yang kubawa pulang. Salah satunya serial Aisyah Putri.

Di sanalah aku berada ketika ponselku berdering. Dari adik kandung beribundakan kontrakan Yasmin.

“Mbak, ngerti shirah sahabat? Yang meminta ditemani untuk melamar, tapi mendapatkan jawaban yang mengejutkan?” pertanyaan yang membuat imajinasiku buyar seketika.

Kisah sahabat yang sangat fenomenal di Yasmin. Cerita yang pernah kubawakan di sela makan malam. Terang saja aku ingat. Itu bikin baper mentemen. Romansa yang aku dapatkan dari buku Jalan Cinta Para Pejuangnya Salim A. Fillah. Sedikit disinggung juga dalam tulisan Bunda Sinta Yudisia, Kitab Cinta dan Patah Hati.

Adik ini belum masuk Yasmin ketika cerita itu aku utarakan di depan mentemen. Nggak tahu. Rupanya dia sedang diberi kuis sama senior Yasmin untuk melengkapkan teki-teki kisah itu.

“Katanya disuruh minta tolong tanya antum. Soalnya kalau cerita baper begini antum paling hafal.”

Haha, berasa love expert gue.

Okay, here we go!
***

Rasulullah mempersaudarakan Muslim Mekkah dengan sahabat di Madinah. Dampaknya sangat terasa. Terutama pada iman dan ikatan ukhuwah mereka. Apalagi para muslimin Mekkah baru saja terasingkan dari kota kelahiran.

Sebut saja ukhuwah antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’. Sahabat kita yang kaya itu tentu saja menjadi tak punyai apa-apa saat hijrah. Alias berada di titik nol. Dan Sa’ad bin Rabi’ adalah sahabat terkaya di Madinah. Atas keimanan yang sangat ia bahkan mempersilahkan Ibnu Auf menikahi istri yang dicintainya. Jika memang beliau menghendaki.

Tapi Abdurrahman bin Auf pun adalah sahabat yang tak mungkin membuat saudara barunya itu sakit hati. Ia hanya meminta ditunjukkan letak pasar. Di sana ia kemudian memulai usahanya kembali. Dari awal.

Salman Al-Farisi, pahlawan kita, ahli taktik perang di perang Khandaq, juga mendapat sahabat yang tak kalah hebatnya di  Madinah. Dengan Abu Darda’, Rasulullah mempersaudarakan ia.

Eratnya persahabatan mereka hingga kaum Anshar Madinah rela melakukan apa saja demi saudara barunya, Muhajirin Mekkah.

Dan Allah-lah sang Maha Cinta yang memberikan rasa. Satu tetesnya menyentuh Salman dan tumbuh di hatinya. Pada seorang gadis Madinah rasa itu tertuju.

Sebagaimana laiknya pemuda jantan tentu saja ia menolak pacaran. Pasti ia hafal betul dengan sabda Nabi yang mengingatkan, bahwa obat mujarab orang yang sedang jatuh cinta adalah menikah.

Ya, pendatang Makkah ini bermaksud menghargai perasaan yang Allah berikan. Demi menghormati perempuan Salman pun memilih menghalalkannya. Ia membulatkan tekad untuk menikahi sang gadis.

Maisyah yang selama ini Salman kumpulkan telah ia persiapkan untuk pujaan hatinya tersebut. Semuanya hampir sempurna. Hanya saja ia belum berani mendatangi rumah gadis itu sendirian. Dan hanya Abu Darda' satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

Maka padanya, Salman meminta ditemani. Sebagai sahabat Abu Darda' menyambut gembira niat baik Salman.

Abu Darda' memulai perbincangan serius itu dengan mengenalkan dirinya dan sahabatnya Salman. Kemudian setelahnya, maksud kedatangan mereka berdua juga disampaikan pada sang Ayahanda gadis.

Beliau tahu betul kedudukan mereka berdua sangat mulia di sisi Rasulullah.

“Tak mungkin saya tolak niat baik kalian datang ke sini. Tapi biarkan jawabannya diberikan langsung oleh putri saya,” tutur sang Ayah lembut. Jawaban yang membuat jantung Salman lebih berdegup kencang.

Di balik tabir, sang gadis tak langsung memberikan jawaban. Ada sedikit diskusi di sana. Entahlah, tapi kita pun akan membayangkan bagaimana gugupnya Salman menunggu.

“Kami tidak akan menolak pinangan ini jika yang meminta adalah Abu Darda'."

Ya, kedatangan mereka diterima. Tapi bukankah Salman yang meminta? Bukankah Salman yang menyimpan sekian lama rasa? Rasanya menulis kembali cerita ini aku tak sanggup.

Rantingnya telah patah, mungkin dedaunan yang selama ini tumbuh telah gugur dan kering di tanah.

“Allahu Akbar!” pekik Salman Al-Farisi. Ia lalu mengucapkan tahniah bagi Abu Darda'. Sang sahabat yang telah berbuat banyak, membantunya selama di Madinah.

Rantingnya telah patah, dedaunan yang selama ini tumbuh telah gugur dan kering di tanah. Tidak, itu mungkin kita yang tak sanggup menerima kenyataan. Nyatanya Salman tetap berdiri tegak. Faktanya, semua maisyah yang telah ia persiapkan untuk pernikahan, Salman berikan semua-muanya untuk Abu Darda'. Pun mahar untuk sang pujaan.

Tidak, bahkan bunga tumbuh di sana dalam iman. Dalam rahmat Tuhan. Allah yang menegarkan Salman. Yang membuat kuncup sempurna mekar meski kemarau panjang nan tandus menghampiri rasa.

Kau tahu ini karena apa? Tentu saja berkat iman. Didikan Rasulullah dalam halaqah-halaqah saban hari.

“Mbak tahu siapa nama perempuan yang dilamar Salman?” adikku bertanya antusias di ujung sana.

Sayang dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang tidak disebutkan. In earnest, I’m so curious abouth the girl’s name. Tapi Bunda Sinta nampaknya membocorkanku.

Disebutkan di Kitab Cinta dan Patah Hati bahwa istri Abu Darda' adalah Hujaimah binti Huyay.

“Kau datang meminang pada pada orangtuaku saat di dunia, maka kupintakan engkau pada Allah untuk menjadi istrimu di surga,” janji Hujaimah di detik-detik terakhir sang suami.

“Kalau begitu janganlah engkau menikah lagi sepeninggalku,” pinta Abu Darda' sebelum ia memejamkan mata dan husnul khatimah.

Jadi namanya Hujaimah binti Huyay. Tapi kemudian aku berpikir, benarkah shahabiyah yang ini? Yang menolak pinangan Salman?

Mengingat dalam sebuah referensi lainnya mengatakan Hujaimah adalah istri Abu Darda' yang kedua. Dan Hujaimah adalah anak angkat Abu Darda' saat ia kecil dan remaja. Jika memang iya, pelik sekali ya kisah ini. Setidaknya menurutku.


I don’t know how to say but, kisah Salman boleh membuat hati pembaca berlinangan air mata dan baper. Yet, kita juga harus belajar bagaimana ia tetap bangkit berdiri menatap kehidupan. Bukan malah sedih berkepanjangan dan lalai akan perintah Tuhan.

Rumit memang. Sungguh! Tapi sejarah mengatakan demikian.

Oia, kalau mentemen punya rujukan yang dapat dipercaya tentang nama akhwat yang menolak Salman, boleh ya infonya dimasukkan dalam kolom komentar.

Anyway, aku salut dengan keberanian shahabiyah itu. Pilihannya mantap dan tidak takut. Tidak ragu-ragu. Berani menolak Salman dan berani meminta Abu Darda'. 

Masya Allah, begitu unggulnya Abu Darda' hingga ialah yang terpilih. Bukankah kita memang harus memilih lelaki yang paling baik agamanya? Pun akhlaknya. Abu Darda' mah sudah terjamin yak. Lihat saja beliau berani mengantar dan menemani sahabatnya melamar akhwat.

Terus abis ini, ikhwan-ikhwan sholeh yang tau kisah ini pada nggak mau ditemenin sahabatnya. Takut akhwatnya salah pilih. Haha, kata Mbak Yul gitu. Tapi biar nggak rumit, boleh deh ikutin tipsnya Bang Tere Liye, bawa rombongan sekeluarga. Biar akhwatnya tahu kesungguhan hatimu.

Ups, udah seribu kata aja. Sudah sampai mana tadi? :D

Oh, iya, sepertinya sudah saatnya mengembalikan buku-buku ke Rumah Cahaya FLP Pamekasan. Yuk, cus! Eh masih dua buku lagi yang belum.

Hadeuh.. :p

Jumat, 30 Juni 2017

Kidung Hari Raya

Soto khas Pamekasan adalah panganan yang aku nanti-nanti saat hari raya. Berbeda dengan soto Madura yang tercampur saus kacang dalam kuahnya. 

Makanan tradisional dari Gerbang Salam ini berisi topping suwiran ayam, potongan  telur rebus, goreng kentang, bihun, dan kerepek kancur. Serta yang paling penting sesendok cabai agar suasana semakin ceria dengan seruan ha-hu-ha.
Soto Ayam Pamekasan
Oia, selain harus pakai ayam kampung, soto ini tak pakai nasi. Maka akan sangat komplit bila ia hadir di Lebaran Ketupat. Hari raya di hari ketujuh setelah berpuasa Syawal. Cuma sekarang banyak yang cheating.

Penataannya begini, potong-potong ketupat menjadi delapan (biar mudah dihap kalau kecil) tata di mangkok. Tambahkan bihun dan toping yang sudah aku sebutkan di atas. Lalu siram dengan kuah ayam. Lauk ayam berupa, kepala, sayap atau cekernya sangat boleh. Kalau aku lebih suka bagian yang terdapat paru di sana. Di Madura dikenal dengan brughuk.

Setelah kerepek kancor diremukkan dan cabai ambil bagian di atasnya, dan jeruk nipis telah direpas eh diperas maksudnya dan, dan, daaan voila! Soto Ayam Pamekasan telah siap untuk disantap. Yum, yum, yum!

25 Juni 2017
Maka saat Hari raya tiba, setelah bersalaman dengan nenek maka dapur adalah tujuan utama. Mencari semua perlengkapan soto di dapur dan mendekorasi mangkok seapik mungkin. Biar makin berasa makannya, hoho. Bila beruntung semuanya sudah siap sedia tinggal disantap saja. Biasanya begitu, soalnya di sini juga ada langghar.

Sayangnya Ied kali ini aku beraya di tempat berbeda. Tak sama makanan khasnya. Di Sumenep, menu utama raya adalah daging sapi. Tak jadilah aku bersua dengan si soto asam pedas kriuk itu.

Hari raya ketupat, adalah kesempatan kedua. Apalagi ketupat memang hadir sebagai pelengkapnya.

Meski banyak sodara yang mengolah bola-bola daging alias bakso, aku tetap menginginkan soto! Soalnya ummi juga nggak bikin pentol :p

Di hari ketiga Syawal, orang-orang sudah ngantri di penggilingan daging. Nya Aton, Ebok Mus hatta Mbak Pipit, bola-bola dagingnya sudah siap masuk air mendidih di hari itu. Yang mendekam di lemari es sebelum hari H tiba.

27 Juni 2017
Pulang dari Sumenep meluncur-lah daku ke Pamekasan. Raya ketupat belum tiba, namun rindu nenek di Pamekasan begitu membuncah. Karena sampai di rumah bersamaan dengan senja yang akan menyingsing, daku bertandang ke sana keesokan paginya, di hari ketiga.


Tak afdhal rasanya kalau kumpul-kumpul nggak rujakan. Sedang Ummi paham betul. Dari rumah sudah dibawa itu seperangkat alat sholat eh maksudnya alat rujak. Petis beserta cabainya.

"Mara kanak vidio reya se arojag," saran Emba melihat para cucunya seronok sangat mantap menyantap rujak. Ada mungkin lima kali ngucek pettes. Sayangnya hape-hape sedang mati dan diisi dayanya. Keseruan kita ngerujak pun nggak sempet dividio.

28 Juni 2017
Seperti rencana sehari sebelumnya, kami akan panen cabai dan terong bersama nenek di sawah.

Melangkah

Hari rasanya dingin. Tak ingat aku berkeringat meski melewati sawah lembah antar desa. Meski harus menyebrangi sungai melintasi jembatan besar dan mampir di rumah para sepupu.

Satu keresek hasil panenan kami setelah berhasil berlari-lari melewati  puluhan petak sawah. Setelah bertarung sengit melawang semut-semut merah yang membuat kulit bentol-bentol. Pantas saja si Rehan nggak mau ikutan ke sawah. Semutnya sedang demo!  Satu keresek itu sudah lebih dari cukup untuk persediaan beberapa hari.

Menjelang sore kami pulang. Nenek diantarkan Ummi dengan motor menuju home sweet home. Allah yang Maha Penyayang menakdirkan kami bertemu di jembatan pembatas desa Samiran.

Aku dan adik-adik menyusul pulang ke rumah karena di saat matahari menyenja keluarga besar Ummi akan datang bersilaturrahim.

30 Juni 2017
Aku sedang mencuci piring, Dek Eva sedang mengucek baju di halaman belakang, Dek Diah sedang menyapu dibantu Dek Nina membereskan rumah. Ummi dan Abi bersama tetamu mengerjakan urusan sekolah di teras depan.


Pagi itu.
Pagi itu.
Ya, pagi itu.


Itu hanya satu jam sebelum kita kehilangan segalanya.

2 Juli 2017

Apa kabar soto ayam khas Pamekasan?


Masihkan mangkokmu beraroma daun jeruk resep nenek yang tak boleh ketinggalan?

Semua kerabat keluar di pagi dengan pakaian terbaik. Tak mesti baru. Yang penting ceria dan wangi.

Di dapur sudah mengepul. Menyebarkan beragam aroma lezat nan menggoda.

Semua berkumpul di rumah nenek. Semua. Anak-anak nenek yang masih hidup. Cucu-cucu beliau. Terkecuali Om Bakri yang berada di Malaysia dan Kak Sipol di Borneo sana. Semuanya berkumpul di sini. Di sebuah daerah yang orang sebut Kebun.

"Lakar, ta' iyâ,  bândâr ca'-oca'na orèng. Bhâlâ reya akompol  mon ding la bhâdâ parlo otaba pate."

Semangkok soto ayam siap disantap. Lengkap dengan taburan bawang daunnya. Juga toping yang mantap-suratap itu. Namun bukan buatan nenek lagi.

Kami yang membuatnya bersama.
Semua.
Saudara, kerabat yang jauh dan dekat.


------

Then these moments return to the gloomy days that full of sadness. We are ikhlas, insya Allah. But the memory; your keen attitute brings us back into the tears. How fast the time. It runs so quickly.

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.


Rest in peace, my lovely grandma; Pamekasan, 30 Juni 2017, 08:40 WIB.

Selasa, 27 Juni 2017

Agar Batik Nggak Gampang Luntur

Sudah pada tau kan kalo batik kebanggaan kita-kita sudah dikenal di manca negara. Bahasa kerennya sudah go international.

Jadi memilihnya sebagai baju lebaran adalah pilihan yang tepat. Cuma si dia agak rewel. Ngurus-ngurusnya susah-susah gampang.

Kain batik ini ngerawatnya kudu disayang-sayang. Nyucinya nggak boleh sembarangan. Dki rumah suka pakai deterjen khusus. Biasanya Ummi beli buah lerak di pasar.

Tapi jaman sekarang semuanya sudah pada praktis. Seblak ada aja ada yang instan, tuh kan jadi pengen hunting kencur di halaman belakang.

Nah, toko Batik Keris tak hanya menjual koleksi batik modern, tapi di sana juga tersedia detergen khusus batik. Komplit kan. Bahan dasarnya pun sama kayak yang Ummi beli di pasar, pakai buah lerak.


Jadi lumayan lah buat awet-awetin baju batik kita. Biar nggak cepet pulak alias pudar. Tapi teteupp makenya nggak boleh banyak-banyak juga. Nanti cepet habis. Irit dong*tepok jidat, haha.

Hihi, bukan gitu juga sih, memang si kain batik ini butuh perhatian kelas kakap.  Kalo sabunnya kebanyakan kualitas warnanya jadi menurun. Gitu ceritanya.

Terus, kalo mau tambah awet lagi ada tips lainnya nih. Jemurnya nggak boleh di bawah matahari langsung. Jangan di teriknya. Tarohlah itu baju di bawah pepohonan atau di bawah siluet genteng. Biar adeumm alias nggak gampang pulak.

Pas diseterika juga ada caranya. Suhunya disetel di daerah sedang. Tidak disarankan pada angka maksimal. Dikhawatirkan akan merusak kualitas kain. Jadi nggak awet lagi nanti.

Sekian tips dari saya biar kain atawa baju kita-kita yang terbuat dari batik kebanggaan Indonesia nggak gampang kusut. Eh maksudnya nggak cepet pudar. Biar nanti as dipake lagi kualitasnya masih sama ketika baru beli. Itu dia saat dicuci, dijemur dan diseterika harus diperhatikan apa-apa yang dia butuhin. Iya kebutuhan si kain.

Oh iya info penting lainnya*penting dan kudu dicatet*hoho. Dengan uang Rp. 23.000 deterjen khusus batik ini bisa dibeli di toko Batik Keris. Deterjen spesial buat si kain spesial.

Hofully your dress jadi tambah awet yaa.

Taqabbalallahu minna wa minkum, mentemen.

Sabtu, 10 Juni 2017

Retaknya Berlian Mahal

Seringkali kita berada di lingkaran yang kuat ukhuwahnya, kokoh kekerabatannya, erat tali silaturrahimnya. Dan seketika pecah dan retak semuanya gegara berbeda isi kepala. Tak sama pendapat yang dimilikinya.

Maka selanjutnya aku memilih diam tanpa tak seolah jemu padakuuuuu
*loh kok malah nyanyi D'Masive :D 

In addition when other people berbicara dengan sangat menggebu berdasarkan pandangannya. Dan kita berada di seberang. Pendapat yang sangat kontradiktif. Kita bisa apa jika kita tidak ditakdirkan bersama? Hayati lelah, Bang! >< 

Skip! Film Kapal van der Wick mencoba menjadi sponsor postingan :p 

Dan jika kedua pendapat letaknya di kutub utara dan selatan which is never be met in a place. Silence is the best choice. 

Daripada nanti pecah perang dunia keenam, coba? *because in Cinder has World War IV 

Nomorsatukan ukhuwah. 
Utamakan persatuan. 

Hal-hal yang memecahbelahnya jangan sampai diunjukgigikan atau ditampilterangkan ke permukaan. 


Kompromi. 
Adalah kata yang seharusnya menjadi tindakan. Agar kepala kembali dingin. Agar kekata tak harus saling berseteru. 

Instead, masing-masing kubu memiliki fondasi, dasar yang sama-sama benarnya. Yang keduanya telah teruji betul di IPB dan ITB. 

Mahalnya berlian karena dibanting sekalipun tak pernah ia retak atau pecah. Bukanlah kaca yang berdebu, terlalu keras kau membersihkannya maka hancurlah ia. Pelan saja kaubersihkan nodanya maka begitulah adanya ia. Kotor sepanjang masa. Eh?

Karena kau tahu, akhwatii, ikwanii fillah. Ukhuwah laksana berlian mahal yang tak boleh hilang keindahannya.

***
"Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya." 
[HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkanan-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 273]